Mana Lebih Baik: ‘Menabung’ di Reksa Dana Tiap Bulan Atau Sekali Taruh

beli reksadana

Selama ini, banyak pertanyaan di kalangan mereka yang berinvestasi reksa dana mengenai kapan waktu yang tepat untuk melakukan pembelian (subscription). Ada yang berpendapat sebaiknya berinvestasi reksa dana dilakukan seperti layaknya menabung, yaitu dengan cara menyisihkan dana secara rutin setiap bulannya. Tetapi, tidak sedikit juga yang mendukung pandangan bahwa sebaiknya cukup sekali transaksi saja, terlebih ketika terjadi krisis ekonomi (crash).

Untuk membandingkan kedua strategi investasi di atas, mari kita melakukan simulasi menggunakan Alat Simulator Bareksa. Ada Investor A yang menggunakan strategi ‘menabung’ setiap bulan, ada Investor B yang dengan sekali transaksi.

Contoh pertama, Investor A berinvestasi dengan menyisihkan dana Rp2 juta setiap bulan sejak akhir Agustus 2013 hingga 18 Mei 2015, maka modal yang terkumpul senilai Rp44 juta. Sementara itu, Investor B langsung menginvestasikan seluruh dananya, Rp44 juta di akhir Agustus 2013. Dalam simulasi ini, keduanya membeli reksa dana CIMB-Principal Equity Agressive*.

Simulasi Investasi Investor A Periode 30 Agustus 2013-18 Mei 2015

 

Simulasi Investasi Investor B Periode 30 Agustus 2013-18 Mei 2015

 

Bagaimana hasilnya?

Dengan total dana investasi yang sama, ternyata imbal hasil (return) yang didapatkan Investor B jauh lebih besar dibandingkan Investor A yang menyetor dana setiap bulan.

Return yang diperoleh Investor B mencapai 29,77 persen sehingga total dananya meningkat menjadi Rp57 juta pada akhir periode, 18 Mei 2015. Sementara itu, return yang diperoleh Investor A hanya 9,11 persen.

Hanya saja perlu dicatat bahwa dalam simulasi dengan skenario ini, Investor B diuntungkan karena akhir Agustus 2013 merupakan titik terendah pasar modal Indonesia. Saat itu, baik pasar saham ataupun obligasi terkoreksi cukup dalam akibat derasnya dana asing keluar Indonesia — nilainya mencapai Rp20 triliun.

Hasil Simulasi Investasi Investor A Periode 30 Agustus 2013-18 Mei 2015

Hasil Simulasi Investasi Investor B Periode 30 Agustus 2013-18 Mei 2015

Namun, sayangnya kondisi seperti itu jarang terjadi. Nyaris tidak ada yang dapat mengetahui secara pasti kapan pasar modal akan mengalami koreksi seperti itu lagi.

Sebagai perbandingan, kita kembali melakukan simulasi serupa akan tetapi waktu investasi diubah menjadi akhir bulan Mei 2011 hingga akhir Maret 2013.

Simulasi Investasi Investor A Periode 30 Mei 2011-29 Maret 2013

 

Simulasi Investasi Investor B 30 Mei 2011-29 Maret 2013

 

 

Dengan skenario ini, strategi investasi investor A menunjukkan return yang lebih tinggi dibandingkan investor B. Imbal hasil Investor A menunjukkan angka 15,13 persen sepanjang periode simulasi sehingga dana investasinya berkembang menjadi Rp50,66 juta. Sementara, dana Investor B “hanya” tumbuh 13,81 persen sehingga menjadi Rp50,07 juta.

Rendahnya imbal hasil yang diperoleh Investor B disebabkan oleh “koreksi kecil” yang terjadi di pasar modal pada periode simulasi. Koreksi tersebut terjadi di akhir bulan September 2011 dan juga pada awal bulan Juni 2012. Koreksi ini sempat membuat imbal hasil investor B mengalami hasil minus sebelum akhirnya kembali mencatatkan hasil yang positif.

Berbeda dengan investor B, imbal hasil yang diperoleh investor A “seakan” tidak terpengaruh oleh koreksi yang terjadi. Hal ini karena dalam melakukan investasinya, investor A menerapkan strategi “mencicil” dana investasinya. Jadi, dampak yang dirasakan ketika periode koreksi terjadi akan lebih kecil dibandingkan dengan investor B yang menaruh seluruh dana investasinya sejak awal.

Hasil Simulasi Investasi Investor A Periode 30 Mei 2011-29 Maret 2013

 

 

Hasil Simulasi Investasi Investor B Periode 30 Mei 2011-29 Maret 2013

Berdasarkan kedua simulasi di atas, dapat kita simpulkan bahwa dua strategi yang dilakukan Investor A dan B sama baiknya, tergantung kondisi pasar modal saat itu. Strategi investor B dapat diterapkan ketika terjadi koreksi besar di pasar modal, sehingga kita bisa berinvestasi di harga yang murah.

Akan tetapi, bagi investor yang tidak punya cukup waktu untuk memantau kondisi pasar modal, strategi Investor A juga tidaklah buruk. Terlebih, jika kita membeli di saat pasar modal sedang dalam keadaan naik, dan tidak mengetahui kapan akan terjadi penurunan.