Memahami Makna Manajemen Laba dan Alasan Penerapannya

Understanding

Manajemen laba atau earning management adalah proses yang dilakukan dengan sengaja, sesuai dengan prinsip akuntansi untuk mengarahkan tingkatan laba yang dilaporkan. 

Sebagian praktisi akuntansi menganggap proses ini sebagai langkah mengintervensi atau memanipulasi laporan keuangan dengan tujuan mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan.

Istilah intervensi dipakai sebagai dasar untuk merujuk manajemen laba sebagai bentuk kecurangan. Sementara pihak lain tetap menganggap aktivitas rekayasa manajerial ini bukan sebagai kecurangan. 

Alasannya, intervensi dilakukan manajer perusahaan dalam kerangka standar akuntansi, yaitu masih menggunakan metode dan prosedur akuntansi yang diterima dan diakui secara umum.

Faktor-Faktor Penyebab Manajemen Laba

Intervensi terhadap laporan keuangan ini tidak dilakukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor penyebab umum, yakni:

1. Manajemen akrual (accruals management)

Faktor ini biasanya berkaitan dengan segala aktivitas yang dapat memengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer (manager discretion).

2. Penerapan suatu kebijakan akuntansi yang bersifat wajib

Faktor ini berkaitan dengan keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib diterapkan oleh perusahaan. Antara menerapkannya lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijaksanaan tersebut.

3. Perubahan aktiva secara sukarela

Faktor ini biasanya berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti atau mengubah suatu metode akuntansi tertentu di antara sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan akuntansi yang ada (generally accepted accounting principles).

Tujuan dan Motivasi Melakukan Manajemen Laba

Motivasi

Dalam melakukan setiap tindakan, tentu harus ada tujuan dan motif. Begitu juga dengan penerapan manajemen laba oleh manajer perusahaan. Berikut beberapa motivasi dan tujuan di baliknya.

1. Rencana bonus (bonus scheme)

Manajer perusahaan yang ingin mendapatkan bonus akan menghindari metode akuntansi yang melaporkan pendapatan bersih yang rendah. Manajer menggunakan laba akuntansi untuk menentukan besarnya bonus, cenderung akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat memaksimumkan laba bersih.

Dalam rencana bonus, ada istilah bogey dan cap. Bogey adalah tingkat laba minimum untuk mendapatkan bonus. Sedangkan cap adalah tingkat laba maksimum untuk mendapatkan bonus.

Jika posisi laba di atas cap, ada tidaknya bonus tergantung pada kontrak yang dilakukan antara pihak manajer dan pemegang saham. Manajemen laba bisa dilakukan dengan cara menggeser laba ke periode berikutnya. 

Namun jika posisi laba berada di bawah bogey, maka manajer akan mengurangi laba bersih. Dengan demikian kemungkinan untuk mendapat bonus di periode berikutnya akan meningkat.

2. Kontrak utang jangka panjang (debt covenant)

Kontrak utang jangka panjang adalah perjanjian untuk melindungi pemberi pinjaman dari tindakan manajer terhadap kepentingan kreditur. Bentuk perlindungan yang semacam ini adalah pemberian dividen, pinjaman tambahan atau memberikan modal usaha, dan memasukkan kekayaan pemilik berada di bawah tingkat yang telah ditentukan.

3. Motivasi politis (political motivation)

Aspek politis pada perusahaan bisa saja menjadi motivasi manajer dalam melakukan manajemen laba. Misalnya, perusahaan yang berkecimpung di bidang penyediaan fasilitas bagi kepentingan publik, seperti telekomunikasi, air, listrik dan infrastruktur, secara politis akan mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah.

Perusahaan di bidang ini cenderung menurunkan laba untuk mengurangi visibilitasnya supaya mendapat kemudahan dan fasilitas dari pemerintah, seperti subsidi.

4. Motivasi perpajakan (taxation motivation)

Motivasi perpajakan adalah upaya yang dilakukan perusahaan untuk mengurangi laba bersih yang dilaporkan. Dengan jumlah laba yang lebih rendah, maka akan meminimalkan besarnya pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah.

5. Pergantian direksi

Bagi direksi yang mendekati masa pensiun akan berusaha memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonus. Sebaliknya, direksi yang kurang berhasil memperbaiki kinerja perusahaan akan berupaya memaksimalkan laba untuk membatalkan atau mencegah pemecatan dirinya.

6. Penawaran perdana (initial public offering)

Ketika suatu perusahaan dinyatakan sebagai go public, informasi keuangan yang ada di dalam perusahaan merupakan sumber informasi penting. Informasi ini dapat digunakan calon investor untuk menilai perusahaan. Sebagai upaya memengaruhi calon investor, manajer akan berusaha menaikkan laba yang dilaporkan.

Pola Umum Manajemen Laba

Pada dasarnya ada empat pola dasar dalam manajemen laba, yaitu:

1. Taking a Bath

Pada pola ini, pihak manajemen harus menghapus beberapa aktiva dan membebankan perkiraan biaya yang akan datang pada laporan saat ini. Selain itu, pihak manajemen juga harus melakukan clear the desk atau menyembunyikan bukti yang ada sehingga laba yang dilaporkan di periode yang akan datang pun meningkat.

2. Income Minimization

Pola ini dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi. Gunanya agar tidak mendapat perhatian secara politis. Tindakan ini berupa penghapusan modal dan aktiva tidak berwujud, biaya iklan, serta pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan.

3. Income Maximization

Tindakan ini dilakukan pada saat laba perusahaan sedang menurun. Selain untuk mendapatkan bonus yang lebih besar, cara ini juga bisa melindungi perusahaan saat melakukan pelanggaran perjanjian utang. Tindakan yang dilakukan manajemen adalah dengan memanipulasi data akuntansi dalam laporan laba rugi.

4. Income Smoothing

Bentuk ini dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai pencapaian laba yang relatif stabil.

Menerapkan Manajemen Laba

Manajemen laba berkaitan erat dengan laporan keuangan yang dibuat perusahaan sebagai gambaran kinerjanya. Oleh sebab itu untuk melakukannya, pertama-tama pihak manajemen harus mengatur dan membuat estimasi akuntansi. Dengan demikian bisa memperkirakan pos mana yang akan ditambah dan dikurangi untuk menyesuaikan laporan laba perusahaan.

Selain mengaturnya dari awal, pihak manajemen juga bisa mengubah metode akuntansi atau menggeser periode penghitungan laporan keuangan sehingga mendapatkan jumlah laba yang diinginkan.

Proses ini memang dapat menguntungkan perusahaan dan bukanlah hal yang dilarang untuk dilakukan. Tetapi bagaimanapun, manajemen laba dapat membuat laporan keuangan menjadi bias dan informasi yang seharusnya disampaikan akan menjadi tidak transparan.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →