Tips Menentukan Harga Mark Up supaya Profit Lancar

Tips

Mark up adalah salah satu metode penetapan harga yang paling sederhana dan paling umum diterapkan dalam dunia bisnis.

Pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan harga jual atau jumlah rupiah yang ditambahkan pada biaya dari suatu produk. Dengan melakukan mark up akan didapatkan margin atau tingkat keuntungan awal atas barang yang mau dijual.

Harga mark up ditetapkan untuk menutup biaya tidak langsung dan laba/rugi perusahaan. Rumus sederhana dari harga jual mark up adalah sebagai berikut.

Harga Jual = Biaya Beli Produk + Mark Up

Apa Bedanya dengan Mark Down?

Berlawanan dengan mark up, mark down adalah upaya penurunan harga jual dengan cara mereduksi harga ritel awal atau menurunkan margin. Penetapan harga yang lebih rendah ini diharapkan dapat meningkatkan kuantitas penjualan. Jadi, harga mark down belum tentu membuat peritel rugi. Hanya saja untungnya lebih sedikit dari yang normalnya diharapkan.

Biasanya, mark down dilakukan dengan alasan cuci gudang. Peritel ingin segera menghabiskan stok barang lama meskipun harus dijual dengan harga yang lebih murah daripada harga belinya. Hal ini bisa disebabkan produk yang sudah tidak populer, masa kedaluwarsa yang sudah semakin dekat, atau adanya kecacatan pada kualitas produk.

Berikut rumus untuk harga mark down.

Harga Jual = Biaya Beli Produk – Mark Down

Apa Saja Metode Penetapan Harga selain Mark Up?

Apa saja

Metode penetapan harga tidak terbatas pada mark up dan mark down saja karena masih ada beberapa metode lain yang terbagi menjadi tiga macam pendekatan. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Penetapan harga berdasarkan biaya

Pendekatan yang pertama ini didasarkan kepada sudut pandang penghitungan biaya.

A. Penetapan harga biaya plus

Dalam metode ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutupi laba yang dikehendaki pada unit tersebut (margin).

Biaya Total + Margin = Harga Jual

B. Penetapan harga mark up

Harga jual per unit ditentukan dengan menghitung Harga Pokok Pembelian (HPP) per unit ditambah (mark up) jumlah tertentu.

Harga Beli + Mark Up = Harga Jual

C. Penetapan harga BEP (Break Even Point)

Metode penetapan harga berdasarkan nilai keseimbangan BEP (Break Even Point) antara jumlah total biaya keseluruhan dengan jumlah total penerimaan keseluruhan.

Total Biaya – Total Penerimaan

2. Penetapan harga berdasarkan harga pesaing/kompetitor

Penetapan harga dilakukan dengan menggunakan harga kompetitor sebagai referensi. Dalam pelaksanaannya, metode ini lebih cocok untuk produk standar dengan kondisi pasar oligopoli.

Untuk menarik dan meraih para pelanggan, perusahaan biasanya menggunakan strategi penjualan. Penerapan strategi harga jual juga bisa digunakan untuk menyiasati para pesaingnya, misalnya dengan cara menetapkan harga di bawah harga pasar dengan maksud merebut pangsa pasar.

3. Penetapan harga berdasarkan permintaan

Proses penetapan harga yang didasari persepsi konsumen terhadap value/nilai yang diterima (price value), sensitivitas harga, dan perceived quality.

Untuk mengetahui value atas kualitas, kita bisa menggunakan analisis Price Sensitivity Meter (PSM). Pada analisis ini, konsumen diminta memberikan pernyataan apakah merasa harga murah, terlalu murah, terasa mahal, atau terlalu mahal jika dikaitkan dengan kualitas yang diterima.

Menerapkan Mark Up pada Bisnis Retail

Sering kali retailer pemula hanya menganggap bahwa mark up sekadar menambahkan berapa keuntungan yang ingin diraihnya. Padahal sebelum menetapkan harga mark up, ada beberapa poin yang harus dijadikan pertimbangan pelaku bisnis ritel.

  1. Pertama, target penjualan. Target penjualan sangat penting sebagai acuan berapa banyak produk harus terjual dalam satu bulan atau satu hari. Hal ini penting dipertimbangkan agar tahu berapa lama produk berada di toko.
  2. Kedua, biaya operasional. Beberapa jenis peritel tentu butuh biaya-biaya operasional seperti transportasi, komunikasi, dan packing. Biaya-biaya itulah yang harus diperhitungkan agar tahu berapa biaya operasional per produksi.
  3. Ketiga, target pengembangan. Sebuah bisnis tentu harus terus tumbuh. Target itu juga harus sudah menjadi perhitungan agar keuntungan yang didapat juga berpengaruh kepada upaya pengembangan bisnis.

Lantas, bagaimana cara menghitung mark up harga agar bisnis retail bisa untung dan berkembang? Ini dia contoh sederhananya.

Contoh kasus mark up

Elita adalah seorang pengusaha toko bahan makanan dengan jumlah 100 barang. Ia mengambil produk A dengan harga Rp100 ribu per buah. Biaya operasional toko adalah Rp1 juta per bulan. Maka langkah-langkah untuk menentukan besaran mark up adalah sebagai berikut.

Langkah 1 : Target penjualan

Misalkan per hari minimal menjual produk A sebanyak satu buah dan total dengan barang lain sebanyak 10 buah.

Langkah 2 : Biaya operasional

Biaya operasional Rp1.000.000 per bulan = Rp33.333 per hari atau dibulatkan Rp34.000 per hari. Sebagaimana ada 10 barang yang terjual per hari, maka masing-masing produk ditambahkan (Rp34.000/10), yaitu Rp3.400.

Langkah 3 : Target pengembangan

Umumnya, pedagang retail menetapkan margin keuntungan minimal 20-30 persen dan bahkan ada yang 50 persen dari harga beli, tergantung kepada jenis barang. Pertanyaannya adalah yang manakah persentase yang cocok? Nah, dalam hal ini ada dua pertimbangan yang perlu kita ketahui.

Pertama, daya beli konsumen yang dikaitkan dengan di mana kita menjual produk atau lokasi toko. Jika kita menjual untuk masyarakat ekonomi rendah, maka kemungkinan margin keuntungan 20 persen masih dinilai masuk akal..

Kedua, menganalisis harga kompetitor, termasuk membandingkan harga di toko online agar kita tidak terlalu berlebihan melakukan mark up harga.

Jika diasumsikan menggunakan margin 20 persen, maka produk A memiliki nominal 20% x Rp100.000 = Rp20.000. Berikut rumus lengkap harga jualnya.

Harga Jual = Harga Beli + Biaya Operasional + Biaya Pengembangan

Maka hasilnya sebagai berikut.

Harga Jual = Rp100.000 + Rp3.400 + Rp20.000 = Rp123.400/barang.

Jadi, produk A minimal dijual dengan mark up sejumlah Rp23.400 atau dijual dengan harga Rp123.400 untuk menghindari kerugian. Ini adalah nilai mark up minimal. Kita juga bisa menentukan mark up lebih tinggi jika memang memungkinkan dan masih sesuai dengan daya beli target pasar.

Contoh Mark Up Ilegal dan Dampak Negatifnya

Markup legal

Mark up tidak selamanya bisa diterapkan secara positif. Pada dunia ritel, mark up digunakan untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan suatu barang. Namun pada bisnis maupun urusan lain, mark up atau disebut juga penggelembungan dana yang dilakukan secara ilegal bisa menimbulkan banyak masalah.

Contoh yang pernah terjadi adalah mark up anggaran pemerintahan. Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut dua modus korupsi yang terjadi sepanjang 2018 adalah mark up dana dan penyalahgunaan anggaran. Menurut ICW, terdapat 76 kasus yang menggunakan modus mark up anggaran. Modus tersebut menyebabkan kerugian negara hingga Rp541 miliar.

Mark up anggaran seperti ini juga sering kali terjadi pada dunia bisnis yang dilakukan oleh oknum yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi. Biasanya dilakukan dalam menyusun anggaran pengadaan barang bagi perusahaan.

Tindakan mark up ilegal seperti ini tentu saja menimbulkan banyak kerugian, terutama bagi perusahaan. Pasalnya pengeluaran perusahaan menjadi tidak efisien yang bisa menyebabkan keuntungan yang didapat tidak maksimal atau bahkan kerugian finansial yang bisa mengarah kepada kebangkrutan bisnis.Jadi, selalu terapkan mark up harga secara legal dan sesuai ketentuan, ya. Apalagi bagi kita yang mengelola bisnis, menentukan harga jual perlu disesuaikan dengan daya beli konsumen juga.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →