Melantai di Bursa Efek Indonesia, Bagus Gak Sih Saham Es Krim Diamond?

logo es krim diamond

Bukan cuma perusahaan es krim Campina yang sudah melakukan IPO, es krim Diamond pun melantai di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 22 Januari 2020. Untuk IPO kali ini, PT Indo Premier Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek (lead underwriter) sekaligus penjamin emisi efek dalam IPO tersebut.

Saham yang mendapat kode emiten DMND ini ditawarkan dengan harga Rp915 per saham. Di awal perdagangan, saham ini melesat 49,73% menjadi Rp 1.370.

Sebagai orang Indonesia, pasti familiar dong sama es krim yang satu ini. Atau mungkin ada juga di antara kamu yang suka.

Intinya, emiten ini, melepas 100 juta unit saham ke publik. PT Diamond Food Indonesia Tbk selaku perusahaan induk dari es krim ini berpotensi meraup uang sebesar Rp 91,5 miliar dari IPO.

Seberapa menarik kah saham es krim Diamond ini? Gimana kalau kita bahas aja yuk sekilas fakta mengenai es krim ini.

dua truk es krim dengan logo es krim diamond lama dan baru
Truk es krim Diamond. (Instagram/@sukandajaya)

[IG: Es krim Diamond diproduksi oleh PT Diamond Cold Storage dan didistribusikan oleh PT Sukanda Djaya. Keduanya merupakan anak perusahaan dari PT Diamond Food Indonesia Tbk yang bakal melantai dengan kode saham DMND] 

Seringkali kita melihat logo es krim Diamond tapi tulisannya PT Sukanda Djaya tanpa ada embel-embel PT Diamond Food Tbk. Bicara soal sejarahnya, PT Coca Cola Company dan WT Chen mendirikan PT Diamond Cold Storage yang menjadi cikal bakal Diamond Group.

Mereka adalah perusahaan yang mengimpor makanan dan minuman dingin dari luar negeri. Hingga akhirnya di tahun 1978 mereka mendirikan anak usaha baru bernama PT Sukanda Djaya. Saat itulah mereka mendistribusikan es krim bernama Diamond, yang diproduksi oleh Diamond Cold Storage.

Nah, perusahaan holding yang menaungi PT Diamond Cold Storage dan PT Sukanda Djaya adalah  PT Diamond Food Tbk. 

Menurut berbagai sumber PT DCS itu sendiri memiliki pabrik yang luasnya mencapai 6 ribu hektare di Cibitung, Bekasi. Selain es krim, mereka juga memproduksi susu UHT dan yogurt.

Salah satu tujuan dari IPO ini ternyata adalah untuk membantu Sukanda dalam hal modal kerja. 

Usut punya usut, Diamond Food ternyata punya beberapa anak usaha dan satu perusahaan terafiliasi. Salah satunya adalah PT Diamond Cold Storage, yang bergerak di bidang konsumer dan menjadi pemegang saham pengendali.

susu diamond
Susu Diamond. (Instagram/@sukandajaya)

Secara garis besar, brand Diamond memang memproduksi susu, yogurt, dan es krim. So, jelas banget bahwa mereka adalah kompetitor langsung dari Campina (CAMP), serta Ultrajaya (ULTJ).

Namun jangan kaget ketika melihat banyaknya produk-produk dari perusahaan PT Sukanda Djaya yang berada di bawah Diamond Group ini. 

Produk itu adalah butter Elle & Vire, selain Nutella dan Skippi, permen Sugus, Jungle Juice, Ovaltine, kentang goreng Golden Farms, teh Twinings, cokelat Hersley, Kinderjoy, Ferrero Rocher, hingga permen Uha yang tebel banget. Selain itu, masih banyak lagi lho produknya. Intinya, mereka memang rajanya produk makanan impor dari luar negeri.

Melantai di Bursa Efek Indonesia, Bagus Gak Sih Saham Es Krim Diamond?
Melantai di Bursa Efek Indonesia, Bagus Gak Sih Saham Es Krim Diamond?

produk-produk yang diimpor diamond
Produk-produk yang diimpor Sukanda Jaya. (Instagram/@sukandajaya)

Sebagai investor saham, gak salah kok untuk kepo sama laba bersih dari perusahaan ini. Gak mau kan beli kucing dalam karung?

Bicara soal labanya, Bisnis Indonesia memberitakan bahwa laba bersih perusahaan ini di Juli 2019 mencapai Rp 181,9 miliar. Sementara itu, pendapatan konsolidasi perusahaan mencapai Rp 3,8 triliun.

Konon kabarnya, pencapaian laba bersih ini dinilai naik 24,2 persen dari periode sebelumnya. Sementara itu, untuk pendapatan konsolidasi juga naik 10,29 persen dari Juli 2018. Keren juga ya!

Itulah sekilas informasi mengenai PT Diamond Food Tbk selaku produsen susu, yogurt, sekaligus es krim Diamond. 

Intinya, brand yang mereka produksi adalah Diamond. Tapi anak usahanya mendistribusikan produk-produk pangan impor yang cukup terkenal.

Bila melihat produk-produknya, tentu saja mereka punya produk yang sangat beken. Mari kita lihat bagaimana performa mereka setelah beberapa lama melantai di bursa. (Editor: Ruben Setiawan)