Melunasi KTA Sebelum Jatuh Tempo, Untung atau Buntung?

Telah Ditinjau: Maryadi Santana, CFP® QWP® Maryadi Santana, CFP® QWP®
cara perhitungan pelunasan kredit dipercepat

Pilih melunasi kredit tanpa agunan (KTA) sebelum atau sesudah jatuh tempo? Inilah pertanyaan terpenting pada abad ini. Tentunya bukan penting buat semua orang, melainkan hanya buat yang hendak mengakses atau sedang menikmati KTA.

KTA menjadi primadona karena mudahnya proses pencairan. Tapi konsekuensinya adalah tenor relatif pendek dan bunga secara umum besar.

Ternyata, beberapa penyedia KTA juga menerapkan biaya yang lumayan buat yang hendak melunasi sebelum waktunya. Peminatnya pun jadi berpikir, melunasi KTA sebelum jatuh tempo untung atau buntung ya?

Pilih mana: Melunasi KTA sebelum jatuh tempo atau tahan untuk keperluan lain?

Akan menjadi dilema ketika kita memiliki dana besar dan dihadapkan pada pilihan melunasi hutang KTA atau menggunakan dana tersebut untuk hal lain.

Bagi sebagian perusahaan pemberi pinjaman memberlakukan biaya yang besar mengingat mereka akan kehilangan pemasukan dari bunga yang dibayarkan tapi ada sebagian juga yang memberikan keringanan dengan menghilangkan bunga berjalan. Harus menjadi pertimbangan dan dipastikan sebelum menentukan pilihan.

Lalu, jika hanya melihat dari sisi dari tujuan keuangan maka ada beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan. 

Jangan lupa lindungi keuanganmu dengan asuransi jiwa kredit ya. Dengan begitu, kamu bisa terlindungi dari gagal bayar cicilan karena ada santunan tunai yang diberikan oleh perusahaan asuransi andai kamu mengalami risiko kehilangan pekerjaan.

 

Melunasi KTA sebelum jatuh tempo

  • Jika tujuan kita untuk mengurangi beban dan memaksimalkan cash flow, maka melunasi hutang KTA adalah cara terbaik.

Terlepas dari lebih besar atau tidak biaya pelunasannya sebenarnya tergantung dari kebijakan dari pihak perusahaan pemberi pinjamannya tadi. Jika memang biaya yang besar tadi masih masuk dalam budget kita, maka tidak ada salahnya selama itu membantu memperbaiki cash flow. Bahkan jika budget yang biasa digunakan untuk membayar cicilan tersebut bisa dialihkan ke hal yang lebih maksimal, misalkan dana investasi atau asuransi, maka biaya yang besar tadi menjadi kecil dibandingkan manfaat yang bisa kita dapatkan di kemudian hari. 

  • Jika tujuan kita untuk menghindari Riba maka sudah pasti kita harus mengambil pilihan melunasi pinjaman KTA tersebut.

Terlepas dari apakah akan dikenakan biaya yang lebih besar atau tidak. Ini pilihan yang absolut dilihat dari tujuannya. 

Tahan cicilan KTA, dan gunakan dana Untuk Keperluan Lain

Jika dana pelunasan tadi ingin digunakan untuk tujuan modal usaha atau investasi, dengan catatan kita memang sudah siap menanggung segala resiko dari usaha dan investasi tersebut, maka akan lebih maksimal jika meneruskan pembayaran cicilan KTA tersebut, terlebih jika bisa meyakinkan hasil investasi atau usaha tadi bisa membantu memperbaiki cash flow kita.

Ada catatan penting dalam pilihan kedua ini, harus dipastikan juga jika meneruskan cicilan tersebut cash flow kita dalam keadaan baik. Atau cicilan tersebut tidak lebih dari 15% dari penghasilan bulanan kita. Karena jangan sampai juga jika kita gunakan dana besar tadi untuk usaha atau investasi tapi secara cash flow kita masih kurang sehat.

Cari tahu berapa cicilan bulanan dengan kalkulator bunga flat Lifepal

Penasaran berapa cicilan bulanan yang kamu harus bayar jika pengajuan KTA-mu tembus? Cari tahu dengan kalkulator bunga flat berikut.

Cara perhitungan pelunasan KTA sebelum jatuh tempo (kredit dipercepat)

Umumnya, rumus cara perhitungan pelunasan kredit dipercepat adalah:

Sisa pokok pinjaman + bunga berjalan + penalti + administrasi pelunasan dipercepat + denda keterlambatan (kalau ada).

Kita pakai contoh kasus KTA Budi senilai Rp 100 juta dengan tenor tiga tahun (36 bulan) dan bunga flat 2 persen per bulan.  Pada bulan ke-20, dia berniat melunasi seluruh utang KTA-nya karena ada rezeki lebih.  

Pihak pemberi KTA Budi menerapkan penalti sebesar 5 persen dari sisa pokok pinjaman dan biaya administrasi Rp 100 ribu.

  • KTA: Rp 100 juta
  • Tenor: 36 bulan
  • Bunga: 2 persen per bulan
  • Penalti: 5 persen dari sisa pokok pinjaman
  • Biaya administrasi: Rp 100 ribu

Jumlah cicilan pokok Budi per bulan:

  • Rp 100 juta : 36 = Rp 2.777.777 (bila sampai bulan ke-19, totalnya Rp 52.777.763)
  • Jumlah bunga per bulan = 2% x Rp 100 juta = Rp 2.000.000 (bila sampai bulan ke-19, totalnya Rp 38 juta)
  • Total cicilan per bulan= Rp 4.777.777.

Pelunasan akan dilakukan pada bulan ke-20, berarti:

  • Total cicilan Budi hingga bulan ke-19 = Rp 4.777.777 x 19 = Rp 90.777.777.
  • Adapun sisa pokok pinjaman Budi = Rp 100 juta – Rp 52.777.763 = Rp 47.222.237
  • Bunga berjalan = total bunga – akumulasi bunga hingga bulan ke-19 = (2% x 100 juta x 36) – 38 juta = 72 juta – 38 juta = Rp 34 juta
  • Penalti: 5% x Rp 47.222.237 = 2.361.111

Dengan rumus pelunasan dipercepat seperti disebutkan di atas, berarti dana yang perlu disiapkan Budi: Rp 47.222.237 + Rp 34 juta + Rp 2.361.111 + Rp 100 ribu + Rp 0 = Rp 83.583.348

Artinya, total pengembalian pinjaman Budi jika pelunasan dipercepat sebesar Rp 90.777.777 + Rp 83.583.348 = Rp 174.361.125.

Nah, bagaimana bila Budi melunasi sesuai dengan perjanjian awal? Tinggal hitung saja cicilan pokok ditambah bunga dikali 36 bulan = Rp 171.999.972

Ada selisih sekitar Rp 2,3 juta jika Budi melunasi KTA pada bulan ke-20 atau sekitar 1 tahun sebelum jatuh tempo. Itu jika pakai hitungan dengan rumus di atas, ya.

Kesimpulan

Intinya adalah dana yang dikeluarkan untuk melunasi KTA sebelum jatuh tempo bakal lebih besar dibanding mencicil bulan demi bulan sesuai dengan perjanjian.

Sebab, ada biaya tambahan berupa penalti dan administrasi. Biaya tambahan itu ada karena kita dianggap melanggar perjanjian kredit lantaran melunasi sebelum jatuh tempo. Yang menjadi pertanyaan adalah berapa selisih dana tersebut? Dalam kasus Budi di atas, selisihnya hanya Rp2,3 juta. Bisa dibilang kecil ketimbang risiko menanggung utang.

Ketika memiliki utang, berarti ada beban pada keuangan. Cicilan per bulan akan mempengaruhi kondisi finansial.

Misalnya, jadi harus serba hemat dan menunda beli kebutuhan. Nah, setelah utang bisa lebih cepat dilunasi, napas keuangan kita pun bakal lebih longgar. Duit sebesar Rp 2,3 juta itu gak ada apa-apanya dibanding bila kita terus hidup dengan ikat pinggang yang ketat. Apalagi sampai setahun lebih seperti dalam contoh kasus Budi.

Meski begitu, faktanya, ada lho peminjam KTA yang mengeluh duit pelunasan yang dipercepat jauuuuuh lebih besar ketimbang sesuai dengan jatuh tempo.  Karena itu, penting bagi kita untuk menanyakan dulu soal kebijakan pelunasan dipercepat yang diterapkan pihak pemberi kredit.

Kalau perlu, mintalah simulasi total dana yang mesti kita keluarkan bila hendak melunasi KTA sebelum jatuh tempo. Biar gak ada masalah di kemudian hari. Jangan lupa juga untuk membandingkan lebih dulu produk KTA terbaik yang menawarkan bunga paling pas dengan kantong.

Mengambil KTA itu bukan keputusan yang bisa dianggap enteng, karena dampaknya bakal dirasakan sampai bertahun-tahun kemudian. “Jika kamu ingin mengambil KTA, maka pastikan cicilan pinjamannya itu tidak lebih dari 10% dari penghasilanmu per bulan,” ungkap Erlina Juwita, MM, CFP, Founder CerdasKeuangan dan Senior Consultant @Oneshildt.

Maka dari itu, bersikap teliti dan cermat soal perjanjian kredit adalah suatu keharusan. Kalau gak baca perjanjian, begitu kena biaya besar langsung teriak menuding ada penipuan. Kita jangan sampai masuk kategori ini, ya.

Jika kamu masih punya pertanyaan lain seputar Kredit Tanpa Agunan, jangan ragu untuk bertanya langsung di Tanya Lifepal.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →