Memulai Usaha Setelah Alami PHK? Ini Lho Tipsnya Agar Gak Gagal

Bertahun-tahun bekerja sebagai pegawai lalu mengalami PHK seperti mimpi buruk. Nah membangkitkan semangat dengan memulai usaha memang sah-sah saja, apalagi menggunakan uang pesangon. 

Ketika mengalami PHK, para eks karyawan memang berhak mendapatkan pesangon sesuai aturan pemerintah. Nah kali ini memang kita gak bakal membahas perihal seberapa besar nominal didapatkan oleh karyawan yang terkena PHK.

Tapi gimana caranya agar bangkit dari keterpurukan usai PHK. Salah satunya caranya adalah dengan memulai usaha dengan menggunakan uang pesangon. Tapi kamu mesti berhati-hati lho dalam penggunaan uang pesangon yang didapatkan. 

Jangan tergiur melihat besarnya nominal yang didapatkan, tapi bagaimana bisa mengelola uang tersebut untuk bertahan hidup. Contohnya nih Pak Gunawan salah satu karyawan swasta yang belum lama ini mengalami Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK di kantornya. 

Bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan, Pak Gunawan mesti menelan pil pahit nih dalam dunia kerja. Lantaran adanya efisiensi karyawan, perusahaan di mana Pak Gunawan bekerja melakukan PHK. 

Berbekal dengan uang pesangon yang ada, Pak Gunawan berencana memulai usaha kecil-kecilan demi menghidupi keluarga mungilnya. Sebelumnya, Pak Gunawan bekerja di perusahaan sparepart PT Waras Alami. 

Pak Gunawan menduduki posisi sebagai Asisten Manajer Teknikal Support. Duduk sebagai seorang Asisten Manajer, Pak Gunawan menerima gaji sebesar Rp 12 juta per bulan (sudah termasuk tunjangan dan lainnya). 

Maka besar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, pasal 156, besaran uang yang diterima oleh Pak Gunawan adalah pesangon sebesar Rp 108 juta + uang penghargaan (UPMK) Rp 48 juta = Rp 156 juta. 

Ia juga berhak atas uang penggantian masa cuti yang selama ini dirinya jarang sekali buat mengambil cuti sebagai karyawan. Cara menghitungnya adalah (jumlah hak cuti yang belum diambil / jumlah hari kerja dalam sebulan) x upah tetap.

Sebut saja jatah cuti Pak Gunawan yang saat ini tersisa 9 hari kerja. Maka uang yang didapat bapak dua anak ini berada di angka (9/20) x Rp 12 juta = Rp 5,4 juta

Belum lagi, perusahaan juga memberikan uang ucapan terima kasih pada dirinya sebesar satu kali gaji sebagai Asisten Manajer. Alhasil uang yang diterima pria asal Jawa Barat ini adalah Rp 156 juta + Rp 5,4 juta + Rp 12 juta = Rp 173,4 juta!

Dengan uang sebesar Rp 173 juta, bisnis apa sih yang sekiranya bisa dirintis oleh Pak Gunawan? Banyak banget pastinya dan uang sebesar ini ibarat setara dengan satu tahun dua bulan gaji lho. 

Mengingat usianya yang sudah nyaris menginjak kepala empat, rasanya mencari pekerjaan baru memang agak sulit. Bukannya apa, karyawan dengan usia ini terbilang sudah senior buat menduduki sebuah posisi di perusahaan. 

Oleh karena itu, gak ada salahnya kok kalau ia akhirnya memutuskan memilih untuk memulai usaha saja ketimbang menyebar surat lamaran atau cv.  

Akan tetapi sebuah bisnis tentu punya risiko yang berbeda-beda. Apa jadinya kalau tiba-tiba usahanya mengalami gulung tikar? Tentunya, risiko finansial yang dialami dirinya cukup besar, lantaran ia juga sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. 

Lantas seperti apa manajemen keuangan dan perencanaan bisnis yang harus dilakukan oleh dirinya sebelum memulai usaha? Yuk simak ulasannya.

1. Segera alokasikan dana darurat

Memiliki dana darurat itu penting lho

Sebelum mengeluarkan dana untuk memulai usaha, alokasikan terlebih dahulu buat kebutuhan dana darurat dari uang pesangon. Kenapa mesti begitu? Pasalnya nih kamu gak bisa memprediksi kesuksesan bisnismu ke depan nanti.  

Setidaknya, ambil sikap terlebih dahulu deh soal pengeluaran. Apapun yang terjadi di masa depan, dapur harus tetap mengebul dan biaya sekolah buat anak-anak tetap aman dan tidak di ganggu gugat.  

Sudah tahu besaran dana darurat itu berapa? Bila kamu sudah berkeluarga dan memiliki satu anak, maka besaran minimal 12 kali pengeluaran rutin bulanan.

Dalam kasus Gunawan, bila pengeluaran bulanannya adalah Rp 6 juta (dihitung 50 persen dari Rp 12 juta). Maka alangkah lebih baik jika ia langsung menyisihkan Rp 72 juta dari uang santunan tersebut untuk dana darurat setahun. 

Beruntung sekali, jika seandainya dirinya memang sudah rutin menabung darurat sejak peristiwa PHK ini belum terjadi. Besar kemungkinan, dana darurat yang tersimpan di rekening tabungannya sudah lebih dari Rp 100 jutaan.

Seperti yang sebelumnya telah dibahas, ada baiknya juga untuk menyimpan sebagian dana darurat dalam investasi seperti reksa dana pasar uang, tujuannya adalah agar cadangan dana darurat yang belum digunakan bisa bertambah banyak. 

2. Cari investasi jangka pendek, beli secara lump sum

Hal ini juga mesti kamu perhatikan lho saat mengalami PHK

Apa tujuannya memiliki investasi jangka pendek? Tentu saja adalah untuk menambah penghasilan pertahun. Investasi jangka pendek tentu berbeda dengan investasi jangka panjang yang umumnya ditujukan untuk keperluan dana pensiun. 

Pilihlah reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, P2P lending, atau obligasi ritel negara. Dalam kasus yang dialaminya, teknik investasi jangka pendek lump sum atau sekali beli dalam jumlah besar. 

Patut dicoba dengan memanfaatkan uang pesangon. Sebut  saja, dengan uang Rp 50 juta, penghasilan Gunawan secara pertahun dari investasi bisa meroket.

Otomatis, imbal hasil investasi Gunawan juga bertambah lantaran modal investasinya cukup besar. Kira-kira investasi risiko kecil seperti apa ya yang menguntungkan dirinya dengan modal Rp 50 juta? Berikut ilustrasi sederhananya.

 

Jenis investasi Tenor/Jatuh tempo Imbal hasil (%) Pajak  Kupon bersih per bulan Keuntungan investasi/ kupon per tahun
Deposito 1 tahun 6,3 % 20% Rp 2.520.000
Saving bond ritel (SBR 009) 1 tahun 6,3 % 15%  Rp 223.135 Rp 2.677.550
Reksa dana pasar uang 1 tahun 7,5 % Rp 3.750.000
Reksa dana pendapatan tetap 1 tahun 12% Rp 6 juta
P2P lending 1 tahun 18 % Rp 9 juta

Kalau mau yang returnsnya besar, mau gak mau ya P2P lending. P2P lending sejatinya gak jauh beda kok sama deposito di bank. Intinya kita memberikan uang kita untuk dialokasikan kepada para peminjam dana. 

Risikonya, tentu saja ada kredit macet dan gagal bayar. Namun hal itu tentu sudah dimitigasi dengan asuransi kredit yang bermitra dengan platform P2P Lending.

3. Mulai dari usaha kecil dulu

Memulai usaha yang kecil dulu baru merintis ke depannya

Menurut Bob Sadino, bisnis yang bagus adalah bisnis “yang dijalankan” bukan ditanya-tanya terus. Masukan-masukan seputar bisnis tentu akan datang dari berbagai pihak. 

Ada yang menyarankan kamu untuk melakukan bisnis kuliner, lalu menyarankan menjadi supplier, dan lain sebagainya. Kira-kira sudah tahu belum jika mau memulai usaha di bidang apa? Kalau sudah tahu, dan paham mekanismenya ya monggo. 

Namun dalam kasus bapak dua anak ini, ternyata ia sendiri belum memiliki gambaran soal urusan bisnis. Jika hal ini terjadi, maka bisnis ini juga bakal jadi usahanya untuk pertama kalinya.  

Kalau kenyataannya seperti ini, maka pilihan mudah adalah memulai bisnis skala kecil saja di bidang yang dipahami. Gunawan adalah mantan karyawan yang pernah bekerja di bidang otomotif selama sembilan tahun di divisi teknikal support. 

Permesinan, manajemen bengkel, dan harga-harga suku cadang tentu sudah jadi makanan sehari-harinya. Kenapa gak mendirikan bengkel motor saja? Atau jika memang terlalu berat, dan sulit merekrut mekanik, bengkel cuci motor pun jadi. 

Untuk lokasinya di garasi rumah saja, agar tidak perlu keluar biaya sewa. Seberapa besar modal dan imbal hasil yang bisa didapatnya dari usaha ini? Mari simak rinciannya di bawah sini.

Modal awal

Peralatan Harga
Kompresor Rp 4 juta 
Bahan bakar kompresor Rp 500 ribu
Selang 10 meter Rp 175 ribu
Shampoo wax 5 liter Rp 125 ribu
Shampoo salju 5 liter Rp 75 ribu
Spons 4 unit Rp 20 ribu
Lain-lain Rp 1 juta
Total  Rp 5.895.000

Operasional sebulan

Bahan bakar kompresor Rp 500 ribu
Selang 10 meter Rp 175 ribu
Shampoo wax 5 liter Rp 125 ribu
Shampoo salju 5 liter Rp 75 ribu
Spons 4 unit Rp 20 ribu
Upah montir cuci 2 orang Rp 2 juta
Total  Rp 2.895.000

Laba sebulan

Biaya cuci Jumlah pelanggan per hari Laba kotor per hari
Motor biasa Rp 17 ribu 13 motor Rp 221 ribu
Motor besar Rp 25 ribu 10 motor Rp 250 ribu
Total Rp 471 ribu

Jika bengkel cucinya beroperasi selama 6 hari dalam seminggu (24 hari sebulan), maka prediksi laba kotor dengan 20 pelanggan sehari mencapai Rp 471 ribu x 24 hari = Rp 11.304.000.

Sementara itu laba bersih dari usahanya adalah Rp 11.304.000 – biaya operasional Rp 2.895.000 = Rp 8.409.000. Dalam setahun, penghasilannya berada di angka Rp 8.409.000 x 12 bulan = Rp 100.908.000

Usai memulai usaha dan investasi dengan modal besar, berapa penghasilan yang diterima dalam setahun?

Dengan membuka usaha cuci motor ini menjanjikan lho

Jika dalam setahun, ia bisa mengumpulkan Rp 100.908.000, tentu saja besaran nominal ini dinilai jauh lebih kecil ketimbang penghasilan Gunawan sebagai karyawan.

Sebelum mengalami PHK, Gunawan menghasilkan Rp 12 juta per bulan jika ditotal dalam setahun, jumlahnya mencapai Rp 156 juta. Gak cuma itu, mengingat ia juga menerima uang THR sekali gaji. 

Tapi jangan salah lho, semenjak gak lagi bekerja, ternyata ia justru menggunakan uang pesangon dari perusahaan sebagai dana segar berinvestasi senilai Rp 50 juta. 

Tabel di bawah ini menunjukkan berapa jumlah penghasilannya dari investasi (Rp 50 juta lumpsum), dan bisnis bengkel cuci motor, penasaran? 

Investasi Penghasilan per tahun Imbal hasil investasi dalam setahun Penghasilan setahun
Deposito Rp 100.908.000 Rp 2.520.000 Rp 103.428.000
SBR Rp 100.908.000 Rp 2.677.550 Rp 103.585.500
Reksa dana pasar uang Rp 100.908.000 Rp 3.750.000 Rp 104.658.000
Reksa dana pendapatan tetap Rp 100.908.000 Rp 6 juta Rp 106.908.000
P2P lending Rp 100.908.000 Rp 9 juta Rp 109.908.000

Penghasilan berkurang, apakah bahaya? 

berbahayakah penghasilan gak masuk sama sekali?

Terbukti bahwa setelah memulai usaha, penghasilannya bukannya bertambah melainkan menurun. Ia gak lagi bisa menikmati uang THR yang biasanya diterima setiap tahun.

Dengan berkurangnya penghasilan ini, apakah artinya bisnis bengkel motor gak cocok untuk dirinya? Atau Gunawan masih harus mencari ide bisnis lain yang penghasilannya lebih besar? Tentu saja tidak. 

Ada beberapa hal seputar perencanaan keuangan dan bisnis yang bisa dipetik dalam peristiwa ini. 

1. Bisnis yang dilakoni Gunawan itu cepat balik modal

Ilustrasi mengenai modal awal, biaya operasional dan laba per tahun di atas merupakan simulasi di mana bisnis tersebut gak dikembangkan sama sekali. Coba lihat, ilustrasi laba yang didapatkannya dalam kurun waktu sebulan. 

Jika dalam sehari terdapat 20 motor yang dicuci di bengkelnya? Sudah balik modal karena jumlahnya Rp 8 jutaan (lebih dari modal awal buka usaha). 

Dalam hitungan bulan, ia bisa memperluas usahanya agar dalam sehari dirinya bisa menargetkan 40 pelanggan. Sebut saja dengan menambah peralatan, karyawan dan pasang spanduk besar atau mungkin membuka layanan baru berupa cuci mobil.

Omzet usahanya dalam sehari pun bisa naik dari yang awalnya Rp 471 ribu karena pelanggannya hanya 23 motor. Sekarang menjadi Rp 840 ribu lantaran pelanggannya sehari bisa mencapai 40 motor. 

2. Keuangan Gunawan masih sehat

Seperti yang dijelaskan di atas, porsi dana darurat miliknya sudah lebih dari cukup untuk satu tahun. Selain itu, ingat juga lho ia masih memiliki BPJS Ketenagakerjaan yang saldonya belum dicairkan. 

Itu sebabnya, walaupun penghasilan dari bisnis barunya masih lebih kecil dibandingkan gaji yang ia dapatkan, hal itu masih bisa ditoleransi. Namanya juga sedang merintis usaha, berdarah-darah di awal tentu wajar.

Ingat lagi di poin sebelumnya bahwa, perhitungan di atas adalah asumsi jika bisnis miliknya sama sekali gak dikembangkan. Jika memang kapasitas usahanya digenjot, maka penghasilannya pun menjadi lebih besar. 

3. Dengan memulai usaha, ia memiliki banyak waktu

Tanpa disadari, keputusan dirinya untuk memulai usaha adalah tindakan yang tepat. Meski penghasilan di awal diterima lebih kecil dari sebelumnya, setidaknya ia mempunyai banyak waktu senggang ketimbang saat dirinya masih jadi karyawan kantoran. 

Di samping itu, gak ada ongkos transportasi yang keluar, mengingat usaha ini ia buka di garasi rumahnya sendiri. Dengan banyaknya waktu senggang, hal tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal positif. 

Sebut saja seperti melakukan riset pengembangan usaha, membuka usaha kecil lainnya, atau belajar.

4. Masa depannya tetap cerah jika investasi jangka panjang tetap ada

Walaupun sudah gak lagi bekerja sebagai karyawan, investasi jangka panjang sejatinya gak ditinggalkan oleh dirinya. Ia pun harus tetap rutin berinvestasi dengan menggunakan 10 persen dari total laba bersih yang didapatkan sebulan ke berbagai instrumen.

Jika sebulan laba bersihnya Rp 8 jutaan, maka Rp 800 ribu pun jadi. Gak salah juga kok mengalokasikan uang sebesar itu untuk membeli saham blue chip secara rutin.

Dengan uang sebesar disebutkan sebelumnya, di bulan Februari 2020, Gunawan bisa membeli saham perbankan yang punya fundamental baik. Sebut saja seperti BBRI, BBNI, BMRI, atau saham consumer goods seperti UNVR, ACES, SIDO, dan lainnya. 

Keuntungan investasi saham blue chip itu besar lho. Bisa lebih dari 20 persen setahun, belum lagi ada devidennya. Itulah ulasan seputar mereka yang ingin memulai usaha usai mengalami PHK di perusahaannya. 

Jangan lupa juga buat investasi jangka panjang, dan pastinya selalu pakai asuransi jiwa guna mengantisipasi masalah finansial yang muncul, ketika si pencari nafkah telah tiada atau gak lagi bisa bekerja. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).