Mitos-Mitos Soal Keuangan dan Generasi Milenial, Mana yang Fakta?

Generasi milenial masih mendominasi jumlah penduduk di Indonesia.

Generasi milenial masih mendominasi jumlah penduduk di Indonesia. Diperkirakan, saat ini ada 83 juta orang atau sekitar 30 persen seluruh jumlah populasi penduduk. Sehingga wajar bila pemerintah menaruh harapan besar ke mereka dalam memajukan bangsa. 

Bila merujuk dari standar yang telah dibuat oleh Lancaster dan Stillman (2002), milenial adalah orang-orang yang lahir dari tahun 1980 sampai 1995. Ciri khas dari generasi ini adalah aktif dan mahir dalam mengoperasikan teknologi instan seperti komputer dan telepon pintar. 

Tapi sayangnya milenial tidak hanya dilihat dari segi keahliannya beradaptasi dengan teknologi saja, melainkan banyak mitos-mitos seputar finansial yang mereka alami. Apa saja? Coba cek fakta dan mitosnya berikut ini, seperti dilansir dari Money Under 30. 

1. Milenial mengharapkan gaji tinggi saat baru lulus kuliah – Mitos 

Mata uang rupiah
Uang gaji yang diterima setiap orang beda-beda (Shutterstock).

Mengharapkan gaji yang tinggi sih wajar saja di dunia kerja. Tapi gak ya pas baru lulus juga! Katanya sih ‘harga’ milenial itu di pasar kerja sangatlah mahal, mereka menganggap ilmu mereka layak untuk diberi gaji lebih besar dari generasi sebelumnya. Contohnya kayak status fresh graduate yang viral di jagat maya tahun lalu, lantaran menolak tawaran gaji 8 juta dari perusahaan. 

Hm ternyata itu hanya sebagian kecil aja. Mayoritas milenial yang baru lulus justru berpikiran kalau ilmu dan keterampilan mereka itu gak ada apa-apanya bila dibandingkan senior-senior terdahulunya. 

2. Banyak milenial yang masih menumpang tinggal di rumah orangtua – Fakta  

pasangan baru telah memutuskan membeli rumah

Rumah.com, pada tahun 2018 pernah melakukan survei tentang minat pasar terhadap properti. Survei dilakukan dengan mengumpulkan 1.000 responden yang tersebar di kota-kota Indonesia. Sebanyak 63 persen dari jumlah responden tersebut adalah generasi milenial, dan 51 persen dari generasi milenial itu mengaku masih tinggal di rumah orang tua. 

Beragam alasan kenapa mereka masih tinggal bersama dengan orangtua, di antaranya adalah belum ingin pindah sebelum menikah, belum memiliki uang untuk membeli rumah, dan alasan terakhir untuk menjaga orangtua. 

3. Milenial lebih materialis – Fakta 

Generasi milenial gemar belanja melebihi bujet (Shutterstock).
Generasi milenial gemar belanja melebihi bujet (Shutterstock).

Seperti yang diketahui, generasi milenial lebih melek terhadap teknologi. Dengan teknologi kepraktisan semakin nyata. Hal inilah yang turut berkontribusi mengubah gaya konsumsi masyarakat kalangan milenial. 

Budaya digital dan kepraktisan tersebut ternyata membuat milenial lebih konsumtif. Bisa ditandai dengan banyak munculnya situs-situs e-commerce dan jual beli online yang rata-rata dikuasai oleh konsumen dari generasi milenial. 

Hal ini didukung dari pernyataan pengamat digital Ben Soebiakto seperti dikutip dari CNN. Ben mengatakan kalau transaksi yang serba digital ini telah merubah generasi milenial menjadi sangat konsumtif.

4. Generasi milenial sulit menabung – Fakta 

Tabungan generasi milenial (Shutterstock).
Tabungan generasi milenial (Shutterstock).

Beberapa lembaga survei telah menyimpulkan kalau generasi milenial paling susah mengelola keuangan, termasuk untuk menabung dan investasi. Salah satunya survei yang dilakukan oleh Luno dan Dalia Research seperti dikutip dari Tempo yang menyebutkan kalau 69 persen dari 7.000 responden milenial mereka tidak menabung dan berinvestasi. 

Penyebabnya adalah karena milenial lebih konsumtif dan terlalu gampang bosan terhadap barang yang mereka beli. Kedua, karena perkembangan teknologi yang menyebabkan kemudahan transaksi tanpa tunai. 

5. Milenial kutu loncat di dunia profesional – Betul

Generasi Milenial sedang melamar pekerjaan (Shutterstock)
Generasi Milenial sedang melamar pekerjaan (Shutterstock)

Banyak yang beranggapan kalau generasi milenial ini demen banget pindah-pindah kerjaan, alias kutu loncat. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Gallup pada tahun 2016, yang hanya menemukan kalau 21 persen milenial gonta-ganti pekerjaan lebih dari dua kali dalam satu tahun. Ternyata, jumlah tersebut tiga kali lebih besar dibandingkan jumlah kutu loncat di generasi non-milenial.

6. Milenial sulit nego gaji – Fakta 

Interview kerja (Shutterstock).
Interview kerja (Shutterstock).

Kebanyakan milenial apalagi yang pengalaman kerjanya masih sedikit merasakan kesulitan untuk menegosiasikan gajinya. Alasannya karena mereka takut untuk terlihat terlalu memaksa atau takut kehilangan pekerjaannya. Jadi ya mau gak mau, terima aja besaran yang ditawarkan, selama perusahaannya bonafide.

Itulah enam mitos-mitos tentang generasi milenial soal keuangan, ada yang fakta tapi ada juga yang hanya sekadar mitos. Tapi yang pasti, milenial tengah berhadapan dengan gaya hidup konsumtif yang sesungguhnya sangat tidak baik untuk masa depan mereka sendiri. (Editor: Winda Destiana Putri).