NJOP Jakarta Naik, Ternyata Ada Dampak Positifnya juga Kok!

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menaikkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. Kenaikan NJOP tahun ini rata-rata sebesar 19,4 persen. Kenaikan ini tercantum dalam Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2018 tentang Penetapan NJOP Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) Tahun 2018.

Sebagai informasi, NJOP adalah nilai yang ditetapkan negara sebagai dasar pengenaan PBB (Pajak Bumi dan Pembangunan). Nilainya dihitung berdasarkan luas dan zona rumah, serta bangunan tersebut.

Terkait bidang properti, NJOP dapat dijadikan patokan harga terendah suatu rumah untuk dijual atau dibeli. Hal ini karena perkembangan suatu kawasan dapat membuat harga properti ikut meningkat. Nah, untuk itulah pemerintah menetapkan Nilai Jual Objek Pajak agar harganya gak jadi melejit.

Sampai sini, sudah mulai terbayang belum dampak kenaikan NJOP? Jika belum, yuk simak ulasannya berikut ini.

Dampak Negatif

1. Harga tanah melonjak

Berdasarkan Pergub terbaru, beberapa wilayah di Jakarta mengalami kenaikan Nilai Jual Objek Pajak terutama untuk daerah yang bersinggungan dengan proyek Mass Rapid Transit (MRT) atau pembangunan infrastruktur.

Kawasan yang mengalami kenaikan nilai tanah tertinggi adalah wilayah Jenderal Sudirman, yakni sebesar Rp 93.963.000. Sementara untuk masing-masing wilayah, kawasan yang mengalami kenaikan tertinggi adalah sebagai berikut (per meter persegi):

– Jakarta Pusat: Jalan Jenderal Gatot Subroto Rp 47.923.000

– Jakarta Barat: Jalan Pinangsia Raya Rp 29.375.000

– Jakarta Selatan: Jalan P Lebak Lestari Rp 23.623.000

– Jakarta Timur: Jalan Pulo Letut dan Jalan Rawa Terate I Rp 7.455.000

– Jakarta Utara: Jalan Garden Gardenia dan Gold Coast Avenue Rp 18.375.000

– Kepulauan Seribu: Jalan Pulau Putri Timur Rp 8.145.000

2. Rumah makin sulit dijangkau

NJOP
(Image: pexels)

Kenaikan harga tanah akan mendongkrak harga bangunan, salah satunya rumah. Dilansir dari CNN, Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan harga rumah di Jakarta saat ini sudah terlampau tinggi. Ditambah dengan kenaikan NJOP, harganya bakal makin sulit dijangkau, terutama oleh masyarakat menengah ke bawah.

Beberapa perusahaan properti bahkan sudah bersiap menaikkan harga jual meski gak signifikan. Nah, kamu yang  pengin cepet punya hunian idaman, bisa coba nabung ekstrem biar mimpimu bisa terwujud. Misalnya, setiap menerima gaji segera alokasikan 30 persen buat tabungan DP rumah.

Dampak Positif

Meski kenaikan ini memicu kenaikan harga properti, kenaikan ini juga punya keuntungan buat masyarakat, termasuk kamu. Berikut ini dampak positifnya.

1. Terhindar dari para spekulan tanah ‘nakal’

Selama ini gak sedikit spekulan yang bertindak sebagai “provokator” dengan menghasut masyarakat menaikkan harga tanah jauh di atas batas Nilai Jual Objek Pajak atau bahkan harga pasar.

Nah, dengan kenaikan Nilai Jual Objek Pajak yang mendekati harga pasaran, spekulan gak bisa lagi membuat harga tanah melambung. Wong, batas NJOP-nya aja udah mahal. Pembeli pun bisa kabur kalau harganya jadi gak masuk akal.

2. Layanan dan fasilitas umum jadi lebih baik

NJOP
(Image: Kompas)

Seperti semua jenis pajak, retribusi Nilai Jual Objek Pajak juga dialokasikan untuk peningkatan layanan umum dan fasilitas umum. Jadi udah sewajarnya nih kalau kenaikan ini sejalan dengan peningkatan pelayanan dan fasilitas buat masyarakat.

Yuk, kita pantau perkembangannya sama-sama.

Selain itu, kenaikan Nilai Jual Objek Pajak hanya berlaku di zona-zona tertentu. Jadi gak semua penduduk Jakarta merasakan dampaknya. Coba cek di Pergub 24/2018 di atas, wilayahmu termasuk yang alami kenaikan gak?

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →