Wow, 75 Persen Orang Indonesia Udah Punya Produk Keuangan

OJK (Tempo/ Tony Hartawan)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan, hingga akhir 2019 75 persen masyarakat Indonesia telah menikmati layanan jasa keuangan.

Wimboh mengatakan, jumlah tersebut sesuai dengan target yang dicanangkan. Hanya saja tingkat literasi keuangan yang masih perlu ditingkatkan.

“Inklusi keuangan targetnya 75 persen pada 2019. Kami survei 75 persen ini sudah tercapai, literasi keuangan 35 persen” ungkap Wimboh di Jakarta.

Adapun, inklusi keuangan adalah sebuah kondisi dimana setiap  masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas, tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. 

Menurut Wimboh, berbagai upaya telah dilakukan OJK agar mendorong inklusi keuangan di Indonesia bisa terus meningkat.

Salah satunya adalah dengan mengedukasi para pelajar mulai dari tingkat sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), dan kejuruan.

“Kami literasi anak-anak SD SMP dengan tabungan. Kami minta dan haruskan, anak SMP dibukakan bukutabungan secara elektronik. ini kerja sama dengan pemerintah daerah dan seluruh jasa keuangan,” kata dia.

Literasi Juga Melonjak

Bahkan, dirinya menegaskan, OJK tidak hanya sekedar melakukan sosialisasi dan edukasi, dalam meningkatkan inklusi dan literasi keuangan para pelajar juga dibuatkan rekening bank sesuai dengan kebutuhannya.

“Kami terus melakukan literasi keuangan kepada anak-anak SD, SMP untuk menabung. Kami minta dan haruskan anak SD, SMP dibukakan buku tabungan secara elekteronik,” paparnya.

Tercatat, dalam program Sampel, jumlah total tabungan pelajar tercatat mencapai Rp 8,8 triliun dari 21,6 juta pelajar di 3.500 sekolah. 

Tak hanya kalangan pelajar, OJK juga mendorong inklusi keuangan dengan kelompok masyarakat lainnya, mulai dari pengusaha, petani, hingga masyarakat bisa.

Salah satu caranya adalah dengan menyalurkan kredit usaha mikro (KUR), program Mekaar PT PNM (Persero), program kredit ultra mikro (UMi), hingga Bank Wakaf Mikro (BWM) bagi kalangan santri di seluruh Indonesia.

“Tentunya ini bukan hal yang mudah untuk kita bisa laksanakan, kami sekali lagi memohon kerja sama semua pemangku kepentingan di daerah, agar sinergi dari sisi tabungan dan pembiayaan. Kami akan berupaya untuk perluas akses dan percepat akses dengan teknologi, sehingga digitalisasi penting,” papar Wimboh.

OJK mencatat, kredit UMKM sudah mencapai 20 persen dari total kredit bank yang sebesar Rp 1.102 triliun.

Tercatat, berdasarkan catatan OJK, penyaluran KUR sudah mencapai Rp 127,3 triliun dari target yang dicanangkan mencapai Rp 140 triliun hingga akhir 2019. 

Sementara pada tahun 2020 mendatang, pemerintah menargetkan penyaluran KUR naik menjadi Rp 190 triliun.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

 

 

Marketplace Asuransi #1 di Indonesia

Cari Asuransi Terbaik Sesuai Anggaranmu

  • Bandingkan > 100 polis asuransi
  • Konsultasi & bantuan klaim gratis