Atasi Panic Buying Belanja Sembako Dibatasi, Ini Daftarnya!

Sudah lebih dari sebulan sejak virus corona pertama kali terdeteksi di Indonesia, kepanikan dan rasa takut membuat masyarakat memborong barang kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, persediaan kebutuhan pokok di supermarket dan pasar habis hanya dalam waktu sekejap. Fenomena ini disebut juga dengan istilah panic buying. 

Melihat keresahan tersebut, pemerintah akhirnya mulai membatasi kegiatan masyarakat belanja sembako. Lantas, sebenarnya apa sih dampak panic buying terhadap ekonomi? Kenapa pemerintah mengeluarkan larangan? 

Biar lebih jelas, yuk simak pembahasannya di bawah ini! 

Virus corona di Indonesia

Virus Corona (Shutterstock).

Sebelum membahas lebih jauh soal panic buying, ada baiknya kita tahu sebenarnya apa sih virus corona itu. 

Virus corona atau Covid-19 merupakan penyakit menular yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, Provinsi Hubei, China pada bulan Desember 2019 lalu. Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali terdeteksi pada tanggal 2 Maret 2020.

Awalnya, terdapat dua kasus. Namun, hingga data 7 April 2020, tercatat ada 2,491 kasus positif, meninggal 209 orang, dan sembuh 192 orang. 

Melihat penyebaran virus corona yang begitu cepat, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyatakan Corona atau Covid-19 sebagai pandemi global. 

Pemicu panic buying di Indonesia

Belanja secara berlebihan saat pandemi corona tidak baik lho

Tindakan panic buying pada dasarnya dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap risiko kehabisan stok bahan makanan jika pemerintah menerapkan lockdown atau karantina aktivitas publik. 

Menurut Anggota Dewan Penasehat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), fenomena belanja borongan ini telah terjadi dua kali di Indonesia. 

Pertama, saat Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama pada awal Maret 2020. Saat itu, jika melihat pusat perbelanjaan, rak-rak barang yang dijual terlihat ludes habis dalam waktu cepat. 

Ini sebenarnya bukan karena stok barang habis, melainkan tidak sempat dipajang karena pengunjung yang membludak. 

Yang kedua, terjadi ketika ada isu lockdown pada 14 Maret 2020. Bahkan, aksi borong sembako ini terjadi hingga dua hari. Kemudian, diikuti beberapa hari selanjutnya dengan skala panic buying yang gak terlalu besar dan masih dalam kategori wajar. 

Selain sembako, kelangkaan barang-barang seperti masker yang disebabkan pembatasan kegiatan usaha untuk memperlambat penularan virus corona juga terjadi karena panic buying. Bahkan, ketersediaan hand sanitizer, vitamin, hingga suplemen turut langka di pasaran.

Karena tingginya permintaan tapi persediaan terbatas, menyebabkan spekulan dadakan yang menjual barang-barang tersebut dengan harga tinggi demi keuntungan yang sebesar-besarnya.

Atasi panic buying, pemerintah batasi belanja sembako 

Aksi panic buying membuat keresahan baik dari masyarakat yang kehabisan sembako, hingga risiko ekonomi yang muncul akibatnya. 

Demi mencegah risiko tersebut, Satgas Pangan Polri telah mengeluarkan surat edaran B/1872/III/Res.2.2/2020/Bareskrim berisi pembatasan pembelian sembako. Surat ini ditujukan kepada pengusaha ritel dan pedagang pasar tradisional di Indonesia. 

Adapun daftar pembatasan pembelian bahan pokok meliputi: 

  • Beras maksimal 10 kg. 
  • Gula maksimal 2 kg. 
  • Minyak goreng maksimal 4 liter. 
  • Mie instan maksimal 2 dus. 

Jika ketahuan melanggar aturan di atas, maka akan diberikan peringatan dan sanksi tegas. Selain itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto juga menegaskan, baik pengusaha makanan dan minuman serta pengusaha ritel menjamin ketersediaan pasokan. Jadi, kita gak perlu khawatir dan belanja borongan ya! 

Seperti apa dampak dari aksi borong sembako?

Dikenakan denda di angka Rp 1 miliar bagi siapa saja penyebar berita bohong soal virus Corona

Larangan panic buying dari pemerintah ini bukan tanpa sebab. Faktanya, banyak instansi yang akan terkena dampak dari aksi borong sembako. Mulai dari persediaan sembako yang tidak merata, hingga kejatuhan ekonomi. 

1. Persediaan sembako yang tidak merata

Salah satu contohnya, kasus perawat yang sempat viral akibat kehabisan bahan makanan. Melalui sebuah video yang diunggah di Facebook, Dawn Bilbrough menjelaskan dirinya adalah suster bagian perawatan kritis. 

Dia baru selesai kerja selama 48 jam dan ingin membeli beberapa bahan makanan seperti buah dan sayuran. Namun, stok makanan sehat tersebut sudah terlanjur habis akibat panic buying. 

Dawn mengungkapkan, bagaimana dia bisa tetap sehat dan bekerja melakukan tugasnya jika bahan makanan habis. 

2. Kejatuhan ekonomi

Perlu dimengerti, jika permintaan tinggi karena jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal. 

Misalnya, jika kita membeli barang lebih dari yang dibutuhkan, seperti tisu hingga 20 dus, akan mengakibatkan kelangkaan barang sehingga demand (permintaan) dan supply (stok) berjalan tidak seimbang. 

Jika terus dilakukan, akhirnya akan berujung pada kenaikan harga. Jika semula harga tisu hanya sekitar Rp15 ribuan, sekarang harganya bisa naik hingga dua kali lipat. Artinya, masyarakat harus menyiapkan uang berkali-kali lipat untuk membeli barang dengan jumlah sama. 

Sekarang kita jadi lebih tahu soal dampak dan cara mengatasi tindakan panic buying dengan mengikuti aturan pemerintah. Ingat, takut boleh, tapi jangan panik! 

Ketika belanja sembako, beli secara rasional atau sesuai dengan keperluan dalam jumlah yang cukup. Dengan begitu, kita bisa atasi pandemi ini bersama-sama. 

Semoga pandemi corona ini segera berakhir. Kita semua senantiasa sehat, aman, serta yang pasti tidak panik menghadapinya agar semua kembali normal dan kegiatan ekonomi pun kembali bergairah. (Editor: Chaerunnisa)