Pencurian Identitas dan Penipuan Kartu Kredit Itu Beda Lho

penipuan kartu kredit

Ada dua jenis kejahatan serius yang berkaitan dengan masalah data pribadi ini: pencurian identitas dan penipuan kartu kredit. Keduanya tampak sama, tapi ternyata berbeda.

Penipuan kartu kredit adalah turunan dari pencurian identitas. Pencurian identitas terjadi ketika seseorang menggunakan data pribadi orang lain untuk melakukan kejahatan, seperti menarik duit dari rekening, menggunakan kartu kredit, pinjam dana, bahkan cari jodoh via online.

Tanda bahwa seseorang menjadi korban pencurian identitas antara lain:

  1. Dana di rekening ditarik tanpa diketahui
  2. Mendapat kartu kredit tanpa pernah apply
  3. Mendapat informasi pembayaran barang/jasa yang tak pernah dibeli

Adapun modus pencurian identitas yang sering terjadi di antaranya:

  1. Di tempat umum, pencuri diam-diam melihat nomor kartu kredit atau mendengarkan ketika nomor itu disampaikan, misalnya saat sedang menelepon.
  2. Pencuri melihat data yang ada di Internet, misalnya unggahan KTP dan KK di Facebook atau media sosial lainnya.
  3. Pencuri meretas basis data suatu lembaga.
  4. Pencuri mengirim e-mail spam yang meminta pengisian data pribadi.
  5. Pencuri menggunakan alat scammer untuk menyalin data kartu kredit atau kartu debit orang lain

Cara Cegah Jadi Korban Pencurian Identitas dan Penipuan Kartu Kredit

penipuan-kartu-kredit
Pemalsuan kartu kredit sangat berbahaya, terutama bila telat ketahuannya (liputan6.com)

Dari penjelasan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa penipuan kartu kredit hanyalah satu contoh dampak pencurian identitas. Orang yang menggunakan data orang lain untuk membuka akun media sosial bisa juga dikatakan sebagai pencuri identitas.

Namun ancaman bahaya lebih besar datang dari penipuan kartu kredit. Ketika sebuah kartu sudah direcoki orang lain, risikonya adalah dana ambles tak bersisa. Bahkan bisa-bisa kita harus menghadapi utang yang menggunung.

Karena itu, penting untuk menjaga keamanan kartu kredit. Cara berikut ini bisa diterapkan:

  1. Simpan kartu di tempat aman. Saat berada di luar rumah, simpan di dalam dompet dan jangan pernah lepas dari perhatian.
  2. Sobek lembar tagihan kartu kredit, juga apa pun yang memuat data kartumu.
  3. Jangan berikan informasi tentang kartumu via telepon, kecuali kamulah yang memulai pembicaraan. Pastikan tidak ada orang di sekitar yang mendengar ketika kamu berbicara via telepon.
  4. Selalu tutupi dengan tangan saat memasukkan PIN ke mesin electronic data capture (EDC) saat bayar apa pun.
  5. Jangan berikan data apa pun kepada pengirim e-mail yang meragukan, misalnya pangeran Afrika yang mengaku punya harta tapi butuh bantuan untuk mencairkannya.

Solusinya

Lantas, bagaimana cara menjaga identitas agar tidak dicuri?

  1. Jangan pernah unggah dokumen identitas pribadi ke Internet, terutama media sosial
  2. Jangan mudah percaya pada telepon yang meminta data pribadi, apalagi sampai memaksa.
  3. Sobek semua dokumen data pribadi yang sudah tak terpakai, misalnya formulir pembukaan rekening atau aplikasi pinjaman yang salah isi atau batal disampaikan.
penipuan-kartu-kredit
Entah sudah berapa banyak korban “Hartono” si penjual kamera ini (inovasee.com)

Pencurian identitas bisa berujung pada banyak jenis kejahatan. Di era digital seperti sekarang ini, identitas yang dicuri bisa digunakan untuk banyak hal, bukan hanya penipuan kartu kredit.

Kasus Cambridge Analytica yang mengambil data pengguna Facebook untuk kepentingan politik adalah salah satu contohnya. Kasus ini menjadi skandal besar di Amerika.

Memang, secara pribadi tak ada kerugian langsung yang diderita korban pencurian identitas itu. Namun dunia politik yang digarap si pencuri bisa mempengaruhi warga secara umum di kemudian hari. Misalnya seseorang menang pemilu setelah memanfaatkan data tersebut.

Lantas si pemenang pemilu membuat kebijakan yang merugikan. Pada saat inilah kerugian tersebut diderita korban pencurian identitas.

Contoh kasus lainnya adalah penipuan oleh penjual kamera yang menggunakan identitas orang lain. Penjual ini bermodus menawarkan kamera.

Dia lantas memberi bukti identitas foto KTP, kartu mahasiswa, bahkan saat berada di counter kurir untuk pengiriman barang. Padahal foto-foto itu bukan miliknya.

Setelah duit transferan masuk, dia lantas kabur. Kejahatan yang dia lakukan membuat repot si pemilik foto dan identitas yang asli.

Dari kasus itu, kita bisa belajar untuk mengamankan identitas. Percayalah, bukan hanya materiil, kerugian imateriil juga bakal membuat hidup kita terancam berantakan.

 

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →