Ini Tanda-Tanda Pengajuan KPR Disetujui Bank

tanda tanda pengajuan kpr disetujui

Proses pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) memang cukup rumit dan membutuhkan waktu panjang. Karena itu, setiap debitur harus memahami tanda-tanda KPR disetujui.

KPR memang menjadi salah satu solusi bagi kamu yang ingin memiliki rumah idaman. Pasalnya, banyak orang yang masih belum mampu membeli rumah secara tunai mengingat harga tanah yang terus naik.

Menurut Bank Indonesia, kamu hanya perlu menyediakan uang muka sebesar 30 persen dari nilai rumah dan sisanya akan digenapi oleh bank melalui KPR. 

Kelengkapan dokumen

Sebelum kamu mengajukan KPR ke bank, pastikan dulu dokumen yang kamu bawa sudah lengkap. Sehingga proses awal pun bisa berjalan lancar. Berikut ketentuan dan persyaratan pengajuan KPR yang biasanya pihak bank : 

Syarat pengajuan KPR : 

  • WNI 
  • Berpenghasilan tetap dengan masa kerja minimal 2 tahun 
  • Usia minimal 21 tahun dan pada usia 55 tahun kredit harus lunas
  • Maksimal pembiayaan adalah 80 – 90% dari nilai objek yang akan dibiayai 

Dokumen pribadi:

  • Fotokopi KTP (suami istri – jika sudah menikah)
  • Fotokopi Kartu Keluarga
  • Fotokopi NPWP.
  • Fotokopi Buku nikah (bagi yang sudah menikah).
  • Slip gaji (siapkan saja mulai dari 3 bulan terakhir untuk jaga-jaga).
  • Surat keterangan kerja – biasanya minimal sudah 2 tahun bekerja dan berstatus karyawan tetap (bagi karyawan swasta).
  • Asli SK pengangkatan pegawai terakhir atau asli Kartu Taspen (bagi pegawai negeri)  atau 
  • Asli ijazah terakhir 
  • Fotokopi rekening koran 3 bulan terakhir.
  • Pas Foto 3×4 (suami istri).
  • Siapkan SPT PPh 21 yang terakhir (lebih baik jika ada).

Dokumen unit rumah yang akan Anda beli:

  • Salinan sertifikat tanah.
  • Salinan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
  • Salinan surat tanda jadi dari developer atau penjual properti yang menyatakan setuju menjual rumah tersebut.

Nah, kalau dokumen-dokumen tersebut sudah lengkap, kamu tinggal bawa ke bank untuk diproses. Nanti pihak bank akan memeriksa semua kelengkapan berkas secara administratif. Terpenting sih, pihak bank bakal lakukan BI Checking si calon nasabah. 

Kebanyakan pengaju KPR yang gagal karena dianggap punya track record yang jelek masalah kredit di perusahaan keuangan sebelumnya. 

Sebaiknya kamu ambil kredit di bank yang sudah bekerjasama dengan developer. Karena lebih mudah dan pihak bank pasti sudah mengecek legalitas pengembang tersebut. 

Selain itu, kalau kamu ambil rumah dalam status indent, hanya bank yang sudah bekerjasama dengan developer properti saja yang mau memberikan kredit pada rumah indent. 

Proses appraisal 

Kalau kamu berhasil lolos dari BI Checking dan kamu dianggap layak untuk mendapat pinjaman melalui penilaian tim analis, maka bank akan memproses KPR kamu. 

Satu lagi keuntungan dan kemudahan jika kamu mengajukan KPR di bank yang telah kerjasama dengan pengembang, biasanya nasabah dibebaskan biaya appraisal

Karena secara gak langsung bank sudah setuju dengan harga rumah yang dijadikan jaminan tersebut. Sehingga mereka gak perlu lagi kirim tim penilai harga unit. 

Beda kasus kalau kamu beli rumah second atau developernya gak kerja sama dengan bank. Nantinya, akan ada biaya appraisal karena bank mengirim tim penilai untuk menentukan harga rumah yang kamu inginkan tersebut. 

Biaya jasa petugas penilai besarnya tergantung dari ketentuan bank masing-masing. Biasanya berkisar antara Rp350 ribu – Rp1,5 juta. Tapi kalau kamu mengajukan kredit di bank syariah, biasanya gak ada biaya jasa appraisal. 

Kalkulasi penawaran dari bank 

KPR rumah merupakan perjanjian utang jangka panjang, yang bisa jadi sewaktu-waktu terjadi kredit macet. Perlu rencana keuangan yang matang untuk kamu mengambil rumah melalui KPR bank. 

Perhitungkan lagi beberapa hal yang cukup penting di bawah ini : 

  1. Suku bunga 

Biasanya nih, pihak bank memberi promo suku bunga KPR di dua atau tiga tahun awal. Di sini nasabah harus jeli, dan menghitung lagi jika setelah masa promo selesai, berapa cicilan yang harus dibayar. 

Karena kalau Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga, otomatis berimbas juga pada bunga KPR. Tapi belum tentu, jika BI rate turun, pihak bank gak semudah itu juga ikut menurunkan bunga KPR-nya. 

Dan, ini adalah salah satu risiko dari pengajuan pinjaman KPR melalui bank. Karena akan terus terikat dengan peraturan dan ketentuan bank. 

Intinya jangan mudah tergiur dengan promo KPR di tahun-tahun awal. Tetap hitung ulang perkiraan kenaikan bunga dan cicilan. 

  1. Syarat dan ketentuan 

Pelajari secara detail syarat dan ketentuan dari pihak bank. Pastikan lagi besarnya denda keterlambatan pembayaran angsuran, penalti, sanksi dan poin-poin yang ada di SK tersebut. Pahami sejak awal. Jangan ragu untuk bertanya sesuatu yang gak jelas. 

Pastikan besaran penalti jika pelunasan dilakukan lebih cepat sebelum masa kredit berakhir. Tanyakan apakah bisa di nego biaya pinaltinya. 

Cara pembayaran cicilan juga perlu ditanyakan. Sebaiknya pakai fasilitas autodebet dana cicilan langsung ditarik pada tanggal yang telah ditentukan. Dengan begitu meminimalisir tunggakan kredit karena alpa untuk mengisi tabungan. 

Selain itu, perhatikan juga biaya-biaya yang dikenakan mulai dari provisi, asuransi, prepayment dan lain sebagainya. 

Kredit disetujui bank 

Setelah pengajuan kamu diterima, maka bank akan membuat Surat Persetujuan Kredit (SPK). Bank akan menunjuk notaris untuk mengurus seluruh persyaratan. 

Untuk tarif notaris, biasanya pihak bank akan meminta nasabahnya bertanya langsung ke notaris yang ditunjuk. Kamu bisa negosiasi untuk tariff yang gak bikin berat. 

Tapi, biasanya biaya notaris sudah termasuk jasa pengurusan dokumen Perjanjian Kredit (PK), Akta Jual Beli (AJB), biaya balik nama, pajak, cek sertifikat, Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dan sebagainya. 

Tanda tangan akad kredit 

Kalau sudah sampai tahap ini, berarti kamu sudah selesai dari proses KPR rumah. Biasanya tandatangan akad kredit dijadwalkan oleh bank di hadapan notaris. 

Jangan khawatir, bank akan menginfokan kepada nasabahnya 5 – 7 hari kerja sebelum waktu penandatanganan. 

Pihak yang hadir saat itu adalah pembeli rumah (suami istri – jika sudah menikah), perwakilan bank, pengembang, dan notaris. Kesemuanya ini gak bisa diwakilkan ya, sebab kamu wajib menunjukkan identitas asli di hadapan notaris. 

Antara pembeli dan penjual akan melakukan serah terima dokumen yang diperlukan dan notaris mengecek semua keabsahan berkas tersebut, seperti memeriksa sertifikat tanah dan pajak. 

Kalau semua sudah oke, notaris akan menyerahkan Surat Tanda Terima Dokumen ke pihak penjual sebagai bukti bahwa berkas rumah sudah berpindah tangan ke pembeli. Notaris juga akan melakukan proses balik nama sertifikat serta AJB kepada kamu sebagai pemilik rumah yang baru. 

Namun sebelum kamu membeli rumah lewat KPR, ada beberapa dana yang juga harus kamu siapkan. Biaya apa saja itu? Simak selengkapnya di sini.

Biaya yang harus dikeluarkan 

tanda tanda kpr disetujui
tanda tanda kpr disetujui

Kepemilikan rumah dengan kredit memang solusi tepat buat kamu yang gak bisa bayar tunai. Sepintas memang sepertinya mudah ya membeli lewat KPR. 

Tapi, tahu gak kalau beli rumah secara kredit ini ada lima biaya tambahan yang harus kamu siapkan saat mengurus KPR? Biaya apa aja sih? Yuk, disimak penjelasannya. 

1. Biaya notaris 

Perjanjian KPR dan dokumen legal lainnya dibutuhkan seorang pejabat notaris. Biaya yang harus kamu siapkan itu untuk membayar jasa pengurusan dokumen-dokumen seperti akta jual beli (AJB), akta perjanjian KPR, pembuatan sertifikat, bea balik nama dan lainnya, 

Besaran biaya notaris tergantung dari lokasi rumah dan jumlah plafon yang diberikan bank penyedia KPR. Biasanya kalau rumah yang berlokasi di kota besar seperti Jakarta, biaya notarisnya pasti lebih besar. 

Kalau kamu punya kenalan atau teman yang berprofesi sebagai notaris, bisa juga lho dimanfaatkan. Hitung-hitung tarif yang dipatok pakai harga teman. Cara lain adalah coba negosiasi dengan developer untuk sharing dalam membayar notaris. 

Sebaiknya urusan tawar menawar ini kamu lakukan di depan ya, saat negosiasi harga rumah. Kalau developer mau untuk patungan, kan lumayan juga kamu bisa menghemat banyak. 

2. Biaya BPHTB 

Sebelum memiliki rumah melalui jalur KPR, ada biaya bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) sebesar 5% dari harga transaksi dikurangi nilai jual objek pajak tidak kena pajak atau NJOPTKP. Jadi saat terjadi transaksi proses jual beli KPR rumah, kamu dapat hak atas rumah dan tanah yang akan di KPR tersebut. 

3. Biaya provisi 

Biaya lain yang harus kamu siapkan adalah biaya provisi atau biaya administrasi yang harus kamu lunasi sebelum akad kredit dilakukan. Besaran biaya provisi adalah 1% dari total pinjaman KPR. 

Misalnya, kamu mengajukan pinjam KPR sebesar Rp700 juta, maka biaya provisi yang harus kamu bayar sebesar Rp7 juta. Nah, pembayaran tersebut hanya dilakukan satu kali di awal proses KPR saja. 

4. Biaya asuransi jiwa 

Kenapa harus asuransi jiwa? Kan kamu beli rumah. Pasti ada pemikiran seperti itu. Biaya asuransi jiwa ini sebagai proteksi pihak bank jika sewaktu-sewaktu kamu meninggal dunia. 

Sehingga cicilan plafon jadi terhenti. Ini yang menjadi alasan bank mengasuransikan kamu. Meski itu kekhawatiran dari pihak bank, tapi yang harus bayar asuransinya ya kamu sendiri. 

Adanya asuransi jiwa ini sebenarnya memberi keuntungan juga buat kamu. Karena jika kamu meninggal, maka hutang cicilan KPR akan langsung dilunasi oleh perusahaan asuransi. 

Jadi, ahli waris kamu gak perlu lagi membayar cicilan yang masih ada. Pihak bank pun juga gak rugi. 

Sekadar diketahui, biaya asuransi jiwa ini tergantung dari umur nasabah ya. Semakin tua umur nasabah maka makin besar juga biaya asuransi yang harus dibayar. 

5. Biaya asuransi kebakaran 

Berbeda dengan asuransi jiwa, biaya asuransi kebakaran ini sifatnya gak wajib. Besaran asuransi kebakaran pun berbeda-beda. Karena ada juga yang harus membayar asuransi kebakaran terkadang lebih dari 5% total plafon yang kamu minta. 

Untuk ini kamu harus lebih kritis sih, karena terkadang calon pemohon KPR gak bisa menolak saat pihak bank meminta untuk membayar asuransi jenis ini. 

1. Biaya tanda jadi

Sebelum kamu membayar uang kamu, biasanya pihak developer akan meminta kamu untuk membayar biaya tanda jadi sebagai tanda memesan unit rumah.

Biaya tanda jadi ini nyatanya gak hanya berlaku untuk rumah baru, tapi juga untuk rumah bekas tapi kalau kamu membeli rumah itu lewat perantara.

2. Uang muka

Biaya lain yang harus kamu siapkan selanjutnya tentu saja uang muka yang harus kamu lunasi setelah mencapai akad kredit dengan bank dan menandatangani Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) di notaris.

Perlu diketahui kalau SPJB ini merupakan tanda bukti pelunasan uang muka saat akad kredit.

3. Biaya notaris untuk mengikat kredit dan sertifikat tanah

Biaya notaris bertujuan untuk mengikat kredit dan juga sertifikat tanah. Tapi gak cuma itu aja, biaya ini juga mencakup balik nama sertifikat tanah dan dokumen lain yang berkaitan dengan rumah.

Untuk biaya itu sendiri tergantung dengan kebijakan masing-masing notaris. Namun umumnya, kamu harus mengeluarkan uang sebesar Rp5 juta. 

4. Biaya asuransi

Jika pengajuan KPR telah disetujui oleh pihak bank, biasanya akan ada biaya asuransi. Untuk besaran biayanya pun tergantung masing-masing bank. Tapi rata-rata adalah sekitar 1 persen dari nilai pinjaman.

Namun selain itu sebaiknya kamu menyiapkan dana juga untuk asuransi jiwa dan juga kebakaran.

Itu dia beberapa biaya yang harus kamu siapkan sejak awal saat berniat membeli rumah dengan KPR. Jika sudah siap, yuk cari tau bagaimana proses pengajuan KPR ke bank berikut ini:

Langkah I : Lengkapi syarat dokumennya

Sebelum mengajukan KPR ke bank pastikan untuk menyiapkan beberapa dokumen, seperti:

Dokumen pribadi:

  • KTP dan kartu keluarga
  • NPWP
  • Buku nikah
  • Slip gaji
  • Surat keterangan bekerja (bagi pegawai)
  • Rekening koran tabungan 3 bulan terakhir.

Dokumen rumah yang hendak dibeli

  • Salinan sertifikat tanah
  • Salinan izin mendirikan bangunan (IMB)
  • Salinan surat tanda jadi dari developer/penjual rumah yang menyatakan setuju menjual rumah tersebut.

Setelah semua dokumen yang dibutuhkan lengkap, barulah mengajukan KPR ke bank. Bank akan memeriksa semua dokumen secara administratif. Gak itu aja, bank biasanya juga akan memeriksa BI Checking kamu.

Tahapan II : Proses appraisal

Setelah lolos BI Checking dan berhasil mendapatkan pinjaman dari bank. Tahap selanjutnya adalah proses appraisal untuk menentukan harga dari rumah yang akan kamu beli.

Tapi hal itu hanya berlaku buat kamu yang membeli rumah bekas atau rumah baru tapi  developer-nya tidak bekerjasama dengan bank.

Dan pihak bank umumnya akan mengutus petugas untuk menentukan harganya. Untuk proses  appraisal ini pun gak gratis. Calon pembeli rumah harus membayar jasa petugas appraisal yang besarannya sesuai dengan kebijakan bank.

Lain halnya jika mengajukan KPR ke bank syariah yang tidak memungut bayaran jasa appraisal.

Namun jika kamu membeli rumah lewat developer yang sudah bekerja sama dengan bank, tahapan appraisal ini tidak dipungut biaya.

Pasalnya, bank sudah setuju dengan harga rumah tersebut dan tak perlu lagi menilai harga rumah yang jadi obyek jaminan kredit.

Tahapan III : Kalkulasi penawaran bank

Saat bank sudah memberitahu biaya appraisal dari rumah tersebut dan setuju mencairkan pinjaman KPR, jangan senang dulu.

Kamu harus memerhatikan beberapa hal sebelumnya, mengingat KPR adalah perjanjian utang dengan jangka waktu yang panjang. Namun biasanya keluar dalam Surat Persetujuan Kredit, seperti:

a. Perhatikan tawaran suku bunga

Umumnya di awal bank akan menawarkan bunga yang cukup kompetitif misalnya di bawah 9 persen per tahun.

Namun setelah dua tahun, bunga tersebut akan menyesuaikan “bunga pasar” yang menyesuaikan BI Rate atau suka bunga yang ditetapkan Bank Indonesia.

Saat BI menetapkan BI Rate tinggi, maka secara otomatis suku bunga KPR pun akan ikut naik. Sayangnya, saat BI Rate turun, bank tidak serta merta menurunkan suku bunga kredit.

Itulah salah satu risiko jika kamu meminjam dana KPR ke bank karena kamu akan terikat dengan kebijakan bank tersebut.

b. Syarat dan ketentuan

Memahami dengan seksama syarat dan ketentuan bank adalah salah satu hal yang harus kamu lakukan agar ke depannya gak ada pihak yang merasa dirugikan.

Salah satunya adalah tentang penalti yang harus kamu bayarkan jika kamu melunasi utang sebelum masa kredit berakhir.

Karena itu sebaiknya kamu mencari bank yang menerapkan biaya penalti kecil. Begitu juga dengan denda jika kamu terlambat membayar angsuran.

Bahkan ada bank yang memberikan bunga floating. Jadi kamu gak akan kena biaya penalti jika melunasi utang kredit.

Berapa besaran denda yang diberlakukan bank. Perhatikan juga metode angsuran, apakah lewat potong saldo atau transfer.

c. Cek dengan detail rincian biaya KPR

Jangan abaikan tiap rincian biaya yang timbul begitu KPR disetujui. Misalnya saja biaya provisi, pajak pertambahan nilai (PPN), biaya balik nama sertifikat, dan lain sebagainya.

Tahapan III : Kredit disetujui bank

Saat kredit disetujui oleh bank, maka kamu harus menyiapkan beberapa dokumen seperti yang sudah dijelaskan di atas untuk tujuan akad kredit.

Bank umumnya juga akan menunjuk notaris untuk mengurus semua persyaratan dan soal tarif, bank biasanya meminta pihak calon pembeli rumah menanyakan langsung ke notaris yang ditunjuk.

Tarif notaris ini meliputi jasa pengurusan dokumen Perjanjian Kredit (PK), Akta Jual Beli (AJB), biaya balik nama, pajak, cek sertifikat, Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT), dan lain-lain.

Tahapan IV : Tanda tangan akad kredit

Proses pengajuan KPR yang terakhir adalah tanda tangan akad kredit. Proses ini dilakukan di hadapan notaris di waktu yang sudah ditetapkan.

Ada beberapa pihak yang harus hadir saat tanda tangan akad kredit, antara lain:

  • Pihak pembeli (suami dan istri)
  • Wakil dari bank
  • Pihak penjual
  • Notaris

Semua pihak tersebut tidak bisa diwakilkan karena harus menunjukkan identitas aslinya ke notaris.

Gak hanya itu, pada proses itu baik pembeli maupun penjual rumah akan menyerahkan beberapa dokumen yang diperlukan, seperti:

Penjual rumah menyerahkan dokumen rumah seperti IMB, sertifikat tanah dan lainnya. Kemudian notaris akan memeriksa keabsahan dokumen itu.

Misalnya dengan mengecek sertifikat tanah dan pajak. Bila semua dianggap oke maka notaris akan memberikan Surat Tanda Terima Dokumen ke penjual sebagai bukti semua dokumen rumah itu telah berpindah tangan.

Saat semua proses berjalan lancar, maka dokumen akan kredit akan ditandatangani dan pihak bank akan mentransfer dana ke pihak penjual.

Pihak notaris juga akan mengurus proses balik nama sertifikat nama, AJB ke pemilik rumah baru.

Surat-surat itu juga nantinya akan diserahkan notaris ke bank bersamaan dengan surat izin mendirikan bangunan (IMB) sebagai jaminan kredit dan biasanya memakan waktu tiga hingga enam bulan setelah akad kredit.

Perlu diketahui kalau umumnya pengajuan KPR memang cukup rumit dan membutuhkan waktu panjang.

Jika semua urusan berjalan dengan lancar, dalam waktu satu bulan kamu sudah bisa akad kredit. Tapi jika tidak, pengajuan kpr umumnya akan memakan waktu 6-12 bulan.

Tapi, demi rumah idaman, gak ada salahnya dong menunggu dan ribet sedikit. Semoga membantu! (Editor: Chaerunnisa)