Gaji Rp 10 Juta di Usia 25 Tahun, Gimana Cara Pengelolaan Keuangan yang Ideal?

Seseorang sedang melakukan Pengelolaan Keuangan

Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, gaji besar yang kamu terima perbulan tentu gak akan ada artinya. Pasalnya, besar kemungkinan biaya gaya hidupmu juga bakal bertambah.

Saat usia masih 25 tahun dan berstatus single, menerima gaji Rp10 juta di Jakarta tentu bisa dinilai sebagai prestasi di dunia karier. Pasalnya, gak mudah seseorang dengan usia muda dan pengalaman kerja di bawah lima tahun bisa dapat gaji sebesar itu.

Tapi, jangan salah, besarnya gaji kadang diikuti dengan tingginya pengeluaran gaya hidup. Dengan uang segitu, kamu sudah bisa gonta-ganti gadget terbaru enam bulan sekali, mengoleksi sneakers mahal, beli tas dan aksesori mahal, atau menjalani hobimu tanpa pikir panjang.

Nah, godaan-godaan itulah yang secara gak langsung nantinya bisa membuatmu gagal memiliki aset miliaran rupiah di masa depan. Karena jumlah kekayaan bersihmu segitu-gitu saja dan harga-harga akan kebutuhan pokok mulai naik.

Kira-kira seperti apa sih pengelolaan keuangan yang sehat bagi orang bergaji Rp10 juta agar di usia 30 tahun sudah punya aset di atas Rp 500 juta. Buat yang belum tahu caranya, yuk simak ulasannya!

Bikin neraca keuangan pribadi

Bikin neraca keuangan pribadi salah satu pengelolaan keuangan

Dalam pengelolaan keuangan, membuat neraca keuangan pribadi hukumnya wajib. Karena dari sinilah kita bisa mengukur kemampuan melunasi utang, serta mengetahui kapan kita bangkrut. 

Untuk yang belum paham soal neraca keuangan, mungkin kita bisa ambil contoh di bawah sini. 

Anggap saja kamu akan melihat neraca keuangan dari Michael, karyawan berusia 25 tahun, baru dua tahun kerja, lalu pindah ke kantor baru dan digaji Rp 10 juta perbulan, dan tinggal di rumah orangtua.  

Dalam hal ini, kita akan asumsikan Michael adalah seorang yang awam terhadap investasi, kita hanya punya deposito dan emas yang dihibahkan dari ayah dan ibunya.

Pokoknya, beban hidup Michael ini ringan banget deh. Karena itu, hidup dengan gaji Rp 10 juta pun sudah berasa happy go lucky banget. 

Aset Lancar Nominal Utang jangka pendek Nominal
Kas  Rp 15.000.000 Kartu kredit Rp 5.000.000
Deposito Rp 20.000.000 Utang jangka panjang
Total aset lancar (kas dan setara kas) Rp 35.000.000 Kredit motor Rp 12.000.000
Aset pribadi Nominal
Sepeda motor Rp 15.000.000
Barang milik pribadi (gadget, koleksi sneakers, jam tangan, dan lainnya) Rp 25.000.000
Total aset pribadi Rp 40.000.000
Aset investasi Nominal
Emas Rp 2.000.000
Total Aset Pribadi dan Investasi Rp 77.000.000 Total utang Rp 17.000.000
Kekayaan bersih  (Total aset pribadi dan investasi – Total utang) Rp 60.000.000

Dari perhitungan neraca keuangan di atas, ternyata total kekayaan bersihnya Rp 60 juta. Buat kamu yang belum paham, kekayaan bersih dihitung dari total aset dikurangi total utang. 

Apakah sudah selesai sampai di sini? Tentu saja belum. Kita masih harus melihat arus kas pengeluarannya dulu ya. 

Buat laporan arus kas

Buat laporan arus kas salah satu cara pengelolaan keuangan

Jika neraca tujuannya adalah mengetahui jumlah aset, dan utang, maka laporan arus kas dalam pengelolaan keuangan bakal mengukur pemasukan dan pengeluaran kita. 

Laporan ini juga menjadi gambaran soal pengeluaran, tabungan, dan investasi. Laporan ini dibuat secara periodik, biasanya dalam periode satu tahun atau bulanan pun bisa. 

Yuk, simak tabel di bawah sini kita akan ambil contoh laporan arus kas bulanan Michael:

Apakah jumlah tersebut cukup besar? Tentunya besar. Namun, apakah sehat? Jawabannya adalah “belum tentu sehat”.

Kenapa kurang sehat? Simak analisanya di bawah sini. 

Pemasukan Nominal Pengeluaran tetap Nominal
Gaji bulanan nett Rp 10.000.000 Cicilan motor Rp 600.000
Pendapatan bunga deposito per bulan Rp 91.600
Uang lembur Rp 1.000.000
Pengeluaran variabel 

(berubah-ubah)

Makan  Rp 1.350.000
Transportasi Rp 900.000
Belanja Rp 2.000.000
Nongkrong Rp 1.500.000
Pembayaran kartu kredit Rp 650.000
Kebutuhan konsumtif lain (pulsa, paket data, dan lainnya) Rp 500.000
Total kas masuk (pemasukan kotor) Rp 11.091.600 Total kas keluar

(Pengeluaran)

Rp 7.500.000
Total arus kas bersih (pemasukan bersih) Total kas masuk – Total kas keluar Rp 3.591.600

Analisa pengelolaan keuangan

Analisa pengelolaan keuangan

Dana darurat ngepas

Lewat dari laporan keuangan tersebut, terlihat bahwasannya Michael cuma punya dana darurat yang pas-pasan. 

Dengan total aset lancar sebesar Rp 35 juta, dan pengeluaran bulanan Rp 7,5 juta, seandainya saja Michael gak lulus probation dan terpaksa nganggur, dia cuma bisa bertahan hidup tanpa gaji selama 4,6 bulan saja.

Lain halnya jika pengeluaran bulanan itu bisa ditekan drastis.

Utang cukup aman, tapi..

Utang Michael yang berjumlah Rp 17 juta dinilai masih ideal, karena perbandingan total utang dengan total asetnya masih 22 persenan. 

Jika mengalami peristiwa yang tak diinginkan, Michael masih bisa melunasi utangnya dengan menggunakan aset yang ada.

Sayangnya, sebagian besar aset yang dimiliki Michael adalah aset dengan nilai yang terdepresiasi. Seiring dengan berjalannya waktu, nilainya bakal terus menyusut. 

Utang jangka panjang Michael juga digunakan untuk membeli sepeda motor, bukan properti yang bisa jadi investasi di masa depan.  

Kurang investasi

Investasi jangka panjang Michael juga dinilai kurang. Mengapa? Karena sebagian besar uangnya justru disimpan di tabungan atau deposito. Bukan di reksa dana, saham, atau instrumen investasi lain. 

Tanya Lifepal - Untuk Pertanyaan Keuanganmu
Bagaimana cara mengelola uang pesangon untuk korban PHK karena Covid-19?Dijawab : Eko Endarto, CFP, RFA

Bunga dari deposito itu juga tidak besar, cuma 5,5 persenan per tahun. Itu juga akan dipotong pajak, dan lainnya.

Dengan memegang uang cash dalam jumlah besar, gak heran kalau akhirnya pengeluaran Michael untuk kebutuhan sekunder bisa tinggi, yaitu mencapai 41 persen dari total pemasukan. 

Jika dibiarkan, maka Michael gak mungkin kaya raya

Tak membiarkan sebagai salah satu cara pengelolaan keuangan

Michael mungkin tenang karena setiap bulannya masih ada sisa uang Rp 3,5 juta, meski dia cukup konsumtif, suka belanja dan nongkrong

Namun, apakah pengelolaan keuangan seperti ini cukup baik untuk masa depan Michael? Tentu tidak.

Meski masih tinggal sama orangtua, investasi tetap harus dipikirkan demi masa depan. Ingat, usia 25 tahun memang muda, tapi ke depannya kita tentunya ingin bisa berumah tangga. 

Setelah berumah tangga, asuransi jiwa pun harus dia miliki guna menanggung risiko finansial terhadap apapun yang muncul. 

Konsisten menyisakan uang Rp 3,5 jutaan setiap bulan tanpa investasi, Michael cuma menambah aset lancar. 

Well, mungkin jika dia melakukan ini selama tiga atau empat bulan saja, ketersediaan dana daruratnya bakal membaik, namun jika diteruskan sampai bertahun-tahun, kekayaan bersihnya gak akan bertambah.

Dalam setahun, mungkin dana yang bisa dikumpulkan Michael cuma  Rp 43 jutaan saja. Sementara itu, di tahun kedua, uang itu akan bertambah jadi Rp 86 juta. Baru di tahun ketiga menjadi Rp 129 juta.

Lain halnya jika dia memotong bujet gaya hidupnya, dan mengalokasikan dana sebesar Rp 3 juta untuk berinvestasi. Sebut saja dengan membeli produk reksa dana, saham, atau yang lain. 

Tentu saja bukan Rp 43 juta yang yang didapatkan oleh Michael dalam setahun, besar kemungkinan sampai Rp 46 hingga Rp 50 jutaan. 

Jika setengah dari uang itu dialokasikan untuk membeli properti senilai Rp 300 juta di tahun kedua, hal itu masih sah-sah saja dilakukan mengingat rasio utang Michael masih sehat. 

Munculnya aset properti tentu bakal mendongkrak nilai kekayaan bersih Michael ratusan juta, meski dia juga harus berutang dengan KPR. Akan tetapi, saat Michael berusia 30 tahun, nilai properti itu pun sudah bertambah.

Anggap saja kenaikan properti pertahun adalah 15 persen, maka dalam lima tahun angka tersebut bisa naik 75 persen. 

So, jika rumahnya seharga, Rp 300 juta, lima tahun lagi atau saat Michael berusia 30 tahun, dia akan mendapat jadi Rp 525 juta. 

Sementara itu, cicilan rumah menggunakan bunga efektif yang makin lama nilainya makin menurun. Dengan adanya kenaikan gaji dan perkembangan karier, nominal cicilan itu gak akan dirasa berat.

Seperti itulah pengelolaan keuangan yang kiranya harus dilakukan Michael agar di masa depan, dia telah memiliki aset yang luar biasa besar. Kuncinya cuma satu, jangan hidup konsumtif dan lakukanlah investasi sedini mungkin. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →