Begini Cara Menghitung BEP agar Usaha yang Dijalankan Terhindar dari Kerugian

Begini-Cara-Menghitung-BEP-agar-Usaha-yang-Dijalankan-Terhindar-dari-Kerugian

Break Even Point atau BEP menjadi salah satu rumus yang dipakai dalam akuntansi. Hasil perhitungan BEP sangat berguna sebagai gambaran seberapa besar hasil penjualan yang mesti dicapai agar terhindar dari kerugian saat menjalankan usaha atau bisnis.

Siapa pun yang memiliki usaha atau bisnis, termasuk yang sedang merencanakannya perlu tahu seberapa besar Break Even Point (BEP) yang mesti dicapai. Sebab BEP membantu banget dalam menentukan target penjualan.

Buat kamu yang pengin mengenal lebih jauh tentang Break Even Point hingga cara menghitung BEP, gak ada salahnya nih buat mencari tahu dalam ulasan berikut ini. Disimak yuk!

Apa itu BEP? Ini pengertian Break Even Point

Break Even Point (BEP) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama “titik impas”. Kalau didefinisikan, Break Even Point (BEP) adalah titik penjualan dalam suatu bisnis yang mana hasil penjualan (revenue) sama dengan total biaya (total cost). 

Dari pengertian BEP tersebut, Break Even Point dapat dikatakan sebagai kondisi setimbangnya hasil penjualan dengan total biaya dalam suatu bisnis. Itu berarti bisnis tersebut gak untung dan juga gak rugi.

Break Even Point (BEP) terbagi menjadi dua, yaitu BEP dalam nilai penjualan (BEP in sales) dan BEP dalam unit penjualan (BEP in units). Apa perbedaan di antara keduanya?

BEP dalam nilai penjualan (BEP in sales) adalah hasil penjualan (dalam rupiah atau mata uang lainnya) yang bikin bisnis gak rugi ataupun gak untung. Sementara BEP dalam unit penjualan (BEP in units) adalah banyaknya unit yang harus dijual agar mencapai kesetimbangan (gak rugi ataupun gak untung).

Kegunaan-kegunaan Break Even Point (BEP), apa aja?

break even point
Ini lho kegunaannya BEP, (Ilustrasi/Shutterstock).

Mengapa sih Break Even Point (BEP) perlu diketahui orang-orang yang menjalankan usaha atau bisnis? Alasannya, BEP dapat membantu pengusaha atau pebisnis supaya kondisi keuangan usaha atau bisnisnya tetap dalam keadaan baik alias aman.

Dengan mengetahui BEP, ada sejumlah kegunaan yang dapat dirasakan pengusaha atau pebisnis. Apa aja kegunaan-kegunaan Break Even Point?

  1. Mengukur potensi keuntungan ataupun kerugian yang bergantung pada jumlah unit yang dijual atau hasil penjualan.
  2. Mengukur dampak yang mungkin timbul dari perubahan harga jual.
  3. Memperkirakan dampak yang terjadi akibat perubahan harga dan efisiensi terhadap kemampuan usaha atau bisnis dalam mendatangkan untung (profitabilitas).
  4. Membantu pengusaha atau pebisnis dalam menentukan target hasil penjualan atau banyaknya unit yang dijual buat menghasilkan untung atau profit.
  5. Membantu pengusaha atau pebisnis dalam menentukan seberapa besar hasil penjualan atau banyaknya unit yang dijual buat menutupi biaya yang dikeluarkan.

Sebelum menghitung BEP, ketahui terlebih dahulu komponen-komponen yang dihitung

Sebelum menghitung BEP, perhatikan dulu nih komponen-komponennya, (Ilustrasi/Shutterstock).Break Even Point (BEP) bisa diketahui dengan melakukan perhitungan terhadap sejumlah komponen, yaitu biaya tetap (fixed cost), biaya variabel per unit (variable cost), dan harga jual per unit (sales price).

Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang sifatnya konstan alias gak berubah terlepas dari volume penjualan. Biaya-biaya yang masuk ke dalam fixed cost meliputi gaji, sewa, mesin, asuransi, biaya administrasi, beban bunga, dan sebagainya.

Biaya variabel per unit (variable cost) adalah biaya yang sifatnya dinamis tergantung dari banyaknya unit diproduksi. Biaya-biaya yang tergolong dalam variable cost antara lain biaya bahan baku, biaya pengemasan, kargo, komisi, iklan, dan sebagainya.

Harga jual per unit (sales price) adalah harga dari tiap unit yang dijual. Harga ini biasanya ditentukan pengusaha atau pebisnis buat tiap unit, termasuk jasa, yang dijualnya.

Rumus BEP: begini cara menghitung Break Even Point (BEP)

break even point
Begini rumusan menghitung BEP, (Ilustrasi/Shutterstock).

Setelah mengetahui komponen-komponen menghitung BEP, kamu tinggal cari tahu gimana cara menghitung Break Even Point. Rumus BEP dibedakan tergantung dari perhitungan BEP yang dipilih, apakah menghitung BEP dalam nilai penjualan (BEP in sales) atau BEP dalam unit penjualan (BEP in units).

Begini rumus BEP sebagai cara menghitung BEP dalam unit penjualan:

BEP dalam Unit = Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per unit)

Sementara rumus BEP buat cara menghitung BEP dalam nilai penjualan adalah:

BEP dalam Nilai Penjualan = BEP dalam Unit x Harga Jual per Unit

Berdasarkan rumus BEP tersebut, konsep BEP dapat disederhanakan sebagai berikut:

  • Untung (Profit): Pendapatan (Revenue) > Total Biaya Tetap (Fixed Cost) + Total Biaya Variabel (Variable Cost).
  • BEP: Pendapatan (Revenue) = Total Biaya Tetap (Fixed Cost) + Total Biaya Variabel (Variable Cost).
  • Kerugian (Loss): Pendapatan (Revenue) < Total Biaya Tetap (Fixed Cost) + Total Biaya Variabel (Variable Cost).

Contoh perhitungan BEP meliputi BEP dalam Unit dan BEP dalam Nilai Penjualan

Agar lebih memudahkan kamu dalam memahami cara menghitung Break Even Point (BEP), berikut ini adalah contoh perhitungannya. Seperti apa cara menghitungnya? Yuk, disimak.

Kristan adalah seorang pengusaha jam yang pengin mengetahui minimal jumlah jam yang sebaiknya dijual agar terhindar dari kerugian. Berikut ini rincian dari biaya tetap (fixed cost), biaya variabel per unit (variable cost), dan harga jual per unit (sales price) selama sebulan.

Biaya Nilai (Rp)
Biaya tetap (fixed cost) Rp 10.000.000
Biaya variabel per unit (variable cost) Rp 100.000
Harga jual per unit (sales price) Rp 500.000
BEP dalam Unit  Rp 10.000.000 / (Rp 500.000 – Rp 100.000) = 25 unit
BEP dalam Nilai Penjualan 25 unit x Rp 500.000 = Rp 12.500.000

Berdasarkan hasil perhitungan BEP di atas, Kristan harus memproduksi jam sebanyak 25 unit atau senilai Rp 12.500.000 agar bisa mencapai kondisi Break Even Point. Keuntungan atau profit baru bisa dirasakan Kristan dengan menjual per unit jam di atas Rp 500 ribu atau menambah jumlah produksi jam melebihi 25 unit.

Dengan menggunakan hasil perhitungan BEP, ini sejumlah keuntungan yang bisa diperoleh

Sampai di sini perlahan-lahan udah memahami donk apa itu BEP, rumus BEP, dan cara menghitung BEP? Kamu juga perlu tahu nih keuntungan-keuntungan yang diperoleh kalau melakukan perhitungan Break Even Point atau BEP. Berikut ini daftarnya.

  1. Lebih teliti dalam mencatat pengeluaran. Kadang-kadang ada aja pengeluaran yang dilupakan sehingga gak masuk hitungan total biaya (total cost). Dengan menghitung BEP, kamu diharuskan memasukkan seluruh pengeluaran agar bisa mendapatkan “titik impas”.
  2. Menetapkan target pendapatan (revenue). Hasil BEP dapat menentukan berapa besar pendapatan (revenue) yang sebaiknya dicapai. Dengan begitu, tim penjualan tahu betul target penjualan mereka.
  3. Bisa mengambil keputusan dengan cerdas. BEP juga membantu pengusaha atau pebisnis dalam membuat keputusan yang logis sehingga terhindar dari pengambilan keputusan tanpa dasar alias asal-asalan.
  4. Menemukan harga jual yang tepat. Tanpa adanya BEP, sulit kiranya menentukan harga jual suatu produk yang tepat. Penggunaan BEP bisa memberi gambaran ke pengusaha atau pebisnis.
  5. Tahu berapa besar dana buat menutupi biaya tetap. Kamu pun sebagai pengusaha atau pebisnis jadi tahu seberapa besar biaya tetap yang mesti kamu tutupi berdasarkan BEP.

Nah, itu tadi informasi seputar Break Even Point, mulai dari pengertian BEP, kegunaan-kegunaan BEP, cara menghitung BEP, hingga manfaat BEP. Mudah-mudahan tulisan di atas membantu kamu dalam menjalankan bisnis lebih baik lagi. Semoga bermanfaat! (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →