Pengertian, Perhitungan dan Jenis-jenis Dividen [Lengkap]

dividen adalah

Dividen adalah salah satu keuntungan yang bisa dinikmati para investor saham, selain dari capital gain. Nominal dividen yang bisa diterima investor sangat bervariasi, dan tentunya bisa mencapai triliunan Rupiah.

Sejatinya, bukan investasi saham di bursa efek saja sih yang bisa menikmati keuntungan ini. Para investor equity crowdfunding juga bisa. Sebab, setelah melakukan patungan, mereka bakal mendapatkan saham usaha tersebut.

Buat kamu yang sudah terjun ke investasi saham, pasti pernah kan dengar istilah, CUM Dividend, Ex Dividend, Dividend Yield, Dividend Payout Ratio, Dividend Per Share dan istilah-istilah lain yang berkaitan dengan dividen.

Dalam artikel ini, kita akan membahas hal-hal seputar keuntungan yang satu ini, serta perhitungannya sampai tuntas. Penasaran? Yuk simak ulasannya.

Pengertian dividen

Menurut definisi dari Wikipedia, dividen adalah pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Sederhananya, jika kamu berinvestasi di sebuah perusahaan dan perusahaan itu untung, maka investornya bakal “kecipratan untungnya.”

Pembagian dividen itu sendiri menunjukkan bahwa perusahaan memuaskan para investor. Semakin besar dividen, maka akan tinggi juga kekayaan pemegang saham.

Saham yang membagikan dividen dalam jumlah signifikan, tentu memiliki rasio profitabilitas atau return on equity (ROE) yang juga besar. Namun ketika dividen itu ditahan, maka kas tersebut akan menjadi saldo laba ditahan, biasanya laba tersebut digunakan untuk pengembangan usaha atau melunasi utang. 

Namun tidak menutup kemungkinan kamu sebagai pemilik saham tidak mendapatkan pembagian dividen. Hal ini bisa dikarenakan perusahaan mengalami rugi jadi perusahaan tidak bisa membayar atau membagikan dividen kepada pemilik saham

Dividen itu sendiri banyak jenisnya lho. Bagi yang belum mengetahui apa sih dividen itu, kamu bisa membaca ulasan lengkapnya yang sudah dirangkum oleh tim Lifepal. Yuk kita ketahui di bawah sini.

Jenis dividen

Setelah mengetahui definisi dari dividen ada hal lain yang perlu kamu tahu, yaitu apa saja sih jenis-jenis dividen? Berikut jenis-jenis dividen dan penjelasan lengkapnya yang bisa kamu pelajari. 

  1. Dividen tunai
  2. Dividen saham 
  3. Dividen properti
  4. Dividen interim
  5. Dividen script
  6. Dividen likuidasi

1. Dividen tunai

Sesuai dengan namanya, dividen tunai dibagikan dalam bentuk uang tunai kepada para investornya. Tentunya investor yang menerima dividen ini juga bakal dikenai pajak dari Pemerintah setiap tahunnya. Dalam satu tahun biasanya perusahaan bisa membayar 2 hingga 4 kali dividen. 

2. Dividen saham

Dividen ini dibagikan ke para pemegang saham dalam bentuk saham (tidak dalam bentuk kas) dari perusahaan yang bersangkutan. Maka ketika dividen dibagikan jumlah saham yang dimiliki pemilik saham akan bertambah. Meskipun begitu pada dividen jenis ini tidak berarti mengubah kapitalis pasar sebab dilakukan dengan menambah jumlah saham diiringi dengan pengurangan nilai dari tiap saham yang ada, pembagian ini mirip seperti stock split.

3. Dividen properti

Kalau yang ini adalah dividen yang dibagikan dalam bentuk aset. Biasanya, pembagian dividen ini ditujukan seandainya perusahaan yang bersangkutan kekurangan kas. Namun jenis dividen ini kurang diminati para pemilik saham karena perhitungannya yang rumit.

4. Dividen interim

Dividen interim adalah dividen yang dibagikan sebelum perusahaan melakukan pembukuan laporan keuangan tahunan. Setelah dividen interim dibagikan, kadang investor akan menerima dividen final (dividen biasa) di tahun yang sama.

Seperti yang dilakukan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di tahun 2019. Saat itu dia membagikan dividen final 2018 ke pemegang saham pada Juni 2019. Sementara itu, dividen interim 2019 dibagikan pada Desember 2019.

5. Dividen script

Dividen ini seringkali disebut dividen utang karena diterbitkan dalam bentuk surat utang ke para pemegang saham, bahwa mereka akan membayarkan dividen ini pada jangka waktu tertentu. Otomatis, utang atau liabilitas perusahaan pun bertambah karena ada penerbitan utang baru, dan pastinya utang itu ada bunganya. 

6. Dividen likuidasi

Dividen likuidasi adalah dividen yang dibagikan saat perusahaan bangkrut atau pailit. Intinya, modal perusahaan akan dibagi ke pemegang saham akibat likuidasi. Perusahaan yang bersangkutan tentu gak memiliki kas yang cukup.

Kebijakan dividen

Kebijakan dividen merupakan sebuah keputusan yang berhubungan dengan besaran laba yang harus dibayarkan kepada para pemegang saham. Selain itu juga sebagai tambahan modal perusahaan dengan cara menghitung banyaknya laba yang harus ditahan. Sedangkan keputusan dividen berkaitan dengan keputusan pembelanjaan perusahaan, khususnya dalam pembelanjaan internal perusahaan.

Sebab besar kecilnya dividen yang dibagikan sangat berpengaruh pada besar kecilnya laba ditahan yang merupakan sumber dari pembelanjaan internal perusahaan.

Teori kebijakan dividen

Beberapa permasalahan terkait dividen dapat dijelaskan melalui teori-teori berikut. Yuk cari tahu apa aja sih teori yang menjelaskan tentang kebijakan dividen.

1. Dividen irrelevance theory

Teori ini dikemukakan oleh Merton Miller dan Franco Modigliani pada tahun 1961. Menurut Miller dan Modigliani profitabilitas asset perusahaan dan kompetensi manajemen perusahaan adalah yang menentukan nilai sebuah perusahaan. 

Dengan begitu jika disimpulkan pada teori ini dividen tidak berpengaruh pada nilai perusahaan. Asumsi yang dibangun dalam teori ini menekankan pada pasar sempurna yakni investor bersifat rasional dan terdapat sebuah kepastian yang sempurna. 

Maka dengan demikian tidak ada pengaruh antara dividen dengan nilai saham suatu perusahaan. Dalam teori ini investor akan berpandangan bahwa nilai antara menerima dividen sama saja dengan melalui capital gain sebab pembayaran dividen dan kenaikan harga saham akan sama besar bagi investor.

2. The bird in the hand theory

Dividen mempunyai tingkat kepastian yang lebih tinggi dibandingkan capital gain. Investor akan dibuat yakin dan lebih memilih dividen yang jumlah nominalnya sudah pasti dibandingkan mengharap capital gain yang kemungkinannya mengalami fluktuasi. 

Semakin tinggi jumlah dividen yang dibagikan perusahaan semakin tinggi pula minat investor, dengan begitu para investor akan berlomba membeli saham yang akan membagikan dividen. Keadaan ini dapat membuat harga saham melonjak, sehingga yang menentukan besar kecilnya dividen dibagikan adalah harga saham itu sendiri.

3. Tax preference theory

Teori yang diusung oleh Litzenberger dan Ramaswamy menyatakan bahwa pajak lah yang membuat pendapatan menjadi relevan. Meski begitu pemberlakuan pajak untuk dividen lebih besar dibandingkan pada capital gain

Kemudian pembayaran pajak untuk capital gain dapat ditunda. Hal ini membuat investor lebih tertarik untuk menggunakan capital gain daripada dividen. Sebab dividen dalam teori ini dianggap negatif bagi nilai sebuah perusahaan.

4. Signaling theory

Pada teori ini, dividen dianggap dapat menjadi penyampai informasi tentang kinerja keuangan perusahaan dari manajer kepada investor. Sebab William L M, berpendapat bahwa corporate insider (manajer) secara garis besar mengetahui lebih banyak informasi mengenai prospek perusahaan hingga di masa mendatang dibandingkan dengan pihak investor.

Sehingga terdapat kecenderungan harga saham akan naik jika terdapat pengumuman kenaikan dividen begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini ditekankan bahwa setiap tindakan mengandung sebuah informasi dan ini disebabkan karena adanya asymmetric information yakni kondisi dimana suatu pihak memiliki informasi yang lebih banyak dari pihak lainnya.

5. Residual theory

Melalui teori ini kebijakan dividen ditetapkan oleh perusahaan ketentuan ini berlaku setelah semua investasi yang menguntungkan habis dibiayai. Maksudnya yaitu dividen dibiayai menggunakan dana sisa perusahaan dari berbagai investasi yang memiliki Net Present Value positif.

Dengan menggunakan pendanaan internal yakni pendanaan yang ditahan (retained earnings) membuat perusahaan mengeluarkan biaya yang lebih kecil. Oleh karenanya perusahaan cenderung menggunakan pembiayaan internal dibandingkan pembiayaan eksternal. 

Ketika masih terdapat investasi yang harus dibiayai, dividen yang dibayarkan pun semakin sedikit yaitu tergantung dari sisa dana internal. Maka kesimpulan dari teori ini adalah semakin cepat pertumbuhan suatu perusahaan maka semakin jarang membayarkan dividen dan memiliki rasio pembayaran dividen yang lebih rendah, begitu pun sebaliknya.

6. Teori efek pelanggan (Clientele effect theory)

Pelanggan yang dimaksud pada teori ini adalah si pemegang saham. Saham perusahaan yang sudah terkenal dapat diperjualbelikan oleh banyak orang maupun kelompok atau secara umum. 

Dalam menyikapi kebijakan dividen perusahaan, para pemegang saham masing-masing memiliki pandangan, kepentingan dan tujuan yang berbeda. Jadi teori ini menjelaskan bahwa sebuah perusahaan dimiliki oleh bermacam tipe investor, ada yang menginginkan dividen ada juga yang tidak. 

Investor yang menginginkan dividen biasanya sedang membutuhkan dana saat itu juga, mereka umumnya mengharapkan dividen dalam rasio besar. Sedangkan investor yang sebaliknya menginginkan perusahaan menahan laba bersih perusahaan untuk perluasan usaha.

Ada kelompok yang menginginkan capital gain karena pertimbangan pajak dan ada pula yang mengabaikan pajak demi mendapat pembagian dividen. Dengan bermacam karakter kelompok menjadikan suatu perusahaan mempunyai kebijakan dividen tertentu untuk investor tertentu.

7. Teori keagenan (Agency theory)

Perbedaan kepentingan antara manajer, pemilik perusahaan dan investor membuat masalah keagenan terjadi. Maka dengan bantuan teori ini dividen dapat dijadikan sebagai alat yang digunakan untuk meminimalisir biaya agensi. 

Pembayaran dividen mensyaratkan manajemen untuk membiayai investasi baru. Sedangkan investor baru mungkin akan tertarik jika manajemen memberikan informasi yang meyakinkan bahwa modal yang digunakan akan memperoleh menguntungkan. Dividen pada teori ini menjadi hal yang positif bagi nilai perusahaan.

8. Teori ekspektasi (Expectation theory)

Seperti namanya teori ini menjelaskan setiap pemegang saham mempunyai harapan terhadap besarnya dividen yang dibayarkan oleh perusahaan. Faktor internal yang mempengaruhi munculnya harapan tersebut adalah dari besarnya dividen yang dibayarkan tahun lalu, kemudian keputusan investasi perusahaan juga dari pendapatan perusahaan di tahun ini.

Sementara faktor eksternalnya dipengaruhi dari keadaan perekonomian dan politik suatu negara. Kebanyakan investor akan membandingkan keadaan aktual dengan harapan mereka ketika dividen dibagikan. Harga saham pun dapat berpengaruh secara signifikan jika ditemukan perbedaan besar antara dividen aktual dengan harapan investor.

9. Teori stakeholder

Stakeholder yang dimaksud dalam teori ini adalah pihak yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan.Pihak-pihak yang dimaksud di sini meliputi investor dan non investor. 

Beberapa stakeholder dianggap memiliki pengaruh besar bagi perusahaan. Studi pertama yang membahas mengenai stakeholder adalah Strategic Management: A Stakeholder Approach oleh Freeman (1984).

Stakeholder mempunyai peran penting terhadap keberhasilan perusahaan sebab itu perusahaan mempunyai kontrak dengan stakeholdernya. Faktor penting dalam teori ini adalah pembeda antara explicit dan implicit claim, sebab kedua hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat pendapatan perusahaan. Implicit claim memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan explicit claim.

Pada kasus ini non investor menggunakan implicit claim untuk mempengaruhi kebijakan investasi. Selain itu implicit claim bisa berpengaruh juga terhadap tingkat pendapatan operasi bersih suatu perusahaan. 

Hal ini dapat menjadi penentu bagaimana kebijakan investasi dan dividen perusahaan. Sebagai kesimpulan, implicit claim dalam teori stakeholder dapat menghubungkan fungsi keuangan perusahaan dengan fungsi lain yang ada di dalam perusahaan.

Faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen

Setelah mengetahui apa saja teori yang dapat menjelaskan mengenai permasalahan dalam dividen. Faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen juga tak kalah penting untuk diulas. Yuk simak penjelasan berikut!

1. Likuiditas perusahaan

Sebelum menentukan kebijakan untuk menetapkan besaran dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, hal yang penting dan harus dipertimbangkan dengan matang adalah likuiditas perusahaan. Sebab semakin kuat likuiditas maka semakin besar juga kemampuan membayar dividen. Hal ini juga berlaku terhadap prospek kebutuhan dana di masa yang akan datang.

2. Dana untuk membayar

Perusahaan dengan pelunasan kewajiban yang diambil dari laba ditahan harus menahan sebagian besar dari dana pendapatan untuk dibagikan sebagai dividen. Maka hanya sebagian kecil saja dividen yang dapat dibagikan dari pendapatan (earnings). Untuk itu perusahaan harus menetapkan dividen payout ratio dalam rasio rendah.

3. Tingkat pertumbuhan perusahaan

Semakin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, maka semakin besar juga pendapatan yang ditahan untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Jika dana masa depan yang dikeluarkan semakin banyak, perusahaan juga cenderung menahan pendapatannya dengan begitu dividend payout ratio nya semakin sedikit atau bahkan tidak dibagikan sebagai dividen.

4. Peluang pasar modal

Perusahaan yang memiliki profitabilitas dan stabilitas data yang baik akan berpeluang besar masuk ke pasar modal dan bentuk pembiayaan eksternal lainnya. Sedangkan bagi perusahaan yang baru merintis cenderung memiliki peluang kecil untuk masuk ke pasar modal, sehingga beresiko besar bagi penanam modal potensial.

Perusahaan dengan latar belakang ini lebih sulit meningkatkan modal atau dana pinjam dari pasar modal lebih terbatas. Akan lebih banyak laba yang ditahan untuk mendanai biaya operasional perusahaan. Kesimpulannya peluang pembagian dividen dengan rasio tinggi cenderung terjadi pada perusahaan besar, begitu pula sebaliknya.

5. Batasan dalam kontrak hutang

Dalam kesepakatan perjanjian pinjaman khususnya untuk hutang jangka panjang seringkali membatasi atau bahkan melarang perusahaan untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham. 

Pemberi pinjaman atau kreditur melakukan batasan tersebut untuk menjaga perusahaan agar tetap mampu melunasi hutang beserta bunganya. Larangan dan pembatasan yang diberlakukan dapat mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan.

Perhitungan dividen

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, besaran uang yang diterima pemegang saham dari dividen adalah bergantung pada berapa lembar saham yang dia miliki. 

Contohnya, Boby adalah pemegang saham PT Depok Persada Tbk dengan total kepemilikan sebanyak 1 juta lembar. Sementara perusahaan ini sukses mencetak laba dalam jumlah signifikan.

Misalnya mereka akan membagikan dividen ke pemegang sahamnya dengan nominal Rp 50 perak per lembar. Maka dividen saham yang diterima Boby adalah Rp 50 x 1 juta = Rp 50 juta. 

Lantas bagaimana caranya perusahaan menentukan berapa Rupiah per lembar yang harus mereka bagi ke investor atau pemegang saham?  Serta, bagaimana para investor menilai bahwa perusahaan yang mau bagi-bagi dividen ini layak dikoleksi? Mari simak perhitungannya di bawah sini.

1. Dividen laba bersih perusahaan (ESP)

Bagaimana sih cara menghitung berapa besar dari laba bersih perusahaan yang akan dibagikan ke pemegang saham. Rumusnya adalah:

Dividen : Laba bersih – Laba yang ditahan

Seperti yang dijelaskan di atas, laba yang ditahan umumnya adalah laba yang nantinya digunakan untuk melakukan ekspansi atau membayar kewajiban-kewajiban lain. 

2. Dividend payout ratio (DPR)

Nah, dividend payout ratio adalah indikator untuk mengetahui “seberapa besar persentase laba bersih” yang dibagikan menjadi dividen. Rumus dari dividend payout ratio adalah:

DPR : Dividen : Laba bersih (dalam bentuk persentase)

Perusahaan dengan DPR tinggi umumnya adalah perusahaan yang industrinya sudah masuk fase pendewasaan. Mereka gak masalah untuk membagi 100 persen dari laba bersihnya ke para pemegang saham. 

Lantas dengan membagikan seluruh dividen, apakah itu tandanya mereka gak mau ekspansi? Bukan begitu maksudnya.

Mereka memiliki cadangan kas dalam jumlah besar, sehingga mereka gak perlu menambah cadangan kas untuk ditahan. Ketika kas itu ditahan, ekuitas pun meningkat, jika ekuitas meningkat maka hal itu memaksa mereka untuk meningkatkan laba yang jauh lebih besar lagi agar nilai ROE perusahaan itu bisa meningkat. 

3. Dividend per share (DPS)

Kedua adalah dividend per share, rasio dividend per share adalah rasio untuk menghitung besaran dividen yang diterima para pemegang saham. Seperti contoh kasus Boby di atas. Rumusnya adalah:

DPS: Dividen :Jumlah lembar saham

4. Dividend yield (DY)

Dividend yield adalah rasio yang wajib diketahui para investor untuk menyatakan apakah perusahaan yang membagi dividen ini, “layak dikoleksi atau tidak.” 

Sejatinya, dividend yield adalah rasio yang digunakan untuk mengukur berapa besar tingkat “keuntungan” yang dibagikan perusahaan ke pemegang saham. DY dan DPR itu gak akan selalu berkorelasi secara positif ya. Malah, rata-rata saham yang punya DPR tinggi justru DY-nya rendah. 

Rumus dari DY adalah: DPS : Harga saham per lembar

Rasio dividend yield adalah rasio yang justru berkaitan erat dengan capital gain. Makin tinggi yieldnya maka makin tinggi juga potensi capital gainnya. So, bisa dibilang investor cenderung lebih menyukai saham yang memiliki DY besar karena keuntungan capital gainnya bisa bikin mereka kaya di masa depan. Sebuah perusahaan dinilai memiliki yield tinggi ketika nilainya ada di atas 5 persen. 

Pembagian dividen

Berhubung dividen adalah keuntungan yang dibagikan pada pemegang saham, oleh karena itu pembagiannya juga harus memiliki prosedur. Coba lihat pengumuman di bawah, apakah kamu cukup familiar dengan pengumuman itu?

Informasi pembagian dividen PT Tower Bersama Infrastruktur (TBIG) 2019: 

  • Cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi (29 Mei 2019)
  • Ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi (31 Mei 2019)
  • Cum dividen di pasar tunai (10 Juni 2019)
  • Ex dividen di pasar tunai (11 Juni 2019)
  • Pencatatan atau recording date (10 Juni 2019)
  • Pembayaran dividen tunai (21 Juni 2019)

Jadwal pembagian ini seringkali kita temukan di media atau situs Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Kira-kira apa sih artinya Cum, Ex, Pencatatan, dan lain sebagainya? 

1. Declaration date

Sebelum kita bahas, Cum, Ex, dan lainnya, ketahui dulu bahwa ada proses declaration date yang muncul pertama kali. Tanggal ini merupakan waktu di mana perusahaan mengumumkan besaran dividen yang dibagikan ke pemegang saham.

2. Cum Dividen

Cum Dividen adalah hari terakhir pemegang saham “bisa menerima hak pembagian dividen.” 

Sederhananya gini, jika kamu beli saham perusahaan A saat Cum Dividen maka kamu bakal dapat dividen. Atau jika seorang pemegang saham masih memiliki saham perusahaan A dalam portofolionya pada masa Cum Dividen, mereka berhak atas dividen saham tersebut.

Jika mereka menjualnya di saat atau sebelum Cum dividen, maka dia gak akan mendapatkan keuntungan dividen ini.

3. Ex Dividen

Waktu ini adalah waktu perdagangan di mana para pemegang saham sudah gak lagi bisa mendapatkan hak dividen. Jadi, kalau mau menikmati dividen, belilah saat cum atau sebelumnya.

4. Pencatatan atau recording date

Saat tanggal pencatatan, perusahaan akan mendata siapa saja pemegang saham yang berhak menerima hak dividen. Untuk yang beli saham saat Ex, mereka sejatinya berhak juga menikmati dividen tapi di tahun depan ya bukan tahun ini.

5. Pembayaran dividen

Di tanggal ini, tugas perusahaan pembagi dividen adalah mentransfer laba mereka ke para pemegang saham. Bagi investor saham di pasar sekunder, dana mereka di rekening dana nasabah tentu akan bertambah secara otomatis setelah tanggal pembayaran berlalu. 

Dividen trap, apa artinya?

Investasi saham memang risikonya tinggi. Kadang, membeli perusahaan yang sedang bagi-bagi laba dalam bentuk dividen juga bisa membuat kita rugi.

Bukan rahasia lagi, dividen adalah sebuah penghasilan pasif yang umumnya dinanti para investor untuk memperkaya diri. Namun mengincar dividen kadang bisa menyebabkan kita rugi, kok bisa?

Seringkali kita mendengar istilah dividen trap atau jebakan batman dari dividen di sejumlah artikel. Dividen trap itu sendiri adalah fenomena pasar di mana muncul menjelang pembagian dividen terjadi. 

Menjelang Cum date, harga satu saham berpotensi naik karena gak sedikit investor yang membelinya karena ingin menikmati dividen. Namun setelah ex date, saham itu pun langsung diobral karena investor melakukan profit taking. 

Oleh karena itu, mereka yang membeli saat Cum dividen bisa saja berpotensi rugi karena mengalami capital loss di keesokan harinya. 

Namun bagi investor jangka panjang, dividen trap ini gak perlu dikhawatirkan sama sekali. Toh mereka beli untuk jangka panjang, seandainya harga turun saat Ex dividen, akan ada sentimen baik lainnya yang membuat nilai suatu saham melonjak tinggi di kemudian hari. 

Saham perusahaan apa saja yang sering bagi-bagi dividen?

Mudah sekali untuk mengetahui saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sering membagikan dividen ke pemegangnya. Kamu bisa melihat indeks IDX High Dividend 20 (IDXHIDIV20).

Berikut adalah daftar penghuni IDXHIDIV20 per Februari 2020 hingga Januari 2021.

No Kode Saham Name Sektor
1 ADRO Adaro Energy Tbk. Mining
2 ASII Astra International Tbk. Misc Industry
3 BBCA Bank Central Asia Tbk. Finance
4 BBNI Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Finance
5 BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Finance
6 BBTN Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Finance
7 BJBR Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. Finance
8 BJTM Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. Finance
9 BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk. Finance
10 GGRM Gudang Garam Tbk. Consumer Goods
11 HMSP H.M. Sampoerna Tbk. Consumer Goods
12 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. Consumer Goods
13 INKP Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Chemical Industry
14 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Chemical Industry
15 ITMG Indo Tambangraya Megah Tbk. Mining
16 LPPF Matahari Department Store Tbk. Trade, Service & Investment
17 PTBA Tambang Batubara Bukit Asam Tbk Mining
18 TLKM Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. Infrastructure & Transportation
19 UNTR United Tractors Tbk. Trade, Service & Investment
20 UNVR Unilever Indonesia Tbk. Consumer Goods

Jadi, itulah hal-hal yang harus diketahui oleh para investor atau calon investor saham terkait dividen. Intinya, walau dividen adalah salah satu keuntungan bisa kamu nikmati, tapi keuntungan ini gak akan selalu dibagikan oleh perusahaan yang kamu beli ya. Ada kalanya dividen itu malah mereka tahan karena sejumlah alasan tertentu.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →