Dapat Penghasilan Besar Saatnya Senang-senang ala YOLO, Yakin Begitu?

Penghasilan besar yakin kamu pengin YOLO?

Baru saja menyelesaikan pendidikan, begitu diterima kerja mendapatkan penghasilan besar. Wah, enak banget ya! Saatnya mewujudkan angan-angan yang tertunda nih.

Lagian mumpung punya banyak uang, gunakan saja buat menyenangkan diri #YOLO (You Only Live Once). Yakin mau begitu? Terdengar menarik ya tapi iya bakal jamin kamu senang?

Sebagian dari mereka yang bekerja di usia muda memandang penghasilan besar sebagai kesempatan buat memuaskan hasrat terpendam. Ingin tambah koleksi sneaker baru, berwisata ke Jepang, menonton sepak bola secara langsung di Inggris, hingga menyaksikan live concert di Singapura.

Padahal, penghasilan besar yang mereka peroleh gak semata-mata habis tuntas demi mewujudkan kesenangan-kesenangan tersebut. Ada hal-hal fundamental yang mesti direalisasikan terlebih dahulu.

Meminjam teori yang dikemukakan Abraham Maslow, ada lima kebutuhan (beberapa di antaranya termasuk fundamental) yang sebaiknya dipenuhi seseorang agar hidupnya terus termotivasi. Kebutuhan-kebutuhan tersebut terangkum dalam teori Hierarchy of Needs.

Seperti apa penjelasan dari teori Maslow tersebut? Simak terus ulasan berikut ini sampai selesai ya.

Dapat penghasilan besar, sudahkah kebutuhan-kebutuhan ini terpenuhi?

Penghasilan besar, apakah kebutuhan ini sudah terpenuhi oleh kamu?

Istilah aktualisasi diri berangkat dari pemikiran psikolog asal Amerika Serikat, Abraham Maslow, yang tertuang dalam teori Hierarchy of Needs.

Teori Hierarchy of Needs yang diungkap Abraham Maslow seolah memberi gambaran kepada kita apa aja tujuan-tujuan yang sebaiknya dipenuhi sebelum akhirnya mencapai tujuan tertinggi dalam hidup.

Maslow menggambarkannya dalam wujud piramida yang dasarnya dimulai dari kebutuhan fisiologis (physiological) hingga aktualisasi diri (self actualization) sebagai puncak tertinggi.

Sebelumnya, telah diungkap di atas mengenai kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud Maslow. Nah, berikut ini adalah penjelasan kebutuhan-kebutuhan tersebut secara spesifik.

1. Kebutuhan fisiologis (physiological

Kebutuhan ini meliputi kebutuhan makan, minum, bernapas, tidur, tempat tinggal, pakaian, reproduksi, hingga kebutuhan vital lainnya.

2. Keamanan dan keselamatan (safety)

Setiap orang membutuhkan rasa aman dalam menjalani hidupnya yang mencakup:

  • keamanan finansial (financial security),
  • kesehatan (health),
  • pekerjaan (employment), hingga
  • keamanan pribadi (personal security).

3. Sosial (social)

Setiap orang juga pada dasarnya memerlukan kebutuhan yang sifatnya afektif, seperti:

  • pertemanan (friendship),
  • keakraban (intimacy), hingga
  • keluarga (family).

4. Penghargaan (self-esteem)

Kebutuhan ini didefinisikan sebagai kebutuhan akan apresiasi dan penghargaan. Setiap orang sebenarnya ingin dihargai dan dianggap sebagai sosok yang turut berkontribusi positif.

5. Aktualisasi diri (self actualization)

What a man can be, he must be.” menjadi kutipan yang menjelaskan apa itu aktualisasi diri. Kebutuhan ini bisa dipandang sebagai pencapaian sepenuhnya dari potensi yang dimiliki.

Orang-orang yang telah berada dalam posisi ini bisa dibilang sebagai orang-orang yang telah berkembang atau sedang berkembang dengan menggunakan secara penuh kemampuan yang dimiliki.

Walaupun punya penghasilan besar, beberapa kebutuhan ini masih aja luput

Kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan pakaian bukanlah persoalan bagi mereka yang mempunyai penghasilan. Dengan kata lain, mereka yang berpenghasilan bisa memenuhi sendiri beberapa kebutuhan fisiologis mereka.

Mereka yang telah berpenghasilan juga otomatis telah memenuhi kebutuhan safety dengan memiliki pekerjaan.

Begitu pun kebutuhan sosial, kebanyakan dari mereka yang baru menyelesaikan pendidikannya memiliki jalinan pertemanan yang cukup baik dan hubungan baik dengan keluarga.

Persoalannya adalah gak semua kebutuhan fisiologis telah dipenuhi mereka yang telah bekerja. Contohnya saja tempat tinggal yang sampai saat ini masih menjadi persoalan dilematik karena harga jualnya begitu tinggi.

Kemudian dari sisi keamanan finansial (financial security) yang menjadi komponen dalam kebutuhan safety. Banyak dari mereka yang belum menaruh perhatian serius buat menjaga kondisi keuangan tetap aman.

Lagi pula bukan hal yang mustahil, mereka yang bergaji besar jatuh tersungkur kekurangan uang karena gagal dalam mengelola penghasilannya. 

Alokasi pengeluaran lebih banyak disalurkan buat hal-hal konsumtif semata (#YOLO) ketimbang membentuk aset kekayaan adalah penyebab utama dari kasus-kasus keuangan yang ada. 

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan agar kemungkinan buruk tersebut bisa dihindarkan?

Amankan penghasilan besar dengan mulai membuat tujuan keuangan ini jadi nyata

Memiliki penghasilan besar, sudah yakin buat menjalankan pengeluaran ini?

Keamanan finansial (financial security) ditopang tiga hal fundamental, yaitu:

  • simpanan (savings),
  • proteksi (protection), hingga
  • investasi (investment).

Ketiga hal ini selain membantumu dalam menjaga kondisi finansial tetap aman, juga telah membawamu dalam pencapaian tertinggi dari perencanaan keuangan, yaitu merdeka finansial (financial freedom).

Buat mewujudkannya, ada beberapa hal yang mesti dilakukan. Berikut ini beberapa langkah mewujudkan hal-hal fundamental dalam keamanan finansial.

Tanya Lifepal - Untuk Pertanyaan Keuanganmu
Bagaimana cara mengelola uang pesangon untuk korban PHK karena Covid-19?Dijawab : Eko Endarto, CFP, RFA

1. Simpanan (savings): siapkan dana darurat

Pernah mendengar dana darurat sebelumnya? Lifepal sebelumnya bikin ulasan mengenai dana darurat.

Sederhananya, dana darurat (emergency fund) adalah simpanan khusus yang dimanfaatkan dalam menghadapi situasi yang gak diharapkan semisal kesulitan keuangan.

Situasi gak diharapkan yang dimaksud di sini bisa berupa hilangnya penghasilan karena kehilangan pekerjaan (job loss), perbaikan rumah, hingga perjalanan ke luar kota yang gak direncanakan.

Dana ini harus wajib ada kalau mau kondisi keuangan terjaga dengan baik. Plus dana darurat juga dapat menghindarkan kamu dari utang lho.

Berapa besar dana yang dialokasikan?

Besaran ideal sebagai nilai alokasi dana darurat ini sebesar 3 – 6 kali gaji tiap bulannya. Semakin nilainya, semakin bagus terhadap keuangan.

2. Proteksi (protection): dari BPJS hingga asuransi jiwa

Dana darurat saja sebenarnya belum cukup melindungi kondisi keuangan. Itulah kenapa perlu adanya proteksi yang berasal dari BPJS ataupun asuransi.

Di Indonesia Pemerintah telah memberi mandat agar seluruh masyarakat mendapat social security dengan terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sementara mereka yang bekerja diharuskan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Pertanyaannya, apakah manfaat proteksi dari BPJS sudah cukup? Jawabannya cukup. Namun, kalau mau lebih cukup, kamu bisa menambah proteksi dari asuransi, baik asuransi kesehatan keluarga maupun asuransi jiwa.

Boleh aja kamu telah memiliki asuransi kesehatan karena diberikan kantor. Gimana dengan asuransi jiwa? Apakah telah memilikinya juga? 

Emang benar asuransi jiwa itu sangat tepat bagi mereka yang telah berkeluarga. Namun, bukan berarti kamu yang belum menikah gak memerlukannya.

Anggota keluargamu, baik orang tua maupun kakak adik, bisa menjadi penerima manfaat dari uang pertanggungan asuransi jiwa. Uang pertanggungan tersebut pastinya sangat berguna, apalagi kalau kamu menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga.

Berapa besar dana yang dialokasikan?

Khusus asuransi jiwa, kamu bisa alokasikan 10 persen dari penghasilan tiap bulannya secara rutin buat membayar premi. Itu berarti dengan gajimu sebesar Rp 15 juta, dana yang disiapkan sebagai uang pembayaran premi sebesar Rp 1,5 juta.

Dengan uang premi sebesar itu, ahli warismu bisa memperoleh uang pertanggungan hingga lebih dari Rp 1 miliar.

3. Investasi (investment): pilihannya dari deposito hingga reksa dana

Berinvestasi sejak pesatnya perkembangan teknologi gak lagi menjadi kegiatan yang sulit dilakukan. Melalui smartphone, kamu bisa berinvestasi dengan cepat dan mudahnya. Bahkan, bermodalkan Rp 100 ribu telah cukup bagimu buat berinvestasi.

Pilihan instrumen investasi yang bisa kamu ambil ada banyak. Pilihan tersebut mulai dari deposito, surat berharga negara, saham, hingga reksa dana.

Buat kamu yang gak ribet, reksa dana bisa menjadi pilihan investasi yang simpel dan mudah dilakukan. Apalagi berinvestasi di reksa dana dapat dilakukan secara online dan modalnya mulai dari Rp 100 ribu.

Satu lagi yang perlu kamu ketahui, keuntungan reksa dana melebihi keuntungan deposito lho. Mau tahu lebih jauh tentang reksa dana dan perbandingannya deposito? Cari tahu dalam artikel Reksa Dana Pasar Uang Lebih Untung dari Deposito Bunga 6 Persen, Apakah Benar?.

Berapa besar dana yang dialokasikan?

Modal Rp 100 ribu emang udah cukup buat berinvestasi di reksa dana ataupun saham. Sayangnya, modal sekecil itu memberi return yang kecil.

Nah, biar return yang dihasilkan tinggi, alokasikan minimal 10 persen dari penghasilan tiap bulannya buat diinvestasikan secara rutin. Dari penghasilanmu yang sebesar Rp 15 juta, alokasi sebesar Rp 1,5 juta lebih dari cukup sebagai dana top up investasi reksa dana ataupun saham.

Sampai sini apakah kamu masih berpikir dapat penghasilan besar sama dengan bersenang-senang? Justru selagi masih muda, saatnya mengembangkan aset yang dimiliki agar masa muda hingga masa tuamu gak hidup dalam kesusahan. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →