Kasian! Harry Potter Juga Ikut Terseret-seret Perang Dagang AS-China

Perang dagang

Perang dagang antara AS dan China kini mulai mereda. Bukan berarti perang tarif antar keduanya dihentikan, melainkan AS melunak dengan memberikan penangguhan tarif bagi barang China. 

Beberapa pengamat menilai kalau langkah ini sebagai bentuk ketidakberdayaan AS terhadap China. Pabrik-pabrik manufaktur milik Paman Sam mengalami kemunduran profit. Kalau didiamkan secara terus menerus, hal ini bisa mengakibatkan kebangkrutan dan meningkatkan angka pengangguran. 

Pada bulan September kemarin, investasi dan perdagangan AS benar-benar anjlok dan terburuk sepanjang pemerintahan Trump. Para pengusaha langsung mengkambinghitamkan kebijakannya yang menaikkan tarif impor barang-barang China

Kerugiannya bagi warga Amerika Serikat adalah, rata-rata biaya hidup mereka meningkat sebesar US$ 1000 atau Rp 14 juta per tahunnya. 

Setelah menerima berbagai desakan dari dalam maupun dari dunia luar, akhirnya Trump mulai melunak. Baik AS maupun China kini dalam tahap mencari kesepakatan untuk mendinginkan suasana. 

Dikutip dari CNBC, Trump telah menangguhkan pemberlakuan tarif bea masuk 25 persen pada barang-barang China. Langkah ini sudah dilakukan pada bulan Oktober ini, dan rencananya akan dilanjutkan pada bulan November nanti. 

Selain industri baja, pertanian, sampai elektronik, ternyata ada satu lagi yang terkena dampak dari perang dagang, yaitu buku Harry Potter, kok bisa?

Baca juga: Tertinggi Impornya, Ini Barang-barang Asal China yang Berdatangan ke Indonesia

Harry Potter terseret-seret perang dagang 

Perang dagang
Ini sederetan novel Harry Potter yang memiliki banyak penggemar di seluruh dunia, (Ilustrasi/Shutterstock).

Perang dagang antara AS dan China yang telah berlangsung sejak Juli 2018 telah merepotkan berbagai pihak. Gak cuma di dunia industri antara kedua negara, melainkan juga ekonomi global. Bahkan, dikutip dari Business Insider novel seri Harry Potter ikut-ikutan kena imbasnya. 

Penerbit seri Harry Potter, Bloomsbury Publishing memiliki lebih dari 50 judul buku yang dicetak dan diterbitkan di China. Buku-buku tersebut gak cuma untuk pasar China saja, tetapi juga untuk diekspor ke luar negeri termasuk ke AS. 

Nah sayangnya, pemerintah AS pada 1 September lalu telah memasukkan buku-buku ke dalam kategori barang US$ 300 miliar yang dikenakan tarif masuk 15 persen. Otomatis, ini menjadi pukulan besar bagi Bloomsbury dan terpaksa menaikkan harga jual buku mereka. 

Efek lebih parahnya lagi bagi Bloomsbury Publishing adalah, pendapatan mereka mengalami penurunan dan harga sahamnya anjllok. 

Selain buku, dalam perang dagang kali ini Trump juga menerapkan tarif tambahan untuk barang-barang seperti pakaian, tv, dan video games. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →