Perhitungan Gaji Nett, Gross dan Gross Up Serta Perbedaannya Sesuai Peraturan Pemerintah

wanita kaget melihat perhitungn gaji

Perhitungan gaji selalu menjadi perbincangan hangat yang seakan tak pernah habis dibahas. Apalagi, masih banyak orang yang belum mengetahui perbedaan antara gaji nett, gross dan juga gross up.

Misalnya, banyak yang kaget saat mereka mendapatkan gaji yang tak sesuai dengan janji di awal. Lho, gimana bisa? Gak mungkin kan kantor asal memotong gaji tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Padahal sebelum tanda tangan kontrak, pihak perusahaan sudah memberitahu kalau gaji yang kamu dapatkan adalah gross, di mana PPh 21 atau pajak penghasilan ditanggung oleh karyawan bukan perusahaan.

Dengan begitu, setiap bulannya gaji kamu akan dipotong untuk pajak hingga BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Daripada kamu bertanya-tanya, mending langsung saja yuk simak penjelasan mengenai perbedaan gaji nett, gross dan gross up beserta rincian hitungannya. Namun sebelum itu, ketahui dulu yuk hak karyawan soal upah atau gaji menurut peraturan Pemerintah.

Definisi gaji menurut Pemerintah

perhitungan gaji
Apa itu gaji?

Menurut Pasal 1 Ayat 30 Undang Undang No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, upah atau gaji adalah hak pekerja yang diterima dalam bentuk uang sebagai imbalan yang diberikan oleh pengusaha atau pemberi kerja yang dibayarkan sesuai dengan perjanjian kerja, kesepakatan dan jasa yang telah atau akan dilakukan.

Dalam Undang-Undang tersebut, juga disebutkan bahwa perusahaan tidak boleh membayar lebih rendah dari ketentuan upah minimum yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Misalnya saja, Upah Minimum Provinsi (UMP) di Jakarta sekitar Rp 4,3 juta per bulan. Maka kamu yang berdomisili di Jakarta, mendapat gaji minimal sekitar Rp 4,3 juta setiap bulannya.

Nah, UMP itu sudah termasuk dengan tunjangan tetap. Sedangkan tunjangan tidak tetap tidak termasuk dalam komponen UMP. Untuk jumlah upah pokok minimal harus sebesar 75 persen dari jumlah UMP.

Apa saja yang termasuk dasar komponen upah karyawan?

Sesuai dengan peraturan pemerintah dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No.SE/07/MEN/1990 Tahun 1990 tentang Pengelompokkan Komponen Upah dan Pendapatan Non Upah, berikut ini beberapa komponen upah:

  • Upah pokok adalah imbalan dasar yang dibayarkan kepada karyawan yang jumlahnya sesuai dengan kesepakatan.
  • Tunjangan tetap adalah pembayaran teratur yang pembayarannya dikeluarkan bersamaan dengan upah pokok.
  • Tunjangan tidak tetap adalah pembayaran yang tidak berkaitan dengan karyawan dan pembayarannya dilakukan pada waktu yang berbeda dari upah pokok.

Namun selain itu, ada biaya pemotongan yang dilakukan oleh perusahaan. Jadi, karyawan akan mendapat upah kotor yaitu upah pokok dan tunjangan tetap setelah pemotongan. Berikut beberapa jenis potongan biaya yang dilakukan perusahaan:

  • Pajak penghasilan
  • Pembayaran iuran jaminan sosial, seperti asuransi kesehatan, jaminan pensiun dan lainnya.
  • Potongan lainnya seperti karyawan absen tanpa alasan atau karyawan melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan.

Akan tetapi, ada beberapa situasi di mana perusahaan tetap harus membayar gaji karyawan, seperti:

  • Karyawan sakit.
  • Karyawan wanita sakit pada hari pertama haid.
  • Tidak masuk karena menikah, menikahkan, istri melahirkan hingga anggota keluarga meninggal dunia.
  • Karyawan menjalankan kewajiban terhadap negara.
  • Karyawan menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya.
  • Karyawan cuti.
  • Melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.

Perbedaan gaji nett, gross dan gross up

orang memegang uang rupiah
Bagaimana perhitungan gaji nett, gross, dan gross up?

Berikut adalah penjelasan mengenai gaji nett, gross dan juga gross up yang perlu kamu pahami agar tak bingung saat akan negosiasi gaji dengan perusahaan.

Gaji nett

Gaji nett adalah metode pemotongan pajak di mana perusahaan yang akan menanggung pajak karyawannya. Maka setiap bulannya kamu akan mendapat gaji sesuai dengan perjanjian awal.

Jadi sebenarnya gaji kamu sudah dinaikkan oleh perusahaan. Karena kamu tetap harus membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan serta uang pensiun.

Gaji gross

Gaji gross adalah metode pemotongan pajak di mana karyawan akan menanggung pajak penghasilannya.

Gaji gross up

Gaji gross up adalah metode pemotongan pajak di mana perusahaan dan karyawan mengeluarkan pajak yang jumlahnya sama besar. Jadi, 50 persen pajak penghasilan karyawan akan ditanggung oleh perusahaan.

Perhitungan gaji nett, gross dan gross up

Setiap bulan, karyawan akan dikenakan beberapa potongan iuran yang jumlahnya sudah ditetapkan oleh Pemerintah, yakni:

  • BPJS Ketenagakerjaan: 2 persen
  • BPJS Kesehatan: 1 persen
  • Uang pensiun: 1 persen
  • PPh 21: Untuk potongan pajak penghasilan tergantung dari besaran gaji yang diterima karyawan. Berikut perinciannya mengacu pada UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 17:
    • Wajib Pajak dengan Penghasilan Kena Pajak (PKP) sampai dengan Rp 50 juta per tahun, akan dikenakan pajak sebesar 5 persen.
    • Wajib Pajak dengan penghasilan di atas Rp 50 juta sampai Rp 250 juta dikenakan pajak sebesar 15 persen.
    • Wajib Pajak dengan penghasilan di atas Rp 250 juta hingga Rp 500 juta dikenakan pajak sebesar 25 persen.
    • Wajib Pajak dengan penghasilan di atas Rp 500 juta dikenakan pajak sebesar 30 persen.
    • Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28 persen.

Simulasi perhitungan gaji:

Chika belum menikah dan bekerja di salah satu perusahaan besar dengan gaji per bulan sebesar Rp 10 juta. Berapa gaji yang diterima Chika jika menerapkan sistem gaji nett, gross dan juga gross up. Berikut perhitungannya:

Gaji Chika per bulan Rp 10 juta. Maka dalam satu tahun, penghasilan yang diperoleh Chika sebesar Rp 10 juta X 12 yaitu Rp 120 juta.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.010/2016 Pasal 1, besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) disesuaikan menjadi Rp 54 juta untuk Wajib Pajak orang pribadi.

Maka perhitungan PPh 21-nya yakni PKP = penghasilan bersih – PTKP (Rp 120 juta – Rp 54 juta), adalah Rp 66 juta.

Berarti PKP Chika berada di antara Rp 50 juta sampai Rp 250 juta. Dengan begitu berlaku dua lapis tarif PPh 21, yakni:

  • Rp 50.000.000 dikenai tarif 5 persen.
  • Sisa dari Rp 66 juta dikurangi Rp 50 juta, yaitu Rp 16 juta dan dikenai tarif 15 persen.

Perhitungan PPh 21

  • PPh 21 terutang = (5% x Rp 50.000.000) + (15% x Rp 16.000.000)
  • PPh 21 terutang = Rp 2.500.000 + Rp 2.400.000
  • PPh 21 terutang 1 tahun = Rp 4.900.000
  • Dalam 1 bulan = Rp 408.000

Perhitungan gaji nett

Seperti penjelasan di atas kalau gaji nett, maka pajak kamu akan ditanggung oleh perusahaan. Maka Chika setiap bulan akan menerima gaji sebesar Rp 10 juta. Untuk iuran BPJS dan pensiun tetap ditanggung oleh karyawan.

Tapi kenapa gajinya gak berkurang? Jadi sebenarnya gaji kamu sudah dinaikkan oleh perusahaan yang besarannya sesuai dengan potongan iuran.

Perhitungan gaji gross

Sementara untuk gaji gross itu, berarti gaji yang diberikan belum masuk ke dalam berbagai potongan. Berikut rinciannya:

Gaji per bulan Rp 10.000.000
Potongan-potongan BPJS Kesehatan 1 persen Rp       100.000
BPJS Ketenagakerjaan 2 persen Rp       200.000
Uang pensiun 1 persen Rp       100.000
PPh 21 Rp       408.000
Gaji setelah potongan Rp   9.192.000

Maka, setiap bulan Chika mendapat gaji sebesar Rp 9.192.000. Dengan rincian perhitungan:

Rumus:

Gaji per bulan – BPJS Kesehatan – BPJS Ketenagakerjaan – Uang pensiun – PPh 21

(Rp 10.000.000 – Rp 100.000 – Rp 200.000 – Rp 100.000 – Rp 408.000) = Rp 9.192.000.

Perhitungan gaji gross up

Seperti penjelasan di atas, kalau gaji gross up, maka pajak akan ditanggung oleh perusahaan dan juga karyawan dengan besaran yang sama.

Jika perhitungan gaji gross, Chika harus menanggung PPh 21 sebesar Rp 408.000 per bulan. Bila gross up, maka Chika harus membayar pajak hanya 50% dari Rp 408.000, yakni Rp 204.000. Berikut perhitungannya:

Gaji per bulan Rp 10.000.000
Potongan-potongan BPJS Kesehatan 1 persen Rp 100.000
BPJS Ketenagakerjaan 2 persen Rp 200.000
Uang pensiun 1 persen Rp 100.000
PPh 21 Rp 204.000
Gaji setelah potongan Rp 9.396.000

Dari perhitungan di atas, diketahui kalau Chika mendapat gaji setiap bulan sebesar Rp 9.396.000 dengan sistem gross up.

Nah, itu dia perbedaan serta rincian perhitungan gaji nett, gross dan juga gross up yang perlu diketahui oleh karyawan agar tidak bingung ke mana saja larinya potongan gaji yang ia terima setiap bulan. (Editor: Ruben Setiawan)