Portofolio Investasi Merah karena Corona, Ketahui 4 Hal Ini dan Setop Panik!

Pandemi Virus Corona (COVID 19) masih jadi momok paling menakutkan bagi para investor, khususnya investor saham. Gak sedikit para investor saham mempertimbangkan cut loss demi menyelamatkan portofolio investasi saham mereka, yang sedang dilanda kebakaran. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan akibat insiden panic selling. Para investor melakukan penjualan saham secara massif hingga membuat saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok.

Investor berpikir, untuk saat seperti ini uang tunai adalah segalanya. Ketimbang menyaksikan modal investasi yang makin lama makin tergerus, lebih baik diselamatkan sejak dini. 

Apakah kamu adalah salah satu di antara para investor dengan pemikiran seperti itu?

Psikologi investor memang sangat beragam. Ada yang santai, ada juga yang mudah panik ketika menyaksikan pasar bearish. 

Tentu saja kepanikan itu memiliki banyak faktor. Bisa jadi sang investor menggunakan lebih dari setengah hartanya untuk membeli saham itu, atau dia berinvestasi di saham untuk kebutuhan jangka pendek. 

Dalam jangka waktu yang gak bisa ditentukan ini, IHSG memang masih sulit diprediksi arahnya. 

Bila memang portofolio investasi saham kamu merah, coba pertimbangkan beberapa hal di bawah ini. Siapa tahu bisa bermanfaat. 

1. Kamu nyangkut di saham apa?

Portofolio investasi

Saham apa yang membuat investasi portofolio-mu saat ini kebakaran? Apakah itu saham industri perbankan? Komoditas? Manufaktur? Consumer Goods? Atau lainnya?

Lakukan peninjauan ulang terhadap emiten saham yang kamu pegang secara fundamental. Coba ingat baik-baik apa alasanmu membeli saham ini sebelum peristiwa tersebut terjadi. 

Ketika saham yang kamu pegang adalah gorengan, apa yang bisa kamu harapkan dari saham tersebut? Gak usah kaget kalau pada akhirnya harga saham tersebut jadi gocap, dan membuat portofolio investasi kamu kebakaran.

Buang saja, toh gak akan ada harapan saham itu bakal bergerak. Kecuali memang sedang digoreng bandar. 

Namun, seandainya saham itu adalah saham-saham perusahaan yang baik dan sehat dari segi fundamental, itu tandanya “harganya memang lagi didiskon”.

Cobalah pikir matang-matang jika terbersit keinginan melakukan cut loss, apakah kamu memang butuh aliran dana segar dalam waktu dekat ini hingga harus cut loss dulu? 

2. Barang kok dibuang

Portofolio investasi

Seperti yang dijelaskan di poin pertama, ketika saham itu adalah perusahaan dengan fundamental baik dan harganya sedang terdiskon tinggi, salah besar jika kamu akhirnya melakukan cut loss. Ibarat kamu membuang barang bagus yang sangat berguna untuk masa depan.  

Mumpung sedang murah murah, lakukan average down saja! Setiap bulan, kamu rutin sisihkan uang untuk investasi kan? Manfaatkan saja dana tersebut. 

Nilai rata-rata pembelian saham (average) sebelumnya akan ikut turun, mengikuti harga saham di pasaran saat ini. Sehingga pada saat situasi kembali normal, keuntuganmu bisa bertambah lebih banyak. Namun, jangan sembarangan melakukan averaging down ya! 

Semakin besar kamu menggunakan dana ketika melakukan hal ini, maka semakin signifikan juga penurunan nilai rata-rata pembelian sahammu. 

Tapi, apa jadinya jika pekan depan, atau bahkan dua atau tiga bulan ke depan harganya akan terus turun? Bisa jadi modalmu sudah habis karena kamu menggunakan terlalu banyak uang untuk average down.

3. Ketika cut loss, maka kamu harus cari cuan lebih tinggi dari kerugianmu

Portofolio investasi

Ketika cut loss menjadi pilihan yang kamu pilih, maka sudah jelas kamu bakal kehilangan uang. Pada saat itu ya, kekayaan bersih kamu pun secara otomatis akan berkurang. 

Gimana cara mengatasi hal ini, jika kita gak mau uang kita gak mau kekayaan bersih kita juga ikut menyusut? Ya tentu saja dengan cara investasi lagi dan menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar dari kerugian kita sebelumnya.

Misal, kita melakukan cut loss saat kerugian kita di angka 10 persen, maka bijaknya, kita harus kembali berinvestasi hingga kita mendapat untung 20 persen. Kok gitu? 

Jelas saja, cut loss 10 persen itu gak sekadar rugi 10 persen saja tapi ada biaya transaksi juga kan dari sekuritas atas penjualan saham yang kamu lakukan yang besarannya nol koma sekian persen. Walau terdengar sepele tetap saja itu adalah biaya yang akhirnya menggerus modal investasimu. 

Anggaplah kamu sukses mengembalikan 11 persen dengan berinvestasi di tempat lain. Maka itu baru dikatakan “impas” belum untung. Kalau mau untung ya silahkan tunggu sampai 20 persen. 

4. Ubah tujuan investasimu

Sabarlah ketika melihat portofolio investasi kamu yang selalu bikin ketar-ketir. Khusus buat para investor yang masih lajang, maka gak masalah untuk mengubah tujuan investasi kita sementara waktu.

Fokuskan saja saham ini sebagai investasi jangka panjang, contohnya adalah untuk kebutuhan dana pensiun. Batalkan saja tujuan awal kita yang ingin melakukan profit taking dalam jangka waktu pendek dengan menjual saham ini.

Dengan mengubah sikap ini, tentunya kita menjadi lebih fleksibel dan lebih tenang dalam menyikapi kondisi pasar yang terlihat kejam saat ini.

Itulah empat hal yang bisa kamu pertimbangkan ketika melihat portofolio investasi yang gak kunjung menghijau. Pada intinya, cut loss memang umum dilakukan para investor untuk menyelamatkan aset lancar mereka, tapi jangan pernah terburu-buru untuk melakukan hal ini.

Selama masih ada cara lain untuk menyelamatkan portofolio ini, hindarilah melakukan cut loss. (Editor: Chaerunnisa)