Untungnya Puluhan Miliar Rupiah Sehari, Saham-saham Ini Dikoleksi Lo Kheng Hong

portfolio saham

Lo Kheng Hong dikenal karena kepiawaiannya dalam berinvestasi saham. Gara-gara mendapatkan banyak cuan dari saham, dia bisa memiliki aset hingga Rp 2,5 triliun dari portofolio saham miliknya. 

Buat kamu yang juga gemar berinvestasi, pastinya penasaran dengan portofolio saham milik Lo Kheng Hong, bukan? Siapa tahu nantinya bisa meraih cuan juga ketika ikutan memiliki portofolio investasi seperti yang Lo Kheng Hong miliki. 

Asal tahu aja nih, pernah ada beritanya kalau Lo Kheng Hong meraih untung Rp 10 miliar dalam sehari dari saham yang dia miliki. Lalu ada kabar yang menyebutkan kalau dirinya dijuluki sebagai “Warren Buffet Indonesia” ini mendapat cuan sebesar Rp 16 miliar karena berinvestasi saham.

Memang apa saja saham-saham yang dipegangnya sehingga bisa untung sebanyak itu? Gak usah berlama-lama lagi, berikut ini adalah daftar portofolio saham yang dimiliki Lo Kheng Hong.

Saat kecil Lo Kheng Hong hidup susah 

seorang pria sedang main saham
Instagram/@erman.sumirat

Sekarang, Lo Kheng Hong sudah bisa menghasilkan uang saat dia tidur terlelap. Jalan-jalan ke Amerika pun tinggal berangkat saja, gak perlu pusing mikir harga tiket. 

Namun siapa sangka, masa kecil investor papan atas ini memang cukup keras. 

Pria ini tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana, menurut informasi di Wikipedia dan sejumlah media massa lainnya, Lo tinggal di rumah yang sangat sederhana. Kabarnya cuma rumah petak berukuran 4×10 meter saja.

Lo bahkan gak langsung kuliah saat dirinya baru saja lulus SMA. Hal itu disebabkan karena keterbatasan biaya.

Profesi pertama yang dia lakoni di dunia kerja adalah staf tata usaha di Overseas Express Bank (OEB). Pria kelahiran 1959 tahun ini pun baru kuliah saat usianya menginjak 20 tahun di Universitas Nasional, jurusan Sastra Inggris.

Baru investasi saham saat usianya menginjak kepala 3

seseorang investasi saham

Lain dengan Warren Buffet yang sudah berinvestasi saham sejak masih 11 tahun, Lo justru baru memulai investasi saham di usia 30 tahun. Lebih tepatnya di tahun 1989.

Meski tergolong gak muda lagi, tapi dia tetap bisa sukses di masa depan.

Konon kabarnya saham pertama yang dia beli saat itu adalah PT Gajah Surya Multifinance Tbk. Saat itu, perusahaan ini memang baru saja melantai di bursa, dan proses pembelian saham pada saat itu belum bisa secara online, melainkan harus antre dulu.

Apakah Lo langsung cuan setelah membeli saham ini? Ternyata tidak. Saham ini justru akhirnya jeblok dan membuatnya rugi hingga memaksanya melakukan cut loss.

Namun apakah Lo kapok dengan investasi ini? Kalau kapok gak bakalan bisa sukses seperti sekarang. Justru dia malah semangat belajar untuk mengamati tren industri dan pasar modal.

Kerja di bank dan resign karena ingin jadi investor

Di tahun 1990, Lo Kheng Hong pindah kerja ke Bank Ekonomi bagian pemasaran (marketing). Setahun kemudian, dia dipromosi jadi kepala cabang dan pada 1996 dia mundur dari jabatannya karena ingin menjadi investor.

Lo mengaku bahwa, seorang investor bisa saja menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya siapa lagi kalau bukan opa Warren Buffett. Lo juga mengatakan bahwa dirinya telah membaca 40 buku karya Buffett secara berulang-ulang hingga dia memahami isinya. Hebat!

Lo juga berpikir bahwa dengan menjadi investor, dia sama saja dengan membeli mesin pencetak uang, karena yang bekerja untuk perusahaan itu adalah direksi dan karyawan. Dia akan mendapat hak yang sama seperti pemegang saham lainnya.

Di samping itu, alasan Lo untuk terjun ke investasi saham juga disebabkan karena imbal hasil yang luar biasa tinggi, dan yang terakhir adalah karena waktu luangnya banyak.

Menurut pernyataannya di Kontan tahun 2012, dia mengatakan bahwa ada empat macam manusia. Pertama yang punya banyak waktu tapi gak punya uang alias pengangguran. Kedua, punya banyak uang tapi gak punya waktu (pengusaha). Tiga, gak banyak waktu dan gak banyak uang (pegawai), dan yang terakhir tentu saja banyak uang dan banyak waktu (investor).

Saham-saham yang pernah dibeli Lo Kheng Hong

investasi saham

Di poin ini, kita akan bahas saham-saham yang pernah dibeli pak Lo hingga menghasilkan cuan tinggi. 

Dalam membeli saham, sejatinya Lo berprinsip bahwa dirinya bakal memborong saham perusahaan bagus tapi yang murah. Setelah itu dia simpan dalam waktu yang sudah ditentukan.  

Tolak ukur Lo Kheng Hong dalam urusan beli saham juga sederhana. Manajemen perusahaannya harus dipenuhi orang jujur dan memiliki integritas, masa depan bisnisnya cerah dan punya masa lalu yang juga baik, labanya besar, prospek pertumbuhannya di masa depan bagus, serta valuasi Price Earning Ration (PER) dan Price Book Value (PBV)nya masuk akal ketimbang kompetitor.

MBAI

Beberapa saham yang pernah dibeli Lo antara lain adalah PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) di tahun 2005 dengan harga Rp 250 per lembar. Dia pun membeli pelan-pelan hingga akhirnya terkumpul 8,29 persen dari total saham MBAI di portofolionya. Setelah enam tahun dia menyimpan saham itu, saham MBAI pun terbang hingga jadi Rp 31.500 per lembar.

Bayangin aja pak Lo untung 12.500 persen! Sementara itu dia punya 75 juta lembar saham

TINS

Selanjutnya adalah saham PT Timah Tbk (TINS) yang dia beli di tahun 2002 dengan harga Rp 285 per lembar. 

Hanya dalam waktu dua tahun saja, harga TINS terbang ke angka Rp 2.900 per lembar. Sayangnya, ketika dilepas, TINS malah terbang tinggi. 

UNTR

PT United Tractors Tbk alias UNTR juga pernah masuk ke dalam portofolio investasi Lo. Saat itu, UNTR sedang jatuh sampai Rp 125 per lembar, akan tetapi laba operasi per sahamnya mencapai Rp 7.800.

Nah Lo Kheng Hong membeli saham UNTR saat berada di angka Rp 250 perak dengan sisa uangnya. Namun akhirnya, harga saham UNTR pun bullish hingga ke angka Rp 1.350. 

Asal kamu tahu, harga Rp 1.350 itu adalah harga UNTR setelah stock split lho. Cuan yang dirasakan Lo adalah ketika saham perusahaan itu mencapai Rp 15 ribuan perlembar! So, cuannya jadi 6 ribu persen!

PNLF

Di sektor keuangan, dia juga membeli PT. Panin Financial Tbk (PNLF) diharga Rp 100 perlembar dan menyimpannya selama 1,5 tahun. Ketika saham mereka naik ke angka Rp 800 perlembar, Lo menjualnya. 

RISG

Sementara itu, PT. Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS) dia beli di Rp 800 per lembar dan simpan selama dua tahun. Lo pun menjualnya ketika harga RIGS mencapai Rp 1.350. 

Selain empat saham di atas masih ada juga saham lainnya seperti PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).

Saham apa yang “masih” dipegang Lo Kheng Hong sekarang?

Kira-kira saham apa saja sih yang masih dipegang pak Lo sekarang? Pak Lo pernah bilang, dia enggan menyebutkan nama-namanya karena takut nilainya tiba-tiba naik gara-gara diborong banyak orang.

Namun menurut pantauan dari RTI, ada dua saham besar yang saat ini dimiliki Lo Kheng Hong dalam jumlah banyak. Saham itu adalah:

1. Saham Petrosea, Tbk. (PTRO)

portfolio saham
Saham Petrosea juga dimiliki oleh Lo Kheng Hong.

Ada saham Petrosea dalam portofolio saham Lo Kheng Hong. Kepemilikannya sesuai dengan data di IDX mencapai 137.842.000 lembar atau sekitar 13,67 persen.

Berkat kepemilikannya atas saham Petrosea, dirinya berhak atas dividen sebesar Rp 16,5 miliar. Nilai dividen yang didapatnya tersebut lebih besar dari dividen yang diperoleh sebelumnya yang mencapai Rp 7,12 miliar.

Kalau melihat laporan keuangannya, Petrosea mencatatkan laba US$ 22,96 juta atau Rp 324,7 miliar pada 2018. Sementara pada 2017, profit yang dicetak sekitar US$ 11,63 juta atau Rp 164,5 miliar.

PT Petrosea, Tbk. merupakan perusahaan yang diketahui bergerak di sektor infrastruktur, pertambangan, dan transportasi. Petrosea sendiri tercatat sebagai anak perusahaan Indika Energy Group.

Kepemilikan Indika Energy Group atas saham Petrosea, Tbk. mencapai 704.014.200 lembar atau sekitar 69,80 persen. Dengan kata lain, Indika Energy Group masih menjadi pemegang saham mayoritas.

Petrosea, Tbk. tercatat di bursa efek sejak 21 Mei 1990. Saat itu harga per lembar saham PTRO dilepas senilai Rp 9.500. 

Kalau dibandingkan dengan sekarang, harga saham PTRO jelas lebih rendah dibandingkan IPO. Sementara kapitalisasi pasar saham ini buat saat ini sekitar Rp 1,64 triliun.

2. Saham Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)

portfolio saham
Saham Mitrabahtera Segara Sejati juga dimiliki oleh Lo Kheng Hong.

Portofolio saham Lo Kheng Hong juga memuat kepemilikannya atas saham Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS). Ia punya saham MBSS sebanyak 97.102.800 lembar atau sekitar 5,549 persen.

Saham yang dimilikinya ini bikin dirinya bisa meraup Rp 10 miliar dalam sehari ketika harga per lembarnya naik. Itu berarti kalau mau, Pak Lo bisa mendapat untung puluhan miliar dalam waktu cepat dengan menjual seluruh saham MBSS yang dimilikinya.

Sama seperti PT Petrosea, Tbk., Mitrabahtera Segara Sejati merupakan bagian dari Indika Group alias berdiri sebagai anak perusahaannya. Porsi kepemilikan saham MBSS yang dipegang Indika Group melalui PT Indika Energy Infrastructure mencapai 51 persen.

Itu berarti Indika Group menguasai sebanyak 892.513.586. Dengan jumlah kepemilikan saham sebanyak itu, Indika Group masih menjadi pemegang saham mayoritas.

PT Mitrabahtera Segara Sejati, Tbk. sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur, utilities, dan transportasi. Bisa dibilang perusahaan ini menyediakan solusi logistik dan transportasi laut terpadu, terutama dalam pengangkutan batu bara.

Sejak kapan Lo Kheng Hong membeli saham MBSS? Dikutip dari Kontan, Pak Lo membeli saham MBSS di pertengahan 2016. Saat itu harga per lembarnya kisaran Rp 200-an.

Dibandingkan dengan sekarang, ada kenaikan yang membuat harga per lembar MBSS berada di kisaran Rp 600-an. Menariknya, saham yang IPO pada 6 April 2011 ini dijual dengan harga Rp 1.600 per lembarnya. Itu berarti harga jual sekarang lebih murah.

Gak beda jauh dengan Petrosea, Tbk., saham MBSS bukanlah saham blue chips. Sebab kapitalisasi pasarnya berada di kisaran Rp 1,17 triliun.

Nah, itu tadi saham-saham yang masuk dalam portofolio saham Lo Kheng Hong. Sejatinya kalau dibilang Warren Buffett-nya Indonesia, Lo Kheng Hong memang mirip-mirip dalam hal kesuksesannya.

Akan tetapi, Lo punya strategi yang berbeda dalam investasi. 

Buffett menyarankan kita untuk memilih saham perusahaan yang bisnisnya sederhana alias digunakan konsumen. Jelas hal iut bakal mengacu pada saham perbankan dan consumer goods.

Lo berpikir, sektor konsumen dan perbankan gak ada yang salah harga alias kemurahan. Bagi Lo, saham salah harga umumnya ada di sektor yang saat ini kurang baik. Tapi, bukan berarti “semua” saham di sektor industri yang kurang menarik itu salah harga lho ya. 

Intinya, Pak Lo menyarankan bahwa belilah sektor “komoditas.” Mengapa? Karena meski saat ini dinilai kurang bagus, sektor komoditas akan membaik suatu hari sebut saja seperti batu bara. 

Selain komoditas, sektor-sektor lain yang kurang bagus dinilai sulit berkembang. Gak heran kalau dia mengoleksi CPIN, TINS, PTRO, dan lainnya.(Editor: Mahardian Prawira Bhisma).

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →