Wow, 8 BUMN Ini Tertarik Beli Saham LinkAja

8 BUMN Incar LinkAja (Shutterstock)

Beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertarik untuk ikut memegang saham Fintek Karya Nusantara (Finarya) yang merupakan pemilik platform sistem pembayaran LinkAja. Saat ini, saham Finarya dipegang anak usaha Telkom Indonesia, yaitu Telkomsel, empat bank milik negara, Pertamina, dan Jiwasraya.

Direktur Utama Finarya Danu Wicaksana mengatakan, terdapat delapan BUMN yang tertarik bergabung, yaitu Garuda Indonesia, Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, Pegadaian. Lalu kemudian Tabungan dan Asuransi Pensiun (Taspen), Jasa Marga, Kereta Api Indonesia (KAI), dan Perum Damri.

“Kami masih menunggu konfirmasi dari beberapa BUMN untuk menyusul BUMN yang sudah bergabung,” kata Danu seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Nantinya, BUMN-BUMN tersebut bakal masuk melalui penerbitan saham baru (rights issue) yang dilakukan Finarya. Adapun saat ini, Telkomsel memegang 25 persen saham FInarya.

Kemudian, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia memiliki saham masing-masing 20 persen. PT Bank Tabungan Negara dan Pertamina masing-masing 7 persen, dan Asuransi Jiwasraya 1 persen.

Danu mengatakan, yang dicari dari masuknya BUMN ini bukan sekadar dana segar, melainkan sinergi untuk penetrasi LinkAja. “Karena sebelum ini, tidak bisa dipenetrasi. Tapi karena mereka (BUMN lain) jadi pemegang saham, jadi terbuka (penetrasi),” kata Danu menambahkan.

Kembangkan Bisnis Syariah

Adapun jika mengacu pada keterbukaan informasi yang diunggah oleh Telkom di situs Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 3 Juli 2019, komposisi kepemilikan saham Finarya ke depan direncanakan menjadi Telkomsel 25 persen. Lalu Bank Mandiri 17,03 persen, BRI 17,03 persen, BNI 17,03 persen.

Kemudian BTN 6,13 persen, Pertamina 6,13 persen, Jiwasraya 1 persen, Danareksa 0,63 persen, dan investor BUMN lain 10,02 persen. 

Sebelumnya LinkAja tengah mengembangkan produk baru berbasis Syariah. Perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran ini menargetkan, 1 juta penggunanya beralih menggunakan layanan anyar itu tahun depan.

LinkAja telah mendapat sertifikasi penyesuaian syariah dari Dewan Syariah Nasional  Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Hal ini menjadi salah satu syarat untuk mengajukan izin ke Bank Indonesia (BI) supaya bisa merilis layanan baru.

Selain pengguna yang sudah ada (existing), LinkAja Syariah melirik potensi pasar lainnya. Di antaranya 25 juta nasabah perbankan syariah, 48 ribu karyawan bank syariah, dan 4 juta santri di sekitar 25 ribu pesantren.