Duh! Ini Lho Deretan Penyebab Indonesia Kebanjiran Produk Impor

produk impor

produk impor

Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk yang besar, terus menjadi sasaran empuk produk asing. Gak heran kalau Indonesia dibanjiri dengan produk-produk impor. 

Tingginya minat masyarakat akan produk asing juga terus meningkat, seiring dengan hadirnya e-commerce yang memberikan kemudahan dalam membeli produk asing. Tak hanya itu, produk asing juga menawarkan harga yang cenderung lebih murah, dan menjadi daya tarik bagi masyarakat.

Tak pelak, hal ini menjadi tantangan berat bagi pelaku usaha di dalam negeri yang harus bersaing dengan produk impor. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, perkembangan e-commerce menjadi salah satu penyebab maraknya produk impor membanjiri pasar Indonesia.

Selain lebih mudah masuk, produk impor juga memberikan harga jual yang lebih murah dibandingkan produk lokal.

“Dinamika yang terjadi selama ini kan memang menunjukkan, satu itu dengan adanya ekonomi digital memungkinkan masuknya barang-barang dari luar secara lebih mudah ke Indonesia, lebih lancar,” ujar Sri Mulyani di Jakarta.

Dengan itu, Menkeu meminta kepada seluruh aparat berwenang, hingga Ditjen Bea Cukai dan Ditjen Pajak untuk melakukan pengawasan dengan ketat dan maksimal, guna mencegah potensi kerugian negara akibat penyelundupan barang ilegal, ataupun impor secara ilegal.

“Oleh karena itu saya minta ke semua pejabat untuk benar-benar mewaspadai. Apakah yang masuk ini benar-benar legitimate dari sisi proses,” tegasnya.

Baca juga: Tertinggi Impornya, Ini Barang-barang Asal China yang Berdatangan ke Indonesia

Pangsa pasar sangat tinggi dengan produk impor

produk impor
Duh! Ini Lho Deretan Penyebab Indonesia Kebanjiran Produk Impor, (Ilustrasi/Shutterstock).

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui bahwa potensi pasar domestik di dalam negeri termasuk besar. Karena itu, ia tidak ingin pasar domestik di dalam negeri dibanjiri oleh produk-produk impor. 

“Tidak mau,” tegas Presiden saat memberikan sambutan pada pembukaan UMKM Export BRIlianPreneur 2019, di Assembly Hall Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta.

Namun Presiden mengingatkan, bukan hal yang mudah untuk menghentikan banjirnya produk impor di pasar domestik, karena dalam ekonomi terbuka seperti ini tidak bisa kita menutup diri.

“Enggak bisa tutup, enggak boleh impor. Enggak bisa,” kata Presiden. 

Caranya, menurut Kepala Negara, hanya satu bagaimana kita bisa berkompetisi dengan mereka, dengan produk-produk impor itu. Entah dari sisi harga, entah dari sisi desain, entah dari sisi kemasan harus menang. 

Karena itu, Kepala Negara mengingatkan, jangan sampai kita meninggalkan pasar domestik terlalu konsentrasi ke ekspor sehingga yang di dalam negeri justru diserbu oleh barang-barang dari luar. 

“Pasar di dalam negeri dikuasai tetapi setelah itu masuk ke pasar global dalam rangka menaikkan devisa kita,” tutur Kepala Negara. 

Baca juga: Ini Kenapa Barang China Banyak Masuk Indonesia!

Produk lokal gak kalah bagus

produk impor
Sebetulnya produk lokal besutan anak dalam negeri gak kalah oke lho dengan produk asing, (Ilustrasi/Shutterstock).

Meskipun saat ini kontribusi dalam ekspor masih didominasi oleh usaha-usaha besar, Presiden Jokowi mengajak para pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar tidak berkecil hati. Ia optimistis posisi tersebut akan terbalik. 

“Jadi angka ekspor usaha besar angkanya ini masih 85,6%, ekspor kita ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar. Artinya, 14% itu oleh kontribusi usaha menengah, usaha kecil dan usaha mikro,” terang Presiden. 

Presiden Jokowi optimistis tidak lama lagi barang-barang itu akan membanjiri pasar ekspor kalau  dikonsolidasikan pasarnya dengan baik, standar produknya juga dibangun dengan baik sehingga betul-betul mampu bersaing dengan negara-negara lain. 

Menurutnya, kini tinggal bagaimana meningkatkan kapasitas agar bisa ekspor lebih banyak dan lebih besar lagi. Akan tetapi, Presiden meminta agar para pelaku usaha di Indonesia tidak hanya membidik pasar ekspor, tetapi juga melihat pasar dalam negeri.

“Saya tidak mau pasar kita dibanjiri produk impor, tidak mau. Artinya, jangan sampai kita meninggalkan pasar domestik karena terlalu konsentrasi ke ekspor, sehingga yang di dalam negeri diserbu barang luar,” pungkasnya. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)