Pengertian Reksadana Pendapatan Tetap dan Pilihan Terbaik

reksadana pendapatan tetap

Reksadana pendapatan tetap adalah salah satu produk investasi yang dikelola manajer investasi. Pengertian reksadana pendapatan tetap secara sederhana yaitu investasi yang penempatan mayoritasnya (80 persen) pada obligasi atau sukuk berbasis utang. Sisanya (20 persen) diinvestasikan ke instrumen pasar uang lain.

Secara umum, ada empat jenis reksadana, yaitu: 

  • Reksadana saham
  • Reksadana pendapatan tetap atau yang disebut fixed income fund
  • Reksadana pasar uang
  • Reksadana campuran. 

Perbedaan mendasar pada masing-masing jenis reksadana tersebut hanya terletak pada penempatan dana.

Lalu seperti apa karakteristik, risiko, keunggulan, hingga penghitungan fixed income fund ini?

Simak ulasan lengkap berikut agar kamu mengenal produk investasi yang dijamin bisa tetap memberikan cuan di tengah pandemi!

Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana dari “utang”

Sebelum membahas reksadana pendapatan tetap, maka ketahui terlebih dulu bahwa reksadana adalah instrumen investasi yang digunakan masyarakat untuk menghimpun dana. 

Sederhananya, masyarakat melakukan urunan dana dan setelah terkumpul, dana tersebut akan dikelola sebagai bentuk investasi oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek.

Setidaknya 80 persen dari portofolio yang dikelola dalam reksadana pendapatan tetap merupakan efek yang bersifat utang, terutama utang jangka panjang. Nah, bicara soal efek utang, maka tentunya efek itu gak jauh-jauh dari obligasi.

Obligasi tersebut berasal dari obligasi perusahaan swasta dan surat utang dari pemerintah. Disebut pendapatan tetap karena obligasi memiliki tingkat imbal hasil yang stabil karena obligasi selalu memberikan kupon secara rutin per bulan.

Jika 80 persen efek di reksadana ini adalah surat utang, maka sisanya dimasukkan ke instrumen pasar uang.   

Contohnya kasus

PT Manulife Asset Management Indonesia memiliki salah satu produk reksadana pendapatan tetap yang bernama Manulife Obligasi Unggulan Kelas A. 

Reksadana ini memiliki komposisi portofolio efek 36,98 persen obligasi Pemerintah RI dan 40,70 persen obligasi korporasi, dan 22,37 instrumen pasar uang. Nah kira-kira apa saja obligasi yang ada di reksadana ini? 

Obligasi Penerbit
BBRIIJ 6.65% 02/21/23 PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
INDOIS 5.9% 03/10/21

(Sukuk negara dalam US$)

Pemerintah RI
INDORI 5.85% 10/15/20 Pemerintah RI
INDORI 8 1/4% 10/15/21 Pemerintah RI
PLNIJ 8.7% 11/03/32 Perusahaan Listrik Negara (PLN)

Jelas banget, manajer investasi penerbit reksadana ini memilih obligasi yang diterbitkan Pemerintah RI dan beberapa BUMN, yaitu Bank Rakyat Indonesia dan PLN. 

Karakteristik reksadana pendapatan tetap

Seperti halnya instrumen investasi saham, obligasi (surat utang), hingga emas, masing-masing memiliki karakteristik. Hal tersebut tidak hanya berdasarkan imbal hasil yang diperoleh tetapi berbagai elemen yang membedakan instrumen investasi yang satu dengan lainnya.

Pun dengan fixed income fund ini. Terdapat beberapa karakteristik yang hanya dimiliki reksadana pendapatan tetap. Lalu apa karakteristik reksadana yang 80 persen penempatannya di surat utang? Berikut penjelasannya.

1. Bebas pajak obligasi

Pasti kamu berpikir, jika 80 persen penempatan dana reksadana pendapatan tetap di obligasi, kenapa tidak langsung saja berinvestasi di obligasi atau sukuk yang dikeluarkan pemerintah dan perusahaan?

Tentunya ada yang membedakan antara berinvestasi langsung di obligasi dan reksadana. Jawaban utama dari pertanyaan ini adalah tidak dikenakan pajak untuk bunga obligasi. Sekadar informasi, besaran Pajak Penghasilan atas bunga obligasi mencapai 10 persen.

Kalau kamu berinvestasi di reksadana pendapatan tetap, kamu tidak akan dikenakan pajak ini. Pasalnya, sebagai investor reksadana, bukan kamu yang langsung membeli obligasi tersebut secara langsung atau di pasar sekunder, melainkan manajer investasi yang mengelola dana investasi kamu.

2. Pendapatan tetap bukan berarti hasilnya sama

Salah satu alasan reksadana ini dinamai pendapatan tetap bukan karena imbal hasilnya tetap. Kalau seperti itu namanya deposito. Pendapatan tetap tersebut diperoleh dari penempatan dana yang mayoritas pada obligasi.

Di obligasi, investor mendapatkan kupon bunga yang bakal diterima di akhir masa obligasi. Kupon ini berisi “janji” pembayaran bunga dari penerbit obligasi kepada investor yang telah membeli obligasi yang diterbitkan. Kupon tersebut telah mencantumkan persentase bunga yang akan diterima investor. Otomatis, investor sudah mengetahui imbal hasil yang akan diterima pada akhir masa periode.

Atas dasar imbal hasil yang diketahui dengan pasti ini, maka reksadana tersebut dinamai pendapatan tetap. Namun, hasilnya tidak selalu tetap karena masih ada 20 persen penempatan dana di instrumen investasi lain.

Alasan lain kenapa imbal hasilnya tidak tetap karena obligasi juga diperdagangkan di pasar sekunder. Oleh karena itu harga obligasi bisa menurun jika ada perubahan kondisi ekonomi global maupun nasional.

Terkadang, apabila tingkat suku bunga naik, maka nilai obligasi juga seringkali turun karena investor cenderung memburu instrumen pasar uang. Sebaliknya, jika suku bunga turun maka nilai obligasi umumnya naik.

Belum lagi, jika ada aksi jual dari investor terhadap reksadana ini, maka nilainya pun akan mengalami penurunan.

3. Pas untuk investasi jangka menengah

Untuk tujuan investasi seperti apakah reksadana ini bisa membuah hasil maksimal? Jawabannya adalah untuk jangka menengah alias untuk periode investasi satu hingga tiga tahun. 

Pada dasarnya, para manajer investasi akan menempatkan dana investor di obligasi yang jatuh temponya satu hingga tiga tahunan. Bahkan ada juga yang kurang dari satu tahun.

Sebuah perusahaan atau negara merilis obligasi dengan berbagai tujuan, umumnya adalah untuk sebuah proyek pembangunan.

Dalam jangka waktu satu hingga tiga tahun, nilai aktiva bersih (NAB) dari reksadana ini tergolong stabil. Bila ada fluktuasi tentu nilainya gak bakalan terlalu tinggi, oleh karena itu pas banget untuk investasi jangka menengah.

Keunggulan fixed income fund

Risiko reksadana pendapatan tetap lebih tinggi daripada reksa dana pasar uang, tetapi lebih rendah daripada reksa dana saham. Investor akan memperoleh pendapatan tetap secara berkala dari instrumen investasi ini dalam bentuk kupon bunga pinjaman. 

Ada sejumlah keuntungan yang bisa dinikmati saat memiliki reksadana pendapatan tetap, yaitu:

  • Peningkatan diversifikasi dalam hal pengelolaan dana. Ini berarti bahwa dana yang ditanamkan investor disalurkan ke berbagai macam jenis instrumen investasi. Hal ini dapat mengurangi risiko yang ditanggung investor.
  • Penyaluran dana bersifat likuid dan waktu pencairan bersifat fleksibel. Pemegang reksa dana bisa menjual reksa dana dengan harga nilai aktiva bersih (NAB) pada hari sama saat reksa dana dibeli. 
  • Reksa dana dikelola oleh Manajer Investasi yang resmi terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
  • Kebijakan dan ketentuan dalam reksa dana diatur oleh pemerintah sehingga uang yang diinvestasikan dijamin aman. 
  • Ada transparansi yang jelas. Semua perusahaan reksa dana wajib melaporkan informasi kepada semua investor. 

Siapa yang cocok dengan fixed income fund?

Semua orang dapat berinvestasi pada reksadana pendapatan tetap, terutama bagi yang ingin mencari keuntungan yang aman. Pada dasarnya, reksadana lebih minim risiko sehingga sesuai untuk investor pemula dan konservatif. 

Pada umumnya, tipe investor berinvestasi untuk jangka pendek hingga menengah, yaitu antara 1-5 tahun. Tujuan investasi antara lain untuk biaya nikah, dana pendidikan, atau membeli properti. Pada jangka pendek dan menengah, nilai aktiva bersih (NAB) cenderung naik dan stabil atau tidak banyak mengalami fluktuasi.

Cara dan simulasi investasi reksa dana pendapatan tetap

Berikut ini contoh sederhana untuk mengetahui keuntungan reksadana pendapatan tetap. Kamu juga bisa menghitung sendiri proyeksi imbal hasil yang bakal kamu dapat lewat contoh kasus berikut.

Cara menghitung bunga reksa dana pendapatan tetap

Andi membeli reksadana pendapatan tetap C dari manajer investasi senilai Rp10 juta. Pada hari pembelian, harga NAB/unit reksadana C adalah Rp5.000. Dengan uang yang diserahkan Andi, maka jumlah unit penyertaan yang diperoleh adalah sebagai berikut.

Rp10 juta / Rp5.000 = 2.000

Beberapa bulan kemudian, karena kecelakaan dan Andi tidak memiliki asuransi untuk membiayai perawatan di rumah sakit, dia menjual semua reksadana yang dibelinya.

Pada hari itu, NAB/unit reksadana C adalah Rp5.500. Dengan demikian, Andi mendapatkan hasil penjualan reksadana adalah sebagai berikut.

5.500 x 2.000 = Rp11 juta.

Dari contoh sederhana tersebut, diketahui bahwa keuntungan investasi reksadana Andi adalah Rp1 juta atau 10% dari seluruh total investasi yang diperoleh.

Perbedaan reksadana pendapatan tetap dengan deposito

Perbedaan reksadana pendapatan tetap dengan deposito cukup besar. Namun, banyak masyarakat awam yang menganggap dua jenis investasi ini sama. Bahkan, ada yang mengira bahwa reksadana pendapatan tetap adalah deposito.

Biar gak salah memilihnya, berikut perbedaan masing-masing investasi yang dihadirkan manajer investasi vs produk perbankan.

Faktor Pembanding Reksadana Pendapatan Tetap Deposito
Dana minimal investasi Rata-rata minimal Rp100 ribu Ditentukan bank (minimal jutaan rupiah)
Jangka waktu Bulanan-tahunan (bisa ditarik kapan saja) 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun
Risiko Sedang Minim (hampir nol persen risiko)
Imbal hasil Tergantung selisih NIlai Aktiva Bersih (NAB) atau tidak menentu Ditentukan di awal menyimpan dana (mengikuti BI Rate)

Risiko reksadana pendapatan tetap

Bila melihat karakteristiknya, nilai reksadana ini memang terbilang fluktuatif alias naik turun. Meski demikian fluktuasinya memang gak seperti saham atau reksadana saham. Bisa dibilang, risiko dari reksadana pendapatan tetap ada di atas reksadana pasar uang, namun di bawah reksadana saham. So, kesimpulannya adalah menengah.

Meski disebut menengah, gak sedikit pakar yang menyebutkan bahwa reksadana ini pas buat investor dengan profil risiko konservatif yang cenderung ingin menghindari risiko dan tetap menginginkan imbal hasil yang lebih tinggi.

Secara psikologis, investor-investor seperti ini akan merasa lebih nyaman ketika melihat modal awal investasinya gak tergerus. 

Reksadana pendapatan tetap terbaik 2020

Kira-kira reksadana pendapatan tetap terbaik itu bisa menghasilkan imbal hasil berapa ya selama setahun?

Kita akan menggunakan data yang dihimpun dari Bareksa untuk melihat kinerja beberapa reksadana pendapatan tetap yang sanggup menghasilkan keuntungan besar dari Maret 2019 hingga 30 Maret 2020. 

Ingin tahu berapa persen keuntungannya? Yuk cari tahu di bawah sini.

Reksadana Pendapatan Tetap Manajer Investasi Yield per Bulan
Jasa Pendapatan Capital Stabil Jasa Capital Asset Management 13,29%
Simas Income Fund Sinarmas Asset Management 8,91%
Mandiri Investasi Obligasi Nasional Mandiri Manajemen Investasi 6,19%
Manulife Obligasi Unggulan Kelas A Manulife Aset Manajemen Indonesia 2,55%
Simas Pendapatan Tetap Andalan Sinarmas Asset Management 2,25%

Kurang lebih dalam setahun, maksimal keuntungannya bisa sampai 13 persenan. Namun ingat lho, secara harian atau bulanan, nilai reksadana ini juga fluktuatif. 

Bisa jadi dalam hitungan bulanan minus, namun dalam hitungan tahunan baru dapat cuan

Itulah hal-hal yang harus kamu ketahui sebelum berinvestasi dengan membeli reksadana pendapatan tetap. Soal modal awal investasinya, reksadana ini sama saja dengan reksadana lain, bisa dimulai dengan uang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu saja.

Namun patut diketahui bahwa, produk ini jenisnya juga banyak. Sama seperti reksadana pasar uang, campuran, atau saham. Penting sekali untuk mengetahui siapa manajer investasi yang menerbitkan reksadana itu, dan obligasi apa saja yang ada di portofolio reksadananya.

Ketika obligasinya sebagian besar adalah obligasi pemerintah, tentu saja risikonya bakal lebih rendah. Karena ketika negara berutang dengan kita, maka negara pasti menjamin bahwa itu bakal dibayar.

Namun, ketika obligasi di reksadananya adalah obligasi swasta, risiko gagal bayar atau bangkrutnya perusahaan penerbit obligasi itu juga tetap ada.

Tips memilih reksadana pendapatan tetap

Dari berbagai ulasan di atas, kamu yang tertarik dengan reksadana pendapatan tetap perlu mengetahui tips berikut agar tidak merugi di kemudian hari. Tentunya dalam berinvestasi menginginkan hasil yang maksimal.

Berikut hal-hal yang perlu kamu terapkan dalam berinvestasi fixed income fund!

1. Tentukan persentase investasi setiap bulan

Beberapa perencana keuangan menetapkan 20 persen dari pendapatan bulanan adalah porsi tepat untuk investasi. Namun, ada pula yang mengatakan 30 persen. Semua itu kembali kepada kamu sendiri.

Sebelum mulai berinvestasi, ada baiknya mulai menghitung pengeluaran rutin bulanan yang wajib termasuk cicilan. Lalu tentukan nominal yang paling nyaman dan tidak memberatkan hidup kamu selama sebulan.

Contoh, kamu yang berpenghasilan Rp5 juta per bulan, masih single, dan tinggal di rumah orang tua, mungkin 20 persen atau Rp1 juta per bulan tidak terlalu memberatkan. Beda halnya bagi mereka yang telah berkeluarga.

2. Pilih produk yang sesuai profil risiko kamu

Reksadana pendapatan tetap memang memiliki risiko sedang, tapi bagi kamu yang ingin berinvestasi jangka panjang dan imbal hasil besar, tidak ada salahnya memilih reksadana saham.

Satu hal yang harus kamu tanamkan sebelum mulai, investasi selalu memiliki risiko rugi. Entah itu risiko kecil, sedang, atau besar, pasti ada risiko rugi. So, siapkan diri kamu untuk kemungkinan tersebut, ya!

3. Pilih manajer investasi yang terdaftar dan berizin OJK

Agar tidak tertipu, tentunya kamu harus memastikan manajer investasi yang bakal mengelola dana kamu sudah terdaftar dan berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Cek informasi daftar manajer investasi yang aman di situs resmi OJK.

4. Tentukan tujuan investasi

Tujuan investasi ini penting kamu tetapkan karena bakal membantu memotivasi kamu untuk konsisten menyisihkan penghasilan bulanan. Selain itu, dengan mengetahui tujuan investasi, kamu bisa menetapkan investasi yang lebih sesuai dan bakal memberikan hasil lebih besar.

5. Konsisten

Salah satu kunci sukses mendapatkan hasil maksimal dalam berinvestasi adalah konsisten atau rutin menyisihkan pendapatan. Instrumen investasi apapun tidak akan memberikan hasil maksimal jika kamu masih labil dalam menyisihkan uang untuk berinvestasi.

6. Jangan lupa asuransi

Kenapa harus punya asuransi? Seperti contoh sebelumnya dalam cara menghitung bunga reksadana, investasi yang sifatnya bisa dicairkan kapan saja ini bakal dicairkan jika risiko kehidupan terjadi. Tentunya kamu tidak menginginkan demikian.

Itu sebab, kamu membutuhkan asuransi seperti asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Pemilik kendaraan bermotor juga membutuhkan asuransi mobil ataupun motor untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Termasuk mencairkan reksadana pendapatan tetap kamu sebelum waktunya.

Kunjungi Lifepal dan isi biodata kamu untuk mendapatkan konsultasi gratis dan penawaran menarik. Dijamin gak bakal bikin rencana investasimu buyar karena preminya terjangkau banget!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →