Prospek Bisnis Ritel dari Pengertian, Klasifikasi hingga Cara Merintis

bisnis ritel

Bisnis ritel merupakan salah satu industri yang memiliki peluang pasar cukup besar di Tanah Air. Ini gak lepas dari mayoritas penduduk kita menyukai berbelanja di pusat perbelanjaan.

Fakta tersebut bisa menjadi peluang usaha yang kamu coba untuk meraih peruntungan dalam dunia bisnis. Pemerintah sendiri belakangan ini tengah menggenjot roda perekonomian di Indonesia.

Akibat pandemi virus Covid-19 tahun ini, sektor bisnis tertutama ritel mengalami dampaknya yang sangat berat. Oleh karen itu, Pemerintahan Jokowi  memberikan keringanan kredit usaha kepada masyarakat.

Momen tersebut cocok banget untuk kamu manfaatkan guna merintis bisnis ritel. Kalau kamu masih belum mengerti dan pengin belajar lebih jauh perihal bisnis ini.

Yuk! kita simak penjelasan mengenai jenis usaha yang satu ini mulai dari pengertian, klasifikasi hingga cara memulainya berikut ini:

Pengertian bisnis ritel

Ritel merupakan kegiatan pemasaran produk, baik barang ataupun jasa yang dilakukan secara eceran atau satuan langsung kepada konsumen untuk penggunaan rumah tangga atau pribadi. Sesuai pengertian ini, berarti produk-produk yang dijual dalam bisnis ritel adalah penjualan kepada konsumen langsung.

Meski begitu, ritel belum tentu diasumsikan sebagai usaha minimarket atau waralaba (franchise), lho, sebagaimana pada prakteknya terbagi lagi dalam beberapa jenis. Agar semakin paham, cek yang berikut ini.

Klasifikasi bisnis ritel

Secara umum, bisnis ritel terbagi dalam lima jenis. Jenis ritel berdasarkan banyak faktor ini ada turunannya lagi sehingga tidak selalu berbentuk minimarket.

Namun memang ritel yang bisa dibilang populer di Indonesia berbentuk minimarket. Kita bisa melihat dua merek ritel yang sering berhadap-hadapan dan lokasinya berdekatan di sepanjang jalan. Satu warna merah, satu warna biru, paham kan?

1. Berdasarkan kepemilikan

Ritel berdasarkan kepemilikan terbagi lagi dalam tiga jenis yaitu independent retail firm, franchising, dan corporate chain. Ketiganya ini berbeda pengertian dan klasifikasi bisnisnya. Berikut penjelasannya.

  • Independent retail firm, yaitu pengecer yang beroperasi secara independen tanpa afiliasi (penggabungan). Contohnya pasti semua tahu seperti warung dan toko kelontong.
  • Franchising, yaitu sistem pemasaran dari perusahaan (franchisor) memberikan hak kepada pengusaha lain (franchisee) untuk menjalani sistem bisnis sesuai standar perusahaan. Contohnya seperti Kopi Kulo, Janji Jiwa, dll.
  • Corporate chain, yaitu kelompok usaha yang saling terkait dalam satu manajemen dan dimiliki beberapa saham. Bisa dibilang ritel yang ini lebih kompleks dengan manajemen yang sesuai dengan pemilik label. Contohnya department store dan swalayan.

2. Berdasarkan produk yang dijual

Bisnis ritel berdasarkan produk yang dijual bisa dikenali lebih mudah sebagaimana hanya ada dua. Namun, dari dua jenis ini ada lagi klasifikasinya yang membedakan ritel. Berikut penjelasannya.

Product retailing

Dalam kategori ini terdiri atas empat klasifikasi lagi. Berikut penjelasannya.

  • Department store (toserba), yaitu perusahaan pengecer yang memiliki pegawai minimal 25 orang dan menjual pakaian dan peralatan rumah tangga sebanyak 20 persen atau lebih dari total produk yang dijual.
  • Speciality store, yaitu perusahaan pengecer yang fokus menjual jenis produk tertentu. Contohnya toko komputer, toko mainan anak, dan toko alat olahraga.
  • Catalogue showroom, yaitu pengecer yang menjual merek lokal dengan harga rendah dengan area perbelanjaan kecil dan berdekatan dengan tempat pajangan. Contohnya adalah showroom mobil mewah yang hanya bisa mendatangkan mobil tertentu setelah dipesan. Kalau kita bersedia membeli yang produk yang dipajang, biasanya harga lebih murah.
  • Makanan dan obat-obatan yaitu pengecer yang khusus menjual produk makanan/minuman dan obat-obatan dalam jumlah besar dengan harga rendah.

Service retailing

Jenis ini disebut juga ritel jasa yang dibagi dalam tiga klasifikasi, yaitu:

  • Rented goods service, yaitu pengecer yang menyewakan produk tertentu seperti mobil, rumah, dll.
  • Owned goods service, yaitu pengecer yang menjual jasa reparasi atau perbaikan dan perawatan produk tertentu. Misalnya bengkel dan jasa perawatan taman.
  • Non goods service, yaitu pengecer yang menjual jasa personal yang sifatnya tidak berbentuk fisik. Contohnya sopir, pemandu wisata, dll.

3. Non store retailing

Kalau kelompok ini disebut juga pengecer yang menjual barang atau jasa tanpa toko langsung. Jenis ini dibagi lagi dalam lima klasifikasi berdasarkan cara penjualannya, yaitu:

  • Telephone & media retailer, yaitu pengecer yang menggunakan kontak telepon (telemarketing) dan media periklanan seperti surat kabar, radio, dan televisi untuk menginformasikan dan membujuk konsumen agar membeli produknya.
  • Mail order, yaitu pengecer yang menawarkan produk lewat pos surat. Mungkin zaman sekarang via surel kali, ya?
  • Vending machines, yaitu alat yang digunakan untuk menjual produk tertentu. Dengan alat ini, kita tidak lagi butuh karyawan. Contohnya mesin penjual minuman yang sudah ada banyak di mana-mana, khususnya Jakarta.
  • Electronic shopping, yaitu penjualan yang dilakukan pengecer dengan perangkat TV, komputer, dan jaringan internet.
  • Direct selling, yaitu metode penjualan oleh pengecer langsung kepada target konsumen atau pembeli lewat transaksi yang diawali dan diakhiri melalui tenaga penjual.

4. Berdasarkan strategi penetapan harga

Dalam klasifikasi ini, masing-masing retailer menawarkan produk dengan harga bervariasi, dari murah hingga mahal untuk setiap merek barang yang sama. Dalam klasifikasi ini, pengecer yang menawarkan harga tinggi biasanya memberikan pelayanan khusus atau promo menarik.

Contohnya saja speciality store atau toserba. Agar lebih unggul dari yang lain, mereka melatih pegawai untuk memberikan pelayanan terbaik agar bisa bersaing dengan ritel lain yang selevel. Di satu sisi, ada ritel yang memilih menjual produk serupa dengan harga murah agar konsumen terpincut.

5. Berdasarkan lokasi

Jenis yang terakhir ini sudah pasti mudah dikenali karena hanya berdasarkan lokasi. Dari jenisnya terdapat tiga klasifikasi ritel, yaitu:

  • Strip development, yaitu ritel di lahan komersial yang telah dikembangkan sehingga semua orang memiliki akses langsung ke jalan dan area parkir.
  • Downtown central business district, yaitu pusat bisnis dan komersial di suatu kota.
  • Shopping center, yaitu tempat yang berfungsi sebagai tempat perdagangan eceran atau ritel yang lokasinya digabung dalam satu bangunan atau komplek.

Cara merintis bisnis ritel

Terdapat beberapa langkah yang harus kamu persiapkan untuk memulai bisnis yang satu ini. Berikut ini adalah beberapa langkahnya:

Mencari modal yang cukup

Sama seperti usaha pada umumnya, hal pertama yang harus kamu siapkan adalah menyiapkan modalnya dengan tepat. Cukup atau tidaknya suatu modal usaha tergantung pada skala bisnis itu sendiri.

Untuk ritel skala kecil, modal yang diperlukan sekitar Rp0 hingga Rp100 juta, untuk menengah berada di angka Rp100 juta hingga Rp1 miliar dan skala besar lebih dari Rp1 miliar.

Memilih produk yang akan dijual

Setelah mendapatkan modal sesuai skala bisnis, selanjutnya kamu harus menentukan produk atau jasa apa yang ingin dijual kepada konsumen. Banyak pilihan yang bisa kamu pilih, tapi ada baiknya memilih produk atau jasa yang sudah kamu kenali seluk-beluknya agar proses operasionalnya bisa berjalan lebih mudah.

Mencari lokasi bisnis

Lokasi menjadi salah satu poin krusial dalam merintis usaha ritel, sebab lokasi yang gampang dijangkau dan ramai dilalui masyarakat akan menarik banyak pengunjung untuk mendatangi bisnis yang kamu dirikan.

Rekrut karyawan yang berkompeten

Langkah selanjutnya adalah mencari pegawai yang berkompeten dalam menjalankan tugasnya. Pegawai yang handal akan membuat pelanggan merasa nyaman untuk berbelanja atau menggunakan produk yang dijual, sehingga memberikan pengalaman yang baik untuk kembali berbelanja di kemudian hari.

Cari supplier yang tepat

Mencari supplier yang memiliki kualitas produk atau jasa yang baik menjadi salah satu kunci lainnya dalam bisnis ritel akan berkembang atau tidak. Barang atau jasa yang berkualitas tentunya akan membuat para pelanggan kembali menggunakan usaha yang kita tawarkan.

Promosi di media sosial

Terakhir, kamu wajib tuh yang namanya mempromosikan produk atau jasa yang dijual melalui media sosial. Tujuannya supaya lebih banyak orang yang mengetahui merek ritel yang kamu rintis beserta produk yang dijual.

Gak ketinggalan kamu harus menawarkan promo diskon atau cashback agar pengunjung tertarik untuk membeli.

Kegunaan bisnis ritel 

Sesuai penjelasan apa itu ritel, bisnis ini memiliki sejumlah kegunaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Salah satunya tentu saja mempermudah masyarakat mendapatkan barang yang diinginkan.

Misalnya saja, kita yang ingin makan burger asal Amerika Serikat berlogo huruf M. Dengan kehadiran franchise-nya di Indonesia, kita tidak perlu bikin paspor hingga visa untuk sekadar menikmati burger M tersebut.

Nah, membahas tentang fungsi bisnis ritel, ada tujuh poin yang bisa dijabarkan sebagai berikut.

  1. Membeli dan menyimpan barang langsung dari produsen bisa dalam jumlah besar untuk kemudian menyimpannya.
  2. Memindahkan hak milik barang kepada konsumen akhir yang akan memakai barang atau jasa tersebut.
  3. Memberikan informasi mengenai sifat dasar dan cara penggunaan suatu barang langsung kepada konsumen pengguna.
  4. Memudahkan konsumen memilih produk yang diinginkan karena terdapat beragam produk pada pengecer.
  5. Mengubah produk ke dalam bentuk yang lebih menarik.
  6. Memberikan layanan purna jual produk tertentu dan ikut menangani keluhan konsumen.
  7. Pada situasi tertentu, ritel dapat memberikan sewa atau kredit kepada konsumen untuk mempermudah pembayaran.

Tips dan trik dalam membangun berbisnis ritel

Bagi yang ingin menjajal peruntungan bisnis ritel bisa saja dimulai dari sekarang. Tapi, yang namanya ritel, tetap ada modal yang harus dikeluarkan.

Untuk sekadar membuka warung saja membutuhkan modal setidaknya Rp1 juta untuk memenuhi isi warung dengan produk minuman, makanan ringan, dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, ini belum termasuk biaya sewa tempat dan sewa staf, ya.

Nah, berikut ini trik dan tips bermanfaat dalam memulai bisnis ritel yang bisa dijadikan pegangan agar tidak merugi.

Trik membangun bisnis ritel

Menjadi pengusaha ritel berarti menjual beragam barang. Agar tidak repot dan kesulitan melayani pelanggan, ada trik jitunya, nih! Salah satunya dengan mengatur barang daganganmu agar mudah dijangkau. Lainnya, simak yang berikut ini.

  • Memberikan kode khusus pada setiap produk yang mudah diingat.
  • Letakkan barang yang dijual di gudang sendiri untuk mengurangi risiko pencurian dan menghindari biaya tambahan.
  • Selalu catat transaksi penjualan agar profit dan omzet harian bisa terlacak. Lebih baik lagi, catat pengeluaran harian toko juga.
  • Pengecekan barang masuk harus selalu dilakukan, terutama untuk yang berbisnis makanan/minuman. Selalu terapkan FIFO (first in first out) agar barang lama tidak kadaluarsa.
  • Selalu melakukan penghitungan stok minimal sebulan sekali. Hal ini sangat berguna agar kita tahu jumlah barang yang ada pada data dan real-nya sesuai.

Tips membangun bisnis ritel

Salah satu tips bisnis ritel adalah kita bisa mengutamakan barang berkualitas sebagaimana persaingan dalam bisnis ritel cukup tinggi. Ada baiknya kita selalu mengutamakan produk berkualitas ketimbang harga murah. Sayang saja jika kita menjual barang murah, tapi nyatanya tidak laku.

Berikut tips yang bisa kita pertimbangkan saat memulai bisnis ritel.

  • Lokasi usaha yang potensial. Dalam bisnis apapun, lokasi usaha menjadi pertimbangan utama. Beberapa yang bisa dipertimbangkan adalah lokasi kompetitor, kawasan padat penduduk atau perkantoran, dan lain sebagainya. Intinya cari yang strategis, ya!
  • Hindari perang harga. Kenapa? Karena perang harga berarti kita harus unggul dalam hal pelayanan dan harga rendah. Jika belum mampu menekan harga, sebaiknya tidak mencoba perang harga dengan kompetitor.
  • Jaga hubungan baik dengan supplier dan konsumen demi kelancaran bisnis. Konsumen yang puas akan menjadi pelanggan, sedangkan keakraban dengan supplier berarti ada potensi diskon harga.

Selain trik dan tips di atas, jangan lupa untuk memproteksi diri dan properti usaha dengan asuransi. Sangat disayangkan ketika kita baru membangun bisnis ritel, malah gulung tikar lantaran semua barang dijual murah untuk membiayai pengobatan karena sakit mendadak atau usaha baru kita terdampak bencana kebakaran dari gedung sebelah.

Itulah sedikit ulasan tentang bisnis Ritel yang harus kamu ketahui apabila ingin mencobanya. Untuk mengembalikan modalnya emang membutuhkan sedikit waktu. Namun kalau udah kembali, keuntungan yang kamu dapatkan bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan juta Rupiah lho!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →