Pakai Rumus PER buat Nilai Kewajaran Harga Saham, Gimana Cara Menghitungnya?

rumus PER

rumus PER

Rumus Price to Earnings Ratio atau rumus PER amat membantu para investor buat melakukan valuasi saham. Melakukan valuasi saham sebenarnya bukanlah perkara mudah. Kamu sebagai investor harus betul-betul mempelajari fundamental perusahaan dengan baik.

Kehadiran rumus PER membantu para investor, terutama pemula gak perlu pusing dalam melakukan penilaian atau valuasi suatu saham. Di luar Price to Earnings Ratio masih ada metode hitung valuasi saham lainnya. Dengan memadukan beberapa rumus valuasi saham, kamu bisa berpeluang dalam menemukan saham yang relatif baik buat diinvestasikan.

Walaupun begitu, satu hal yang perlu diingat adalah gak ada metode valuasi saham yang cocok buat setiap situasi. Tiap saham memiliki perbedaan, begitu juga dengan sektor ataupun industrinya. Perhitungan valuasinya mungkin aja memerlukan beberapa metode yang berbeda.

Ulasan kali ini mau mengajak kamu yang gak pernah lelah belajar investasi buat mengenal lebih jauh apa itu PER, gimana rumus PER, hingga seperti apa cara menghitung Price to Earnings Ratio. Langsung aja yuk disimak ulasannya.

Baca juga: Buat Pemula, Ini Panduan Investasi Saham dari Ahlinya

Apa itu PER? Ini pengertian Price to Earnings Ratio

cara menghitung valuasi saham dengan rumus per
Rumus PER digunakan untuk mengetahui valuasi suatu saham. (Shutterstock)

Price to Earnings Ratio atau PER adalah rasio valuasi saham dengan mengukur hubungan harga saham dengan laba per lembar saham (Earning per Share/ EPS). Rumus PER dalam investasi saham biasanya digunakan buat membandingkan dua atau lebih perusahaan sejenis. 

Karena Price to Earnings Ratio (PER) merupakan rumus hitung, metodenya melibatkan perhitungan angka-angka, seperti harga penutupan saham (closing price) dan laba per saham (Earnings per Share). 

Metode valuasi dengan rumus PER tentu aja simpel dan langsung terlihat hasilnya. Itulah kenapa rumus PER menjadi salah satu metode valuasi populer di kalangan investor.

Baca juga: Panduan Lengkap Cara Membeli Saham Buat Investor Pemula

Manfaat Price to Earnings Ratio (PER) bagi para investor

Melakukan valuasi dengan melihat hasil perhitungan dari rumus PER dapat menjadi pertimbangan apakah suatu saham layak dimiliki atau gak. Namun, dengan hanya menggunakan Price to Earnings Ratio (PER) ke satu perusahaan, gak serta-merta memberi kesimpulan kalau saham perusahaan tersebut sangat menguntungkan.

Seperti yang telah disinggung di atas, Rumus PER sangat baik digunakan dalam membandingkan dua atau lebih perusahaan sejenis. Dengan melakukan perbandingan berdasarkan PER perusahaan, investor bisa mendapat gambaran jelas apakah suatu saham dinilai terlalu tinggi (overvalued) atau dinilai terlalu rendah (undervalued).

Selain itu, Price to Earnings Ratio juga membantu investor menentukan nilai pasar suatu saham dengan membandingkannya terhadap pendapatan perusahaan. Bisa dibilang PER menjadi cerminan seberapa besar yang dibayarkan pasar hari ini buat suatu saham berdasarkan laba di masa lalu dan perkiraan laba di masa depan.

Begitu bermanfaatnya Price to Earnings Ratio (PER) dalam valuasi saham sehingga dijadikan salah satu acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menciptakan indeks saham IDX Value30 dan IDX Growth30. 

Sebagai informasi, IDX Value30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik. IDX Value30 gak memasukkan saham dengan Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) yang teramat tinggi atau ekstrem.

Sementara IDX Growth30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga 30 saham yang punya tren pertumbuhan laba bersih dan pendapatan relatif terhadap harga dengan likuiditas transaksi dan kinerja keuangan yang baik. IDX Growth30 juga gak memasukkan saham dengan PER bernilai ekstrem.

Seperti ini rumus PER dan cara menghitung Price to Earnings Ratio

cara menghitung valuasi saham dengan rumus per
Bagaimana cara hitung PER. (Shutterstock)

Ada dua komponen yang dilibatkan dalam perhitungan Price to Earnings Ratio menggunakan rumus PER, yaitu harga saham per lembar (closing price) dan laba per saham (Earnings per Share). Dari kedua komponen tersebut, dibuatlah perhitungan PER sebagai berikut:

Price to Earnings Ratio (PER) = Harga Saham per Lembar / Laba per Saham (EPS)

Atau

PER = P / EPS

Dengan keterangan,

  • PER: Price to Earnings Ratio
  • P: harga penutupan saham per lembar (closing price)
  • EPS: laba per saham atau Earnings per Share

Gimana cara menghitung Price to Earnings Ratio (PER) suatu saham? Ilustrasikan aja ada dua perusahaan sejenis yang berstatus sebagai perusahaan terbuka atau perusahaan Tbk., yaitu Perusahaan XY dan Perusahaan XYZ.

Meskipun menjalankan kegiatan di subsektor yang sama, Perusahaan XY dan Perusahaan XYZ mencatatkan harga saham per lembar dan EPS yang berbeda-beda. Berikut ini perbedaan harga saham dan EPS kedua perusahaan tersebut.

Perusahaan XY Perusahaan XYZ
Harga saham (closing price) Rp 50.000 Rp 2.200
Laba per saham (EPS) selama 12 bulan 4.000 100

Sebagai informasi, laba per saham atau Earnings per Share (EPS) diperoleh dari hasil perhitungan dengan rumus:

Earnings per Share (EPS) = (Laba Bersih – Dividen) / Jumlah Saham Beredar

Nah, dengan mengacu pada data di atas, nilai PER Perusahaan XY dan Perusahaan XYZ adalah sebagai berikut:

  • PER Perusahaan XY: 50.000 / 4.000 = 12,5
  • PER Perusahaan XYZ: 2.200 / 100 = 22

Perhitungan Price to Earnings Ratio di atas menunjukkan kalau PER Perusahaan XY lebih rendah dibandingkan PER Perusahaan XYZ. Lalu, apa artinya PER Perusahaan XY yang kecil dan PER Perusahaan XYZ yang tinggi? Manakah saham yang layak sebagai pilihan investasi?

Valuasi saham dengan Rumus PER: ada PER kecil atau PER tinggi, apa artinya?

cara menghitung valuasi saham dengan rumus per
Ada PER kecil dan PER tinggi, artinya? (Shutterstock)

Hasil perhitungan Price to Earnings Ratio dengan rumus PER memberi hasil yang berbeda-beda di tiap-tiap saham. Tentu aja para investor berharap bisa menemukan saham yang mampu mengembalikan modal mereka berikut keuntungannya dengan metode PER.

Price to Earnings Ratio menjadi salah satu pertimbangan, apakah mereka membeli saham pada harga yang wajar (fair price) atau sebaliknya. Namun, saat membandingkan dua perusahaan ditemukan perbedaan nilai yang terbagi menjadi PER kecil atau PER besar.

Contoh ilustrasi sebelumnya memberi gambaran perbedaan PER antara Perusahaan XY dan Perusahaan XYZ. Perusahaan XY sekalipun punya harga saham dan EPS yang terbilang tinggi ternyata punya nilai PER yang kecil. Sementara Perusahaan XYZ sekalipun punya harga saham dan EPS yang terbilang rendah rupanya punya PER yang tinggi.

Saham dengan Price to Earnings Ratio (PER) yang tinggi diartikan sebagai saham pertumbuhan. Sebab perolehan laba tercatat membuat para investor menaruh harapan pada saham ini di masa depan yang bikin mereka bersedia membayar lebih. 

Walaupun begitu, saham dengan PER yang terlampau amat tinggi sebaiknya dihindari karena volatilitasnya yang juga sangat tinggi. Saham dengan PER sangat tinggi sangat berisiko. Selain itu, PER tinggi juga bisa mengindikasikan saham tersebut dinilai terlalu tinggi (overvalued).

Sementara saham dengan Price to Earnings Ratio (PER) yang rendah diartikan sebagai “saham bernilai” (value stocks). Maksudnya value stocks adalah saham yang diperdagangkan dengan harga rendah, padahal fundamentalnya menunjukkan harga jualnya bisa lebih tinggi.

PER yang rendah menjadi petunjuk kalau saham dinilai terlalu rendah (undervalued). Malahan sejumlah investor mengatakan saham PER rendah sebagai saham salah harga dan menarik buat dibeli sebelum nantinya berada di harga yang sewajarnya.

Sekali lagi perlu diingat, menggunakan rumus PER buat valuasi suatu saham belumlah cukup. Masih ada metode-metode valuasi lainnya yang perlu dipertimbangkan. Satu hal yang paling penting adalah, pastikan kondisi fundamental perusahaan baik-baik aja. Semoga informasi di atas bermanfaat dan semoga cuan terus ya! (Editor: Ruben Setiawan)