Saat Mengatur Keuangan, Pantang Meremehkan “Pengeluaran Lain-lain”

mengatur keuangan

Dalam rencana anggaran apa pun, sering dijumpai pos “pengeluaran lain-lain”. Begitu juga saat mengatur keuangan keluarga.

Namun ada pula yang gak memasukkan pos ini. Padahal pos ini gak bisa dianggap remeh.

Mereka yang asal-asalan mengisi pos pengeluaran lain-lain pun sama saja dengan yang gak memasukkan pos ini ke rencana anggaran. Sebaiknya kita gak mengikuti langkah mereka ya.

Soalnya, keberadaan pos ini bakal sangat berguna jika kamu peduli akan masa depan keuangan yang kokoh. Setelah sebuah draf bujet dibuat, dalam praktiknya mungkin saja terjadi hal yang membutuhkan pengeluaran tak terduga.

Inilah yang membuat pos pengeluaran lain-lain itu penting dibuat dalam rangka mengatur keuangan. Berikut ini contoh di mana pos tersebut menunjukkan perannya untuk mengamankan keuangan:

1. Nambal ban bocor

mengatur keuangan
Ban bocor bikin dompet bocor juga, apalagi kalau sampai divonis mesti ganti ban (mazmuiz)

Tentunya kita gak bakal masukkin item pengeluaran buat ban bocor dalam rencana. Siapa yang bisa menebak kapan dan berapa kali ban bocor dalam sebulan?

Ini berlaku baik untuk pengguna sepeda motor maupun mobil. Apalagi bila ban yang dipakai bukan tipe tubeless. Ban tubeless terkenal lebih susah ditembus paku tapi harganya lebih mahal dan kurang pas dipakai di jalan yang gak rata.

Sekali nambal ban motor sekarang bisa sampai Rp 15 ribu lho di Jabodetabek. Rata-rata sih Rp 12 ribu. Kalau beruntung, bisa dapet yang Rp 10 ribu.

Itu belum termasuk ganti ban dalem kalau gak bisa ditambal atau bocornya parah. Ongkosnya sampai Rp 50 ribu. Lumayan kan pengeluaran sebesar itu.

2. Beli lampu

mengatur keuangan
Apa jenis lampumu? Sekarang udah zamannya LED, bukan bohlam yang boros listrik (the grife)

Lampu rumah pun gak bisa diprediksi kapan matinya. Saat mati, tentu saja lampu mesti segera diganti.

Pada saat inilah pos pengeluaran lain-lain bisa dicomot untuk beli lampu baru. Harga lampu LED yang 6 watt sekarang Rp 20 ribuan. Sedangkan yang 10 watt bisa sampai dua kali lipatnya.

[Baca: Ini Nih 5 Kebiasaan Buruk Mengatur Keuangan yang Harus Kamu Tinggalkan]

3. Amplop kondangan

mengatur keuangan
Besok-besok kalau punya gawe sediain mesin EDC aja, biar gak ribet ngitung amplop (Youtube)

Pada bulan-bulan tertentu, seseorang bisa tiap minggu harus menghadiri undangan resepsi nikah kenalan. Jelas, amplop kondangan harus tersedia.

Rata-rata, orang memberikan Rp 150-200 ribu. Bila tiap pekan ada undangan, misalnya, berarti bisa keluar duit hingga Rp 800 ribu maksimal. Atau mau kasih hadiah nikah yang bukan berupa uang? Sama aja keluar duit kan.

[Baca: 4 Kado Pernikahan Selain Uang yang Dijamin Bikin Pengantin Terkesan]

Betul, gak semua undangan mesti dihadiri, terutama yang gak kenal-kenal amat. Tapi besar kemungkinan kita memilih hadir demi menghormati undangan yang diberikan.

4. Servis elektronik

mengatur keuangan
TV rusak ada hikmahnya, anak-anak jadi gak melototin layar melulu (violia sagita)

Kadang barang elektronik di rumah seperti televisi, kulkas, sampai kipas angin rusak tak kenal waktu. Seakan gak peduli dompet lagi tipis, kalau rusak ya rusak aja.

Untuk mengantisipasi hal ini, sediakan pos pengeluaran lain-lain. Beberapa barang elektronik gak bisa ditunda untuk diperbaiki karena sangat dibutuhkan.

Kulkas buat nyimpen bahan makanan, misalnya. Bahkan kipas angin kadang mendesak untuk segera diperbaiki saat cuaca panas. Kalau nyalain AC sepanjang hari, bisa bengkak tagihan listrik.

[Baca: Daya Listrik PLN Naik, Lakukan 7 Hal Ini Biar Tetap Hemat]

Empat hal itu hanyalah contoh yang menjelaskan betapa perlunya memasukkan pos pengeluaran lain-lain saat mengatur keuangan. Kita gak boleh meremehkannya meski mungkin gak dibutuhkan.

Toh, kalaupun gak keluar duit untuk hal-hal itu, alokasi di pos tersebut bisa digeser ke pos lain. Buat dana darurat, misalnya.

Dana darurat juga berfungsi mirip pos pengeluaran lain-lain, tapi nominalnya lebih besar dan untuk jangka panjang. Dana ini dikumpulkan untuk jaga-jaga bila ada kebutuhan mendesak yang ongkosnya besar, misalnya biaya rumah sakit.

Lantas, berapakah kira-kira besaran pos pengeluaran lain-lain? Gak ada rumus pasti, namun setidaknya alokasikan 5 persen dari penghasilan setiap bulan.

Kita tentunya gak mau ambil dana dari pos lain ketika butuh sesuatu yang berada di luar bujet. Bisa-bisa niat mengatur keuangan dalam sebulan terganggu karena hal itu.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →