Saham GGRM – Pergerakan Saham, Kinerja Keuangan, dan Prospeknya

Saham GGRM – Pergerakan Saham, Kinerja Keuangan, dan Prospeknya

Saham GGRM cukup diminati oleh investor pasar modal Indonesia karena tergolong dalam deretan saham blue chip. Saham-saham blue chip dikenal memiliki pergerakan yang cukup stabil alias bukan gorengan.

Saham blue chip juga dimiliki perusahaan-perusahaan ternama dengan kapitalisasi pasar yang cukup besar. 

Saham GGRM adalah saham dari PT Gudang Garam Tbk, perusahaan rokok ternama di Indonesia yang didirikan 1958. Produk rokok Gudang Garam sendiri populer di tengah masyarakat Indonesia, sehingga demand terhadap produk rokok GGRM juga cukup stabil.

Bahkan penjualan rokok sepanjang 2020 cukup stabil meski ekonomi terpukul pandemi. Barangkali, slogan perokok Indonesia yang bunyinya ‘Mending nggak makan daripada nggak merokok’, punya andil besar dalam menjaga kinerja penjualan rokok GGRM.

Mau beli saham GGRM atau justru sudah punya? Yuk, simak ulasan lengkap tentang saham rokok yang satu ini, termasuk prospeknya!

Profil PT Gudang Garam Tbk

Pabrik rokok Gudang Garam berdiri tahun 1958 di Kediri, Jawa Timur. Gudang Garam dikenal luas sebagai produsen rokok kretek berkualitas, baik di pasar dalam negeri atau internasional. Produk-produk rokok yang dibuat oleh Gudang Garam cukup bervariasi, mulai dari sigaret kretek klobot (SKL), sigaret kretek linting-tangan (SKT), hingga sigaret kretek linting-mesin (SKM). 

Gudang Garam didirikan oleh Surya Wonowidjojo, seorang wirausahawan yang membangun pabrik rokok sebagai industri rumahan. 

1. Informasi umum

Saham GGRM diterbitkan oleh PT Gudang Garam Tbk di Jakarta. Dikutip dari informasi investor di situs resmi Gudang Garam, pencatatan saham perdana dilakukan pada 1990 dengan metode partial listing. Kronologi pencatatan saham GGRM di bursa efek Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Pencatatan pada tahun 1990 (partial listing) dengan jumlah saham 96 juta lembar, nilai Rp 1.000 per lembar
  • Pencatatan pada tahun 1994 (fully listed) dengan jumlah saham 481 juta lembar, nilai Rp 1.000 per lembar
  • Stock split pada tahun 1996, dengan jumlah saham 962 juta lembar, nilai Rp 500 per lembar
  • Saham bonus 1:1 pada tahun 1996, dengan jumlah saham 1,9 miliar lembar, nilai Rp 500 per lembar
  • 2. Informasi kepemilikan saham

    Porsi saham GGRM dimiliki oleh beberapa pihak. Pemilik saham GGRM, urut dari kepemilikan terbesar:

  • 69,29 persen oleh PT Suryaduta Investama, dengan total nominal Rp 666,5 miliar
  • 23,78 persen oleh masyarakat umum, dengan total nominal Rp 228,7 miliar
  • 6,26 persen oleh PT Suryamitra Kusuma, dengan total nominal Rp 60,2 miliar
  • 0,58 persen oleh Juni Setiawati Wonowidjojo, dengan total nominal Rp 5,6 miliar
  • 0,09 persen oleh Susilo Wonowidjojo, dengan nominal Rp 854 juta
  • 0,00 persen oleh Lucas Mulia Suhardja, dengan nominal Rp 3 juta
  • Punya pertanyaan seputar saham atau topik investasi lainnya? Kunjungi laman tim ahli di Tanya Lifepal!

    Pergerakan saham GGRM kuartal I 2021

    Kinerja salah satu saham rokok ini sepanjang kuartal I 2021 cukup positif. GGRM bisa mengerek pendapatan sebesar Rp 29,74 triliun di sepanjang kuartal I 2021. Angka ini naik 9,09 persen dibanding periode yang sama tahun 2020 lalu sebesar Rp 27,26 triliun. 

    Produk sigaret kretek masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan nilai Rp 27,16 triliun atau naik 9,69 persen. Produk lainnya, sigaret kretek tangan sebesar Rp 2,81 triliun, kerta karton sebesar Rp 386,54 miliar, dan produk lainnya sebesar Rp 8,28 miliar, serta rokok klobot sebesar Rp 5,27 miliar. 

    Naiknya pendapatan GGRM juga seiring dengan kenaikan beban pokok penjualan GGRM sebesar 15,77 persen menjadi Rp 25,83 triliun di akhir Maret 2021. Hasilnya, laba kotor GGRM ikut turun 21,05 persen menjadi Rp 3,9 triliun, dari tahun lalu sebesar Rp 4,94 triliun. 

    GGRM mencatatkan kenaikan pendapatan lain menjadi Rp 120,53 miliar. Perusahaan juga melaporkan adanya penurunan laba kurs sebesar 13,83 persen menjadi Rp 22,55 miliar. 

    Beban usaha dan beban lain dilaporkan naik tipis menjadi Rp 1,79 miliar dan Rp 1,04 miliar. Dengan begitu, maka laba usaha GGRM di sepanjang kuartal I 2021 menjadi Rp 2,25 triliun. Angka ini turun 32,63 persen dibanding kuartal I 2020, sebesar Rp 3,34 triliun.

    Laba bersih GGRM kuartal I 2021 pun tercatat turun 28,68 persen, sebesar Rp 1,74 triliun dari capaian tahun 2020 lalu sebesar Rp 2,44 triliun.

    Laba GGRM turun, bagaimana kondisi sahamnya?

    Harga saham GGRM sendiri terus melanjutkan penurunan sejak tahun 2019. Per awal Juni 2021, harga saham GGRM tercatat Rp 33.875 per lembar. Saham GGRM ini sudah mengalami penurunan harga sebesar 17,4 persen sepanjang tahun 2021 ini. Dan turun 30,5 persen dalam rentang waktu setahun sejak Juni 2020.

    Jangan buru-buru pilih saham sebagai investasi kamu. Gunakan Kuis Profil Risiko Investasi dari Lifepal berikut untuk memilih yang paling tepat sesuai dirimu:

    Prospek saham GGRM

    Industri rokok mengalami tekanan akibat kenaikan tarif cukai rokok yang berlaku pada 2021, meski hanya dikenakan untuk produk sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM). Rentang kenaikannya 13,8 persen sampai 18,4 persen. Sementara, produk sigaret kretek tangan (SKT) tidak mengalami kenaikan cukai. 

    GGRM sendiri memiliki produk utama SKM dan SPM, sehingga kenaikan cukai berpotensi memukul bisnis mereka. GGRM sendiri merupakan produsen rokok tier satu yang mendapat tarif cukai terbesar. 

    Produsen rokok seperti GGRM juga dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Kenaikan cukai tidak dibarengi dengan perbaikan daya beli masyarakat akibat pukulan pandemi. 

    Dengan demikian, tekanan akibat kenaikan cukai diperkirakan terus dirasakan GGRM. Peningkatan beban cukai rokok yang tidak sejalan dengan pertumbuhan pendapatan tentu menjadi tantangan besar di industri rokok. 

    Berkaca lagi pada kinerja emiten sepanjang 2020, dilihat dari laporan keuangan sepanjang 2020, kurang positif. Kendati pendapatan perusahaan tetap meningkat pada 2020, namun laba bersihnya tergerus.

    1. Kinerja keuangan perusahaan

    Berdasarkan laporan keuangan pada Desember 2020, pendapatan GGRM dilaporkan Rp 114,47 triliun, naik Rp 3,95 triliun atau 3,57 persen dari pendapatan tahun 2019 sebesar Rp 110,52 triliun.

    Namun biaya pokok penjualan naik jadi Rp 97,08 triliun, dari angka 2019 yakni Rp 87,74 triliun. Kenaikan biaya pokok penjualan ini membuat laba bruto justru turun jadi Rp 17,38 triliun, dari capaian 2019 sebesar Rp 22,78 triliun.

    Laba bersih tahun 2020 dilaporkan Rp 7,64 triliun, turun 29,19 persen dibanding capaian tahun 2019 sebesar Rp 10,8 triliun. 

    Akibatnya, laba per saham dasar dan dilusian alias earning per share pun ikut turun jadi Rp 3.975, dari Rp 5.655 pada tahun 2019. 

    Sebagai informasi, utang cukai, PPN, dan pajak rokok yang ditanggung perusahaan juga naik jadi Rp 9,05 triliun dari angka sebelumnya, Rp 5,08 triliun. 

    Perusahaan memang terbebani pajak cukai yang lebih tinggi. Diketahui, perusahaan sudah menaikkan harga untuk produk-produk dengan segmen pasar khusus, seperti Surya Pro Mild dan GG Mild sebesar 11 persen (year on year).

    Disclaimer: artikel ini bukan rekomendasi pembelian atau penjualan saham.

    2. GGRM melakukan diversifikasi bisnis

    Dengan tantangan yang cukup besar ke depan, GGRM ternyata cukup jeli melihat peluang. GGRM mendirikan anak usaha, PT Surya Kertagung Toll yang bergerak di bidang infrastruktur. Perusahaan ini akan fokus pada pembangunan jalan tol serta peningkatan dan perbaikan jalan raya, jalan tol, jembatan, hingga jalan layang. 

    Surya Kertagung Toll sendiri adalah anak usaha ke-11 yang ada di bawah grup GGRM. Meski begitu, perusahaan ini bukan yang pertama kali bergerak di bidang usaha non-rokok. 

    Pertanyaan seputar saham GGRM

    Iya, GGRM termasuk dalam deretan saham blue chip di bursa efek Indonesia. Saham blue chip adalah saham unggulan yang menjadi pertimbangan investor dan manajer investasi dalam mengatur strategi investasi. Saham blue chip dimiliki perusahaan skala besar dengan kapitalisasi pasar yang juga besar.

    Ada beberapa acuan yang bisa investor pegang untuk memilih saham terbaik. Dikutip dari situs IDX, lima cara untuk memilih saham terbaik bagi pemula:

    • Gunakan sekuritas dengan biaya transaksi kecil
    • Hitung dulu potensi keuntungan dan kerugian
    • Pilih saham unggulan dalam indeks LQ45 atau IDX30
    • Membeli saham dari perbankan atau consumer goods
    • Membeli saham dengan fundamental baik dan stabil.

    Saham likuid adalah saham yang aktif diperdagangkan oleh investor. Tandanya, adanya antrean dalam order di harga permintaan (bid price) dan penawaran (offer price).

    Saham GGRM terbilang cukup likuid karena investor masih memperhitungkan saham ini, terlebih dengan kenaikan cukai rokok pada tahun 2021 ini.