Apa Itu Saham Gorengan dan Gimana Cara Belinya Biar Untung?

Saham gorengan ibarat jajanan gorengan rasanya gurih alias renyah, yang harganya bisa melonjak berlipat ganda dalam waktu singkat. Tapi, jangan salah! Yang namanya gorengan, kalau keseringan juga gak sehat buat badan.

Sama seperti gorengan, valuasi harga saham gorengan juga bisa anjlok drastis dalam waktu singkat. Itu sebabnya, saham gorengan gak boleh kelamaan disimpan.

Sebagian besar investor saham pemula mungkin sumringah ketika melihat profit saham tersebut. Alhasil, mereka memutuskan tetap memegang saham itu hingga hari esok. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, harga saham tersebut anjlok sampai 30 persen! Rugi bandar yang ada.

Saham gorengan dapat juga diartikan sebagai saham perusahaan yang kenaikannya di luar kebiasaan karena pergerakannya sedang direkayasa oleh pelaku pasar dengan tujuan kepentingan tertentu.

Nah, sudah tahu kan apa itu saham goreng, sekarang pengin tahu ciri-cirinya yang diperdagangkan di bursa? Yuk simak ulasannya di bawah ini:

1. Saham lapis tiga

Saham lapis tiga (Pixabay)

Saham gorengan tentu gak kayak saham blue chip, saham ini adalah saham lapis tiga. Apa maksudnya?

Saham ini memiliki kapitalisasi di bawah Rp 500 miliar. Dan harga saham per lembarnya juga rata-rata murah, sebut saja seperti Rp 50 hingga Rp 100 perak per lembar.

Makanya, cukup seru tentunya buat diborong dengan harga berapa saja. Kalau mau untung gede, ya borongnya harus gede juga.

Tentunya heran kalau melihat sebuah saham bukan milik perusahaan besar tapi harganya melonjak. Ada sentimen apa kok sampai melonjak? Usut punya usut, ternyata banyak yang beli saham tersebut dan otomatis harganya pun naik.

Sesuai hukum ekonomi saja, ketika volume perdagangan terhadap suatu produk itu naik maka harganya juga naik, bukan? Sementara kalau produk itu gak laris maka kadang produsen atau distributor banting harga biar cepat laku.

2. Saham emiten baru

Saham emiten baru (Pixabay)

Dan gak jarang, setelah dua atau tiga hari maka harganya anjlok drastis. Itu sebabnya, berburu saham IPO (atau saham yang baru melantai) harus penuh kehati-hatian.

Kalau mau aman ya beli saja hari pertama dan ketika di-suspend, langsung lepas. Jangan tahan saham ini hingga lebih dari sehari.

Banyak yang terjebak di saham IPO di harga tinggi karena kenaikan yang instan. Apalagi, volume transaksi saham-saham IPO juga juga terhitung rendah, ada yang cuma 2 juta saham sehari, dan lonjakan harganya mencapai 330 persen!

Jika memang niat beli saham emiten baru, dan memegangnya dalam waktu lama, maka pilih saja saham dari perusahaan besar.

3. Harganya gak beraturan

Harga gak beraturan (Pixabay)
Harga gak beraturan (Pixabay)

Coba kamu perhatikan saham Gudang Garam (GGRM), BCA (BBCA), Indofood, (ICBP), atau BRI (BBRI). Semua saham itu punya volatilitas harga yang cukup stabil. GGRM contohnya, patokan harga naik turunnya pun jelas.

Bagaimana dengan saham gorengan?

Bisa jadi, saham ini bertengger di harga Rp 50 perak saja. Lalu singkat cerita jadi Rp 100 dan beberapa saat kemudian jadi Rp 150 atau Rp 200-an. Dan, keesokan harinya, saham ini kembali terperosok lagi ke Rp 50 perak.

Ketika harganya naik, maka investor-investor langsung melepas saham itu dan menikmati keuntungan. Itulah yang akhirnya membuat harga saham tersebut udah kayak diobral gede-gedean.

Giliran sudah balik Rp 50 perak lagi, gak ada yang mau beli. Kalaupun ada yang beli, harganya juga gak bakal naik sesuai dengan yang diharapkan.

Mau beli saham gorengan? Boleh aja, asalkan…

Saham gorengan (Pixabay)
Saham gorengan (Pixabay)

Itulah sekilas pembahasan seputar saham gorengan yang harus kamu ketahui. Sejatinya, saham ini memang harus diwaspadai terutama buat investor pemula.

Karena ketika rugi, maka kerugian tersebut bisa membuatmu kapok total dalam investasi saham. Kamu juga tentunya bakal memandang investasi ini sangat mengerikan seperti yang orang lain bilang.

Meski mengerikan, saham gorengan tetap saja bisa memberikanmu keuntungan yang berlebih untuk hal trading. Dan gak salah juga untuk membeli saham ini, asalkan kamu menerapkan startegi-strategi berikut ini.

1. Jangan simpan lebih dari dua hari

Jangan simpan lebih dua hari (Pixabay)
Jangan simpan lebih dua hari (Pixabay)

Ketika kamu melihat informasi lonjakan harga yang cukup signfiikan di saham lapis tiga tersebut, beli saja untuk bisa menikmati keuntungannya. Dan menjelang sesi perdagangan kedua, jual semua sahamnya.

Gak ada yang tahu apa yang terjadi di hari esok. Sedih banget tentunya kalau ternyata harganya terperosok tajam.

Jangan nyesal juga apabila keesokan harinya kamu bisa melihat harga sahamnya tetap naik. Investasi saham itu risikonya tinggi, terutama untuk yang melakukan hal ini dalam keperluan trading.

2. Utamakan beli saham IPO di hari pertama

Beli saham IPO (Pixabay)
Beli saham IPO (Pixabay)

Saham emiten baru pasti harganya naik di hari pertama dan kedua. Untuk yang satu ini, mungkin kamu bisa sedikit tenang untuk dua hari.

Tapi tentu saja, kamu harus ngantri dulu sebelum sesi perdagangan pertama dibuka. Pantengin monitor laptopmu deh, dan pastikan koneksi internet semuanya lancar.

Bayangin saja jika hari pertama sudah naik 30 persen terus hari keduanya naik lagi 30 persen. Maka dua hari saja kamu bisa dapat 60 persen. Hebat gak tuh?

Tapi ingat, jangan disimpan kelamaan. Khawatirnya sebagian besar investor melakukan hal yang sama denganmu dan di hari ketiga harga saham itu terjun bebas.

3. Ketika ada penurunan harga, segera cut loss

Cut loss saat ada penurunan harga (Pixabay)
Cut loss saat ada penurunan harga (Pixabay)

Ini adalah peristiwa yang paling gak diinginkan ketika membeli saham gorengan. Tapi, mau gak mau ya dilakukan demi menyelamatkan dana investasimu.

Ketika kamu menyaksikan ada minus keuntungan beberapa persen, jangan tunggu lagi segera cutloss sebelum menyentuh batas bawah perdagangan!

Menunggu harga saham itu untuk naik lagi sepertinya jadi hal yang mustahil dan sangat berisiko.

4. Porsi secukupnya

Beli saham gorengan dengan porsi secukupnya

Nah, untuk membatasi risiko, sebaiknya hanya mengalokasikan trading porsi saham gorengan paling besar 10% dari portofolio-mu di pasar saham.

Namun, besaran 10% itu sangat relatif. Pasalnya, setiap orang memiliki profil investasi, horizon investasi, dan toleransi risiko investasi yang berbeda-beda.

Disarankan untuk menjaga nilainya tidak besar karena risiko yang terkandung di dalam saham gorengan berlipat-lipat dibandingkan dengan saham unggulan (blue chip).

Dengan begitu, bila kamu harus membeli produk itu, jangan banyak-banyak demi menjaga kesehatan portofolio sahammu, dan dirimu sendiri.

Sekarang sudah paham kan soal saham gorengan? Tertarik untuk beli atau malah sebaliknya nih(Editor: Chaerunnisa)