PHK 677 Karyawan karena Ingin Lincah, Apa Saham Indosat Jadi Menarik?

Saham ISAT

Saham ISAT (PT Indosat Tbk) mengalami koreksi 4,75 persen pada 17 Februari 2020 usai munculnya pengumuman seputar PHK 677 karyawan. Apakah itu artinya saham ISAT sudah gak layak dikoleksi?

Sejatinya, dalam sepekan terakhir saham perusahaan telekomunikasi ini memang sudah turun 11,50 persen. Sementara itu, jika kamu membeli saham ISAT di 18 Februari 2019 dan menyimpannya sampai 18 Februari 2020, maka kerugianmu adalah 42,97 persen.

Waduh besar sekali ya! Ibarat beli saham dengan modal Rp 10 juta di awal, maka modalmu sudah tergerus jadi Rp 5,7 jutaan. Seram kan!

Bagi yang sudah terjun ke investasi saham, pernahkah kamu mendapat rekomendasi untuk membeli saham ini dari para analis atau rekan-rekan lainnya? 

Bila jawabannya “ya”, maka ada baiknya berhati-hati. Pasalnya, salah dengar dan beli saham bisa berakibat fatal.

Untuk menjawab rasa penasaran atas pertanyaan seputar apakah saham Indosat layak dibeli, gimana kalau kita bahas saja yuk performa Indosat Ooredoo ini. 

1. Gak cocok untuk jangka panjang

saham Indosat
Gak cocok untuk jangka panjang

Performa saham ISAT bisa disebut kurang pas untuk dijadikan investasi jangka panjang. Performa saham ini terbilang makin lama makin loyo.

Jika sekarang saham ini dibanderol Rp 2.170 per lembar dan sempat menyentuh Rp 1.900-an per lembar, harga saham mereka ketika IPO (tahun 1994) ternyata adalah Rp 7 ribu perak! So, mereka yang memegang saham ini sejak Indosat IPO sudah rugi 70 persenan lho.

Lantas, bagaimana untuk investasi jangka pendek alias trading? 

Perhatikan saja grafik di atas, lonjakan harga masih terlihat dalam grafik saham ini. Terkadang, investor asing pun kerap membeli saham ini jika ada sentimen positif seperti halnya di bulan November 2019, saat muncul informasi penyusutan kerugian ISAT.

Meski asing sudah masuk, tapi kalau dihitung year to date, tetap saja nilainya gak signifikan seperti di tahun 2018. 

2. Perusahaan ini rugi sepanjang tahun 2018

dua orang pria berjas tersenyum ke arah kamera
Perusahaan ini rugi sepanjang tahun 2018 (Instagram/@indosatooredoo)

Anak usaha dari Ooredoo Asia Pte. Ltd. asal Qatar ini sempat rugi Rp 2,4 triliun pada 2018. Wajar saja, karena pendapatan mereka anjlok Rp 6,6 triliun.

Jangankan laba, kas mereka pun juga ikutan anjlok dari tahun 2017. Sementara itu, utang perusahaan tersebut juga tinggi, bahkan melebihi ekuitasnya.

Laporan keuangan tahunan 2019 memang belum dirilis oleh Indosat. Namun, seperti yang dijelaskan di poin pertama, kerugian mereka di tahun 2019 memang “menurun” ketimbang di periode yang sama tahun 2018.

3. Lakukan perampingan, apakah mereka bakal lebih lincah di 2020?

seorang pria berbaju batik sedang berbicara dengan wanita berhijab yang juga memakai batik
Lakukan perampingan, apakah mereka bakal lebih lincah di 2020? (Instagram/@indosatooredoo)

Salah satu alasan ISAT melakukan PHK terhadap 677 karyawannya adalah karena ingin membuat bisnis mereka jadi lebih lincah. Tentu saja, dengan kebijakan ini beban operasional perusahaan juga semakin ringan.

Asuransi & Investasi
Asuransi & Investasi

Indosat Ooredoo juga mengatakan bahwa mereka ingin menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi digital terdepan, dan terpercaya. ISAT juga akan menerapkan strategi tiga tahun untuk berubah. Gak heran, akhirnya mereka mengambil langkah yang cukup berat seperti ini.

Belajar dari fenomena saham HMSP (Sampoerna) di tahun 2014, perusahaan rokok ini menutup dua pabrik di Jember dan Lumajang, serta merumahkan 4.900 karyawan. Pasalnya, ekspor tembakau jatuh.

Akan tetapi, pengurangan beban operasional ini justru bisa menstabilkan laba mereka di kuartal III 2014. 

Saham mereka pun cenderung naik di tahun 2015 seiring dengan kinerja perusahaan yang juga membaik, sebelum akhirnya turun drastis usai dihantam isu kenaikan cukai rokok dan penurunan penjualan di tahun 2019. 

Apakah nasib Indosat bakal seperti ini? Bisa ya, bisa juga enggak. Apa yang terjadi di masa depan, kita gak bakal bisa tahu kecuali kita punya mesin waktu. 

Kembali lagi ke pembahasan seputar saham ISAT! Dari grafik sahamnya, saham ini memang gak seperti BBRI atau BBCA yang terus mengalami kenaikan meski ada fluktuasi. 

Namun, dengan adanya rencana pembaharuan di bidang bisnis ini, sebagian investor mungkin saja melihat titik terang. 

Meski demikian, yang namanya rencana bisnis itu bisa saja gagal bukan? Buat kamu yang ingin membeli saham ini, lebih baik pikir dua kali deh.

Tunggu dulu laporan tahunan 2019 terbit, dan pantau dulu laporan kuartal I di 2020. Jangan langsung beli mentang-mentang kemarin baru saja koreksi dalam. 

Khusus buat yang mau beli untuk trading, pesannya cuma satu, “hati-hati.” Trading itu risikonya tinggi, karena naik turunnya saham memang gak bisa diprediksi. Setuju? (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →