Saham Perusahaan Semen Bisa Bikin Untung karena Suku Bunga Acuan BI Turun?

perusahaan semen

Bank Indonesia secara resmi menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI Rate) sebesar 25 basis jadi 4,25 persen, tepat pada 20 Februari 2020. 

Kadang hal ini seringkali dianggap kabar baik bagi perusahaan properti. Namun, apakah perusahaan semen juga bakal ketiban rezeki?

Maksudnya, dengan menurunnya suku bunga BI, maka bunga bank nasional untuk deposito dan kredit juga bakal turun. Permintaan terhadap kredit pemilikan rumah (KPR) berpotensi meningkat lantaran bunga KPR juga turun, setuju gak?

Seandainya permintaan KPR naik, maka pembangunan perumahan bakal gencar dilakukan bukan? Nah, untuk membangun rumah tentu saja kita semua butuh “semen”.

Pertanyaannya, apakah para perusahaan semen yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu bakal kecipratan untung dengan fenomena ini? Kalau “ya”, maka saham mereka bisa bikin kita untung jika dikoleksi dari sekarang. 

Sudah tahu kan ada empat saham semen di bursa yang bisa kamu beli. Saham tersebut INTP (PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk), SMBR (PT Semen Baturaja Persero Tbk), SMCB (PT Solusi Bangun Indonesia Tbk alias Semen Holcim), dan SMGR (PT Semen Indonesia Persero Tbk yang dulu disebut Semen Gresik).

Biar semakin jelas, yuk kita simak ulasannya sebelum kita beli sahamnya.

Industri semen lagi hadapi kelebihan pasokan

truk pengaduk semen

Sekadar diketahui, perusahaan semen di Indonesia memang lagi menghadapi masalah serius yaitu kelebihan pasokan. Nah, tentu saja hal ini juga bakal berdampak pada penjualan semen di dalam negeri.

Konon kabarnya, over supply ini sudah terjadi sejak 2016 lalu. Pihak INTP sempat menyampaikan pendapat di media, kebutuhan semen di Indonesia tahun 2019 itu sudah cukup untuk lima tahun mendatang. Pasalnya, kelebihan pasokannya mencapai 43 ton dari kebutuhan semen nasional.

Produksi semen di Tanah Air ini memang berlebih. Seperti diberitakan Kontan, 11 Februari 2020, dari total produksi yang mencapai 100 juta ton pertahun, akan tetapi demand atau permintaannya cuma  60 hingga 70 persen saja.

Fenomena ini terjadi karena produksi semen yang meningkat ternyata gak diiringi dengan distribusi ke seluruh pelosok. 

Belum lagi, perusahaan semen di Indonesia juga menghadapi tantangan yang cukup serius dari merek semen baru dari China. Gimana gak pusing, wong harga semen impor itu bisa lebih murah ketimbang lokal. Gak heran kalau cadangan semen di Indonesia jadi oversupply.

Sesuai dengan hukum ekonomi saja, ketika ada oversupply maka harga dari sebuah komoditas bisa turun. Untuk kasus semen ini, pertumbuhan industri ini bisa saja melambat dengan adanya masalah tersebut. 

Aturan zero ODOL juga memberatkan industri semen 

Aturan zero ODOL juga memberatkan industri semen 

Asuransi & Investasi
Asuransi & Investasi

Aturan dari Kementerian Perhubungan yaitu over dimension over loading (ODOL) rencananya akan diberlakukan di tahun 2022. Pada intinya, aturan ini akan menindak truk obesitas alias kelebihan muatan, namun aturan ini dinilai memberatkan para emiten semen. Kok bisa? 

Jelas bisa, biaya logistik yang harus ditanggung perusahaan semen tentu jadi bertambah dengan adanya aturan ini. 

Industri karoseri dan logistik mungkin jadi pihak yang diuntungkan. Namun, industri makanan dan minuman, semen, kertas, dan beberapa industri manufaktur lainnya bakal dirugikan.

Ibu Kota mau pindah, apa kabar dengan permintaan semen?

Presiden Jokowi bersama jajaran menteri salah satunya PUPR
Sumber: Instagram/@kemenpupr

Salah satu program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di 2020 sampai 2024 adalah membangun infrastruktur di Ibu Kota baru. 

Dalam satu pemberitaan di Media Indonesia, Staf Ahli Kementerian PUPR A. Gani Ghazaly Akman, mengatakan bahwa di tahun ini permintaan semen diprediksi meningkat, dan lebih besar dari tahun sebelumnya. Karena pembangunan infrastruktur itu jadi prioritas dari PUPR.

Beberapa proyek yang harus diselesaikan PUPR pada rentang tahun 2020 hingga 2024 adalah pembangunan sumber daya air dengan 60 bendungan, 5 ribu ha daerah irigasi, 1.000 embung dan 2.100 km pengendali banjir dan pantai. Belum lagi ada 3 ribu km jalan baru dan 2.500 jalan tol. 

Bagi yang sekarang masih memegang saham semen, mudah-mudahan ini jadi kabar baik ya. 

Besar kemungkinan proyek pembangunan infrastruktur ini bisa cukup menguntungkan bagi SMGR. Mengapa? Karena mereka memiliki anak usaha bernama PT Semen Tonasa yang merupakan produsen semen terbesar di Indonesia bagian timur. Fokus mereka juga menggarap pasar lokal, termasuk Kalimantan. 

Saham semen mana yang menarik? 

Saham

Setelah membahas seputar tantangan dan peluang di industri semen. Seperti yang dijelaskan di atas, saham emiten semen ada empat.

Namun, kali ini kita akan pilih dua saja yaitu INTP dan SMGR. Kok cuma dua?

Karena keduanya adalah pemain terbesar di industri semen. Nilai kapitalisasi pasar mereka juga 11:12, SMGR di Rp 69,5 triliun sedangkan INTP di Rp 61,2 triliun. 

Lain halnya dengan SMBR yang cuma Rp 3 triliun, dan SMCB yang market capnya Rp 7 triliun. Sekadar diketahui, SMBR adalah anak usaha dari SMGR. 

Duel kali ini menggabungkan perusahaan semen BUMN, dan swasta. So, mana yang lebih menarik nih SMGR atau INTP? Kita kepoin laporan keuangannya yuk!

a. SMGR

Semen SMGR
Sumber: Instagram/@sementigaroda

Laba SMGR di kuartal III 2019 turun dari Rp 2,09 triliun pada September 2018 jadi Rp 1,2 triliun.

Laporan keuangan tahunan SMGR di 2019 memang belum dirilis. Namun, di tahun 2018, cuan SMGR berjumlah Rp 3,08 triliun. Apakah net income mereka di tahun 2019 bakal lebih tinggi dari tahun sebelumnya? Sabar saja, kita tunggu dulu.

RTI mencatat adanya pertumbuhan jumlah aset SMGR yang cukup signifikan dari Rp 50,7 triliun di September 2018, menjadi Rp 80,6 triliun di September 2019. Akan tetapi, utang SMGR juga meningkat drastis dari Rp 19 triliun hingga Rp 47 triliun di kuartal III 2019.

b. INTP

 Semen INTP
Sumber: Instagram/@semenindonesia

Lain halnya dengan SMGR, keuntungan bersih produsen Semen Tiga Roda justru melesaat di kuartal III 2019. Dari yang sebelumnya adalah Rp 617,6 miliar di kuartal III 2018, jadi Rp 1,17 triliun di kuartal III 2019.

RTI mencatat, laba bersih INTP di kuartal III 2019 ternyata sudah melebihi laba bersih mereka di laporan keuangan tahunan 2018 yang berjumlah Rp 1,14 triliun. Intinya kinerja INTP di tahun 2019 memang sangat moncer. 

Dari segi aset, total aset INTP di kuartal III 2019 memang menurun. Dari yang sebelumnya Rp 26,6 triliun di kuartal III 2018, sekarang jadi Rp 26,3 triliun. Akan tetapi, liabilitas atau utangnya juga menurun dari Rp 4,03 triliun (kuartal III 2018) jadi Rp 4 triliun. 

Nah seperti itulah kurang lebih update terkini dan analisa seputar prospek perusahaan semen ke depan. Tertarik beli INTP atau SMGR aja nih?

Bicara soal performa, besar kemungkinan di tahun 2019 ini INTP jadi pemenangnya. Jelas saja, Di kuartal III laba INTP memang naik drastis, sementara itu laba bersih SMGR malah sebaliknya. 

Munculnya laporan tahunan kedua emiten ini tentu bakal ditunggu-tunggu. 

Namun, jika melihat pada grafik harga saham SMGR dan INTP, sejatinya grafik pergerakan harga saham mereka gak kayak BBRI atau BBCA ya. Alias gitu-gitu saja.

Untuk trading jangka pendek, ya boleh-boleh saja. Tapi, buat jangka panjang ya lebih baik beli yang lain. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →