5 Fakta Saham PGAS yang Sempat Anjlok Gara-Gara Gagal Naiknya Harga Gas Industri

Saham PGAS

Saham PGAS

Sempat naik berada di kisaran Rp 2.400-an, saham PGAS pada 1 November lalu terkoreksi cukup dalam. Harganya anjlok hingga menyentuh angka Rp 1.850 per lembarnya.

Kemungkinan besar anjloknya harga saham PGAS dikarenakan batalnya kenaikan harga gas industri yang direncanakan Perusahaan Gas Negara, Tbk. Pembatalan ini disampaikan Presiden Joko Widodo pada Jumat (1/11) setelah menerima keluhan dari para pengusaha yang diwakili Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

Kadin bahkan telah mengirim surat ke Presiden Joko Widodo yang salah satu isinya menolak kenaikan harga gas industri. Respons para pengusaha ini yang kemudian disikapi Presiden dengan menyatakan pembatalan. 

Kementerian ESDM juga menyampaikan pembatalan yang dinyatakan Presiden. Kementerian ESDM mengerti maksud dari rencana Perusahaan Gas Negara, Tbk. Namun, menimbang kondisi ekonomi, baik domestik maupun global, ada baiknya rencana tersebut ditunda dulu.

Sekalipun sempat bikin para investor menjual saham PGAS, harganya per 5 November mulai beranjak naik. Harga per lembar sahamnya pada sesi perdagangan pertama tercatat berada di kisaran Rp 2.000-an.

Di balik harganya yang sempat nyemplung gara-gara sentimen, ada beberapa fakta menarik nih dari saham PGAS. Seperti apa fakta-faktanya? Berikut ini ulasannya.

1. Awalnya perusahaan Belanda, kini Perusahaan Gas Negara jadi milik Indonesia di bawah kendali Pertamina

Saham PGAS
Perusahaan Gas Negara berdiri pada tahun 1859

Perusahaan Gas Negara berdiri pada tahun 1859 dengan nama Firma L.J.N. Eindhoven & Co Gravenhage. Kepemilikannya yang semula di bawah keluarga Eindhoven kemudian beralih ke Pemerintah Belanda pada tahun 1863. Berpindahnya kepemilikan tersebut mengubah nama perusahaan gas ini menjadi NV Netherland Indische Gas Maatschappij (NIGM).

Barulah pada 1958, pengelolaannya beralih ke Pemerintah Indonesia. Pada 1965, Pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan yang menetapkan Perusahaan Gas Negara (PGN) menjadi perusahaan negara. 

Awalnya mayoritas saham PGAS dipegang Pemerintah Indonesia. Belakangan pada 2018, Pemerintah Indonesia mengalihkan kepemilikan saham tersebut ke PT Pertamina (Persero) sebagai induk perusahaan atau holding BUMN Migas. Saat ini PT Pertamina (Persero) memiliki 13.809.038.755 lembar atau 56,964 persen.

2. Saham PGAS ditawarkan perdana ke publik pada 15 Desember 2003 dengan harga per lembar Rp 1.500

Saham PGAS
Saham PGAS ditawarkan perdana ke publik pada 15 Desember 2003.

Setelah mendapat pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal buat melakukan penawaran umum, saham PGAS pada 15 Desember 2003 ditawarkan secara perdana ke publik (initial public offering). Per lembarnya saat itu ditawarkan dengan harga Rp 1.500.

Dalam perjalanannya, pergerakan harga PGAS cenderung fluktuatif. Harga per lembarnya pernah berada di angka Rp 6.200 pada Mei 2013. Sementara harga terendahnya pernah mencapai Rp 800-an per lembarnya pada tahun 2005.

3. Sejauh ini Perusahaan Gas Negara memiliki tujuh anak perusahaan

Saham PGAS
Perusahaan Gas Negara memiliki tujuh anak perusahaan

Sebanyak tujuh anak perusahaan diketahui menopang bisnis Perusahaan Gas Negara. Ini masih ditambah dengan banyaknya perusahaan afiliasi yang tercatat di laporan tahunannya. 

Nah, apa aja anak-anak perusahaannya? Berikut ini daftarnya seperti yang termuat dalam laporan tahunannya.

 

Anak Perusahaan Gas Negara Kegiatan bisnis
PT Pertamina Gas Niaga gas bumi dan turunannya, transportasi/transmisi, pemrosesan, penyimpanan gas bumi dan usaha lainnya
PT Saka Energi Indonesia (SEI) Kegiatan di bidang hulu (upstream business).
PT PGN LNG Indonesia (PLI) Kegiatan di bidang liquified natural gas (LNG).
PT Gagas Energi Indonesia (GEI) Kegiatan di bidang hilir (downstream business).
PT PGAS Solution (PGAS Solution) Kegiatan di bidang rekayasa teknik (engineering).
PT PGAS Telekomunikasi Nusantara (PGASCOM) Kegiatan telekomunikasi.
PT Permata Graha Nusantara (PERMATA) Pengelolaan properti, penyediaan jasa tenaga kerja & facility management, profitisasi sumber daya dan aset perusahaan.

 

4. Mencatatkan pendapatan neto sebesar US$ 3.870.266.738

Saham PGAS
Perolehan pendapatan Perusahaan Gas Negara cenderung naik turun.

Perolehan pendapatan Perusahaan Gas Negara cenderung naik turun. Namun, angka yang dicatatkan berada di kisaran miliaran dolar dalam lima tahun terakhir.

Pada 2018, pendapatan neto BUMN dengan saham PGAS ini mencapai US$ 3.870.266.738 atau sekitar Rp 54 triliunan. Perolehan ini lebih besar dibanding tahun 2017 yang angkanya mencapai US$ 3.570.597.761.

5. Cetak laba US$ 304,99 juta atau setara Rp 4,34 triliun

Saham PGAS
PGN Cetak laba US$ 304,99 juta atau setara Rp 4,34 triliun

Begitu pula dengan laba atau profit yang dicetak Perusahaan Gas Negara. Angkanya cenderung naik turun. Pada 2018, laba atau profit yang dibukukan mencapai US$ 304.991.574 atau sekitar Rp 4,34 triliun.

Perolehan laba ini lebih besar dibandingkan tahun 2017 yang angkanya mencapai US$ 196.904.843. Menariknya pada 2017, BUMN Migas ini bisa membukukan laba atau profit sebesar US$ 711.179.798.

Itu tadi informasi seputar saham PGAS atau saham Perusahaan Gas Negara. Semoga informasi di atas bermanfaat! (Editor: Winda Destiana Putri).

Marketplace Asuransi #1 di Indonesia

Cari Asuransi Terbaik Sesuai Anggaranmu

  • Bandingkan > 100 polis asuransi
  • Konsultasi & bantuan klaim gratis