Harganya Rp 8 Ribuan Perlembar, Apa Saham Unilever Layak Kita Beli?

Pada 2 Januari 2020, saham UNVR alias PT Unilever Indonesia Tbk diperdagangkan dengan harga baru (Instagram).

Pada 2 Januari 2020, saham UNVR alias PT Unilever Indonesia Tbk diperdagangkan dengan harga baru (Instagram).

Pada 2 Januari 2020, saham UNVR alias PT Unilever Indonesia Tbk diperdagangkan dengan harga baru yang lebih murah dari sebelumnya yaitu dari Rp 43 ribuan jadi Rp 8.600an. Investor pun langsung memburu saham perusahaan yang baru melakukan stock split ini hingga akhirnya harganya pun naik.

Meski demikian, saham UNVR justru mengalami koreksi di tanggal 6 Januari 2020, seiring dengan munculnya sentimen buruk tentang ramalan Perang Dunia III yang digembar-gemborkan di media sosial. Koreksi ini pun berlangsung hingga tanggal 7 Januari, dan membuat harga UNVR turun jadi Rp 8.475-an.

Sejatinya, peristiwa stock split ini meraih tanggapan yang cukup beragam di kalangan para pemburu cuan. Ada yang memutuskan untuk memborongnya mumpung murah, ada juga yang malah pesimistis melihat kinerja UNVR belakangan seperti ini. 

Buat kamu para investor atau calon investor saham, seberapa menariknya sih UNVR ini buatmu? Apakah dengan harga yang lebih murah itu, saham ini layak dibeli saat ini?

Gimana kalau kita ulas saja update terkini sekaligus hal-hal menarik seputar UNVR.

1. Kuartal III 2019 laba bersih mereka turun

Saham Unvr
Tabel saham Unilever (Sumber: RTI).

Bisa dibilang, tahun 2019 memang bukanlah tahun yang baik bagi UNVR. Laba bersih perusahaan ini memang terlihat turun.

Silahkan perhatikan grafik yang ditampilkan oleh RTI. Bagan biru menunjukkan bahwa net income perusahaan ini memang turun di kuartal III tahun 2018 ke 2019, yaitu Rp 5,51 triliun (Oktober 2019) dari tahun sebelumnya yang berjumlah Rp 7,3 triliun (Oktober 2018). 

Tapi tenang dulu ya, ini laporan keuangan di kuartal III lho. 

Kenapa kok beda laba mereka di kuarta III 2018 dan 2019 ini jauh banget? Usut punya usut, kuartal III tahun 2018, mereka mendapat “tambahan laba bersih” dari penjualan dari aset spread yang jumlahnya Rp 2,1 triliun. Hal itu diutarakan oleh pihak manajemen UNVR, seperti diberitakan Bisnis.com pada Oktober 2019 lalu. 

Namun kalau bicara soal “penjualan,” penjualan UNVR di 2019 itu tercatat sebesar Rp 32,4 triliun di September 2019, terdiri dari penjualan domestik Rp 30,8 triliun dan ekspor Rp 1,6 triliun. Positifnya adalah, jika dibandingkan dengan kuartal III 2018, jumlah penjualan khusus domestik ini  sudah “naik 6,2 persen.”   

2. Ada sentimen buruk di akhir 2019

Saham Unvr
Pegawai Unilever (Instagram).

Tepat pada Desember 2019, sentimen buruk melanda UNVR. Tersiar kabar di media yang menyebutkan bahwa, pertumbuhan perusahaan konsumer raksasa ini tersendat karena adanya perlambatan ekonomi Asia Selatan.

Nah, Asia Selatan itu adalah salah satu pasar terbesar dari UNVR. Negara-negara di kawasan ini yang perekonomiannya terhambat antara lain adalah Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal. 

Gak cuma di Asia Selatan, kerugian itu juga terjadi di Afrika Barat dan Amerika Utara. Alhasil, saham Unilever yang diperdagangkan di bursa London mengalami kerugian 6 persen.

Tanpa disadari, sentimen buruk ini berimbas ke harga saham UNVR di Indonesia juga karena gak sedikit investor yang menjual saham ini. Ditambah lagi dengan kabar menurunnya net income mereka di Indonesia.

Namun pihak Unilever tampaknya masih optimis dengan adanya pertumbuhan di India pada tahun ini, lebih tepatnya di semester II. Kita lihat aja nanti ya!

3. Utang Unilever juga naik 

Saham Unvr
Tabel saham Unilever (Sumber: RTI)

Beberapa hal yang harus jadi perhatian adalah jumlah utang dari Unilever yang meningkat. Utang bisa dilihat dari bagan berwarna merah (liabilities). 

Terlihat jelas di tahun 2018, utang mereka memang menurun ketimbang 2017. Namun di tahun 2019 kembali naik, sementara itu ekuitasnya gak berbanding seimbang dengan utangnya.

Saham konsumer ini sempat mencatatkan rekor tertinggi di angka Rp 50 ribuan sebelum stock split. Namun menjelang stock split, harga saham mereka justru berkisar di Rp 42 ribuan saja. 

Apakah laporan mengenai utang inilah yang akhirnya membuat orang panik dan menjual saham UNVR? 

Aku kudu piye? Jangan khawatir…

Saham Unvr
Unilever (Instagram).

Jika melihat pada analisa teknikal, beberapa pakar menyebutkan bahwa sekarang ini UNVR memang sedang sideways alias gak naik dan turun. Namun sebagian lagi mengatakan bahwa ada kemungkinan saham ini bisa bullish. 

Namun setelah melihat beberapa ulasan di atas, seputar laba, utang, dan sentimen negatif, lantas harus gimana nih terhadap saham UNVR ini? Apakah ini saat yang tepat untuk beli atau jauhi dulu.

Patut diketahui, dengan adanya stock split maka saham UNVR memang makin murah, tapi yang beredar di pasar juga makin banyak. 

Dalam investasi saham, sering muncul istilah “in fundamental we trust.” Artinya ya, analisa fundamental-lah yang jadi kunci untuk menentukan pilihan.

Sekarang gini deh, seturun-turunnya laba UNVR, turunnya pun gak parah. Coba perhatikan lagi bagan di poin pertama. 

Selain itu, UNVR juga merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar raksasa yaitu Rp 323 triliun! Bukan saham kaleng-kaleng ini bos.

Wajib juga diketahui bahwa produk-produknya Unilever adalah produk sehari-hari yang kita gunakan di rumah. Ada Kecap Bango, Pepsodent, Rexona, Sunsilk, Vaseline, Clear, Royco, Rinso, dan lainnya. 

Logika sederhananya adalah, walaupun amit-amit Perang Dunia III pecah, orang di Indonesia juga bakal tetap mandi, cuci piring, sikat gigi, cuci baju, dan makan. Produk-produk UNVR tentu tetap “dibeli” dan dipakai, setuju gak?

Belum lagi, berkaca pada meningkatnya penjualan domestik UNVR seperti di poin pertama. Angka ini juga masih bisa membaik seiring dengan meningkatnya UMP atau UMK DKI. Apakah kamu setuju?

Intinya, selama investasinya ditujukan untuk long term alias jangka panjang. Saham ini jelas masih layak koleksi, toh mereka adalah blue chip dan rajin bagi-bagi dividen pada pemegang sahamnya. Walaupun tahun lalu rugi, prospek bisnisnya gak meredup. 

Satu kunci kesuksesan investasi tinggi risiko ini cuma satu yaitu, “sabar.” Gak akan ada kesuksesan yang instan. 

Rekomendasi para analis mungkin ada benarnya tapi bisa jadi salah, begitu pula dengan pendapat kami di poin ketiga. Alangkah lebih baik kalau kamu bisa menganalisanya sendiri sebelum akhirnya membeli. (Editor: Winda Destiana Putri).