Sebelum Menikah, Lakukan Financial Checklist Biar Keuangan Gak Bobol

Pasangan suami istri membahas keuangan (Shutterstock).

Sebelum melakukan pernikahan ada baiknya melakukan financial checklist oleh kedua pasang calon pengantin, sebab menikah berarti menyelaraskan dua kepribadian dengan tujuan hidup yang juga berbeda. Proses penyelarasan ini ada baiknya juga membahas mengenai keuangan masing-masing calon, sebab kedepannya urusan finansial menjadi hal yang sensitif dan sangat perlu dibicarakan dengan baik di awal.

Gak cuma itu, semua keputusan finansial yang dilakukan sebelum menikah akan memiliki konsekuensi bagi finansial keluarga baru nanti. Misalnya saja keputusan membeli rumah secara kredit sebelum menikah, maka hal ini harus dibicarakan dengan jelas sebelum menikah, karena ada beban finansial berupa cicilan kredit rumah yang biasanya diatas 10 tahun.

Kemudian juga jika masih terdapat cicilan lain seperti kredit kendaraan atau barang lainnya juga harus diinformasikan dengan baik, agar tidak terjadi kesalahan komunikasi yang membuat keharmonisan keluarga baru nanti terancam akibat tidak terbukanya kondisi finansial masing-masing pasangan.

Ada juga keputusan membuat rekening tabungan bersama untuk langkah awal mengantisipasi pengeluaran di keluarga baru nanti, atau ada juga yang memutuskan menggunakan rekening tabungan pribadi masing-masing meskipun telah menikah. Dengan beberapa contoh kasus tadi, sebaiknya lakukan financial checklist yang harus kamu  lakukan bersama pasangan sebelum menikah seperti berikut ini:

1. Kenali Kebiasaan Menggunakan Uang Pasanganmu

Pasangan berbelanja (Shutterstock).
Pasangan berbelanja (Shutterstock).

Mengenali kebiasaan pasangan dalam menggunakan uang adalah hal yang baik untuk dilakukan bagi pasangan yang ingin segera melangsungkan pernikahan. Sebab setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam menggunakan uangnya, ada yang menggunakan uangnya untuk hobi seperti modifikasi kendaraan, koleksi sepatu atau sneakers, hingga mengoleksi action figure.

Ada juga orang yang suka membelanjakan uangnya untuk perawatan tubuh, skincare, atau bahkan untuk ngopi, dan  belanja online. Dengan mengenali kebiasaan pasangan dalam menggunakan uangnya, maka bisa juga mengetahui apa hobi dan kebutuhan masing-masing.

Jangan sampai nanti setelah menikah malah belum tahu apa kesukaan dan hobi pasanganmu, misal pasanganmu hobi koleksi sneaker keluaran terbaru, dan baru tahu setelah menikah.

Kemudian menjadi hal yang membuat pertengkaran atau ribut, karena salah satu tidak suka pasangannya terlalu boros membeli sneakers. Akan tetapi pasangannya juga tidak mau diatur dan yang terjadi adalah kesalahpahaman karena belum mengerti spending uang masing-masing pasangan.

Ada baiknya komunikasikan apa saja yang menjadi kebutuhanmu setiap bulan, agar pasanganmu mengetahui dan  menerimanya dengan baik, dengan ini akan mencegah terjadinya kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

2. Ketahui Utang dan Tanggungan

Daftar rincian utang keluarga (Shutterstock).
Daftar rincian utang keluarga (Shutterstock).

Setelah mengetahui kebiasaan pasangan dalam menggunakan uang, hal yang perlu dibicarakan bersama adalah soal utang dan tanggungan, jika diantara pasangan yang ingin menikah, sebaiknya komunikasikan hal ini dengan baik, seperti memiliki utang apa saja, berapa jumlahnya, berapa tempo waktu pelunasannya, dan bagaimana cara pembayarannya.

Sebab, hal ini juga menjadi penting diketahui bersama dengan mengutamakan kejujuran, karena jika masih memiliki utang, maka akan ada beban finansial yang harus dibayarkan ketika jatuh tempo. Dan juga akan sulit menabung bersama jika salah satunya atau keduanya masih memiliki utang.

Bukan cuma utang aja, terkait tanggungan juga harus diketahui dengan baik, sebab tanggungan ini biasanya juga berkaitan dengan keuangan dan harus dipenuhi, misalnya memiliki tanggungan kepada orang tua, biaya pendidikan  adik atau kakak, hingga tanggungan lainnya. Sebaiknya bicarakan hal ini dengan pasanganmu agar keduanya mengetahui dan memahami kondisinya, mulai dari siapa saja yang menjadi tanggungan, berapa lama, dan berapa dana yang diperlukan untuk tanggungan tersebut.

3. Pahami Tujuan Finansial Kedepan

Jalan-jalan bersama (Shutterstock).
Jalan-jalan bersama (Shutterstock).

Setelah saling terbuka mengenai kondisi keuangan, hal yang harus diketahui lainnya adalah tujuan finansial kedepan setelah berkeluarga. Masing-masing pasangan baiknya mengutarakan apa keinginan atau tujuan finansial yang ingin dicapai ketika berkeluarga nanti, kemudian pilih dan bersepakat mana yang menjadi prioritas dan mana yang tidak, apakah itu tujuan finansial jangka panjang atau pendek.

Misalnya untuk jangka pendek untuk biaya liburan keluarga, diskusikan dengan baik mau kemana tujuannya, menggunakan moda transportasi apa untuk kesana, dan berapa lama durasi liburannya, hingga berapa anggota keluarga yang ikut liburan ini.

Sedangkan jangka panjang misalnya untuk membeli rumah atau apartemen, tentukan lokasinya dahulu apakah mau di pinggir kota, atau bahkan di pedesaan, kemudian tipe dan ukuran, dan juga sesuaikan dengan bujet finansial.

Selain itu persiapan dana tabungan atau pensiun juga bisa mulai disiapkan bersama dengan menyusun alokasi anggaran dan mulai menyisihkan setiap bulan setelah pernikahan. Dengan memahami apa keinginan dan tujuan finansial masing-masing pasangan, maka bisa memilih mana yang memungkinkan dilaksanakan atau tidak asalkan kesepakatan bersama dan tidak ada yang keberatan.

4. Bicarakan Investasi dan Aset

Investasi
Investasi

 

Bukan cuma keuangan, hal yang harus dibicarakan dengan baik adalah membicarakan soal aset yang dimiliki masing-masing pasangan, apakah memiliki aset berupa uang di tabungan, investasi, tanah atau bangunan. Dalam soal ini juga utamakan kejujuran dan tidak ada yang ditutupi agar saling mengetahui.

Sebab, aset ini merupakan milik pribadi karena telah dimiliki sebelum menikah, maka sebaiknya informasikan dengan jujur aset apa saja yang sudah dimiliki.

Sebelum melakukan pernikahan, soal investasi juga harus dibicarakan dengan pasangan, apakah sudah memulai investasi atau belum, jika sudah memulai, maka informasikan dengan baik kepada pasangan berapa jumlahnya, ditempatkan dimana, dan bagaimana perkembangan instrumen investasi tersebut.

Kemudian, jika belum memulai investasi, maka sebaiknya lakukan pertimbangan instrumen investasi apa yang cocok bagi keluarga baru nanti, apakah dengan menyisihkan uang untuk tabungan setiap bulan, atau juga bisa dengan mencicil investasi emas setiap bulan. Pastinya, pilihlah instrumen investasi yang legal dan dilindungi oleh Undang-undang dan diawasi oleh pemerintah seperti saham, reksa dana, emas atau logam mulia, hingga properti.

5. Bicarakan Pembagian Peran Keuangan

Pembagian keuangan harus rinci dan jelas (Shutterstock).
Pembagian keuangan harus rinci dan jelas (Shutterstock).

Setelah melakukan financial checklist secara lengkap, hal yang penting dibicarakan bersama adalah soal pembagian peran keuangan dalam keluarga baru nanti sama seperti memutuskan siapa yang membuang sampah atau siapa yang akan mencuci piring. Sebaiknya pasangan harus memutuskan pembagian peran keuangan.

Misalnya siapa yang bertanggung jawab atas tagihan bulanan seperti air, dan listrik. Dan siapa yang bertanggung jawab akan tabungan dan investasi. Pembagian peran ini penting dilakukan dan disepakati bersama agar memiliki tujuan dan financial goals yang sama dalam satu keluarga. (Editor: Winda Destiana Putri)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →