Biar Gak Bingung, Ini Bedanya Investasi Syariah dan Konvensional

perbedaan investasi syariah dan konvensional

Bukan cuma investasi konvensional, investasi pasar modal syariah juga ada, lho. Lantas, apa perbedaan investasi syariah dan konvensional.

Perbedaan investasi syariah dan konvensional perlu diketahui untuk kamu yang pengin mengambil salah satu instrumen tersebut lewat pasar modal, yaitu Bursa Efek Indonesia.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, gak sedikit masyarakat yang maju mundur berinvestasi lantaran ragu adanya riba atau bercampur dengan hal-hal yang haram.

Karena itu, kini telah hadir instrumen-instrumen investasi pasar modal syariah. Investasi ini bisa dianggap sebagai solusi bagi kaum Muslim yang mau investasi tanpa merasa khawatir. Tapi, apa sih yang membedakan pasar modal syariah dan konvensional?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Tujuan investasi

Investasi syariah gak cuma memikirkan perolehan kembalian (return), tapi juga Socially Responsible Investment (SRI) atau bentuk strategi investasi yang merupakan gabungan antara perolehan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan kebajikan sosial.

Investasi syariah membawa misi pemberdayaan umat dalam aktivitas ekonomi serta terdapat unsur ibadah karena berhubungan dengan sedekah.

Di sisi lain, investasi konvensional lebih mengarah pada return yang tinggi. Meski begitu, pengembaliannya tidak gampang dan membutuhkan waktu. Misi investasi konvensional adalah kemajuan ekonomi.

Operasional/pengelolaan

Sudah pasti kalau pengelolaan investasi syariah dan konvensional berbeda. Investasi syariah masih perlu screening yang sesuai dengan syariat islam. Produk investasinya juga harus terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES). 

Selain itu, reksa dana syariah tidak akan berinvestasi dengan perusahaan yang melarang prinsip syariah, sehingga keuntungan yang didapatkan pasti halal.

Hal tersebut, berbeda dengan investasi konvensional yang tidak memperhatikan prinsip syariah dan tanpa proses screening. Dalam investasi konvensional, tidak terlalu memilih perusahaan mana yang akan melakukan bisnis investasi.

Return

Dalam investasi syariah, masih akan dilakukan pemilahan perusahaan, apakah penghasilan bisnisnya halal atau haram. Jika perusahaan tersebut belum tentu halal, maka akan dibersihkan terlebih dahulu dengan menyisihkan sebagian investasi dan keuntungan halal untuk disumbangkan atau amal. Proses ini biasanya disebut cleansing.

Sedangkan investasi konvensional tidak perlu cleansing, yang penting perusahaan tersebut sudah sesuai dengan ketentuan investasi yang dibuat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengawasan

Investasi syariah, contohnya reksadana syariah, menempatkan Dewan Pengawas Syariah (DPS) sebagai pemilik tanggung jawab untuk memastikan pengelolaan reksa dana tersebut sesuai dengan prinsip syariah.

Berbeda dengan reksa dana syariah, reksa dana konvensional sepenuhnya berada dalam pengawasan OJK yang mekanisme pasar dan faktor-faktor lain disesuaikan dengan kondisi perekonomian.

Akad/Pengikatan

Investasi syariah seperti reksa dana syariah akan terus berjalan selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariah. Akad syariah ini meliputi akad kerjasama (musyarakah), sewa-menyewa (ijarah), dan akad bagi hasil (Mudharabah).

Sementara investasi konvensional terkesan lebih sederhana. Produk investasi ini menekankan kesepakatan tanpa adanya aturan halal atau haram.

Transaksi

Tidak ada batasan mekanisme transaksi di pasar modal konvensional. Arah perputaran uangnya juga dibuka bebas, jadi konsep bunga sudah pasti ada.

Transaksi tidak jelas, spekulatif, manipulatif, dan judi juga diizinkan pada pasar modal konvensional. Saham yang dimiliki bisa bergerak di bidang apa saja asalkan memberikan keuntungan.

Pada pasar modal syariah, hal-hal di atas diatur ketat. Dana yang ditanam tidak akan dipakai untuk menggerakkan bidang yang tidak sesuai dengan prinsip syariah seperti rokok, alkohol, makan haram dan lainnya. Pasar modal syariah bebas dari transaksi ribawi, gharar atau meragukan, manipulatif, dan judi.

Investasi seperti reksa dana syariah dalam pengelolaannya punya tahap screening yang harus dilalui dan sesuai prinsip syariah. 

Produk investasinya pun harus terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang  diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan ketentuan syariah.

Penempatan instrumen investasi

Produk syariah di pasar modal gak jauh berbeda dengan pasar modal konvensional, yaitu berupa surat berharga atau efek. Bedanya, efek yang dijual belikan tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. 

Baik akad, cara, serta kegiatan usahanya. Dengan kata lain, produk pasar modal harus memiliki halal, didapatkan atau dihasilkan dengan cara halal, serta digunakan secara halal.

Misalnya, investasi syariah tidak mungkin ditempatkan pada perusahaan yang bergerak dalam bidang yang diharamkan seperti alkohol, judi, rokok, dan lainnya. Sementara hal ini tidak menjadi bahan pertimbangan investasi konvensional.

Meski begitu, investor gak perlu kesulitan memilih dan memilah karena saat ini telah ada saham syariah, obligasi syariah, serta reksadana syariah.

Prosedur transaksi

Dalam transaksi pasar modal konvensional menerapkan sistem bunga untuk mendapatkan keuntungan. Sementara, hal ini tak terjadi pada pasar modal syariah. Untuk menghindari adanya unsur riba, investasi syariah menerapkan sistem bagi hasil.

Pasar modal syariah juga menerapkan sistem akad (penguatan) atau kesepakatan dalam bertransaksi sebagai komitmen untuk tetap mengamalkan nilai-nilai syariah. Akad dilaksanakan secara sadar dan tanpa unsur paksaan untuk memastikan perjanjian bersifat adil bagi kedua belah pihak.

Selain itu, transaksi jual beli saham pada pasar modal syariah tidak dilakukan secara langsung untuk menghindari manipulasi harga. Sementara pada konvensional dilakukan secara langsung menggunakan jasa broker.

Obligasi vs sukuk

Dalam investasi syariah juga terdapat obligasi yang disebut sebagai sukuk atau obligasi syariah. Perbedaan keduanya adalah sebagai berikut:

Obligasi

  1. Pada obligasi konvensional menggunakan prinsip bunga.
  2. Pemegang obligasi disebut sebagai kreditur (pemberi piutang).
  3. Perhitungan keuntungan tergantung pada suku bunga yang berlaku.

Sukuk

  1. Pemegang sukuk disebut sebagai pemodal atau shahibul mal dan emitennya disebut sebagai pengelola atau mudharib.
  2. Perhitungan keuntungan telah disebutkan saat akad transaksi dilakukan.

Serupa tapi tak sama, investasi syariah dan konvensional memiliki sejumlah perbedaan yang bisa dijadikan pertimbangan kamu dalam memilih instrumen investasi.  

Namun, apapun jenis investasi yang kamu pilih, pastikan instrumen pasar modal telah terdaftar dan diawasi oleh OJK. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →