Sistem Dana Talangan Haji, Apa Plus dan Minusnya?

sistem dana talangan haji

Ibadah haji sekarang bisa dilakukan tanpa harus melunasi dulu biayanya alias menggunakan sistem dana talangan haji. Fasilitas ini umumnya ditawarkan oleh bank syariah.

Tapi, sistem dana talangan haji mendapat penolakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya, masyarakat malah diajari berutang untuk menunaikan ibadah haji.

Kok bisa begitu? Sebenarnya bagaimana cara kerja sistem dana talangan haji ini?

Dana talangan haji selama ini dituding jadi salah satu faktor pemicu panjangnya antrean untuk bisa berangkat haji ke Tanah Suci.

Beberapa bank syariah pernah menjalankan praktek bisnis ini. Namun, saat ini sudah mulai berkurang atau terkesan tidak agresif menawarkan produk ini. Indikasinya adalah, mulai berkurangnya masa pelunasan dana talangan haji yang sebelumnya bisa tiga tahun kini hanya bisa setahun.

Selain itu, adanya simpang siur terkait regulasi dana talangan haji oleh pemerintah apakah diizinkan atau tidak, serta adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang halal dan haramnya dana tersebut.

Masalah ini sebenarnya masuk dalam khilafiyah, atau beda pendapat antarulama. Untuk mengetahuinya, pada artikel ini akan diuraikan mengapa dana talangan haji dilarang, bagaimana mekanisme dan prakteknya, serta nilai plus dan minusnya.

Mengenal Mekanisme dan Praktek Bisnis Dana Talangan Haji

Seseorang yang ingin mendaftar haji tidaklah harus lunas semua Biaya Penyelenggaraan Ibadah haji (BPIH) saat itu juga.

Calon haji hanya dibebani membayar semacam “tanda jadi” untuk mendapatkan porsi haji, yang besarnya ditentukan Kemenag. Saat ini, kementerian Agama menetapkan biaya daftar porsi haji sebesar Rp25 juta.

Nominal Rp25 juta inilah yang dijadikan obyek dana talangan atau lebih tepatnya adalah pemberian jasa fasilitas haji.

Alur kerja atau sistem dan prosesnya bisa ketahui di pemaparan berikut ini:

Alur Kerja/Sistem Dana Talangan Haji

Untuk mendaftar dan mendapatkan porsi haji, masyarakat harus mempunyai uang untuk proses mendapatkan porsi urut haji yang harus dibayarkan melalui bank syariah yang ditunjuk.

Sejumlah bank syariah, seperti Bank Mandiri Syariah, Bank BRI Syariah, dan BNI Syariah, punya program naik haji dengan sistem kredit.

Cara kerjanya secara umum, kita membayar dulu persekot alias uang muka sekian persen dari total biaya haji. Dengan bayar persekot itu, kita sudah didaftarkan antrean haji.

Kemudian, kita membayar cicilan sampai tiba saatnya berangkat naik haji. Sepulangnya dari Tanah Suci, kita wajib melunasi cicilan tersebut.

Mekanismenya gak beda jauh dengan kredit-kredit lain dari bank. Misalnya dalam kredit pemilikan rumah (KPR).

Hanya dengan bayar uang muka,kita langsung bisa menempati rumah. Namun, angsuran per bulan harus dilunasi sesuai dengan perjanjian.

Begitu pula dengan sistem dana talangan haji ini. Kita hanya cukup menggelontorkan uang muka, maka sisanya dapat dilunasi secara kredit.

Jadi, dari kaca mata perbankan, naik haji dengan sistem kredit memungkinkan. Namun, mungkin dari perspektif agama kurang pas. Meski demikian, menurut berita dari situs Nahdlatul Ulama, sistem ini populer di Malaysia.

Terlepas dari dalil-dalil seputar sistem naik haji kredit ini, ada sejumlah nilai plus dan minusnya lho. Apa saja sih?

Nilai Plus

Asal sudah bayar persekot dan cicilan awal dana talangan haji, sudah bisa naik haji

1. Bisa cepat berhaji

Setiap umat muslim tahu naik haji merupakan rukun Islam kelima. Karena itu, rangkaian ibadah ini wajib dilaksanakan bagi yang mampu secara fisik, mental, dan finansial.

Dengan begitu, banyak umat muslim ingin cepat-cepat menunaikan haji hingga membuat permintaan untuk keberangkatan haji membeludak setiap tahunnya.

Tidak heran, periode menunggu nomor keberangkatan setiap waktunya semakin lama hingga bisa mencapai 10 tahun.

Dengan demikian, bisa jadi usia ketika melaksanakan ibadah haji sudah sangat tua dan mungkin kondisi fisik tidak sehat.

Sehingga dengan memakai sistem ini, tak perlu menunggu uang cukup untuk membayar tunai keras ongkos naik haji.

 

2. Lebih termotivasi

Bagi sebagian orang, beban yang terlihat nyata seperti utang justru membuat lebih menambah motivasi untuknya melakukan sesuatu. Dalam soal berhaji, jika sudah ada tanggungan bayar cicilan, pasti lebih giat untuk melunasinya.

Dengan demikian, urusan haji juga bisa cepat kelar. Kecuali buat yang asal ambil kredit tanpa memperhitungkan keuangannya.

Tapi, jika kamu bukan orang dengan tipe seperti itu yaitu yang lebih termotivasi saat ada utang, jangan sekali-kali meminjam dana talangan demi berangkat ke Tanah Suci ya!

Karena yang ada hanya akan menimbulkan kesengsaraan setelah beribadah haji. Sementara kamu sendiri harus kembali menjalani hidup.

Nilai Minus

1. Meninggalkan beban

Meski urusan berhaji sudah tuntas, masih ada beban yang belum hilang. Sepulang dari ibadah haji, kita dihadapi dengan kenyataan harus melunasi cicilan. 

Tentu saja cicilan itu harus segera dilunasi. Karena jika tidak, yang ada akan membuat kamu bisa berurusan dengan pihak berwajib lantaran mangkir memenuhi kewajiban.

Gak cuma itu saja, bisa jadi kamu malah kepikiran utang selama beribadah di Tanah Suci. Otomatis itu akan membuat ibadah haji yang tengah dijalani malah tidak khusyuk.

Padahal, yang namanya beribadah ke Tanah Suci, tentu kekhusyukan teramat sangat diperlukan. Bahkan, banyak orang bilang saat beribadah haji harus meninggalkan semua urusan duniawi.

Sehingga, tentu akan lebih bijak tidak memakai dana talangan untuk beribadah haji jika ujung-ujungnya hanya akan membebani pikiran.

2. Ada ancaman

Nasib orang siapa yang tahu. Mungkin kita merasa bisa melunasi cicilan kredit haji dalam lima tahun ke depan.

Tapi, pada tahun keempat tiba-tiba ada musibah, misalnya kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Walhasil, gak ada lagi pemasukan. Ujungnya, kredit macet dan masalah bisa berujung di pengadilan.

Kamu tentunya gak mau kan hal seperti itu justru menimpamu? Sementara titel beribadah haji sudah melekat di diri, tapi ujung-ujungnya harus berurusan dengan masalah hukum.

So, usir jauh-jauh deh keinginan memakai dana talangan kalau ujung-ujungnya kamu tidak bisa melunasi cicilan di kemudian hari!

Ibadah haji itu wajib, tapi tetap harus tetap memerhatikan keuangan masa depan saat memakai dana talangan haji

 

Secara umum, mekanisme sistem dana talangan haji ini memang kurang-lebih sama dengan produk kredit lain. Termasuk soal risikonya.

Kita sebagai masyarakat harus memikirkan masak-masak risiko ini. Pasalnya, sistem ibadah haji ini tak hanya berkaitan dengan perbankan. Jadi, kita harus memikirkannya dua kali.

Ibadah haji juga berkaitan dengan agama. Jika memang tak merasa cocok dengan sistem ini, tak perlu mengambilnya.

Tapi, jika merasa tak ada masalah dengan semua hal tersebut, tentunya sistem ini sangat membantu buat mereka yang susah mengumpulkan dana tunai ongkos haji. Tinggal memikirkan cara melunasi cicilan saja.

Kuncinya, hitung kemampuan keuangan dan proyeksi cicilan. Jangan sampai beban kredit melebihi kapasitas finansial kita.

Bisa-bisa berangkat naik haji happy-happy. Tapi pulangnya pusing mikir cara melunasi cicilan.

Akan lebih baik lagi jika cicilan bisa lunas sebelum berangkat berhaji. Jadi, pikiran bisa plong. Melaksanakan ibadah haji pun jadi lebih tenang bebas dari beragam pikiran macam-macam. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →