Daftar Unicorn Indonesia Terbaik 2020 [Plus Nilai Valuasinya]

unicorn indonesia

Indonesia punya julukan baru, yakni negara penghasil startup unicorn. Julukan ini tidak terlalu berlebihan mengingat unicorn Indonesia merupakan salah satu yang terbanyak di dunia. 

Sampai Juni 2019, empat unicorn Indonesia alias startup dengan valuasi lebih dari US$1 miliar tercatat dimiliki Tanah Air. Berdasarkan rilis Hurun Report, Indonesia menempati urutan ke delapan dunia sebagai negara unicorn terbanyak.    

Meski begitu, jumlahnya masih kalah jauh sama China dan Amerika yang masing-masing punya 206 dan 203 unicorn. Wajar sih, industri digital mereka kan sudah maju lebih dulu. 

Hanya berselang beberapa lama dari rilis itu, kabar baik pun datang lagi. OVO, platform pembayaran yang populer di Indonesia mengikuti jejak empat seniornya jadi unicorn. 

Bahkan, pada Februari 2020 lalu, startup ecommerce JD.ID mengkonfirmasi telah menjadi unicorn keenam Indonesia setelah Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan OVO. 

Sejarah unicorn Indonesia 

Sejarah unicorn Indonesia ditorehkan pertama kali oleh Gojek pada Agustus 2016 setelah berhasil meraih dana tambahan US$550 juta atau sekitar Rp7,2 triliun. 

Kucuran dana dari sejumlah konsorsium investasi global itu membuat Gojek berhasil mengumpulkan US$1 miliar pertamanya dan sah menyandang gelar unicorn. 

Kesuksesan Gojek diikuti Tokopedia, marketplace online yang mendapat suntikan dana dari Alibaba sebesar US$1,1 miliar atau sekitar Rp14,7 triliun pada Agustus 2017. Traveloka menjadi unicorn ketiga setelah berhasil meraih tambahan pendanaan $350 juta dari Expedia. 

Hanya berselang tiga bulan setelah kompetitor terdekatnya, founder Bukalapak Achmad Zaky juga mengkonfirmasi startup yang dipimpinnya telah bernilai US$1 miliar. Sejak saat itu, demam startup semakin tinggi dan anak-anak muda semakin terpicu mengikuti jejak mereka. 

Apa beda unicorn, decacorn, dan hectocorn?

Dari segi valuasi, perjalanan startup setelah menyandang gelar unicorn adalah menjadi decacorn dan hectocorn. Bila unicorn adalah perusahaan dengan valuasi lebih dari US$1 miliar, maka decacorn adalah startup yang memiliki valuasi lebih dari US$10 miliar.  

Sementara Hectocorn adalah gelar istimewa bagi startup yang punya valuasi sebanyak US$100 miliar. 

Berdasarkan riset dari CB Insight Per Juni 2020, setidaknya ada 473 startup bergelar unicorn di dunia. Dari ratusan startup tersebut hanya 24 yang telah menyandang gelar decacorn. Yang membanggakan, Gojek masuk dalam daftar 24 startup tersebut.

Sementara itu, tidak ada data yang menunjukkan siapa pemilik gelar hectocorn. Tetapi bila melihat pada nilai valuasinya, perusahaan hectoron akan selevel dengan Google, Facebook, Microsoft dan Apple. 

Mampukah indonesia jadi penguasa baru ekonomi digital dunia? 

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2015, nilai ekonomi digital Indonesia berkisar di angka US$8 miliar. Angka ini melesat jauh menjadi US$40 miliar pada 2019. 

Gak heran kalau Presiden Joko Widodo pada Februari 2020 lalu berani menyebut Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Klaim ini sekali lagi cukup beralasan karena Indonesia mencatatkan pertumbuhan startup tercepat kelima di dunia. Keren,yah!

Peluang ekonomi digital Indonesia masih sangat terbuka mengingat jumlah penduduknya yang besar. Fakta ini ditambah dengan penetrasi internet Indonesia yang telah berada di angka 64%. 

Perkembangan dunia startup Indonesia didukung oleh banyak faktor, salah satunya event tahunan startup yang rutin digelar. Seperti pada akhir tahun lalu, 103 startup bertemu dengan 150 investor dalam acara NextICorn.

Lewat pertemuan ini,perusahaan startup berkesempatan menunjukkan produk terbaik mereka pada investor. Kesempatan mendapat pendanaan pun terbuka lebar. 

5 syarat masuk NextICorn Summit

Pertemuan startup semacam ini cukup banyak di Indonesia dengan level yang berbeda-beda. 

NetxICorn bukanlah ajang pertemuan yang ingin menciptakan lebih banyak startup. Namun, penyelenggara berharap agar startup yang sudah ada bisa naik kelas. 

Untuk mengikuti pertemuan seperti NextICorn membutuhkan syarat yang tak mudah dan harus melewati proses kurasi. 

Bila startup kamu ingin masuk dalam kegiatan ini, simak lima syaratnya berikut ini: 

  • Startup sudah berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau Penanaman Modal Asing (PMA) dengan kepemilikan modal lokal minimal 25 persen.
  • Setidaknya sudah memperoleh investasi US$100 ribu dari investor eksternal.
  • Bila masih bootstrap atau didanai oleh pendiri, startup kategori media minimal memiliki lima juta pengguna aktif bulanan (Month Active User/MAU).
  • Bagi startup e-commerce, minimal nilai transaksinya (Gross Merchandise Value/GMV) lebih dari US$ 1 juta atau aplikasinya diunduh satu juga kali.
  • Bagi startup di bidang Software as a Service (SaaS), minimal Annual Recurring Revenue (ARR) sebesar US$500 ribu.

Pendanaan kurang dari US$1 Juta

Tidak perlu minder bila startup kamu belum mendapat pendanaan yang besar. Dalam ajang NextICorn, 20 persen peserta mendapat pendanaan kurang dari US$1 Juta. 

Sementara 55 lain sudah memperoleh US$1 Juta – US$5 juta. Hanya 25 persen saja yang lebih dari US$5 juta.

Karena pertemuan seperti ini dilakukan untuk menggenjot pertumbuhan startup, penyelenggara pun menghadirkan perwakilan-perwakilan pemerintah. Jadi, kamu bisa berkesempatan untuk berdiskusi secara langsung dengan pihak regulator. 

Daftar unicorn di Indonesia tahun 2020

Setelah JD.ID mengonfirmasi telah mencapai US$1 miliar,  Indonesia pun kini memiliki 6 unicorn. Berikut daftar lengkapnya.  

Gojek

Siapa yang tidak kenal dengan startup yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini. Gojek telah bertransformasi menjadi tak sekadar layanan ride hailing, tapi sudah menjadi layanan superapp serbaada. 

Gojek telah memperluas fiturnya ke layanan pembayaran, kesehatan, pengiriman barang, makanan, berita, dan lain-lain, Operasinya pun telah merambah sejumlah negara seperti Singapura, Thailand dan Vietnam. 

Belakangan, Gojek juga sudah mendapat “lampu hijau” dari Pemerintah Malaysia untuk dapat beroperasi di negara tersebut. 

Baru-baru ini, Facebook kembali mengejutkan publik dengan mendapat kucuran dana dari Facebook dan Paypal. Menyusul sebelumnya Google dan Tencent yang sudah lebih dulu masuk. 

Valuasi Gojek diperkirakan telah menembus US$23 miliar atau Rp331 triliun. Bersaing ketat dengan pesaing utamanya, Grab. 

Sayangnya, pandemi COVID-19 membuat Gojek tak luput dari imbasnya. Baru-baru ini, mereka menghentikan lini bisnis yang tak bisa berjalan akibat pandemi. Akibatnya, 430 karyawan harus di-PHK. 

Tokopedia

Tokopedia berkembang pesat menjadi platform ecommerce raksasa di Indonesia. Pada 2020, Tokopedia mengklaim telah menguasai 1,5% perekonomian Indonesia.

Tidak kurang dari 7,2 juta UKM telah bergabung dengan jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 90 juta pengguna. Berbeda dengan Gojek, pertumbuhan penjual baru di Tokopedia meningkat 86,5% selama pandemi. 

Pada Januari lalu, Tokopedia dikabarkan semakin dekat mengikuti Gojek sebagai decacorn setelah mereka kembali melakukan penggalangan dana. 

Valuasi mereka diperkirakan akan mencapai US$8 miliar hingga US$9 miliar. Putaran pendanaan ini disebut-sebut menjadi yang terakhir sebelum IPO. 

Traveloka

Nggak banyak diulas, Traveloka adalah startup Indonesia yang pertama kali mendunia. Sebelum Gojek, mereka sudah beroperasi di negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Vietnam,Thailand, dan Filipina. 

Bila dibandingkan dengan unicorn lainnya, Traveloka menjadi yang tercepat meraih gelar tersebut. Hanya butuh lima tahun setelah berdiri sementara Gojek butuh waktu enam tahun. Data terakhir dari CB Insight menunjukkan valuasi Traveloka masih berada di angka US$2 miliar.  

Bukalapak 

Bukalapak adalah startup Indonesia yang saat ini sudah tidak lagi dipegang secara langsung oleh founder. Achmad Zaky mundur dari posisinya sebagai CEO pada Desember 2019 lalu meski masih menjabat di dewan pengawas. 

Terbaru, Muhammad Fajrin yang merupakan salah satu pendiri Bukalapak dipercaya Menteri BUMN Erick Thohir menjabat PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Sebenarnya, ini adalah sesuatu yang positif karena membuktikan bahwa startup berkembang terus meski tidak dalam kendali pendiri lagi. Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Apple dan Microsoft pun melakukan hal yang sama. 

Seri pendanaan F pada Oktober 2019 lalu mencatatkan valuasi Bukalapak sebesar US$2,5 miliar. 

OVO

OVO menjadi unicorn Indonesia kelima dengan valuasi yang tak tanggung-tanggung, US$2,9 miliar, lebih tinggi dari Bukalapak dan Traveloka. 

Aplikasi yang bermula dari program loyalitas pengguna milik Lippo Group tersebut kini adalah fintech terbesar di Indonesia. Pada tahun 2018, OVO mengklaim telah menjalankan lebih dari 1 miliar transaksi. 

JD.ID 

JD.ID menyandang gelar unicorn di tengah pandemi COVID-19 sedang merebak. Mereka meraih pendanaan US$1 miliar setelah mengikuti joint ventures dengan beberapa perusahaan berpendanaan besar. Ini berarti, Indonesia memiliki tiga ecommerce yang sudah berstatus unicorn. 

Itulah beberapa informasi terkini seputar startup unicorn Indonesia. Meski saat ini ada yang terdampak COVID-19, masa depan ekonomi digital Indonesia dipercaya masih akan tetap cerah. (Editor: Chaerunnisa)