Sukuk Adalah Investasi Syariah Berbasis Utang, Ini Penjelasannya

sukuk adalah investasi

Di tengah banyaknya instrumen investasi di industri keuangan, ada satu yang menarik yaitu obligasi syariah ini. Secara umum, sukuk adalah investasi yang berbasis utang.

Namun bedanya, sebagaimana dijelaskan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), efek ini adalah efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas aset yang mendasarinya.

Ingin tahu lebih lanjut seputar investasi ini? Mari kita bahas lebih lanjut di bawah yuk.

Sukuk adalah

Simpelnya sih, sukuk adalah obligasi yang halal berdasarkan ketentuan tertentu yang ditetapkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan diperdagangkan di pasar modal.

Menurut situs Bursa Efek Indonesia (BEI), instrumen ini bisa didefinisikan sebagai efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi.

Namun bila dilihat secara harfiah, kata sukuk itu sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti instrumen legal atau cek. Kata Sukuk juga digunakan untuk mendeskripsikan surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan oleh emiten kepada pemegang obligasinya.

Emiten jelas wajib membayarkan pendapatan ke pemegang obligasi dalam bentuk bagi hasil, serta mengembalikan kembali dana obligasi ini saat jatuh tempo. 

Sama seperti obligasi kan? Hanya saja ini adalah obligasi yang sesuai dengan prinsip syariah, yang tidak mengenal istilah bunga. 

Namun untuk lebih jelasnya, gimana kalau kita kupas saja perbedaan obligasi syariah ini dengan yang konvensional.

Perbedaan sukuk dan obligasi konvensional

sukuk
sama-sama surat utang tapi beda (Shutterstock)

Apa yang menjadi perbedaan antara obligasi syariah dan konvensional?

  • Seperti dijelaskan di atas, salah satunya terletak pada ketiadaan kupon bunga seperti yang tertera pada obligasi konvensional. Sesuai syariat Islam, investasi halal menganggap bunga adalah riba dalam transaksi piutang. So, dalam obligasi syariah kita akan menyebutnya dengan istilah bagi hasil.
  • Sukuk diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah yang berada di bawah MUI. Oleh karena itu akan ada beban biaya yaitu fee untuk upah pengawas tersebut. Sementara itu pada obligasi konvensional, biaya yang dikenakan adalah biaya administrasi.

Berikut tabel perbedaan sukuk dan obligasi secara menyeluruh.

Indikator Sukuk Obligasi Konvensional
Penerbit Korporasi dan negara Korporasi dan negara
Objek dasar penerbitan (underlying asset) Harus ada Tidak perlu
Sifat instrumen Sertifikat kepemilikan/ penyertaan aset Instrumen pengakuan utang
Penghasilan Imbalan atau bagi hasil bunga/kupon, capital gain
Jangka waktu Pendek dan menengah

(1-3 tahun)

Menengah dan panjang (lebih dari 5 tahun)
Pihak yang terkait Obligator, perusahaan khusus penerbit sukuk (SPV), wali amanat (trustee), dan investor obligator/penerbit dan investor
Rata-rata imbal hasil 6,75 persen (ST006) 6,80 persen (ORI016)
Pembayaran pokok Sesuai jatuh tempo Sesuai jatuh tempo
Penggunaan hasil penerbitan Harus sesuai syariah Bebas 

Jenis sukuk

Berdasarkan ketentuan pemerintah dan MUI, jenis obligasi syariah ini dibagi berdasarkan empat kelompok besar, yaitu:

1. Sukuk berdasarkan akad

Berdasarkan standar organisasi syariah dunia (AAOIFI), obligasi syariah berbasis akad terbagi dalam sembilan jenis yaitu.

  • Ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa tanpa diikuti pemindahan kepemilikan barang atau jasa tersebut.
  • Mudharabah, yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad yaitu pemilik modal dan penyedia tenaga atau ahli akan membagi hasil berdasarkan porsi masing-masing.
  • Salam, yaitu sukuk yang diterbitkan untuk memperoleh modal sehingga barang yang diterbitkan menjadi pemilik pemegang sukuk.
  • Musyarakah, yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan modal untuk proyek baru atau mengembangkan proyek yang sudah ada.
  • Istishna, yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian di mana para pihak sepakat dalam jual-beli untuk pembiayaan proyek.
  • Murabaha, yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan prinsip jual-beli di mana penerbit sukuk adalah penjual komoditi dan investornya adalah pembeli komoditi tersebut.
  • Wakalah, yaitu sukuk yang diterbitkan dengan menunjuk wali atau agen tertentu untuk mengelola usaha atas nama pemegang sukuk.
  • Muzara’ah, yaitu sukuk yang diterbitkan untuk mendanai pertanian dengan sistem bagi hasil sesuai dana yang dikucurkan.
  • Musaqah, yaitu sukuk yang diterbitkan untuk membiayai perawatan pertanian dan perkebunan hingga operasionalnya. Investor mendapatkan imbal hasil berupa bagi hasil panen. 

2. Berdasarkan penerbit

Berdasarkan pihak penerbit, sukuk terbagi atas dua jenis, yaitu:

  • Sukuk korporasi, yaitu jenis obligasi syariah yang diterbitkan korporasi baik swasta maupun BUMN/BUMD.
  • Surat berharga syariah negara (SBSN), yaitu surat utang negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing.

3. Berdasarkan pendapatan atau bagi hasil

Dalam klasifikasi ini terdapat tiga jenis sukuk, yaitu:

  • Sukuk margin, sukuk yang pembayaran atau bagi hasilnya berdasarkan keuntungan jual-beli.
  • Sukuk fee, sukuk yang pembayaran pendapatannya bersifat tetap karena bersumber dari pendapatan tetap seperti sewa.
  • Sukuk bagi hasil, sukuk yang pembayaran pendapatannya berdasarkan bagi hasil yang diperoleh dari hasil yang diperoleh selama menjalankan usaha yang dibiayai.

4. Berdasarkan basis aset

Berdasarkan basis aset terbagi atas dua jenis, yaitu:

  • Sukuk aset, sukuk berdasarkan pembiayaan aset seperti yang ada dalam sektor pertanian.
  • Sukuk penyertaan (equity), sukuk berdasarkan pembiayaan berbasis penyertaan modal.

Sukuk ritel vs Sukuk tabungan

sukuk
Jenisnya pun ada banyak (Shutterstock)

Dari sekian banyak surat utang syariah yang beredar, dua di antaranya yang cukup populer adalah Suku Ritel dan Sukuk Tabungan. Kedua instrumen ini dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia, sama halnya dengan ORI atau SBR. Hanya saja, sukuk ini harus sesuai dengan prinsip syariah.

Jadi, dengan berinvestasi di kedua produk ini kita sama saja dengan memberikan bantuan ke Pemerintah dalam pembangunan. 

Berikut tabel perbandingan antara Sukuk Ritel dan Sukuk Tabungan. 

Sukuk Ritel Sukuk Tabungan
Sasaran investor Warga Negara Indonesia Warga Negara Indonesia
Minimal pemesanan Rp 1 juta (bisa berubah) Rp 1 juta (bisa berubah)
Jatuh tempo 3 tahun 2 tahun
Apa bisa dijual lagi di pasar sekunder? Bisa Tidak
Apa bisa dilakukan early redemption? Tidak Bisa (tanpa redemption cost)
Imbal hasil Imbalan tetap, dan dibayarkan setiap bulan Imbalan mengambang dengan imbalan minimal
Tingkat imbal hasil  6,30 persen (SR012) 6,75 persen (ST006) 
Jaminan negara 100 persen 100 persen
Pajak 15 persen 15 persen

Ilustrasi imbal hasil investasi sukuk

Mau tahu ilustrasi imbal hasil keuntungan dari obligasi syariah ini? Mari kita simulasikan dengan contoh kasus di bawah.

Beli di pasar perdana

Jamal membeli Sukuk Ritel di pasar perdana dengan modal Rp 100 juta, dan tingkat imbal hasilnya adalah 6,30 persen. Apabila Jamal menyimpan obligasi syariah ini sampai jatuh tempo (tiga tahun) dan gak menjualnya ke investor lain, berapa imbalan yang diterima Jamal?

Imbalan = 100 juta x 6,30% = Rp 525 ribu setiap bulan.

Keuntungan saat jatuh tempo = Rp 525 ribu x 36 bulan = Rp 18.9 juta

Di saat jatuh tempo, Jamal juga akan menerima uang Rp 100 juta yang merupakan modal investasinya di obligasi syariah ini. Akan tetapi perhitungan di atas belum dikurangi pajak ya.

Jual di pasar sekunder

Imron membeli Sukuk Ritel pada bulan Februari 2019 di pasar perdana dengan modal Rp 100 juta dan tingkat imbal hasil 6,30 persen. Tepat pada Februari 2020, Imron menjual surat berharga syariah itu ke investor lain di harga 102 persen karena butuh dana segar. Berapa keuntungan yang didapat Imron dari investasi ini?

Imbalan tahun pertama = 100 juta x 6,30% = Rp 6,3 juta 

Capital gain di tahun kedua = 100 juta x (102-100%) = Rp 2 juta. Rp 100 juta + Rp 2 juta = Rp 102 juta.

Total keuntungan Imron =  Rp 102 juta + Rp 6,3 juta = Rp 108,3 juta. 

Keuntungan memiliki sukuk

Bagaimana pendapatmu setelah melihat ilustrasi keuntungan dari memiliki obligasi syariah ini? Cukup menggiurkan bukan? 

Bicara soal keuntungan, investasi ini punya beberapa kelebihan yang kiranya bisa jadi pertimbangan untuk investasi jangka pendek. Mau tahu apa saja? Cek di bawah sini.

1. Aman

Selama kamu memilih yang diterbitkan oleh Pemerintah RI, maka investasi ini pasti aman karena dijamin oleh negara. Negara pasti akan membayar imbal hasil kepadamu karena kamu telah membantu mereka dalam pembangunan.

Oleh karena itu risiko default risk tentunya tidak berlaku dalam investasi ini. Hal itu dijamin di UU Nomor 19 Tahun 2008.

Lain halnya dengan obligasi korporasi yang punya risiko gagal bayar jika perusahaan bangkrut atau pailit.

2. Menawarkan imbal hasil tetap

Instrumen ini masuk dalam kategori instrumen pendapatan tetap. Itu artinya tingkat imbal hasil yang dibayarkan setiap bulan kepada investornya bersifat tetap dan stabil.

3. Lebih unggul daripada deposito

Jelas banget, obligasi syariah ini memang jauh lebih menguntungkan daripada deposito. Deposito memang memiliki fitur unggulan yaitu roll over atau bunga bergulung, tapi imbal hasil deposito per tahun masih di bawah sukuk.

Belum lagi, pajak deposito juga cukup besar. Jika investasi syariah ini adalah 15 persen, deposito 20 persen.

4. Keuntungan ganda

Baik sukuk ritel maupun sukuk tabungan, keduanya bisa memberikan keuntungan yang bersifat dua kali lipat. Gak cuma imbal hasil.

Sukuk ritel contohnya, kamu bisa menjual surat berharga ini layaknya saham ke investor lain. Baik dengan harga tinggi maupun dengan harga yang rendah jika mau cepat laris.

Sementara itu fasilitas early redemption dari sukuk tabungan adalah fasilitas yang memungkinkan investor menerima sebagian pelunasan pokok ST006 oleh Pemerintah sebelum jatuh tempo dengan jumlah maksimal 50 persen dari modal investasi.

Risiko

Gak ada investasi yang gak mengandung risiko. Risiko ini akan tetap ada meski kadarnya memang gak terlalu besar. 

Apa saja yang menjadi risiko investasi surat berharga syariah ini? Yuk cari tahu di bawah.

Risiko likuiditas

Risiko ini dialami oleh para investor yang butuh dana lancar dan mengalami kesulitan dalam menjual obligasi syariah ini yang dia miliki ke investor lain. Akan tetapi, risiko ini bisa diatasi dengan menjualnya ke Agen Penjual.

Risiko pasar

Kenaikan suku bunga naik, pada umumnya investor akan makin tertarik untuk masuk ke pasar uang dan meninggalkan instrumen pendapatan tetap. Hal ini pun bakal berdampak pada penurunan harga obligasi syariah ini “di pasar sekunder.”

So, jika kamu memang berniat menjualnya di saat suku bunga turun sebelum jatuh tempo, maka kamu berpotensi mengalami capital loss

Cara mengatasi risiko ini cukup mudah. Hold atau tahan saja kepemilikannya itu dan cari penghasilan tambahan atau perkecil pengeluaran bulananmu jika kamu butuh dana lancar. Setidaknya kamu masih bisa dapat keuntungan dari imbal hasilnya per bulan dan gak jual rugi. 

Bagaimana cara membelinya?

Gak sulit kok untuk membelinya. Informasi tentang pembelian produk ini tersedia di mana-mana. Pemerintah pun telah menunjuk beberapa pihak yang menjadi mitra distribusi obligasi syariah ini. Beberapa mitra tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

  • Perusahaan Efek (sekuritas)
  • Perusahaan Efek Agen Penjual Emisi Reksadana.
  • Bank 
  • Perusahaan Fintech P2P lending.

Bagi yang belum tahu bagaimana cara membeli dan berapa nominal yang diperlukan, berikut penjelasannya.

1. Registrasi

Sebelum membeli, calon investor harus registrasi terlebih dahulu melalui distributor resmi. Hal ini dilakukan secara online lewat laman distributor tersebut. Beberapa data yang perlu diisi meliputi data pribadi, nomor rekening dana untuk ditarik, nomor rekening surat berharga yang ingin dibeli, dan nomor single investor identification (SID).

2. Pemesanan

Setelah registrasi berhasil investor melakukan pemesanan dengan memilih sukuk yang ingin dibeli. Perlu menjadi perhatian bagi kita, telitilah dalam membaca ketentuan dalam Memorandum Informasi agar memahami hak dan kewajiban kita sebagai investor. 

Selain itu, pemesanan hanya bisa dilakukan selama masa penawaran. Nantinya, surat utang ini bisa diperjualbelikan kembali meski belum jatuh tempo.

3. Pembayaran

Setelah memesan sukuk yang diinginkan dan diverifikasi, kita diwajibkan mentransfer sejumlah dana sesuai kode pembayaran yang dikirim mitra distribusi. Kode pembayaran ini digunakan untuk menyetor pembayaran lewat ATM dan lain sebagainya.

4. Konfirmasi

Setelah pembayaran, investor akan mendapat nomor transaksi dan notifikasi lengkap terkait jenis sukuk hingga nominal yang dibeli.

Untuk berinvestasi di instrumen ini, modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Misalnya SR-011 yang diterbitkan Maret 2019. Untuk memiliki sukuk yang jatuh tempo pada Maret 2022 ini, investor cukup mengeluarkan dana minimal Rp1 juta. Imbal hasil yang dijanjikan sebesar 8,05 persen hingga jatuh tempo.

Selain tahapan di atas, kita juga bisa membeli sukuk di pasar sekunder alias beli sukuk second. Ada dua cara pembelian sukuk di pasar sekunder, yaitu langsung di pasar modal atau membeli langsung dari investor yang memegang sertifikatnya. 

Cara yang kedua dianggap lebih praktis dan efisien sebagaimana calon investor bisa menawar harga sukuknya. Lumayan, bukan?

Pilihan Investasi syariah lainnya

suku
Banyak lho produk investasi syariah lainnya

Instrumen investasi halal tidak hanya sukuk, lho! Dalam dunia investasi, terdapat beberapa instrumen lain di dalam pasar modal syariah yang disesuaikan dengan kebutuhan investor Muslim. Berikut beberapa instrumen investasi halal yang bisa jadi pilihan.

1. Saham syariah

Saham syariah merupakan efek berbentuk saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Di BEI, ada dua jenis saham syariah yang diakui yaitu saham yang dinyatakan memenuhi kriteria syariah berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 35/POJK.04/2017 dan saham yang dinyatakan syariah oleh emitennya.

2. Reksadana syariah

Reksadana syariah menurut POJK No.19/POJK.04/2015 adalah reksadana yang pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Berdasarkan definisi ini, setiap jenis reksadana yang dapat diterbitkan sebagai reksadana syariah selama memenuhi prinsip syariah.

3. Efek beragunan aset (EBA) syariah

EBA syariah yang diterbitkan di pasar modal ada dua jenis, yaitu berbentuk kontrak investasi kolektif antara manajer investasi dan bank kustodian serta EBA syariah berbentuk surat partisipasi.

4. Dana investasi real estate (DIRE) syariah

DIRE syariah adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat sebagai pemodal untuk diinvestasikan pada aset real estat atau aset terkait real estat. Namun, tetap harus berlandaskan prinsip syariah yang ditentukan dalam POJK.

5. Exchange traded fund (ETF) syariah

Salah satu bentuk reksadana yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal di  mana unit penyertaannya dicatatkan dan ditransaksikan seperti saham di BEI.

Tips Aman Berinvestasi Sukuk

Dalam dunia investasi, pastinya tidak ada instrumen investasi yang benar-benar aman 100%, karena pasar uang diselimuti berbagai sentimen baik internal maupun eksternal. Seperti halnya pula dengan sukuk yang merupakan salah satu instrumen investasi. 

Jika kita ingin aman berinvestasi dengan produk ini, ada beberapa tips yang bisa diikuti seperti dapat disimak dalam penjelasan berikut ini.

  • Sebaiknya pilih investasi sukuk yang diterbitkan pemerintah. Selain imbal hasil yang jelas, sukuk yang diterbitkan pemerintah dijamin negara. So, sewaktu-waktu ada apa-apa, dana yang kita kucurkan aman.
  • Jika membeli ke agen atau mitra distribusi, perhatikan biaya-biaya lain termasuk biaya penyimpanan. Pasalnya, modal Rp1 juta bisa jadi kurang karena ada tambahan biaya tersebut.
  • Pertimbangkan jatuh temponya apakah pendek atau menengah-panjang. 

Itulah serba-serbi mengenai obligasi syariah yang kiranya bisa jadi alternatif investasi selain deposito. Gimana, tertarik membelinya? Pantau terus ya penawaran obligasi syariah terbaru, jangan sampai kelewatan. 

Selamat berinvestasi, ya!