Masuk Forbes 30 Under 30, Ini Kisah Marshall Utoyo si Pendiri Fabelio

Marshall Utoyo (fabelio.com)

Nama Marshall Utoyo makin mencuat saat namanya masuk dalam daftar Forbes “30 Under 30” Indonesia. Usut punya usut, perusahaan yang dia dirikanlah yang bikin namanya masuk ke dalam daftar tersebut. Yap! Karena lirik peluang bisnis online berupa e-commerce furniture, Marshall bersama rekannya jadi salah satu pionir dalam bisnis tersebut.

Toko furniture udah biasa. Namun, e-commerce khusus furniture bisa dibilang jarang di Indonesia. Apalagi yang menyasar pasar menengah ke atas. Nah, Fabelio.com yang didirikan oleh Marshall jadi salah satu pionir yang melihat peluang bisnis online tersebut.

Awal Terbentuknya Fabelio

Terbentuknya Fabelio bukan tanpa sengaja. Bukan cuma Marshall Utoyo, Fabelio dibentuk bersama dua rekan lainnya, yaitu Khrisnan Menon dan Christian Sutardi.

Khrisnan dan Christian sendiri emang udah gak asing sama dunia e-commerce. Sebab, dulu mereka pernah bekerja di grup Rocket Internet yang menaungi Lazada dan beberapa e-commerce lain.

Sementara itu, Marshall Utoyo udah gak asing sama dunia furnitur. Bahkan, dia udah punya perusahaan sendiri yang bergerak di bidang tersebut. Jadilah, mereka jadi tiga serangkai yang klop.

Mereka pengin bangun e-commerce tapi gak mau hadirkan produk yang udah cukup “umum”, seperti fashion dan travel. Terpikirlah mereka buat terjun jualan produk furnitur tetapi lewat online.

Marshall Utoyo yang Emang Jago Desain

A post shared by Furnishing Happiness (@fabelio) on Dec 28, 2017 at 2:04am PST

Marshall Utoyo ternyata emang jago desain. Padahal, dulunya Marshall berkuliah di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung. Dia ambil jurusan finance. Bahkan, selepas kuliah, dia sempat bekerja sebagai akuntan.

Di balik itu semua, Marshall ternyata memendam passion terhadap dunia desain. Akhirnya, dia memutuskan buat terjun mendalami passion-nya tersebut.

Dia mengambil short course desain di Jerman. Kemudian, dia mendirikan studio desain furnitur bersama dua temannya yang juga desainer. Perusahaan tersebut diberi nama FASA. Bahkan, brand-nya ini sempat meraih beberapa penghargaan.

Yang cukup menarik adalah dulunya orangtua Marshall bahkan gak percaya anak mereka bisa desain.

Nah, Fabelio.com sendiri dibangun dengan desain yang diberikan oleh tim Fabelio, termasuk Marshall. Nantinya, pemasok yang siapkan material dan siapkan tenaga produksi.

Saat ini, e-commerce furnitur tersebut udah bekerja sama dengan sekitar 25 pemasok. Masing-masing pemasok tersebut punya spesialisasi masing-masing. Ada yang memproduksi furnitur dari kayu jati, mahoni, dan sebagainya. Ada pula yang spesialis memproduksi perabotan sofa dan lainnya.

Desain yang dihadirkan oleh Fabelio pun beneran menarik dan gak bikin bosan. Bisa disandingkan dengan IKEA deh.

Gaya minimalis berpadu dengan Skandinavian, plus bercita rasa Indonesia, itulah yang jadi daya pikat Fabelio. Yang bikin startup ini lebih gampang meraih pasar adalah harganya yang tentu aja bisa ditekan ketimbang produk dari luar negeri.

Buat analisis produk pun dilakukan berdasarkan data. Tim Fabelio menggunakan analisis berdasarkan data Google Analytics buat meluncurkan produk baru. Mereka biasanya melakukan tracking dan riset di Internet buat cari insight yang tepat buat model, bahan, dan warna.

Sementara itu, buat pemasaran, website Fabelio.com sendiri didesain se-friendly mungkin. Perusahaan startup tersebut juga benar-benar gencar memanfaatkan layanan iklan di Internet, mulai dari Google Adwords sampai iklan Facebook.

Dengan strategi yang matang ini, gak salah akhirnya Fabelio membawa nama Marshall Utoyo masuk dalam daftar Forbes. Di laman Forbes, nama Fabelio-lah yang disebutkan. Di situ tertera bahwa perusahaan didirikan pada tahun 2015 dan udah kerja sama dengan 2000 pengrajin.

Keren ya?

Marshall Beberkan Strategi Bisnisnya

Marshall sendiri sempat membeberkan strateginya buat berbisnis, khususnya dalam membangun startup.

Berikut beberapa pelajaran bisnis yang bisa kita petik dari Marshall Utoyo, co-founder Fabelio.

1. Ikuti passion

Meski sempat kuliah di bidang yang berbeda dan bahkan bekerja sebagai akuntan, Marshall akhirnya mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Dia mengikuti passion sebenarnya, yaitu desain.

Meski demikian, bukan berarti kuliah yang dia lakoni selama ini sia-sia, lho. Gimanapun juga dia pernah mengenyam sekolah bisnis yang bisa jadi bekal buatnya jadi entrepreneur.

2. Modal utama adalah teman

Marshall mengungkapkan bahwa modal utama dia bangun startup adalah teman. Dia berujar bahwa semakin banyak punya teman tentu makin bagus. Pasalnya, saat bangun startup, tentu pentolan startup tersebut harus rela gak dibayar di awal-awal.

Gak cuma itu, Marshall pun mengaku dia gak mengerti dunia online marketing. Nah, karena dia punya teman yang mengerti di bidang tersebut, dia bisa menunjuk temannya tersebut buat handle urusan online marketing perusahaannya.

3. Hadirkan produk yang “berbeda”

Dari Fabelio sendiri kita bisa lihat bahwa menghadirkan produk yang cukup “berbeda” tentu kasih keuntungan tersendiri. Melihat e-commerce yang udah ramai dengan produk-produk yang cukup umum seperti fashion, Marshall dan teman-temannya pengin sesuatu yang beda.

Pilihan produk furnitur ternyata jadi pilihan terbaik. Pasalnya, di Indonesia, toko offline maupun online buat produk furnitur dengan konsep minimalis dan Skandinavian masih cukup jarang. Dengan gitu, mereka punya kompetitor yang sedikit.

Gak cuma itu, kompetitor Fabelio sendiri saat ini kebanyakan berasal dari luar negeri. Jadilah, mereka bisa menekan harga karena produk mereka dibuat di dalam negeri.

Yang pasti, pilihan Marshall Utoyo buat jadi entrepreneur setelah jadi karyawan ternyata menghasilkan prinsip yang patut diacungkan jempol. Pria bernama lengkap Marshall Tegar Utoyo tersebut menyatakan bahwa memiliki perusahaan sendiri bikin dia lebih bertanggung jawab.

Menurutnya, saat jadi karyawan dan gak masuk kantor, perusahaan pasti bakal tetap berjalan. Namun, bila kamu berada di posisi sebagai pemilik perusahaan, ada tanggung jawab khusus yang bikin kamu lebih terikat pada perusahaan kamu. Pasalnya, kamu punya karyawan yang menggantungkan hidup pada kamu. Jadi, ya gak bisa leha-leha.

Mantap banget nasihatnya ya!

Sekarang, Marshall Utoyo gak cuma berperan di Fabelio dan perusahaan furniturnya. Dia juga punya startup di bidang kreatif yang lain, salah satunya Conclave. Brand tersebut menyediakan co-working space.

Marshall Utoyo sendiri gak menyangka dia jadi entrepreneur karena dulunya dia gak pernah terpikir buat terjun di profesi tersebut. Barulah setelah lulus SMA, dia mulai belajar berwirausaha. Sekarang, dia pun berhasil masuk dalam daftar Forbes yang bergengsi. Cool!