Buyback Saham Besar-besaran, Apakah Investor Diuntungkan?

Buyback saham bakal mempengaruhi pengusaha?

Otoritas Jasa Keuangan alias OJK sudah merestui proses pembelian kembali saham atau buyback saham oleh para emiten tanpa melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Jika emiten buyback saham terjadi, apakah investor akan diuntungkan atau justru sebaliknya? 

Virus corona saat ini sudah menjadi pandemi, bahkan Pemerintah Indonesia sudah menganjurkan bagi warganya untuk melakukan social distancing. Penyebaran corona yang semakin masif ini, juga mempengaruhi kondisi pasar saham bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun mengalami babak belur. 

Gak sedikit investor yang akhirnya memutuskan untuk hengkang dari bursa dan melego saham-sahamnya hingga membuat harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia amblas. Bersamaan dengan itu, muncul pula kabar mengenai buyback saham oleh para emiten. 

Beberapa emiten melakukannya pada pekan ini hingga jangka waktu yang ditentukan. Buat kamu para investor saham, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui mengenai aksi korporasi satu ini.  

Saham yang beredar dibeli lagi oleh perusahaannya

Buyback saham bakal terjadi, pengusaha bakal diuntungkan atau tidak?

Buyback saham dapat diartikan sebagai tindakan investasi saham yang dilakukan emiten dengan cara membeli saham-saham miliknya yang beredar di bursa. Efeknya adalah kepemilikan terhadap publik jadi mengecil akan tetapi likuiditas perusahaan terjaga.

Ada dua cara dalam melakukan buyback. Pertama adalah tender offer, yaitu perusahaan akan menawarkan saham-sahamnya yang beredar ke publik ke pemegang saham lainnya. Sementara itu cara kedua adalah melakukannya dengan mekanisme pasar terbuka. Kalau yang ini sama saja dengan transaksi di pasar reguler. 

Saham yang ramai-ramai buyback bakal jadi cadangan kas

Buyback saham terjadi ini lho dampaknya bagi pengusaha

Setelah emiten melakukan buyback saham, maka saham yang mereka beli akan masuk ke dalam kas treasury. Nah uang kas tersebut bakal digunakan untuk cadangan modal.

Saham treasury ini bukanlah saham yang bisa dipegang oleh investor, masyarakat, maupun pendiri perusahaan itu sendiri. Saham ini pun tidak akan diberikan hak dividen lho, oleh karena itu saham tersebut  juga gak akan dimasukkan dalam hitungan laba per saham (EPS). 

Dengan ini, dalam laporan keuangannya, emiten bakal terlihat memiliki laba yang naik drastis. Wajar saja, rumus EPS adalah (laba bersih – dividen per saham)/rata-rata saham yang beredar. Ketika saham yang dibeli itu gak dihitung, maka pembagiannya pun makin kecil. 

Semakin sedikit saham yang beredar, semakin tinggi EPS-nya. EPS sendiri adalah tolak ukur sebuah saham dinyatakan sehat dari fundamental. Otomatis hal tersebut akan menggoda investor untuk membeli saham tersebut.

Namun patut kamu ketahui juga, bahwa saham treasury ini sewaktu-waktu bisa dijual oleh para emitennya. 

Saham diborong dengan jumlah besar, harganya bisa meroket

Saham diborong besar-besaran, harganya pun bakal meroket

Mari kita cermati peristiwa ini dengan konsep hukum ekonomi. Di mana barang yang sudah dibeli oleh konsumen dalam jumlah besar, artinya diminati dan harganya pun mengalami lonjakkan.

Sama halnya ketika kita menyikapi kelangkaan masker di tengah merebaknya pandemi COVID-19 ini. Hal serupa pun bakal terjadi di BEI. Bayangkan saja jika sebuah perusahaan menganggarkan dana senilai triliun rupiah untuk melakukan buyback atas saham yang mereka miliki.

Bisa saja apabila harga saham yang tengah lesu, tiba-tiba meroket. Optimisme investor pun makin besar, apalagi yang beli saham itu adalah emitennya sendiri, berarti perusahaan juga sangat optimis dong.

Itulah beberapa hal yang mesti diketahui soal buyback saham. Kira-kira sektor mana nih yang ingin kamu borong saat pasar lagi lesu seperti ini? Sekedar info saja, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) bakal melakukan buyback sebesar 18,7 miliar sahamnya di bursa. Itu semua mereka lakukan untuk menenangkan pasar yang memang bergejolak karena sentimen buruk ini. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)