Tidak Hanya Pantai yang Indah, Banten Miliki Segudang Destinasi Wisata Lainnya

Sempat diguncang tsunami pada tahun 2018 lalu, wisata Banten tidak lama-lama menutup diri. Bahkan, Kementerian Pariwisata melalui Kadispar Prov Banten, Eneng Nurcahyati mengatakan banyak tempat wisata menarik yang bisa dikunjungi selain pantai. 

“Banten memiliki berbagai destinasi lain selain pantai yang bisa dijadikan alternatif berwisata. Di sana terdapat wisata alam, budaya, hingga buatan. Beberapa di antaranya terletak di Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan di beberapa daerah lainnya,” ujar Kadispar Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati.

Jadi, buat kamu yang memang ingin liburan ke Banten, gak usah takut atau merasa khawatir. Banten gak cuma punya keindahan alam seperti pantai saja kok. Kamu bisa bergeser ke wilayah lain yang gak kalah menarik. 

Berikut ini beberapa objek wisata Banten yang bisa jadi alternatif liburan kamu. 

Wisata Alam

Telaga Biru Cisoka (Shutterstock).
Telaga Biru Cisoka (Shutterstock).

Meski Banten dikenal dengan objek wisata alam seperti pantai, sebetulnya ada hal menarik lain dari provinsi yang melakukan pemekaran di tahun 2000 silam ini. Beberapa diantaranya ada 

Pemandian Air Panas Alam Batoe Koewoeng di Serang, Telaga Biru Cisoka yang berada di Kabupaten Tangerang. 

1. Telaga Biru Cisoka

Tempat wisata dengan nama Telaga Biru Cisoka ini sukses menjadi wisata pilihan para anak muda yang ingin menikmati wisata alam dengan pemandangan indah dan romantis. Terdapat tiga telaga dengan warna biru dan kedalaman berbeda mulai 5 hingga 20 meter. 

Telaga biru Cisoka ini awalnya adalah bekas galian. Lubang yang dihasilkan dari aktivitas tambang telah digenangi air hingga menjadi sebuah telaga. Lama tidak beroperasi, bekas galian ini dipoles menjadi destinasi wisata yang cantik. 

Telaga ini memiliki tiga danau dengan warna air yang berbeda-beda, yakni hijau, kuning dan toska. Kadang, air yang berwarna kebiruan ini bisa berubah menjadi bening atau kekuningan. 

2. Pemandian Air Panas Alam Batoe Koewoeng

Sedangkan Pemandian Air Panas Alam Batoe Koewoeng merupakan air panas yang muncul dari perut bumi dan memiliki khasiat menyembuhkan penyakit rematik, pegal linu, sering kesemutan dan beberapa penyakit lainnya. 

Pada umumnya, air panas alami mengandung belerang, namun air panas di pemandian ini mengandung iodium sehingga tidak berbau. Terdapat dua pilihan untuk berendam, yaitu di kolam terbuka bersama-sama pengunjung lain dan kedua dalam ruangan tersendiri.

3. Gunung Batu Lawang

Destinasi alam lainnya terletak di Kelurahan Gerem, Merak, Kota Cilegon. Gunung Batu Lawang saat ini tengah hangat diperbincangkan banyak wisatawan dari berbagai daerah. Dari atas sini, kamu bakalan melihat pemandangan indah berupa perbukitan. Sementara kalau kamu menoleh ke bawah, hamparan Kota Cilegon dapat terlihat dengan jelas. 

Gak cuma itu saja, dari ketinggian Gunung Batu Lawang, kamu juga bisa melihat siluet bukit Gunung Pinang di Kramatwatu, menara Masjid Agung Cilegon, Waduk Krenceng, bahkan siluet Gunung Karang di Pandeglang.

Jika ingin bepergian ke tempat ini, usahakan bawa perbekalan yang cukup, terutama air minum agar tidak dehidrasi. Gunakan alas kaki yang nyaman, pakai topi dan kacamata hitam untuk menghindari paparan sinar matahari langsung. 

4. Curug Sawer

Berbeda dari kebanyakan air terjun lain, Curug Sawer ini memiliki dua tingkatan air. Satu bernama curug lalakina yang berada di bagian atas dengan ketinggian yang mencapai 25 meter. Semnetara curug kedua bernama bikang dengan ketinggian 7 meter. Selain kedua air terjun tersebut ternyata dibawah curug bikang terdapat goa bawah air yang panjangnya bisa mencapai 8 km dan berujung di daerah muara Babakan Nangka. Inilah yang menjadikan alasan objek wisata yang terletak di Pandeglang, Banten ini wajib dikunjungi. 

Sejarah curug ini cukup panjang dan banyak yang mengatakan sedikit mistis. Sawer yang berarti menyawer ini memiliki makna bahwa jangkauan air jeramnya seperti hujan. Konon, ada seekor buaya putih yang menjaga keperawanan dari curug ini. Buaya tersebut akan berubah menjadi sosok kakek-kakek tua berjenggot putih panjang pada saat bulan purnama. Tugas utamanya adalah menjaga curug agar tidak terkena tangan usil manusia.

5. Rumah Hutan Serang

Satu hal lagi yang unik dari objek wisata di Banten. Kalau kamu gemar piknik bersama teman atau keluarga, jangan lewatkan mencoba ke hutan yang satu ini. Pasalnya di dalam hutan ini terdapat rumah yang bisa kamu intip keseruan di dalamnya seperti apa lho! 

Berjarak sekitar 13 kilometer ke arah barat dari Kota Serang, Banten, ada rumah sederhana yang dibangun di salah satu sudut areal tanah seluas 6.000 meter persegi, tepatnya di Bukit Cidampit, Kampung Bojong, Desa Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten. Rumah ini seringkali disebut sebagai Rumah Hutan oleh warga setempat maupun pelancong. 

Kawasan ini dibangun oleh pria asal Sulawesi Tengah pada tahun 2015 silam. Ia bermimpi menjadikan rumah tersebut sebagai surga. Meski tidak dipungut biaya, setiap hari ada saja pelancong yang melakukan piknik di area ini, terutama pada hari libur. Rumah Hutan sangat cocok dijadikan tempat berkemah untuk keluarga. 

Wisata Religi

Masjid Agung Banten (Shutterstock).
Masjid Agung Banten (Shutterstock).

Berwisata ke Banten tak lengkap bila tidak berwisata religi. Objek wisata religi yang paling tersohor di Banten adalah kawasan Banten lama dan Vihara Avalokitesvara. Tapi ternyata, objek wisata religi di kampung halaman Ma’ruf Amin ini masih banyak lho! 

1. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten berada di kawasan Kesultanan Banten. Masjid ini merupakan bangunan sejarah yang sudah berdiri sejak 1569. Bangunan Masjid ini memiliki gaya arsitektur Hindu, Cina, Jawa, dan Eropa. 

Bukan hanya Masjid saja yang dapat ditemui di lokasi ini, melainkan juga peninggalan dari kerajaan Islam yang pernah ada di Banten, lengkap dengan makam orang-orang yang berjasa dalam pengembangan agama Islam di banten. 

Selain ramai dikunjungi peziarah dan umat Islam, Masjid Agung Banten setiap harinya juga ramai dikunjungi wisatawan yang tertarik dengan sejarah Islam.

2. Vihara Avalokitesvara 

Melansir laman Indonesia Kaya, Inilah vihara tertua di Provinsi Banten, konon vihara ini sudah dibangun sejak abad 16. Pembangunan vihara ini juga tidak bisa dilepaskan dari Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia. Inilah Vihara Avalokitesvara yang terletak 15 km arah utara dari Kota Serang, Banten.

Vihara Avalokitesvara memiliki luas mencapai 10 hektar dengan altar Dewi kwan Im sebagai Altar utamanya. Di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang berusia hampir sama dengan bangunan vihara tersebut. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri terdapat patung dewa-dewa yang berjumlah 16 dan tiang batu yang berukir naga.

Kelenteng yang pernah terbakar pada tahun 2009 ini juga memiliki ukiran yang menceritakan bagaimana kejayaan Banten Lama saat masih menjadi kota pelabuhan yang ramai. Terletak di samping vihara, ukiran ini juga menceritakan bagaimana vihara ini digunakan sebagai tempat berlindung saat terjadi tsunami beserta letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Walaupun pernah mengalami musibah, bentuk dan isi yang ada di dalam vihara masih dijaga keasliannya oleh pihak pengelola. Bahkan bangunan vihara ini masih terlihat kokoh layaknya bangunan baru dengan warna merahnya yang khas.

3. Batu Qur’an

Batu Qur’an merupakan destinasi wisata religi yang ada di Pandeglang, Banten. Ini merupakan situs berbentuk kolam yang terdapat batu besar bertuliskan Al Qur’an. Batu tersebut konon menghalangi atau menutupi sumber air yang terus keluar dari dalam tanah. 

Meski demikian, jika seksama kamu perhatikan, tidak terpampang nyata tulisan tersebut di sisi batu. Konon, masyarakat percaya bahwa hanya mereka yang memiliki ilmu tinggilah yang mampu melihat tulisan Al Qur’an tersebut. 

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, lokasi objek wisata ini dulunya diyakini sebagai pijakan kaki Syekh Maulana Mansyur yang hendak berhaji ke tanah suci, Mekkah. Batu Qur’an banyak dikunjungi wisatawan yang juga ingin menikmati kesegaran serta kejernihan mata air yang keluar dari kolam. Biasanya mereka akan mandi atau berendam di kolam yang penuh dengan ketenangan ini. 

Pihak pengelola juga menyediakan wadah bagi pengunjung yang ingin membawa air sebagai oleh-oleh. Objek wisata ini juga menjadi tempat berwudhu karena di samping kolam terdapat masjid yang biasa digunakan untuk sembahyang. 

4. Masjid Agung Tanara

Masjid Agung Tanara adalah sebuah masjid yang terletak di Kampung Tanara, kecamatan Tanara, kabupaten Serang, Banten. Masjid ini merupakan peninggalan Raja Banten Pertama, yaitu Sultan Maulana Hasanuddin, yang memerintah kesultanan Banten tahun 1552 hingga 1570.

Umumnya, orang hanya menganggap bahwa masjid tersebut adalah peninggalan Shekh Nawawi, karena lokasinya berdampingan dengan rumah kelahirannya. Tokoh sufi itu hidup di Tanara saat wilayah Banten dijajah kolonial Belanda, yaitu antara tahun 1813 hingga 1897. Padahal, masjid tersebut merupakan peninggalan Raja Banten pertama, taitu Sultan Maulana Hasanuddin, yang memerintah Kesultanan Banten tahun 1552 hingga 1570. 

Masjid ini seakan luput dari perhatian ahli sejarah. Begitu pun dengan publik. Banyak media hanya mengupas sisi peninggalan Syekh Nawawi, namun luput mengupas sejarah masjid ini sebagai jejak dakwah Islam di tanah Banten.

Wisata Sejarah

Kawasan Banten Lama (Shutterstock).
Kawasan Banten Lama (Shutterstock).

Setelah membahas wisata religi dan alam, tak ayal jika belum menyelami sejarah Banten secara menyeluruh. Terlebih Banten terkenal akan kota lama nya yang kental akan sejarah. Nah berikut ini referensi wisata sejarah yang ada di Banten dan wajib dikunjungi. 

1. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk menurut laman Kemendikbud, terletak di kampung Pamarican sekitar 600 meter ke arah Barat Laut Keraton Surosowan, Situs Banten Lama. Benteng ini berdenah persegi panjang tidak simetris dan setiap sudutnya terdapat bastion. Benteng Speelwijk didirikan pada tahun 1682, mengalami perluasan pada tahun 1685 dan 1731. 

Benteng ini dirancang oleh Hendrick Lucaszoon Cardeel, adapun namanya diambil dari nama gubernur VOC, Cornelis Jansz Speelman. Benteng ini seakan menjadi simbol kekuasaan kolonial Belanda yang dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Abu Nasr Abdul Kahar, yang juga dikenal sebagai Sultan Haji. Sultan Haji adalah putra dari Sultan Ageng Tirtayasa yang mudah dibujuk Belanda, sangat berbeda dengan sang ayah yang sangat tegas dalam urusan politik.

Keadaan bangunan saat ini tidak utuh lagi, tapi beberapa sudut benteng ini meninggalkan bentuk bangunan yang masih bisa dinikmati dan diketahui fungsinya. Benteng ini diduga mempunyai dua fungsi, yakni sebagai pertahanan dan pemukiman. 

2. Keraton Surosowan

Selain benteng, Banten juga memiliki objek wisata sejarah lain yakni Keraton Surosowan. Merupakan sebuah keraton yang dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai pendiri dari Kesultanan Banten.

Selanjutnya pada masa penguasa Banten berikutnya bangunan keraton ini ditingkatkan bahkan konon juga melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna. Dinding pembatas setinggi 2 meter mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 hektare. 

Surosowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Sehingga pada masa jayanya Banten juga disebut dengan Kota Intan. Saat ini bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdesain persegi empat yang jumlahnya puluhan. 

3. Museum Kepurbakalaan Banten Lama

Berada di kawasan Banten Lama, di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Museum Situs Kepurbakalaan ini berjarak 12 km dari pusat Kota Serang. Jika kamu masuk ke area museum, bakal menemukan meriam Ki Amuk yang terbuat dari tembaga. 

Kamu juga akan melihat gerbang Keraton Surosowan di halaman depan museum ini. Masuk ke dalam, kamu akan melihat bangunan berupa gerabah berukuran besar. Walau terlihat usang, terdapat keretakan dimana-mana, peninggalan ini masih terlihat kokoh seolah menampilkan wujud kekuatan Kerajaan Banten Lama dulu kala. 

Wisata Budaya

Baduy Dalam (Shutterstock).
Baduy Dalam (Shutterstock).

Satu hal lagi yang perlu dipelajari saat wisata ke Banten, yakni budaya. Kamu pasti sudah sering mendengar kawasan Baduy yang hingga kini tetap terjaga keasliannya bukan? Nah berikut ini penjelasan singkat terkait desa tersebut. 

Desa Kanekes

Desa Kanekes atau yang sering dikenal dengan kawasan Baduy juga menjadi daya tarik wisata sendiri saat ini. Perlu perjuangan ekstra untuk sampai ke desa ini. Tapi pengalaman yang kamu dapat gak bakalan sia-sia kok. 

Disini kamu akan belajar bagaimana hidup sederhana, berserah pada alam dan jauh dari kata modern. Mengajarkanmu bahwa hidup gak melulu soal materi tetapi selalu mengingat Yang Maha Kuasa. Urang Kanekes, Orang Kanekes atau Orang Baduy/Badui merupakan kelompok masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. 

Populasi mereka sekitar 26.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam.

Itu tadi rekomendasi objek wisata Banten yang patut kamu kunjungi. Lokasinya gak jauh dari ibukota, yuk ke Banten pada akhir pekan mendatang. Selain bisa melihat keindahan alam, kamu juga bisa belajar sejarah dan budaya di kota ini. (Editor: Winda Destiana Putri).