Dimiliki Negara dan Chairul Tanjung, Seperti Apa Performa Saham Garuda?

Garuda Indonesia

Harga tiket pesawat akhir-akhir ini menjadi sorotan karena dinilai begitu mahal. Salah satu maskapai yang harga tiketnya dikeluhkan adalah Garuda Indonesia. Perusahaan maskapai penerbangan ini dituding menetapkan harga tiket terlalu tinggi.

Fenomena naiknya harga tiket pesawat ini bukan baru-baru ini terjadi. Melonjaknya harga tiket pesawat telah dimulai sejak pertengahan tahun 2018. Diketahui selain Garuda Indonesia, maskapai Lion juga menaikkan harga tiket pesawatnya.

Naiknya harga tiket pesawat, termasuk Garuda Indonesia, tentunya bukan tanpa alasan. Kementerian Perhubungan yang mengambil keputusan naiknya harga tiket beralasan adanya kenaikan ini bertujuan buat menciptakan persaingan antarmaskapai yang sehat.

Terus nih kabarnya kenaikan harga tiket pesawat ini juga punya maksud buat menyehatkan keuangan perusahaan. Lho, emangnya maskapai sebesar Garuda Indonesia merugi ya?

Faktanya nih Garuda Indonesia pernah gak mencetak profit pada tahun 2014 dan 2017. Sekalipun di tahun-tahun lainnya mendapat profit, perolehan profitnya terbilang kecil.

Terus gimana nih dengan performa saham Garuda Indonesia? Bagus gak ya? Buat menjawab pertanyaan tersebut, simak aja yuk ulasannya berikut ini.

1. Sejak pertama kali dilepas ke publik, harga saham Garuda cenderung di bawah harga IPO

Garuda Indonesia
Harga saham Garuda cenderung di bawah IPO (Instagram).

Garuda Indonesia resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Februari 2011. Dengan kode saham GIAA, harga per lembarnya saat itu Rp 750.

Alih-alih bakal melonjak, harga per lembar GIAA justru keseringan di bawah Rp 750 ketimbang di atasnya. Harga terendahnya pernah di angka Rp 202 per lembar pada 26 Oktober 2018.

Menariknya, harga per lembar GIAA naik menjelang akhir tahun 2018 dan terus menanjak memasuki tahun 2019. Harga sejauh ini berada di angka Rp 630 per lembar. Namun, itu gak berlangsung lama dan harga saham Garuda turun lagi.

2. Pendapatan cenderung naik, tapi jarang hasilkan profit besar

Garuda Indonesia
Jarang hasilkan keuntungan (Instagram).

Berdasarkan data yang dihimpun RTI Analytics, pendapatan atau revenue Garuda Indonesia cenderung naik meskipun gak tinggi-tinggi amat. Sejak 2012, BUMN penerbangan ini bisa mencetak revenue di atas Rp 31,6 triliun.

Pada 2018, Garuda berhasil membukukan revenue sekitar Rp 63,3 triliun. Namun, profit yang dicatatkannya kadang ada meskipun kecil, kadang gak ada alias minus.

Seperti yang udah diterangkan di atas, Garuda pernah gak mendapat profit sama sekali di tahun 2014 dan 2017. Tahun-tahun lainnya dapat profit walaupun gak memuaskan.

3. Saham GIAA masuk golongan saham blue chips

Garuda Indonesia
Sahamnya masuk ke golongan bluechip (Shutterstock).

Menurut kapitalisasi pasarnya, saham GIAA digolongkan sebagai saham lapis satu atau saham blue chips. Apa itu saham blue chips? Saham blue chips adalah saham yang punya kapitalisasi pasar lebih dari Rp 10 triliun.

Biasanya saham-saham blue chips direkomendasikan buat yang pengin investasi jangka panjang. Sebab saham blue chips disebut-sebut punya neraca dan arus kas yang kuat, model bisnis yang kuat, hingga pertumbuhan yang konsisten.

Walaupun begitu, kenyataannya nih saham Garuda Indonesia tampaknya gak menarik di mata para investor ritel atau perorangan. Saham GIAA sendiri di market terbilang aktif diperdagangkan alias likuid.

4. Kepemilikan saham Pemerintah Indonesia sekitar 60 persen

Garuda Indonesia
Kepemilikan saham pemerintah sekitar 60 persen (Instagram).

Karena Garuda Indonesia berstatus Badan Usaha Milik Negara alias BUMN, mayoritas sahamnya praktis dimiliki Pemerintah Indonesia. Tercatat, Pemerintah Indonesia menguasai lebih dari 15 juta lembar saham GIAA alias sekitar 60 persen.

Sementara sisanya dikuasai PT Trans Airways sekitar 6,6 juta lebih atau sekitar 25 persen. Sekitar 3,5 juta lebih atau sekitar lebih dari 13 persen dipegang publik.

Buat informasi aja nih, PT Trans Airways, pemegang 25 persen saham GIAA, merupakan salah satu unit bisnis dari PT Chairul Tanjung Corpora atau CT Corp. Dengan kata lain, orang terkaya di Indonesia Chairul Tanjung punya saham di Garuda Indonesia lho.

5. Pergerakan harga saham Garuda Indonesia cenderung uptrend atau naik

Garuda Indonesia
Pergerakan saham uptrend (Instagram).

Dengan melakukan analisis teknikal dengan indikator moving average, harga saham GIAA cenderung bergerak naik atau uptrend selama 100 hari ke depan.

Namun, harganya 50 hari ke depan kurang begitu menarik. Itu berarti lebih baik saham ini dipegang lebih dari 50 hari ke depan. Sebab kalau beli sekarang lalu menjual pada waktu yang belum genap 50 hari, kemungkinan kamu bakal mengalami kerugian.

Walaupun begitu, apa yang digambarkan indikator moving average gak bisa dianggap sebagai kepastian. Sampai saat ini belum ada yang bisa prediksi akurat 100 persen naik atau turunnya harga saham. Jadi, kamu perlu melihat fundamentalnya buat ambil keputusan yang tepat.

Nah, itu tadi fakta-fakta dari saham Garuda Indonesia dan sejauh mana performanya. Gimana? Apakah kamu berminat buat memiliki saham GIAA sebagai pilihan investasi masa depan? (Editor: Winda Destiana Putri).

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →