Udah Punya Investasi Rumah, Mending Dijual atau Dikontrakkan ya?

rumah dengan mobil vw beetle di depannya

Investasi rumah adalah pilihan yang paling menggiurkan buat kamu yang pengin dapat untung. Bagaimana tidak, harga rumah aja setiap tahunnya selalu naik dan kebutuhan manusia akan tempat tinggal bakalan selalu ada. 

Hanya saja, untuk berinvestasi di properti ini kamu harus memiliki banyak modal. Harga rumah sekarang mulai dari Rp 350 jutaan, itu pun yang tipe paling kecil dan lokasinya di kota-kota satelit Jakarta seperti Bekasi, Bogor, dan Depok.

Terus kalau sudah punya rumah, bingung deh mau berinvestasi seperti apa? Apakah mau dijual langsung? Atau dikontrakkan per tahunnya? Daripada rumah didiamkan saja kosong dan berdebu, mending dimanfaatkan menjadi sumber pendapatan pasif kan? 

Investasi rumah dengan menjualnya langsung

rumah besar tampak depan
Bagaimana kalau dijual langsung? (Pixabay)

Kamu bisa mendapatkan keuntungan yang menggiurkan dari bisnis jual rumah. Setiap tahunnya harga pasaran rumah selalu naik, apalagi kalau lokasi rumah berada di kawasan yang strategis, misalnya dekat dengan pintu tol. 

Media untuk menjualnya bisa lewat media sosial, atau melalui broker properti. Kalau lewat media sosial, tinggal upload foto setiap sudut rumah, lalu menunggu pembeli menghubungimu. 

Sementara lewat broker properti, semuanya bakal diurus oleh broker, termasuk pemasarannya. Jadi kamu tinggal duduk manis, biar mereka yang bekerja. Tapi, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 51/M/DAG/PER/7/2017, ada uang fee yang harus kamu bayarkan ke mereka sebesar 2-5 persen nilai penjualan. 

Keuntungannya menjual rumah

1. Kamu bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar

Ketika kamu memutuskan untuk langsung menjual rumah ketimbang mengontrakkannya dahulu, artinya kamu berpotensi untuk mendapatkan uang segar dalam jumlah besar. Otomatis bisa langsung menggendutkan rekeningmu.

2. Gak perlu repot-repot lagi mengurus banyak rumah

Memiliki satu hunian memang ribet, karena meskipun gak kamu tempatin kamu harus membayar tarif daftar listriknya, kemudian membersihkannya dari debu dan ilalang-ilalang, dan tentunya memakan banyak waktu. Seandainya kamu jual, berarti turut mengurangi beban kerjaan kamu. 

3. Uangnya bisa digunakan untuk berinvestasi lagi 

Uang besar yang dihasilkan dari rumah itu bisa kamu gunakan untuk modal berinvestasi lagi, misalnya untuk modal membuka usaha, atau membeli rumah lain lagi untuk dijual kembali.  

Dikontrakkan untuk memenuhi segala kebutuhan bulanan 

interior rumah
Seberapa untung kalau dikontrakkan? (Pixabay)

Mengontrakkan rumah adalah hal yang biasa di Indonesia. Hal ini bisa jadi sangat menguntungkan, apalagi kalau punya banyak kontrakan. 

Mengontrakkan rumah bisa menjadi bentuk diversifikasi pendapatan kamu. Kemudian bisa dijadikan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan membayar segala pengeluaran wajib. Jadi dengan uang kontrakan, kamu gak perlu lagi deh ngutak-ngatik tabungan atau penghasilan bulanan.

Untuk mendapatkan pengontrak, kamu juga bisa menggunakan jasa agen properti. Mereka nanti akan mencarikan kamu pengontrak potensial. Tapi, kamu harus siap-siap memberikan fee sebesar 5-8 persen dari nilai sewa berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan. 

Pertimbangkan hal ini untuk menentukan biaya sewa 

Tujuan utama mengontrakkan rumah itu tentu saja untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Harapannya sih gak cuma sebagai tambahan, tapi juga mampu digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok bulanan. Oleh sebab itu, berikut ini hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk menetapkan harga sewa rumah kamu. 

1. Biaya hidup keluarga kamu bulanan 

Langkah pertama adalah, paling tidak kamu harus menghitung berapa pengeluaran pokok keluargamu per bulannya. Kamu bisa melihat standar biaya hidup itu dari hasil sensus Badan Pusat Statistik. 

Bila kamu berdomisili di Jakarta dan kebetulan rumah yang ingin kamu kontrakkan juga berada di Jakarta, berarti kamu harus mempertimbangkan biaya hidup pokok di Ibu Kota. BPS mengungkapkan per kepala untuk kebutuhan makan per bulannya Rp 847.847. Tinggal kalikan aja deh ada berapa kepala di keluarga kamu. 

2. Biaya pengeluaran lain-lain di rumah yang kamu tinggalkan 

Selain biaya pokok, kamu harus memasukkan biaya pengeluaran rutin bulanan ke dalam penetapan tarif harga sewa. Biaya lain-lain ini bisa meliputi listrik, internet, biaya air, telepon, uang kebersihan dan-lain-lain. Biasanya sih biaya lain-lain ini sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,5 jutaan untuk satu rumah sederhana. 

3. Utang 

Jangan lupa pikirkan juga utangmu, biar nantinya kamu gak perlu lagi ngerogoh uang tabungan untuk membayar utang.

4. Asuransi

Sekalian deh sama asuransi bulanan, biar seluruh pengeluaranmu full ditanggung dari uang kontrakan. Misalnya kamu punya asuransi kesehatan, jiwa, atau BPJS kesehatan, masukkan saja ke dalam list pertimbangan dalam menentukan sewa kontrakan. 

Selain empat hal itu, jika masih memungkinkan kamu juga harus mempertimbangkan tabungan untuk masa depan. Misalnya kamu ingin menabung setiap bulannya Rp 500.000, kamu bisa menaikkan biaya sewanya Rp 500.000.

Ketika si penyewa membayarnya uang kontrakkan, langsung deh uang Rp 500.000 itu kamu pindahkan ke rekening tabungan untuk hari tua. 

Kalau ditotal-total dari keempat indikator ini, mungkin harganya bisa terlalu mahal atau bisa terlalu murah. Untuk itu, kamu juga perlu mempertimbangkan harga pasaran sewa di daerah rumah tersebut. Misalnya rumah di Jakarta Selatan dengan luas bangunan kurang dari 100 meter persegi, harga sewa per tahunnya rata-rata di atas Rp 50 juta. 

Keuntungan mengontrakkan rumah

1. Harga sewa rumah berpotensi meningkat setiap tahunnya

Gak cuma harga rumahnya aja yang meningkat, tarif sewa kontrakkan di pasaran juga biasanya meningkat setiap tahunnya. Kenaikan ini tapi bergantung pada perkembangan daerah sekitar kontrakan, inflasi, dan kondisi rumah itu sendiri. 

2. Masih banyak yang mencari rumah sewaan

Harga rumah yang terus meningkat setiap tahunnya, membuat sebagian orang juga semakin sulit untuk mendapatkannya. Alhasil sebagai alternatif atas pemenuhan akan kebutuhan tempat tinggal, mereka lebih memilih untuk mengontrak. 

Orang dengan kondisi seperti itu gak sedikit, jadi kamu jangan khawatir untuk kehilangan peminat, apalagi kalau lokasi rumah kontrakan itu strategis.

3. Gak perlu memusingkan biaya perawatan, karena bisa dibebankan ke pihak yang mengontrak

Keistimewaan lainnya adalah, kamu tidak perlu memusingkan biaya bulanannya. Misal kayak biaya listrik dan lain-lain kan sudah dibebankan ke penyewa, karena mereka yang menggunakan rumah tersebut. Jadi kamu tinggal terima duit aja deh.

4. Bisa dijual saat butuh uang

Selain kamu kontrakkan, kamu juga bisa menjualnya di masa yang akan datang, apalagi kalau kamu sedang butuh uang. Artinya kamu sudah menikmati uang bulanan dari sewa kontrakan ditambah mendapatkan uang segar dalam jumlah banyak dari hasil penjualan rumah. 

Jadi kalau investasi rumah, mending untuk dijual atau dikontrakkan? 

rumah dengan rerumputan di sekitarnya
Lebih baik dijual atau dikontrakkan? (Pixabay)

Apabila kamu masih aktif bekerja dan memiliki tanggungan, lebih baik untuk menyewakan rumahmu saja. Karena itu tadi, uang sewa yang didapat bisa kamu pergunakan untuk memenuhi kebutuhan bulanan tanpa mengutak-atik pendapatan per bulan. Lumayan kan bisa buat bantu-bantu mempersiapkan tabungan di hari tua. 

Kamu juga bisa menjualnya di masa depan dan otomatis harganya sudah naik berkali-kali lipat. Jadi rumah tersebut memberikan kamu pemasukan dari zaman kamu masih produktif sampai kamu sudah tidak produktif lagi. 

Sementara kalau kamu memilih menjual rumah, kamu memang dapat uang banyak dalam waktu yang singkat, tetapi sangat berisiko uang tersebut habis dalam sekejap kalau tidak bijak menggunakannya. 

Oleh sebabnya, kalau kamu punya rumah kosong yang nganggur, lebih baik investasi rumah dengan mengontrakkannya dahulu untuk beberapa tahun ke depan. (Editor: Ruben Setiawan)