Dilanda Wabah Corona, Investasi Properti Masih Aman Gak Sih?

Investasi Properti

Berkembangnya penyebaran virus corona atau yang dikenal dengan nama Covid-19 mulai memberikan dampak lain disamping kesehatan dan kehidupan manusia. Kini berbagai negara termasuk Indonesia tengah berjuang menghadapi sebaran virus ini agar tidak semakin menjadi-jadi dan memberikan ancaman bagi warga negaranya.

Gak cuma itu, kekhawatiran juga tengah menghantui kondisi perkembangan ekonomi, industri, dan juga sektor pariwisata di berbagai belahan dunia. Bahkan, banyak negara yang melakukan penghentian sementara kunjungan turis asing dari negara-negara yang positif terjangkit virus Covid-19. Termasuk dengan kerajaan Arab Saudi yang menghentikan sementara aktivitas kunjungan ibadah umrah.

Dari sisi ekonomi, pelemahan bursa saham di berbagai negara akibat sentimen virus ini juga terus menghantui pasar saham global.

Investasi Properti?

Investasi properti (Shutterstock).
Investasi properti (Shutterstock).

Untuk investasi properti, Colliers International memprediksi, adanya sebaran virus ini akan membuat pola investasi properti akan berubah tertekan.

“Virus corona akan menghantam pertumbuhan PDB di seluruh Asia pada paruh awal 2020, dan hasilnya bakal bisa menghambat tingkat penjualan investasi properti,” kata Direktur Eksekutif Riset Colliers International Asia, Andrew Haskins.

Sebab, saat ini banyak daerah maupun negara yang mulai menerbitkan larangan untuk bepergian hingga membatalkan izin keramaian, dan hal ini akan berdampak pada berkurangnya minat pasar dalam melakukan penyewaan ruang properti.

“Kesempatan berinvestasi properti antara lain di perkantoran dan kawasan industri di Asia dan

Australia. Tekanan ekonomi yang diciptakan oleh virus corona, termasuk dengan banyaknya ajang yang dibatalkan, larangan bepergian dan kondisi yang memaksa untuk bekerja di rumah, dapat menyebabkan berkurangnya aktivitas penyewaan ruang perkantoran,” paparnya.

Jangan Asal Investasi Properti

Investasi properti (Shutterstock).
Investasi properti (Shutterstock).

Di tengah ketidakpastian ekonomi global seperti saat ini dan adanya sentimen negatif virus corona, sebaiknya tidak asal menginvestasikan dana untuk properti.

Meskipun tidak secara langsung terdampak virus, akan tetapi ada beberapa hal yang perlu dipahami dengan baik sebelum berinvestasi properti agar tidak mengalami kerugian.

Adapun, properti yang dijadikan instrumen investasi adalah properti yang khusus dibeli dengan tujuan mendapatkan pengembalian investasi baik melalui pendapatan sewa, penjualan kembali properti tersebut di masa depan, atau keduanya. Kepemilikan properti dapat dipegang oleh investor baik individu, sekelompok investor, atau korporasi.

Perlu Banyak Uang

Mata uang rupiah
Uang gaji yang diterima setiap orang beda-beda (Shutterstock).

Dalam berinvestasi properti pastinya memerlukan banyak uang untuk membelinya, sebab jika hanya menggunakan skema cicilan dalam membeli properti tersebut, maka butuh waktu yang lebih lama lagi untuk melunasinya.

Bahkan, harga properti juga setiap tahun mengalami kenaikan akibat dari semakin menipisnya jumlah tanah dan bangunan, kemudian meningkatnya jumlah penduduk.

Perputaran Uang Investasi Properti Lambat

Bukan cuma perlu uang banyak, dalam investasi properti juga memiliki kelemahan berupa investasi yang tidak likuid atau menghabiskan waktu yang relatif lama dalam transaksi jual beli.

Berbeda dengan instrumen investasi lainnya seperti emas dan saham, investasi properti sangat sulit diuangkan jika dalam kebutuhan yang mendesak.

Perlu Biaya Perawatan

Selain itu, investasi properti juga membutuhkan biaya perawatan properti itu sendiri, sebab jika tidak terawat atau rusak bisa menyebabkan kerugian karena nilai jualnya akan terus menurun.

Kemudian, jika properti tidak dalam kondisi yang sehat atau terawat, maka tidak akan ada pihak yang ingin menyewa, padahal ini bisa menjadi lahan mendapatkan pasif income dari properti tersebut.

Pertimbangkan dengan Matang

Jadi, intinya adalah sebelum memutuskan investasi properti sebaiknya lakukan pertimbangan dengan matang, mulai dari lokasinya, ukurannya, harganya, hingga berbagai fasilitas dan legalitasnya. Dengan pertimbangan yang matang dan cermat, maka bisa menghindarkan investor dari kerugian.

Jenis-jenis Investasi Properti

Sementara itu, dari sisi jenis, investasi properti ini sebetulnya masuk kedalam beberapa pilihan berdasarkan dengan sifat atau fungsi bangunannya, apakah itu hunian, komersial, hingga campuran.

Contoh properti sebagai hunian adalah rumah dan apartemen, properti komersial misalnya seperti toko, kios, mal, hotel, kantor, restoran, dan properti campuran contohnya adalah ruko dan rukan.

1. Tanah

Membeli tanah atau lahan kosong juga bisa menjadi salah satu instrumen investasi yang dimiliki, dengan memiliki tanah bisa digunakan untuk mendirikan bangunan, hingga untuk lahan berbisnis.

Untuk lahan berbisnis, tanah yang dimiliki bisa dijadikan perkebunan, hingga lahan parkir berbayar, maupun dibangun ruko untuk disewakan. Akan tetapi sebelum investasi ini sebaiknya ketahui dulu lebih jelas terkait legalitas tanah tersebut, apakah memiliki sertifikat atau tidak.

2. Rumah

Untuk investasi properti juga bisa dalam berbentuk rumah, selain dapat disewakan, rumah ini juga sebagai hunian atau tempat tinggal. Jika bangunan rumah memiliki luas yang besar dan jumlah lantai lebih dari satu juga bisa dijadikan sarana usaha yakni penginapan low budget atau kos-kosan, apalagi jika lokasinya dekat dengan pusat pendidikan atau perkantoran.

3. Apartemen

Semakin terbatasnya ketersediaan lahan di perkotaan, membuat banyak pengembang perumahan membuat juga perumahan vertikal atau apartemen untuk generasi muda yang menginginkan hunian lengkap dengan segala fasilitasnya seperti sarana olahraga, kesehatan, hingga sarana pendidikan. Nah apartemen ini juga bisa menjadi salah satu instrumen investasi properti yang menjadi pilihan.

4. Ruko

Bukan cuma hunian tempat tinggal, investasi properti juga bisa berupa ruko atau kios bisnis. Apalagi jika lokasinya strategis, pasti akan jadi incaran para pelaku bisnis yang ingin membuka usaha sebagai toko, kafe, atau kantor. Akan tetapi persaingan penyewaan lahan bisnis ini semakin ketat seiring dengan banyaknya pengembang perumahan yang membangun ruko bisnis di berbagai lokasi strategis. (Editor: Winda Destiana Putri)