Mimpi Besar dan Kekuatan Receh Yusuf Mansur

Yusuf Mansur

Gak banyak yang tahu kalau Jam’an Nurkhatib Mansur atau yang lebih dikenal dengan Ustadz Yusuf Mansur sejak kecil sudah punya mimpi untuk menjadi pengusaha. Cita-citanya ingin (masyarakat) Indonesia menjadi Tuan di negerinya sendiri.

Dirinya mau Indonesia gak takut menghadapi pemain (pebisnis) luar negeri dan pemodal gede (besar). “Saya ingin mengubah DNA kita menjadi investor (pemodal), jangan hanya jadi destinasi investasi terus,” ungkap Yusuf Mansur kepada MoneySmart.id.

Filosofinya sebagai pengusaha pun gak bisa dianggap remeh. Ingin membeli, bukan dibeli, dan itu pengakuan yang ingin dikejarnya. Gak berhenti sampai disitu, lulusan Fakultas Hukum IAIN Syarif Hidayatullah tersebut juga ingin membuktikan kekuatan recehan (crowd funding) yang begitu hebat.

Kumpulkan Kekuatan Receh Lewat Paytren

Lewat merek bisnisnya Paytren, Ia optimis kekuatan recehan apabila dikumpulkan akan menjadi super giant. Saat ini yang downloader aplikasi Paytren telah mencapai 2,5 juta. Sementara active user sebanyak 1,8 juta orang, dan pada akhir 2019 ditargetkan mencapai 10 juta pengguna.

Paytren sendiri kini telah memiliki dua unit bisnis, yakni payment gateway, dan investasi masing-masing lewat brand Paytren dan Paytren Asset Management. Kedepan pihaknya tengah memproses bisnis modal ventura, dan masuk ke asuransi, perbankan serta koperasi.

“Dalam waktu dekat kami akan meng-QRkan 1.200 mesjid dan mushola di kota Tangerang. Kalau 1 mesjid Rp 1 juta setiap Jumatan, coba hitung kalau 1 juta mesjid, Rp 1 triliun. 1 tahun ada 52 jumat, maka Rp 52 triliun satu tahun. Harus kita ingat juga dalam 1 tahun ada 4 jumat yang super sale di bulan Ramadhan. Senin sampai Minggu itu rasanya seperti jumat. Bearti berapa? Rp 100 triliun kita dapat setahun,” ujarnya.

Jika kompetitor menawarkan cash back sebagai bagian dari promosinya, Paytren mengaku akan menawarkan saham sebagai sweetenernya. Mereka ingin mewujudkan mimpi konsumen dengan membeli pulsa tapi bisa dapat saham perusahaan telekomunikasi, atau pesan kamar hotel bisa punya pesawat.

Sasar 60 Juta Kelas Menengah Indonesia

“Saya inginnya bisa melayani seluruh middle class Indonesia yang jumlahnya 60 juta orang. Saya sudah senang membayangkan bila mereka bersatu termasuk di Paytren. Jangan anggap Paytren punya saya. Kenapa saya mati-matian mempertahankan 100 persen? Kalau saya ingin jadi jadi pengkhianat bangsa saya jual aja udah triliun.

Apalagi ada yang udah nawar (Paytren) Rp 4 triliun. Kalau sudah live nih di 5 kota sama 1-2 propinsi Rp 10 triliun harganya,” jelas Yusuf Mansur.

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Qur’an ini menungkapkan jika mempertahankan kepemilikan penuhnya di Paytren semata untuk alat perjuangan. Asumsinya, jika seluruh middle class Indonesia menggunakan Paytren, maka uang yang dihasilkan bisa mencapai Rp 300 triliun per bulan. Bahkan bisa mencapai Rp 3.600 triliun per tahun (asumsi per orang mengalokasikan Rp 5 juta per bulan dikalikan 60 juta orang).

Mengenal bisnis dari orang tua dan keluarga besarnya, pencetus Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA) ini mengatakan jika ingin sukses berusaha kita harus ciptakan keramaian. Selain itu kita juga harus buat event atau activities untuk menggerakkannya.

Tips tersebut Ia dapat dari pengalaman keluargaya yang menyelenggarakan pengajian dirumah dan diikuti ratusan orang. Meski yang ikut mengaji tidak dipungut biaya sama sekali, namun keluarganya menawarkan tahu dan tempe goreng untuk dibeli walaupun tidak memaksa.

Dari sanalah kemampuan bisnisnya semakin terasah, hingga saat ini. Ide, program dan kepercayaan menurutnya menjadi tiga kunci utama yang tidak dapat dipisahkan. Yusuf Mansur juga gak memandang uang sebagai yang utama.

Manchester United dan Barcelona Murah

Hal itu pula yang Ia terapkan ketika langkah bersejarah Paytren mendanai klub sepak bola asal Polandia, Lechia Gdansk. “Rasanya belum ada brand Indonesia yang mejeng di jersey klub bola Eropa. Itu yang saya lakukan di Lechia Gdansk. Bukan hanya di jersey, tapi juga dilapangan selama 90 menit dan dilihat masyarakat Eropa,” lanjutnya.

Gak hanya menyasar klub sepak bola, Yusuf Mansur juga menjual konsep bagaimana masyarakat Indonesia bisa punya properti di Polandia. Lebih dari itu, Paytren juga berambisi bisa masuk jadi alat bayarnya masyarakat Eropa.

Lewat Duta Besar Indonesia untuk Polandia, pengusaha-pengusaha Polandia hingga pimpinan-pimpinan Polandia dirinya mengaku bisa masuk kesana. Gak hanya itu, Paytren juga bekerja sama dan masuk (Polandia) melalui sebuah perusahaan Jerman yang juga telah menjadi sponsor Lechia Gdanks, yakni Cashback.

Yusuf Mansur berharap sistem dan teknologi Paytren akan siap pada Juni 2019. Ketika sudah siap perusahaannya akan menjadi motor transaksi masyarakat Indonesia ke eropa dan Eropa ke Tanah Air.

“Lumayan kan. Saya berangkat kesana dengan ide, program dan kepercayaan. Bahwa ada duit yang akan dieksekusi itu masalah lain. Lechia murah, karena pada dasarnya Paytren hanya harus membayar Rp 42 miliar atau Rp 2,5 juta euro. Nggak ada yang mahal, kenapa? Karena kita pakai teori crowdfunding investment.

Masa sih kecil, kecil bos. Bilangan pembaginya 1 juta orang, dan ketika bilangan pembaginya 1 juta orang cuma Rp 42 ribu seorang,” tegasnya.

Dirinya juga berani ngomong  jangankan Lechia Gdanks, Manchester United (MU), AC Milan, Inter Milan, bahkan Barcelona pun terlihan murah dengan skema bisnis yang Ia kembangkan.

Marketplace Asuransi #1 di Indonesia

Cari Asuransi Terbaik Sesuai Anggaranmu

  • Bandingkan > 100 polis asuransi
  • Konsultasi & bantuan klaim gratis