Zakat Penghasilan dan Cara Penghitungannya

Zakat penghasilan

Zakat penghasilan adalah salah satu jenis zakat mal atau zakat harta. Jenis zakat ini dapat dikeluarkan setiap bulan atau setiap tahun sesuai nisabnya.

Tak sedikit orang masih belum mengetahui mengenai zakat profesi atau zakat penghasilan. Padahal, zakat penghasilan wajib dikeluarkan kaum muslim yang telah bekerja atau memiliki pendapatan.

Jadi, apapun profesi yang kamu jalani selagi menghasilkan uang atau penghasilan, kamu sudah termasuk ke dalam golongan orang yang wajib menunaikan zakat.

Contoh profesi yang dimaksud adalah dokter, tentara, pilot, penulis, blogger, pejabat, pegawai negeri, pegawai swasta, konsultan, dosen, advokat, pengacara, seniman, pekerja lepas, bahkan badan atau lembaga yang menghasilkan keuntungan atau pendapatan.

Tapi, sebelum membahas lebih lanjut mengenai zakat penghasilan, yuk ketahui dulu apa sih zakat itu, dan apa saja jenis-jenis zakat yang wajib dibayarkan umat Islam.

Zakat adalah

Zakat adalah salah satu rukun Islam keempat di mana bermakna sebagai pembersihan atau penyucian harta. 

Berbeda dengan makna pajak dan sumbangan sukarela, zakat adalah kewajiban bagi seluruh muslim di belahan dunia.

Setiap orang wajib membayar zakat sekali setahun sebesar 2,5 persen dari harta dan kekayaannya yang sudah melampaui takaran minimal, dan sudah dimiliki selama satu tahun atau disebut nisab.

Secara umum, ada dua zakat yang wajib ditunaikan. Yaitu, zakat fitrah dan zakat mal. Tetapi, jika berbicara zakat mal atau zakat harta bisa dibagi lagi ke dalam zakat penghasilan dan zakat profesi.

Pengertian zakat penghasilan

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, zakat penghasilan atau yang disebut dengan zakat profesi merupakan zakat yang dikeluarkan dari penghasilan atau profesi yang dijalankan. 

Zakat penghasilan adalah salah satu jenis zakat mal atau zakat harta. Jenis zakat ini dapat dikeluarkan setiap bulan atau setiap tahun sesuai nisabnya.

Makna dari zakat penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau pendapatan hasil profesi yang tidak melanggar ketentuan syariat. 

Dengan kata lain, pendapatan yang diterima haruslah halal untuk bisa dikeluarkan sebagai zakat.

Syarat seseorang wajib membayar zakat penghasilan

Masih terdapat perbedaan pendapat antara para ulama tentang hukum zakat penghasilan. Namun, sebagian ulama berpendapat, zakat penghasilan wajib dikeluarkan bila sudah mencapai nisab atau batas minimum wajib sebagai prasyarat mengeluarkan zakat.

Seperti dilansir dari website Dompet Dhuafa, syarat seseorang wajib membayar zakat penghasilan adalah ketika nominal gaji yang mereka peroleh telah melewatkan nisab. Nisab itu setara dengan 653 kilogram gabah kering giling atau 522 kilogram beras.

Kalau dihitung dan disesuaikan dengan pasar di Indonesia, harga beras per kilogramnya untuk kualitas yang baik sekitar Rp 10.000. Berarti, nisab kalau dirupiahkan menjadi Rp 5.220.000. 

Nah, sekarang lihat gaji kamu deh, kalau sudah melewati besaran itu berarti kamu wajib untuk membayar zakat profesi.

Selain itu, nisab zakat dan penghasilan juga setara dengan nisab emas sebesar 85 gram dalam setahun. Agar lebih mempermudah penghitungannya, maka bisa lihat simulasi berikut. 

Harga emas saat ini Rp 842.000
Nisab gaji setahun Rp 842.000 X 85 gram Rp 71.570.000‬
Nisab gaji sebulan Rp 71.570.000 / 12 bulan Rp 5.964.000

Dari penghitungan di atas bisa disimpulkan, nisab zakat profesi wajib dikeluarkan apabila seseorang menerima gaji per bulan minimal sebesar Rp 5.220.000. Zakat ini bisa dikeluarkan setiap bulan atau setahun sekali.

Bagaimana cara menghitung zakat profesi atau zakat penghasilan?

Penghitungannya sangat mudah. Yaitu, dengan mengalikan pendapatan yang sudah mencapai nisabnya kemudian dikalikan 2,5 persen. 

Mengenai teori pengenaannya pun ada dua pendapat. Yaitu, bisa dihitung berdasarkan pendapatan kotor dan pendapatan bersih per bulan. 

Berdasarkan pendapatan kotor

Sebagai contoh, kamu mendapatkan gaji kotor (bruto) sebesar Rp 10 juta per bulan. Jadi, zakat profesi yang harus dikeluarkan adalah Rp 10 juta x 2,5 persen = Rp 250 ribu per bulan.

Gaji per bulan Zakat penghasilan Total
Rp 10.000.000 2,5 persen Rp 250.000

Berdasarkan pendapatan bersih

Untuk mendapatkan pendapatan bersih, maka pendapatan kotor kamu yang sebesar Rp 10 juta akan dikurangi terlebih dahulu dengan suatu pengeluaran.

Misalnya dalam hal ini adalah ongkos transportasi harian, dan makan. Katakanlah sebesar Rp 2 juta sehingga pendapatan bersih kamu adalah Rp 10 juta – Rp 2 juta = Rp 8 juta. 

Berikut, penghitungan uang zakat yang harus kamu keluarkan:

Gaji per bulan Rp 10.000.000
Ongkos per bulan Rp 2.000.000
Pendapatan bersih Rp 8.000.000
Zakat penghasilan (2,5 persen) Rp 200.000

Maka, jika dihitung berdasarkan pendapatan bersih menjadi Rp 8 juta x 2,5 persen yaitu Rp 200 ribu. 

Artinya, zakat profesi yang wajib dikeluarkan dari pendapatan bersih kamu adalah sebesar Rp 200 ribu per bulan.

Tetapi, apabila setelah dikurangi biaya operasional ternyata tidak memenuhi batas nisabnya, maka pendapatan kamu tidak wajib dikenakan zakat atau tidak perlu mengeluarkan zakat.

Misalnya, gaji kamu sebesar Rp 5 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya operasional sebesar Rp 1,5 juta, pendapatan bersih kamu menjadi Rp 3,5 juta. Sementara itu, nisab yang digunakan adalah Rp 5.220.000. 

Artinya, pendapatan kamu tidak memenuhi syarat atau tidak mencapai nisabnya. Sehingga tidak perlu mengeluarkan zakat profesi berdasarkan hitungan tersebut.

Akan tetapi, beberapa ulama berpendapat, sebaiknya dikeluarkan berdasarkan penghitungan pendapatan kotor dan bukan berdasarkan pendapatan bersih. Pasalnya, dikhawatirkan terdapat hak-hak mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) di dalamnya. 

Dengan begitu, harta halal yang didapatkan menjadi lebih berkah karena bisa dimanfaatkan untuk membantu orang lain yang berhak menerima zakat.

Bisa dibayarkan setiap bulan atau setiap tahun

Zakat profesi atau zakat penghasilan ini bisa dibayarkan dengan dua waktu. Setiap bulan atau saat baru menerima gaji, atau bisa diakumulasikan dan dibayarkan setahun sekali.

Namun, ada baiknya dibayarkan sesegera mungkin setelah mendapatkan gaji. Kalau nunggu setahun, dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang bikin kamu gak sempat membayar sama sekali.

Manfaat bayar zakat untuk keuangan

Mengeluarkan zakat penghasilan memang diwajibkan bagi umat Islam. Tapi, tahukah kamu rutin membayar zakat setiap bulan ternyata juga bermanfaat untuk keuangan kamu? Salah satunya adalah, pajak penghasilan. Kok bisa?

Menurut Pasal 9 UU Nomor 36 Tahun 2008, salah satu manfaat bayar zakat adalah bisa menjadi pengurang pajak bila dibayarkan ke badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk pemerintah.

Di Indonesia, ada Baznas alias Badan Amil Zakat Nasional. Jadi, kalau bayar zakat ke Baznas, bisa lampirkan keterangan itu di laporan pajak.

Jumlah zakat yang dibayarkan harus ditulis pada kolom penghasilan bruto. Selain itu, mesti ada bukti setor zakat sebagai tanda memang ada zakat yang dibayarkan ke Baznas.

Di mana membayarnya?

Sama seperti zakat-zakat lainnya, membayar zakat profesi dilakukan di lembaga penyalur zakat terpercaya. 

Kamu bisa melalui lembaga zakat milik pemerintah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), atau lembaga yang lainnya seperti Lazismu milik organisasi Muhammadiyah, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan masih banyak lagi.

Kini, metode pembayaran juga semakin praktis. Banyak lembaga penyalur zakat sudah menyediakan layanan bayar secara online.

Contoh lembaga yang menyediakan layanan ini ada BAZNAS, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan Kitabisa.com.

Caranya pun mudah, tinggal masukkan gaji kamu maka nanti akan tertera berapa besaran zakat yang harus dibayarkan. Pembayarannya bisa melalui transfer atau mobile banking.

Nah, itu dia ulasan singkat zakat penghasilan atau zakat profesi yang wajib kamu keluarkan setiap bulannya. 

Zakat ini pada dasarnya merupakan ijtihad para ulama masa kini sehingga kemungkinan besar akan ada perbedaan perihal hukum maupun penetapan nisabnya. 

Akan tetapi, melihat esensi pentingnya zakat sebagai salah satu jalan untuk mensucikan harta dan menolong kaum dhuafa, maka tidak ada salahnya jika setiap bulan sekali kamu menyisihkan zakat dari pendapatan kotor yang diperoleh setiap bulan tanpa perlu menguranginya dengan kebutuhan dan utang.

Cari tahu juga macam-macam zakat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas mengenai pemenuhan zakat di Lifepal. (Penulis: Dewi Puri)