Terjawab

Apa perbedaan KPR syariah dan konvensional? Mana yang lebih baik diambil?

Oleh : Jati Ratimaya
Oktober 20, 2020

Jawaban

Roswitha Jassin, SE, MBA, CFP
Financial Educator, Lifestyle Blogger, Founder, Entrepreneur, Pembicara dan Pemateri.
0 Komentar

Akad

Pada KPR konvensional, debitur membayar pinjaman yang sesuai harga rumah, ditambah dengan bunga KPR, serta biaya lainnya. Pada prinsip syariat ISLAM, tidak diperbolehkan menerima manfaat apapun dari transaksi perjanjian pinjam-meminjam. Tambahan yang ada dari transaksi pinjam-meminjam disebut dengan Riba Qardh. Maka, KPR Konvensional hukumnya tidak halal karena mengandung unsur Riba Qardh.

Pada KPR syariah menggunakan akad murabahah yaitu perjanjian jual beli, di mana bank syariah akan membeli rumah yang nasabah inginkan terlebih dahulu. Kemudian menjualnya kepada nasabah dengan harga yang sudah dinaikkan dari harga sebelumnya. Kemudian nasabah akan membayar dengan cara mengangsur. Bank tidak mengenakan bunga (tambahan dari pinjaman). Bank tetap mengambil keuntungan dari harga penjualan rumah yang sudah disepakati bersama. Maka karena itu transaksi dengan jual beli dalam hal ini hukumnya halal.

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Al-Baqarah: 275

Besar cicilan di KPR Syariah tidak berubah sampai jangka waktu atau tenor selesai pada skema KPR syariah, karena sudah ditetapkan sejak awal.

Bunga

Pada umumnya KPR konvensional akan menerapkan suku bunga berjalan bagi nasabahnya. Jadi, sifatnya tidak tetap. Fluktuatif mengikuti perkembangan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Misalnya, 2 tahun pertama, tingkat bunga KPR konvensional ditetapkan 7%. Berikutnya suku bunga mengambang (floating) sebesar 10% atau menyesuaikan suku bunga acuan BI atas pembayaran cicilan per bulan. Maka dari itu, besaran angsuran KPR tidak selalu sama nominalnya.

Sedangkan KPR syariah tidak menerapkan sistem bunga (tambahan) dari adanya transaksi pinjam meminjam. Bank syariah mengambil keuntungan dari penjualan rumah melalui harga jual beli. Besaran cicilan KPR-nya pun tetap sampai akhir jangka waktu pembayaran angsuran.

Denda Keterlambatan

Keterlambatan pembayaran cicilan akan dikenakan sanksi oleh pihak bank. Pada umumnya, bank konvensional akan menerapkan denda atas keterlambatan ini. Besarannya tergantung kebijakan bank tersebut.

Sedangkan pada KPR syariah tidak dikenakan denda keterlambatan jika nasabah telat membayar cicilan.

Besar Cicilan

Besaran cicilan KPR pada Bank konvensional tidak selalu sama. Misalnya jika suku bunga acuan BI turun, kemudian diikuti pemangkasan bunga KPR, maka cicilan KPR bisa lebih ringan. Tapi sebaliknya kalau naik, pembayaran angsuran juga turut lebih besar.

Sedangkan pada KPR syariah, harga rumah dari bank sudah ditentukan sejak awal, sehingga jumlah cicilan akan selalu sama dari awal kredit hingga selesai. Jumlah cicilan ini biasanya akan cukup tinggi, bahkan bisa saja jauh lebih tinggi dari cicilan KPR konvensional untuk rumah dengan harga yang sama.

Jangka Waktu Kredit

Jangka waktu atau tenor kredit KPR menjadi salah satu pertimbangan dalam mengajukan KPR. Sebab hal ini akan mempengaruhi besaran cicilan KPR setiap bulan.

Biasanya bank konvensional berani memberikan tenor panjang pada produk KPR. Umumnya 20 tahun. Tapi ada juga hingga 30 tahun. Sementara bank syariah dengan KPR syariah menerapkan tenor yang lebih pendek, sekitar 10 tahun hingga 15 tahun saja.

Mana yang lebih baik diambil ? KPR Konvensional atau KPR Syariah?

Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya kembali lagi kepada preferensi pribadi masing-masing nasabah. Tentunya bagi nasabah yang ingin melakukan aktivitas ekonomi sesuai dengan prinsip syariat ISLAM akan memilih KPR Syariah, yang tidak mengandung Riba Qardh (Riba pinjaman) dan Gharar (ketidakpastian besar cicilan karena suku bunga floating yang ada di bank konvensional).

Namun dengan menerima konsekuensi bahwa umumnya besar cicilan KPR Bank Syariah akan lebih besar dari KPR Bank Konvensional karena pada Bank Konvensional ada tingkat suku bunga floating yang mungkin saja akan lebih kecil.