Apa saja perilaku keuangan milenial?

Oleh : Ratna Yetri
Oktober 27, 2020

Jawaban

Fioney Sofyan Ponda, S.Ked., RFA®
Wealth Asset Manager, Pembicara, Narasumber, Penulis
0 Komentar

Perilaku keuangan milenials terbilang unik. Apakah berbeda dengan generasi sebelumnya, sebenarnya tidak juga. Namun dengan adanya kemudahan informasi terkait investasi, seharusnya memang generasi milenials lebih melek investasi dari generasi sebelumnya. Nyatanya, kemudahan informasi tidak membuat seseorang dari generasi milenials benar-benar paham tentang keuangan. Bahkan cenderung melakukan kesalahan finansial yang tidak sedikit.

Ada beberapa perilaku keuangan milenials yang sepertinya perlu diperhatikan agar tidak menjadi kesalahan keuangan lebih lanjut. Apakah Anda salah satunya yang memiliki perilaku seperti ini?

Pengeluaran Dulu Baru Investasi Belakangan

Beberapa millenials yang saya ketahui memiliki pola seperti ini. Selesaikan dahulu semua tagihan dan kewajiban, baru kemudian berinvestasi. Sehingga sering kali dana sisa untuk berinvestasi tidak ada. Padahal, informasi tentang investasi juga sudah banyak dan jauh lebih mudah didapat apabila dibandingkan era sebelumnya. Tapi, kesadaran mengenai hal ini juga ternyata masih rendah. Tahu dan memiliki kesadaran adalah dua hal yang berbeda. Tahu dan memahami akan arti pentingnya investasi belum tentu membuat seseorang dari generasi milenials akan mulai berinvestasi. Baru setelah terdesak kebutuhan, investasi mulai dilakukan. Tapi tetap kesadarannya minum, dan lebih mengutamakan pengeluaran untuk gaya hidup daripada menjadikan investasi sebagai gaya hidup.

YOLO Menjadi Alasan untuk Sering Traveling

“You only live once” menjadi pola pikir banyak sekali milenials yang saya kenal. Mereka bekerja selama setahun, mengumpulkan uang, hanya untuk menghabiskan keseluruhannya dalam satu kali liburan. Alasannya karena kita hidup hanya sekali, baiknya dinikmati. Padahal ada cara yang lebih bijak dalam menyikapi hal ini, yaitu dengan memiliki keseimbangan antara kebijakan finansial untuk saat ini dan masa depan. Masa depan yang dimaksud bisa berupa persiapan dana pensiun, dana pendidikan anak, aset berupa rumah dan lain-lain yang mungkin dibutuhkan.

Efek dari pandemi sekarang ini mungkin bisa menjadi cermin, ketika penghasilan terpotong atau hilang, apakah pengalaman anda saat traveling bisa bermanfaat? Mendadak kebutuhan akan dana darurat, dan asuransi yang bukan bpjs menjadi penting. Tidak ada salahnya memang menikmati hidup dengan jalan-jalan atau traveling. Namun akan lebih bijak lagi kalau ada rencana keuangan yang bisa memenuhi kesemuanya, dengan pengaturan yang baik

Tidak Memiliki Tabungan, Dana Darurat dan Investasi

Karena memiliki banyak keinginan terutama jalan-jalan, maka bisa dibilang tabungan nyaris tidak ada. Kerja seathun ditabung untuk dihabiskan eluruhnya pada satu kali bepergian. Kalau tabungan saja tidak ada, apalagi kebutuhan dana darurat.

Dengan adanya pandemi seperti ini, tentu sebagian orang mulai menyadari akan pentingnya dana darurat dan investasi. Dana darurat sangat dibutuhkan untuk keadaan keadaan tidak terduga seperti sekarang ini. Situasi di mana kita kehilangan atau berkurang penghasilan sementara tagihan atau kebutuhan tetap berjalan dan bahkan meningkat, membuat kita terpaksa menjebol tabungan atau mempergunakan dana darurat. Yang ekstrim bahkan harus menjual beberapa aset yang dimiliki, karena memang dana yang tersisa sudah tidak bisa memenuhi lagi kebutuhan yang ada. Oleh sebab itu, sebelum mulai berinvestasi, sebelum mulai melakukan pembayaran pada kebutuhan, jadikanlah dana darurat sebagai “kebutuhan’ yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Miliki terlebih dahulu, dana darurat sebelum mulai berinvestasi, karena kita tidak pernah tahu siapa yang kita selamatkan esok dari dana darurat yang kita simpan dan investasi yang kita lakukan sekarang.

Mengandalkan BPJS Sebagai Satu-satunya Perlindungan

BPJS memang perlindungan untuk kesehatan yang sangat sempurna. Bayar sangat kecil namun manfaat yang diterima melebihi asuransi konvensional. Namun ada hal-hal yang tidak dicover atau dilindungi juga oleh BPJS. Salah satunya untuk kenyamanan upgrade kamar di rumah sakit. Ada beberapa hal juga yang tidak langsung dicover atau BPJS. Misal beberapa pemeriksaan pun tidak bisa dilakukan dalam satu waktu.
Asuransi konvensional memberikan kenyamanan yang tidak diberikan oleh BPJS. Beberapa diantaranya adalah nilai tunai yang bisa keluar kalau kita menderita suatu penyakit kritis. nilai tunai yang bisa diterima keluarga kalau kita memiliki asuransi jiwa, kenyaman upgrade kamar perawatan, cashless, dan lain-lain.

Sebenarnya beberapa asuransi konventional memiliki apa yang disebut dengan co-operation of benefit. Kerjasama antara perusahaan asuransi dengan BPJS juga sehingga menambah manfaatnya yang maksimal.

Namun, banyak sekali generasi milenials yang tidak memiliki asuransi. adahal asuransi tidak terbatas pada asuransi kesehatan saja. Asuransi Jiwa misalnya, akan bisa melindungi orang orang yg terkasih apabila terjadi sesuatu pada kita.

Tidak Memahami Pentingnya Dana Pensiun

Sebanyak 100% klien saya yang masuk kedalam usia milenial tidak memiliki dana pensiun. Atau tidak menganggapnya penting. Padahal dana pensiun apabila dikumpulkan sejak awal maka dana yang dibutuhkan untuk investasi akan jauh lebih sedikit, karena waktu yang dibutuhkan masih sangat lama, yaitu sedikitnya 20 tahun.

Inflasi dan kesehatan akan menjadi musuh utama bagi seseorang yang sudah memasuki masa pensiun. Pensiun dalam arti tidak bekerja lagi sehingga tidak ada penghasilan yang bisa mendukung pengeluaran. Pengeluaran hanya bisa mengandalkan dana pensiun, atau menjadi tanggungan orang lain (baca:anak). Beberapa milenials saat ini terpaksa harus merasakan tidak enaknya menjadi sandwich generation, yaitu dimana ia harus menanggung orangtuanya dan juga keluarganya sendiri yaitu anaknya. Kalau Anda adalah salah satu milenials yang sudah harus terpaksa mengalami situasi seperti ini, pikirkanlah untuk mempersiapkan dana pensiun sejak dini

Buying Thing They Don’t Need to Impress People They Don’t Like

Sebut saja beberapa merk handphone ternama yang harganya fantastis seperti Samsung S20 Ultra dan Iphone 12. Seberapa benarnya sih kita membutuhkan handphone yang harganya Rp. 20-30 juta? Memang beberapa akan membutuhkan ponsel untuk status. Orang-orang pasti akan melihat ponsel apa yang akan kita gunakan apabila ingin melakukan suatu hubungan bisnis. Namun bukan berarti kemudian kita menjadi lupa akan kemampuan yang realistis. Kalau Anda tidak mampu membeli handphone dengan cash, artinya Anda tidak mampu membelinya. Kecuali memang ada fasilitas bunga 0% yang ditawarkan oleh kartu kredit, maka boleh deh Anda membeli ponsel dengan kartu kredit yang Anda miliki. Namun kalau tagihannya saja sudah melebihi 25% dari gaji Anda, jelas ini salah. Dan tidak sehat secara keuangan.
Rata-rata pemilik ponsel canggih ini hanya mempergunakan 30-40% fitur yang ada. Dengan kata lain, mereka tidak benar benar mengerti kenapa ponsel tersebut mahal dan berpikir mahal karena fiturnya saja, bukan karena fungsi yang dimengerti secara maksimal. Akibatnya, ponsel mahal tersebut malah percuma dimiliki.

Subscription Service yang tidak Perlu Sehingga Menguras Pendapatan

Netflix, Joox, Spotify, Top Up game online, mendadak menjadi kebutuhan yang menguras pendapatan. Coba lihat kembali isi tagihan bulanan Anda yang rutin harus dibayarkan. Berapa %-kah yang Anda alokasikan untuk membayar servis berlangganan ini? Manakah yang lebih besar, persentase servis berlangganan ini atau persentasi investasi yang Anda lakukan?

Investasi yang Anda lakukan sekarang adalah untuk memberikan kenyamana bagi Anda di mana mendatang. Pikirkanlah kembali apa yang penting buat Anda, dan bagaimana mengaturnya agar Anda tidak harus hidup dari gaji-ke-gaji hanya untuk kenyamanan yang sebenarnya bersifat tersier.

Ada banyak sebenarnya perilaku keuangan milenials yang kurang tepat, sehingga malah bisa menggerus keuangan mereka. Coba dipikirkan dan dipahami, apa sih yang sebenarnya bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi keuangan?