Apa sih masalah keuangan milenial?

Oktober 27, 2020

Jawaban

Fioney Sofyan Ponda, S.Ked., RFA®
Wealth Asset Manager, Pembicara, Narasumber, Penulis
0 Komentar

Setiap milenials adalah pribadi yang unik, sehingga mereka pasti memiliki masalah keuangannya masing-masing. Namun ada 3 masalah keuangan yang menurut saya butuh perhatian lebih, karena ada hal-hal terkait keuangan yang akan mempengaruhi kehidupan mereka ke depannya.

Menjadi Sandwich Generation

Sandwich generation adalah kondisi di mana seseorang harus menanggung keuangan orangtuanya, dirinya dan anak atau istrinya sendiri. Jadi, kondisi keuangan yang dimilikinya menjadi sangat terbatas, bahkan mungkin kurang. Investasi dan kepemilikan aset jauh menjadi lebih sulit, dan tekanan finansial datang dari dua sisi. Di satu sisi orangtua akan membutuhkan biaya yang lebih besar setiap tahunnya terkait kondisi kesehatan. Sementara dana pendidikan untuk anak akan sangat dipengaruhi di mana kita ingin menyekolahkan anak. Dan sekolah yang terbaik pasti mahal.

Kalau misalnya Anda takut terjerat dalam kondisi sandwich generation atau malah sudah menjalani kondisi sandwich generation ini, maka Anda benar-benar membutuhkan pengawasan dan perhitungan keuangan yang ketat. Dana darurat extra, asuransi menjadi wajib dan investasi juga menjadi sangat penting. Perhatikan baik-baik dan hitung ulang kebutuhan harian yang Anda miliki dan usahakan lakukan investasi walau sekecil apapun. Karena kita tidak akan pernah tahu, bagaimana hasil investasi yang dilakukan sekarang bisa menyelamatkan kebutuhan finansial Anda yang seperti apa nantinya.

Menjadi Single Parents dengan Anak

Ketika kita memiliki anak, secara otomatis tujuan keuangan menjadi berubah. Ada kebutuhan untuk persiapan dana pendidikan, dan mungkin kebutuhan lain yang ingin kita siapkan demi anak-anak, misalnya dana pernikahan, tempat tinggal dan lain-lain. Namun ketika seorang dari generasi millenials harus menjadi orangtua tunggal, baik karena kematian maupun karena perpisahan, segala sesuatunya menjadi lebih berat karena harus ditanggung sendirian. Apalagi kalau anak-anak juga ikut tinggal bersama kita dan kita tidak menerima bantuan finansial apapun terkait anak-anak.

Sulit untuk Bisa Memiliki Aset

Aset yang dmaksud di sini adalah aset property. Arkana Finance pernah melakukan riset terkait keuangan terhadap 1000 sample korespondensi yang hasilnya menunjukkan bahwa seorang generasi milenials yang tinggal di Jakarta, atau yang bekerja di Jakarta, hanya mereka yang sudah memiliki pendapatan di atas 15 jutalah yang sanggup berinvestasi.

Kalau Anda adalah seseorang dari generasi milenials dan ingin membeli rumah, maka dari gaji Rp.15.000.000,- Anda hanya akan disetujui pengajuan kprnya untuk cicilan sebesar Rp. 5 jutaan atau harga rumah senilai Rp. 500 juta. Dan biasanya harga rumah seperti ini yang cukup nyaman adalah rumah di luar Jakarta. Dengan kata lain jauh dan memakan waktu untuk mencapainya.

Harga property menjadi begitu tinggi sehingga tidak terjangkau lagi, kecuali memang Anda memiliki income yang fantastis. Sehingga tidak heran bahwa generasi milenials akan sulit memiliki aset.

Namun bukan berarti tidak mungkin. Ada banyak jalan menuju Roma. Dan ada banyak cara agar Anda tetap bisa mewujudkan apa yang menjadi impian Anda, dengan melakukan investasi sedini mungkin. Investasi membutuhkan waktu, konsistensi dan kesabaran. Layaknya melihat pohon tumbuh, akan butuh waktu bagi pohon tersebut untuk tumbuh besar, berbunga dan berbuah, Namun hasil yang akan kita terima juga sangat memuaskan, dan sering melebihi ekspektasi.

Pahamilah tidak ada yang instan dalam berinvestasi, Namun hanya dengan investasi Anda dapat mengejar laju inflasi. Dan Anda juga tidak perlu mengerti chart saham atau paham keuangan untuk bisa berinvestasi di produk keuangan yang tepat.

Konsultasikan kondisi keuangan Anda dengan perencana keuangan yang terpercaya. Seorang perencana keuangan akan melakukan tes profile resiko, sehingga instrumen investasi yang tepat akan disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, jangka waktu dan profile resiko yang Anda miliki. Tidak semua orang akan cocok untuk berinvestasi di saham, dan tidak semua reksadana adalah pilihan yang tepat untuk tujuan keuangan Anda.