Terjawab

Apa strategi terbaik untuk investasi saham?

Oleh : Tiwi Radmila
Oktober 20, 2020

Jawaban

Rivan Kurniawan
Pakar Investasi & Value Investor dengan 10 Tahun+ Pengalaman
0 Komentar

Dollar Cost Averaging

Jika kamu baru berinvestasi di pasar saham, maka strategi Dollar Cost Averaging lebih disarankan. Dollar Cost Averaging adalah membeli secara berkala (biasanya per bulan) dengan jumlah nominal atau jumlah lot yang sama).

Misalkan kamu berinvestasi pada saham ASII. Bulan pertama kamu membeli saham ASII sebanyak 2 lot di harga Rp 5000. Kemudian di bulan kedua, kamu membeli lagi saham ASII sebanyak 2 lot (misalkan harganya saat itu di Rp 4800). Kemudian di bulan ketiga, kamu membeli lagi saham ASII sebanyak 2 lot (misalkan harganya saat itu Rp 5100), dan seterusnya.

Sehingga jumlah lot kamu setiap bulannya terus bertambah, dan kamu mendapatkan harga rata-rata dari pembelian kamu setiap bulannya.

Value Investing

Namun jika kamu sudah mulai memahami bagaimana cara pasar saham bekerja, kamu bisa melakukan pendekatan Value Investing. Di mana kamu mencari saham-saham yang memiliki fundamental yang bagus, namun pada harga yang terdiskon.

Dengan pendekatan value investing, potensi capital gain yang kamu dapatkan bisa lebih besar lagi. Namun tentunya kamu perlu belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana mempelajari laporan keuangan, bagaimana menghitung nilai intrinsik atau nilai wajar sebuah saham, money management, dll.

Atau kamu pun bisa melakukan keduanya secara bersamaan. Strategi Dollar Cost Averaging kamu gunakan untuk saham-saham core stock / legacy stock seperti saham-saham blue chip yang bisa kamu simpan hingga > 10 tahun (sebagai dana pensiun atau warisan), dan strategi Value Investing kamu gunakan untuk saham-saham second liner yang bisa kamu simpan 1 – 5 tahun (sebagai percepatan akumulasi asset kamu).