Terjawab

Apakah asuransi syariah itu halal?

November 9, 2020

Jawaban

Financial Educator, Lifestyle Blogger, Founder, Entrepreneur, Pembicara dan Pemateri.
0 Komentar

Hukum asuransi syariah telah dinyatakan halal oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia dalam fatwa DSN-MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 selama masih berpedoman pada syariat Islam yang mengedepankan tolong-menolong dan melindungi. Bukan kepentingan bisnis yang menguntungkan salah satu pihak saja.

Terdapat dua perbedaan pendapat terhadap kehadiran asuransi syariah yakni pro dan kontra. Beberapa kalangan masih menyangsikan kehalalan asuransi syariah bahwa masih terdapat unsur riba karena dana yang diterima ahli waris akan lebih besar dari dana yang disetorkan (premi) dan mengandung unsur gharar (ketidakpastian).

Di satu sisi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menegaskan bahwa hukum asuransi syariah adalah halal, di mana prinsipnya menolak asuransi konvensional dan membolehkan asuransi syariah. Dalam penjelasannya, salah satunya adalah melarang perusahaan asuransi syariah untuk menginvestasikan dana peserta pada hal-hal yang diharamkan oleh syariat ISLAM serta bahwa dana yang disetorkan berupa hibah (hadiah) yang diberikan atas prinsip tolong menolong.

Asuransi Syariah yang diperbolehkan adalah asuransi berdasarkan prinsip syariah dengan usaha tolong-menolong (ta’awun) dan saling melindungi (takaful) diantara para Peserta melalui pembentukan kumpulan dana (Dana Tabarru’) yang dikelola sesuai prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.

Beda Asuransi Konvensional dan Syariah

Asuransi (Insurance) memiliki arti pertanggungan. Secara umum asuransi diartikan sebagai kesepakatan antara dua pihak atau lebih untuk memberikan jaminan akan sesuatu yang dijanjikan. Sementara asuransi syariah menurut beberapa ulama adalah sekumpulan orang yang ingin saling membantu, saling melindungi, menjamin dan bekerja sama dengan cara mengeluarkan dana Tabarru’.

Disini dapat terlihat betapa pentingnya sebuah akad. Sebuah transaksi yang sekilas terlihat sama namun menjadi amat berbeda artinya dengan adanya janji awal dan tujuan yang berbeda. Dimana tujuan asuransi syariah adalah untuk saling tolong menolong. Bukan hanya menghindari risiko dan memperoleh keuntungan semata.

Dana Tabarru adalah kumpulan dana yang didapat dari peserta asuransi. Kumpulan dana inilah yang nantinya digunakan untuk membayar santunan kepada peserta yang mengalami musibah, sakit atau bahkan meninggal dunia.

Perbedaan lain adalah adanya pemisahan dana, yakni dana Tabarru dan dana peserta. Konsep asuransi syariah tidak mengenal dana hangus seperti yang kerap kita temui pada produk asuransi konvensional. Walau dalam prinsip tolong menolong dalam memberikan hibah (hadiah) tentunya juga kita tidak mengharapkan hadiah akan kembali.

Pada sistem asuransi syariah, perusahaan asuransi juga tidak diperkenankan berinvestasi yang bertentangan dengan prinsip syariah atau investasi di instrumen yang mengandung unsur haram.

Selain itu perusahaan asuransi syariah juga diawasi oleh dua lembaga sekaligus, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi perusahaan asuransi agar kinerjanya tetap sesuai dengan syariat ISLAM.

5 Alasan Mengapa Asuransi Syariah dinyatakan Halal

Terdapat Unsur Tolong Menolong

Pada asuransi syariah terdapat dana Tabarru yang merupakan dana kumpulan para peserta. Dana ini boleh dipinjamkan ke peserta lain yang sedang membutuhkan, dalam artian ada unsur tolong menolong di dalamnya, dan tidak ada unsur keterpaksaan bagi pemilik uang untuk meminjamkan dananya lebih dulu.

Tidak ada Dana Hangus

Dana hangus ini artinya jika dalam jangka periode yang telah disepakati tidak ada klaim yang dilakukan pemegang polis, maka jumlah premi yang telah disetorkan akan menjadi milik perusahaan asuransi. Artinya ada pihak yang dirugikan dan diuntungkan dalam jumlah besar.

Namun ini tidak berlaku dalam asuransi syariah yang mengusung konsep titipan (wadiah). Akan ada dana yang dikembalikan dari rekening peserta yang telah dipisahkan dari rekening tabarru.

Lantas darimana pihak perusahaan asuransi mendapatkan keuntungan untuk membayar biaya operasional? Yakni dari iuran biaya operasional para pemegang polis yang ditentukan secara transparan yakni berkisar 30% dari premi. Sehingga pada saat jangka waktu pembayaran premi usai peserta asuransi bisa mendapatkan kembali seluruh dana meski tidak pernah ada klaim.

Ada Akad

Berbeda dengan asuransi konvensional, hukum asuransi syariah berpegangan pada syariat ISLAM. MUI sendiri menegaskan aturan akad yang digunakan dalam asuransi. Akad ini yang mengikat peserta asuransi dengan perusahaan asuransi. Di dalam akad tidak boleh terdapat unsur gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat. Tujuan akad asuransi syariah bukanlah bisnis melainkan saling tolong menolong.

Untuk tujuan bisnis diberlakukan akad lain yaitu mudharabah adalah akad kerja sama dimana peserta menyediakan 100% modal, dan dikelola oleh perusahaan asuransi.

Sejak awal sudah ada kesepakatan yang jelas soal besaran bagi hasilnya. Sementara untuk proses klaim, dana dari asuransi syariah diambil dari rekening tabarru (kebajikan) seluruh peserta. Sementara klaim asuransi konvensional dananya sepenuhnya berasal dari perusahaan asuransi.

Alokasi Investasi yang Jelas Kehalalannya

Asuransi syariah hanya berinvestasi ke suatu kegiatan atau kerja sama yang berbasis syariah dan tentunya halal. Hasilnya pun akan dibagikan kepada peserta asuransi bukan menjadi keuntungan perusahaan.
Beda dengan asuransi konvensional yang membebankan kepemilikan harta milik perusahaan, artinya perusahaan bebas menggunakan uang peserta untuk jenis investasi apapun, terlepas halal atau haramnya.

Berbagi Resiko

Asuransi syariah mengedepankan tolong menolong yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Karena itulah ketika salah satu peserta mengalami musibah maka peserta lain ikut membantu dengan meminjamkan total preminya, sehingga bisa dikatakan semua pemegang premi merasakan kesulitannya.

Begitu juga ketika dana diputar untuk investasi dan menghasilkan keuntungan, maka semua harus ikut merasakan bukan malah jadi keuntungan mutlak perusahaan asuransi.

Sejak awal pembelian polis peserta sudah diberi kesepakatan mengenai klaim dan perkiraan keuntungan yang akan didapat dari investasinya. Sehingga segala proses lebih transparan dan tidak ada yang merasa dirugikan.

Dapatkan solusi dari para ahli keuangan

Praktisi Keuangan Syariah
Perencana Keuangan, Praktisi Hubungan Masyarakat
Cofounder Lifepal.co.id - Certified Insurance Professionals & Certified Financial Planner
Independen Financial Planner, Founder Finansia Consulting dan Sahabat Pensiun.
Founder @CerdasKeuangan dan Senior Consultant @Oneshildt.
Wealth Asset Manager, Pembicara, Narasumber, Penulis
Konsultan bisnis, penulis, pengamat keuangan, dan pegiat seni. Penerima penghargaan best paper award untuk publikasi keuangan, dari institusi akademik internasional, IISES.
Penulis, arbiter, editor buku, kolumnis, saksi ahli berbagai instansi, narasumber seminar dan media cetak, online dan elektronik.
Certified Financial Planner
Priority Banking Relationship Manager, Manulife Asset Management Indonesia as Relationship Manager, Panin Asset Management as Team Leader Retail Marketing and Start doing as Financial Planner, ZACD Group as Relationship Manager.
Independent Financial Planner
Pendiri & CEO KontrakHukum.com. Pakar Hukum & Bisnis. Pembawa Berita dan Public Figure.
Pakar Investasi & Value Investor dengan 10 Tahun+ Pengalaman
Financial Educator, Lifestyle Blogger, Founder, Entrepreneur, Pembicara dan Pemateri.
Profesional di pasar modal yang berkarir di sekuritas dan regulator.